
Happy reading ..., lanjut ya! Jangan lupain vote dan likenya krisan juga boleh.😁😁
.
.
.
Setelah kepulangan Ella dan Erik dua hari yang lalu, kini Erik berniat untuk berkunjung ke rumah sakit, setelah hampir 3 bulan dia tidak memasuki rumah sakit miliknya itu.
Ella yang masih mengambil jadwal praktik di rumah sakit milik suaminya, hari ini juga sudah akan memulai praktiknya, rencana dia akan berada di rumah sakit seharian, karena sore hari dia dan suaminya akan mengecek kandungan.
Sampai di rumah sakit, banyak tangis haru dari perawat yang dulu melihat proses penangkapan Erik, beruntungnya para perawat dan karyawan Erik tidak menyebarkannya ke media. Jadi rumah sakit yang di tangani Erik masih aman.
Saat ini Erik tengah mengantar Ella ke ruang praktiknya mengingat jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi. Ella yang ditinggal cuti Hanin pun kualahan saat hari pertamanya, mau tidak mau dia harus meminta tolong suaminya untuk mengecek suhu bayi yang akan dia periksa.
Erik yang belum terbiasa dengan tingkah bayi, semakin kualahan ketika tingkah bayi lima bulan itu kencing di bajunya. Ella yang melihat itu hanya tersenyum, sambil memberi kode supaya tidak marah karena ada kedua orang tua bayi tersebut, lagian kencing bayi umuran segitu kencingnya belum terlalu bau.
Kali ini yang datang adalah teman Erik saat sekolah SMA, dia datang bersama istri dan bayi yang berusia empat bulan.
“Anakmu pakai diapers kan?” tanya Erik pada temannya, setelah mendapat anggukan kepala dia lalu segera mengukur suhu bayi cowok yang sudah di rebahkan di ranjang.
“Bukannya loe dokter kandungan ya. Kenapa loe di sini?” tanya teman Erik.
“Iya bantuin istri kan nggak papa!” teman Erik yang mendengar itu hanya bisa tertawa sambil melirik ke arah Ella.
“Kurangkah asetmu sampai istrimu kamu suruh bekerja,” ucap teman Erik sambil menenangkan bayinya yang menangis setelah selesai disuntik vaksin.
“Enak saja! Ini namanya suami pengertian, mendukung karier istri,” jawab Erik sambil mencoba menggendong bayi temannya.
“Anakmu sudah berapa, Rik?” tanya teman Erik bernama Bagas itu.
__ADS_1
“Belum keluar masih di perut.” Suara tawa renyah pun keluar dari mulut Bagas.
“Aku saja sudah 4, masak kamu 1 saja belum keluar, hahaha.” Erik menatap tajam ke arah temannya itu.
“Ada yang lucu? Kenapa tertawa menghina begitu?” tanya Erik yang tidak suka dengan suara tawa temannya itu.
“Kamu ketuaan sih nikahnya, jadi jamuran deh,” cibir Bagas. Sedangkan Erik hanya bisa memberikan pukulan keras di lengan temannya itu. Ella yang melihat itu hanya bisa menegur suaminya.
“Mas ...! Jangan seperti itu, bisa pergi nanti pasienku?” ucap Ella sambil menatap Erik.
Sedangkan istri Bagas yang dulu satu kelas dengan Erik pun, hanya bisa menggelengkan kepalanya karena melihat tingkah Erik yang tidak pernah berubah, masih sering main tangan, dan berbicara ketus pada orang di sekitarnya.
“Kok bisa ya, Erik dapat kamu,” tanya istri Bagas yang duduk di kursi depan meja kerja Ella.
“Namanya juga jodoh,” jawab Ella singkat sambil tersenyum ke arah wanita yang lebih tua darinya itu. Obrolan mereka pun tidak hanya tentang perkembangan anak, segala sesuatu tentang model fashion terbaru pun di bahas, beruntung anak teman Erik adalah pasien terakhir Ella, jadi mau ngobrol sampai sore pun Ella bakal melayani, Erik yang mengkhawatirkan kondisi Ella mulai memberikan kode pada temannya, agar segera membawa istrinya pulang. Beruntungnya temannya itu bisa dengan mudah dia usir, mengingat anaknya juga sudah tertidur pulas, jadi tidak ada mainan lagi untuk Erik.
***
“Kamu duluan Yang, Mas ada perlu sebentar dengan Rendi,” ucap Erik yang menyuruh Ella menunggu di depan ruangan Reyhan. Ella lalu berjalan meninggalkan Erik yang bertemu Rendi di koridor rumah sakit itu.
Setelah sampai di depan ruangan Reyhan, Ella duduk di samping ibu hamil yang tengah di temani suaminya itu, kehamilannya mungkin memasuki usia 9 bulan, karena terlihat suaminya terus mengusap perutnya, Ella yang melihat wanita itu tersenyum tipis untuk menyapanya.
“Suaminya mana Mbak? Kok sendirian saja,” tanya wanita di samping Ella.
“Ada kok Mbak,” jawab Ella singkat masih menampilkan senyumnya.
“Jangan sungkan saya ngerti kok, suaminya kabur ya? Nggak mau tanggung jawab,” ucap pedas wanita itu. Ella langsung merubah senyumnya menjadi wajah penuh amarah sambil melirik tajamke arah wanita hamil itu.
“Heh! Lelaki zaman sekarang maunya yang enak-enak, tapi giliran bunting nggak mau tanggung jawab, kasian Mbak masih muda dan cantik, tapi harus hamil dengan pria tidak bertanggungjawab.” Ella yang mendengar itu hanya bisa membuang nafasnya kasar, berharap suaminya itu akan segera datang dan dia akan memperkenalkannya pada wanita di sampingnya itu. Tapi yang ada wanita itu sudah di panggil oleh bu Lastri untuk masuk ke dalam. Bu lastri yang melihat ke arah Ella duduk di ruang tunggu, hanya menundukkan kepalanya sambil tersenyum ramah.
“Mbak Ella mau didahulukan?” tanya bu lastri, membuat wanita hamil itu melirik tajam ke arahnya.
__ADS_1
“Nggak usah Bu,” ucap Ella singkat.
Setelah wanita itu masuk, Erik yang baru datang langsung duduk di samping istrinya.
“Belum selesai Reyhan?” tanya Erik sambil menyerahkan air mineral di tangannya. Ella langsung meneguk air meneral itu hingga habis setengahnya.
“Haus banget sepertinya.”
“Untuk meredakan emosi, masa aku di kira hamil tanpa suami, gara-gara datang ke sini sendiri,” ucap Ella. Erik yang mendengar ucapan Ella justru memilih mengelus perutnya.
“Nanti kalau sudah sudah besar nggak boleh emosian ya, Nak!”
“Nggak nyadar ya, yang suka emosian siapa, kalau dia emosian berarti nurunnya ke Mas, bukan ke aku,” sahut Ella sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.
“Hahaha..., iya deh semoga nurun yang baik-baik dari kita,” ucap Erik mengalah sambil mengusap perut istrinya.
Tak lama pintu pun terbuka, keluar wanita yang tadi sudah mengatai Ella tak jelas. Ella yang melihat wanita itu langsung berdiri dan menyapanya.
“Sudah Mbak ..., kenalkan ini suami saya namanya Dokter Erik,” ucap Ella dengan lantang membuat wanita itu malu semalunya karena sudah mengatai Ella hamil tanpa suami.
“Untung saya baik Mbak, kalau nggak baik saya bisa laporkan Mbak karena nyinyir yang nggak benar.” Erik yang melihat itu hanya tersenyum tipis lalu mengajak Ella untuk masuk ke dalam ruang praktik, hormon wanita hamil memang sangat berpengaruh pada emosinya, takutnya kedua ibu hamil ini akan jambak-jambakkan jika Erik tidak segera mengajak Ella masuk.
Erik yang baru masuk pun segera meminta temannya itu untuk segera keluar, karena dia ingin melihat kondisi anaknya. Sebenarnya masih ada satu ruangan poli kandungan, tapi yang ada USG 4D nya hanya ruangan ini, ruangan bekas Erik yang dulu dia pakai untuk bekerja.
TBC...
.
.
Jangan lupa dukungannya.👍🙏
__ADS_1