
Cuma ngingatin, jangan lupa untuk like dan vote👍🙏
.
.
.
Empat tahun kemudian.
Menjadi duda di usia yang sudah tidak muda lagi, membuat Erik enggan memikirkan pasangan hidup, baginya dia hanya ingin menikah sekali seumur hidupnya. Erik berubah menjadi sosok yang lebih mudah dikenal, dari pada dulu yang hanya bisa diajak bicara dengan orang yang dikenalnya saja. Dia lebih sering menyapa orang dari pada disapa lebih dulu, dia semacam mengubah dirinya seperti lelaki playboy tapi tidak dalam hatinya, dia bukan pemain wanita juga, dia hanya sering menggoda wanita cantik yang berjalan di depannya. Dia melakukan itu, demi bisa menutupi luka hatinya yang masih teramat sakit.
Pagi ini, dia bangun kesiangan, dia melarang pelayan untuk membangunkan atau masuk ke kamarnya, karena di dalam kamarnya masih terdapat benda-benda bersejarah untuknya. Ketika dia mengenakan kemeja kotak-katak ke tubuhnya, terdengar pintu kamar diketuk.
“Pak..., Nona Riella nggak mau sekolah.” terdengar suara dari balik pintu.
“Huft...,” desah Erik saat mendengar ucapan pelayan yang mengurus Riella.
“Andai kamu masih di sini Yang,” ucap Erik sambil menyisir rambutnya.
“Sampai kapan aku kan menanti...
Oh Tuhan tolong kuatkan hati ini...
Hanya dia nafasku...
Kembalikan padaku...
Karna... Terlalu lelah jiwaku menunggu...,” terdengar suara Erik bersenandung sambil berjalan ke arah kamar Riella. Dia mendekati putrinya yang masih berada di bawah selimut tebal ranjangnya.
“Hay...Riella, ayo bangun Sayang, sudah waktunya sekolah,” bujuk Erik dengan lembut.
“Nggak mau, Lala nggak mau sekolah, lagian Papa juga nggak ngizinin Riella jadi dokter ngapain juga sekolah,” ucap gadis kecil yang sudah membuka selimutnya hingga ujung leher.
“Nggak boleh begitu dong, nanti kalau Lala nggak sekolah, Papa yang akan dimarahi Mama, dan kamu tau apa akibatnya?”
“Iya...Mama nggak mau jemput Papa!” sahut Riella menatap Erik. Erik mengacak kasar rambut Riella, membuat anak gadisnya itu cemberut.
__ADS_1
“Pa..., kapan sih Mama jemput Papa?” Erik hanya menggedikan bahunya, tidak bisa menjawab pertanyaan anaknya.
“Papa juga nggak tau, semoga saja nanti siang, atau nanti malam,” jawab Erik sambil tersenyum ke arah Riella.
“Berarti Riella sebentar lagi punya Mama dong,” ucap Riella yang terlihat senang.
“Riella dari dulu punya Mama, tapi Mamanya Riella sudah pergi ke tempat Allah,” jelas Erik.
“Ayo mandi! Papa sudah terlambat,” ajak Erik pada putrinya.
“Nggak!” Erik membuang nafasnya kasar, lalu meraih ponselnya untuk menghubungi Yohan.
“Tunda rapat pagi ini sampai aku tiba di sana,” ucapnya sambil melirik ke arah Riella. Lalu segera menutup ponselnya.
“Pa..., kenapa Papa nggak cari Mama baru saja, seperti Mamanya Kayra, atau Mamanya Samuel, teman Riella semuanya punya Mama yang selalu mengantar mereka ke sekolah, sedangkan Riella hanya punya Mama pajangan seperti itu,” ucap Riella dengan wajah cemberut sambil menunjuk foto besar yang terdapat foto Ella. Erik tersenyum menatap Riella yang semakin cerewet itu.
“Pa..., menangin game ini, Kalun nggak bisa mainnya,” ucap Kalun yang sudah rapi mengenakan seragam, tapi masih memainkan tablet di tangannya.
“Kaaalluuuunnn, sudah ya main gamenya, kita sekolah dulu,” ucap Erik dengan lembut.
“Pa..., sebentar lagi monsternya game over, please sekali lagi,” bujuk Kalun menatap wajah Erik.
“Papa basah...yee...ye...Papa basah lagi...hahaha,” ucap Riella sambil tertawa senang, karena dia lebih suka jika Erik yang memandikannya.
“Ini gara-gara anak Papa yang manja ini,” ucap Erik sambil mencubit pelan hidung Riella.
“Papa tapi Riella tetap nggak mau sekolah ya, Riella mau ikut Papa saja!” Erik membuang nafasnya kasar. Kalau Riella ikut ke kantor pasti akan membuat gempar isi ruangannya.
“Bagaimana jika besok saja Riella ke kantor Papa, pagi ini Papa ada rapat penting,” tawar Erik supaya Riella tidak ikut dengannya. Riella yang mendengar itu hanya bisa cemberut sambil meletakkan tangannya di depan dada.
“Ya sudah, Riella nggak mau sekolah, biar Mama marah dan nggak mau menjemput Papa,” ucap gadis kecil itu.
“Bagaimana jika setelah pulang dari rumah Oma kita jalan-jalan ke kids fun,” bujuk Erik.
“Nggak!” ucap Riella sambil menggelengkan kepalanya. Erik yang pasrah dengan keinginan Riella hanya bisa mengalah.
“Ternyata nggak Cuma wajahnya, sifatnya pun sama,” lirih Erik sambil membawa Riella masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
“Kaalluuunnn..., tadi Papa bilang apa?” Kalun yang mendengar suara Erik langsung mematikan tabletnya. Dia menatap foto di depannya itu sambil menyandarkan dagunya di tangan.
Berbeda dengan Kalun mempunyai sifat lebih introvert dari Riella, dia lebih sedikit berbicara namun sekali berbicara dia lebih sering menyakiti perasaan orang.
“Aku pengen punya Mama, tapi Kalun nggak ingin punya Mama tiri, kata teman-teman Kalun, ibu tiri itu jahat, suka nyubitin paha anaknya,” ucap Kalun yang sebenarnya dari tadi mendengarkan obrolan Erik dan Riella. Erik hanya tersenyum ke arah Kalun.
“Iya, jadi lebih baik nggak usah punya saja, kita akan seperti ini terus, sampai Mama menjemput kita, benar kan Pa?” tanya Riella. Dan Erik hanya mengangguk. Dia tengah mengepang rambut anaknya, supaya terlihat rapi, meski tidak serapi kepangan Mama teman-teman Riella, tapi cukup lumayanlah.
Tanpa Riella sadari, dia sudah mengenakan seragam sekolahnya, dia dan Kalun sengaja Erik masukkan di kelas dan sekolah yang sama, supaya lebih mudah untuk memantau.
Sampai di depan sekolah, Erik mengantarkan anaknya ke depan kelas, bukan hanya 1 atau dua orang yang menatapnya, bahkan para wanita yang di lewatinya, matanya ingin keluar karena melihat pesona duda dua anak itu.
“Nanti Oma yang menjemput ya..!” pesan Erik pada kedua anaknya. Riella dan Kalun mengangguk kompak, karena mereka sudah tau kebiasaan papanya.
Setelah memgantarkan anaknya ke sekolah, Erik segera melajukan mobilnya ke arah makam ella, setiap hari setelah mengantarkan anaknya dia akan menyempatkan waktu untuk sejenak bercerita tentang kejadian setiap harinya.
“Aku bingung Sayang, bagaimana menjawab anakmu yang sangat cerewet sepertimu itu,” ucap Erik saat sudah tiba di makam ella.
“Kamu tau aku mengepang rambutnya, seperti saat aku melihatmu waktu kecil, pasti dia akan ditertawain teman-temannya, karena bentuk kepangannya terlaku kuno,” ucap Erik sambil mengingat masa kecil Ella.
“Setelah satu minggu aku belajar dari youtube, pagi ini aku berhasil mempratekkannya, semoga setelah pulang sekolah nanti Riella tidak mengomel,” ucap Erik sambil melepas kaca matanya.
“Apa kamu tidak merindukanku? Bahkan sekarang kamu jarang datang ke mimpiku, apa kamu sudah tenang di sana?” tanya Erik yang tidak pernah mendapat jawaban dari Ella.
“Aku pulang ya, besok aku akan bawa anak-anak ke sini,” pamit Erik, setelah itu dia pergi meninggalkan makam Ella, dia segera melajukan mobilnya ke arah kantor.
Sampai di depan gedung kantor, Erik berjalan melewati pintu masuk kantornya, sejenak dia menyapa karyawan wanita yang berjaga di meja resepsionis. Dia cukup lama mengobrol dengan resepsionis itu, hingga suara Yohan terdengar memanggilnya. Erik segera mendekat ke arah Yohan dan berjalan ke ruangannya.
“Ada Dokter Nadia di ruangan Bapak,” ucap Yohan ketika Erik sudah berada di depannya.
.
.
.
Next>>>
__ADS_1
Nb: Anggap saja ucapan Riella tidak begitu kelas karena masih berusia 4 tahunan, tapi setidaknya dia punya pikiran seperti yang saya tulis😜👍