Kepincut Cinta Dokter

Kepincut Cinta Dokter
Extra Part : Kisah Cinta Naura


__ADS_3

...Jangan lupa untuk vote....



🦠


🦠


Masih membutuhkan waktu kurang lebih 50 menit untuk tiba di kabupaten Cianjur. Tepatnya di rumah ibu Susan, istri dari Martinus. Klien mereka.


Naura bisa menikmati perjalanan kali ini. Ia sampai harus menurunkan kaca mobil demi bisa merasakan udara segar. Hamparan kebun teh dan jalanan yang naik turun menguji andrenalin-nya. Angin yang datang berhasil mengacak rambutnya hingga sedemikian rupa. Tapi, ia terlihat menikmatinya. Tanpa Naura sadari ada yang senyum-senyum sendiri, menikmati ekpresi-nya.


Wajahnya berubah drastis, sangat kontras saat sebelum makan siang. Naura harus berpura-pura terlelap, demi membunuh waktu yang terasa lama saat bersama Abhi. Tapi, saat ini dia begitu senang, apalagi bisa menghirup udara kota ini, lagi. Padahal jika pergi dengan Alea tidak se-antusias ini.


"Sepertinya cuacanya mulai memburuk. Tutup jendelamu!" Abhi menatap ke arah langit, yang perlahan ditutupi awan hitam.


Naura menurut, "Apa masih jauh?" tanyanya, menoleh ke arah Abhi. Baru kali ini ia berbicara dengan pria itu, selepas makan siang tiga puluh menit yang lalu.


"Sebentar, lagi. Kira-kira dua tanjakan lagi." Abhi menjawab dengan mata tetap fokus ke arah jalan.


"Wow, sepertinya kamu hapal ya! Atau jangan-jangan ...." Naura tidak melanjutkan ucapannya, dia hanya mengedipkan matanya berulangkali.


Sedangkan Abhi hanya diam, tak mau menanggapi ucapan Naura. Dia fokus ke arah jalan, mengikuti beberapa jajaran mobil yang sepertinya menuju ke kecamatan yang sama.


Belum tiba di tempat tujuan, rintik air mulai membasahi kaca mobil Abhi. Perlahan rintik itu menjadi jutaan tetesan air yang semakin banyak menyirami atap mobilnya. Hujan deras datang, diiringi angin kencang.


"Kita pelan-pelan saja, sebentar lagi tiba." Abhi memberitahu. Naura mengangguk karena cukup takut dengan kondisi jalanan yang sepertinya berubah menjadi licin.


Selang beberapa menit kemudian, Abhi menghentikan mobilnya di halaman luas depan rumah semi permanen. Rumah yang di dominasi warna coklat kayu bagian atas, sedangkan bagian bawah banyak susunan bata merah.


Naura segera mengenakan blazernya, demi mengusir rasa dingin yang mulai menyerangnya. Ia bersiap hendak turun, dan berlari ke arah teras rumah. Tapi tangan Abhi langsung menahannya.

__ADS_1


"Kamu tunggu di sini dulu! Jangan nekad!" peringat Abhi, ia kemudian turun dari mobil, membuka bagian belakang mobilnya untuk mengambil payung.


Baju yang dikenakan Abhi memang basah, tapi ia membawa baju cadangan yang biasa ia letakan di mobil. Berbeda dengan Naura, yang tidak membawa apapun saat perjalanan ke sini.


Setelah payung terbuka lebar, menutupi tubuhnya. Abhi bergegas menghampiri Naura. Tapi, gadis itu seolah marah dengannya. Tidak mau ikut bergabung.


"Jadi ketemu ibu Susan?" tanya Abhi saat membuka pintu mobil. Naura mengamati payung yang kini melindungi tubuh Abhi, tidak terlalu lebar, tapi kalau ia menolak pasti bajunya akan basah. Dan sayangnya ia tidak membawa baju cadangan.


"Buruan atau mau aku tinggal, saja?" ucap Abhi yang tidak sabaran. Ia sudah bersiap memutar badannya hendak meninggalkan Naura.


"Eee tunggu! Iya ini gue mau turun," sahutnya cepat lalu bergegas turun dan berdiri di samping Abhi.


Layaknya sedang shooting drama, Abhi merengkuh lengan Naura supaya tubuh gadis itu tidak terkena tetesan air hujan. "Lebih dekat sini, nanti bajumu basah!" ucap Abhi saat Naura berusaha menjauhkan tubuhnya.


"Jangan mikirin mesum, ya! Awas loh!" ujar Naura memberi peringatan. Kini ia mengikis jarak dengan Abhi. Lenganya bersentuhan dengan lengan kekar Abhi.


"Heh! Mana nafsu aku sama kamu!" balas Abhi, menatap enggan wajah Naura. Diiringi kekehan mengejek.


"Permisi, apa ibu Susan ada?" tanya Naura, saat melihat pintu utama terbuka lebar.


Rumah ibu Susan memang tidak seperti rumah pak Martinus, rumahnya lebih sederhana tapi kategori mewah jika dibanding dengan yang lainnya.


Seorang wanita menghampiri Naura. "Ada apa ya, Mbak?" Wanita itu justru balik tanya dengan logat khas Jawa Tengah.


"Maaf, Bu, kita dari Jakarta. Apa ibu Susan ada?" ulang Naura. Yang paham karena sepertinya ibu tadi tidak mendengar pertanyaannya, karena hujan begitu deras membuat suaranya teredam.


Wanita itu terdiam, "Ibu Susan baru ke Cisarua, jemput anaknya. Mungkin balik nanti sebelum maghrib," jawab wanita tersebut.


"Mas, Abhi ya?" tanya wanita saat mengetahui kehadiran Abhi di belakang tubuh Naura. Pria itu hanya mengangguk pelan, sambil tersenyum tipis.


"Mari-mari masuk!" mintanya ramah, saat mengetahui siapa yang sedang bertamu.

__ADS_1


"Saya buatkan minuman dulu," pamitnya setelah mempersilakan mereka duduk.


Mereka kembali ke awal, mode diam, tapi tatapan mereka seolah sedang berkomunikasi.


"Astagha ponselku di dalam tas!" ucap Naura saat menyadari sesuatu.


"Di mana tas mu? Biar aku ambilkan."


"Ya, ambilkan sana! Di mobil yang masih terparkir di rumah pak Martinus!" ucap Naura penuh emosi. "Semua gara-gara lo!"


"Kok aku, itu karena kamu saja yang teledor!"


"Masih ngelak, kalau kamu nggak gendong-gendong aku, nggak mungkin aku satu mobil denganmu. Enggak Sudi,Ya!" Naura melempar bantal kursi ke arah tubuh Abhi. Keduanya baru terdiam saat ART kembali muncul, membawakan dua cangkir minuman hangat. Wanita mengamati Abhi yang kini diam tanpa kata.


"Mas Abhi, lama nggak datang. Apa kabar?" tanya wanita yang kini sudah duduk di salah satu kursi tamu.


"Alhamdulillah sehat, Bu."


"Sudah jadi orang sukses, ya?" tanyanya lagi. Abhi hanya tersenyum tipis. Dari raut wajahnya ia enggan melanjutkan obrolan.


"Sudah lama, ibu menanti Mas Abhi datang," ucapnya kemudian. "Padahal jarak Jakarta sini tidak terlalu jauh, tap kenapa jarang sekali datang?"


"Ibu pulang jam berapa, Bu?" tanya Abhi, menjauhkan bu Zainab dari pembahasan masa lalu. Sedangkan Naura hanya diam, memperhatikan obrolan keduanya, biarlah dia mendengarkan saja, siapa tahu dapat informasi penting tentang Abhi.


"Belum tahu, mungkin sebentar lagi." Zainab menatap ke arah depan, "tapi, nggak tahu juga, karena cuaca sedang seperti ini." Zainab kembali ke meja tamu.


"Gitu ya?" Abhi mengusap janggutnya. Lalu menoleh ke arah Naura.


"Mbak ini ... istrinya Mas Abhi, ya?" Zainab yang penasaran mulai bertanya.


...----------------...

__ADS_1


...Komentar tembus 50 aku up lagi....


__ADS_2