
...Selamat Membaca...
Naura merasakan wajahnya menghangat, saat mendapati tatapan kagum terang-terangan yang ditunjukan oleh suaminya. Pagi ini ia mengenakan baju tanpa lengan, hasil semalam jalan-jalan dengan suaminya.
Ini adalah hari kedua mereka berada di Bangkok. Rasanya sangat menyenangkan menghabiskan waktu berdua saja dengan Abhi, tanpa ponsel, kalau pun membutuhkan alat elektronik mereka akan menyalakan televisi. Selain itu meneliti gambar, yang ada di surat kabar, seperti saat kemarin. Hanya melihat gambar. Karena mereka berdua tidak paham dengan Alfabet Thai.
“Kamu kalah sama matahari!” seru Abhi, saat melihat istrinya sudah membuka mata. Ia kemudian beranjak dari posisinya untuk menghampiri Naura yang masih melilitkan selimut tipisnya di kaki.
“Aku kan, capek …” keluh Naura, sambil menarik diri untuk bersandar di tembok. Ranjang itu memang di design tidak ada sandaran. Jadi, tubuh Naura langsung bertemu dinginnya tembok pembatas.
“Siapa suruh, semalam sulit di ajak pulang!” Abhi protes, saat mengingat kejadian semalam. Naura terlalu riang menikmati jajanan di pasar malam, sampai ia lupa dan sulit untuk diajak pulang. Ia mau pulang setelah merasakan perutnya kenyang. Semua itu tentu calon anaknya yang dijadikan alasan berkata bahwa ia sedang ngidam, dan suaminya itu menurut. Meskipun dalam hatinya menggerutu. Abhi berjanji tidak akan membawa Naura ke tempat itu lagi.
Melihat Abhi berusaha memijit kakinya, Naura justru beranjak dari ranjang. Sedari kemarin ia ingin mencoba kolam yang ada di penginapan, dan sepertinya pagi ini adalah waktu yang baik untuk menceburkan dirinya ke kolam tersebut.
Naura kembali masuk untuk menyiapkan perlengkapan renang, terlalu malu untuk melepas pakaiannya di depan mata Abhi yang sedang menatapnya intens.
“Kamu mau ngapaian, sih?” tanya Abhi saat melihat Naura bersliweran di depannya, kali ini berbeda wanita itu sudah mengenakan bathrobe warna putih yang menutupi keindahan tubuhnya.
“Tebak saja!” sahut Naura saat tepat berada di depan Abhi.
“Renang?” Abhi mencoba menebak.
“Tu, kan?! Dah, tahu masih saja tanya!”
“Renang kok pakai handuk, sini aku bantu lepas!” Abhi berusaha merayu, mengingat sudah beberapa hari ini hasratnya tak tersalurkan.
“Nggak perlu aku bisa sendiri,” ucap Naura sambil berjalan ke arah kolam yang tidak terlalu luas. Jernihnya air yang ada di kolam itu menyejukan mata Naura saat melihatnya, sedangkan saat menurunkan satu kakinya ke dalam air, rasa dingin langsung menyambutnya. Melirik ke arah kamar, Abhi masih pada posisinya. Merasa sudah aman ia melepas tali bathrobe yang menutupi tubuhnya. Kemudian melemparkan benda itu ke kursi yang tak jauh dari kolam renang.
Naura langsung menenggelamkan tubuhnya ke dasar kolam, berdiam sebentar menahan napas lalu naik lagi untuk menghirup udara banyak-banyak. Dia ingat ucapan dokter Lusy kalau renang itu salah satu olahraga paling ringan dan bagus untuk ibu hamil.
Tubuh Naura masih bisa bergerak lincah, berpindah dari gaya dada, ke gaya bebas, lalu berakhir ke gaya punggung berputar mengelilingi kolam yang tidak terlalu luas itu, bibirnya berlatih pernapasan, sedangkan tangannya tak berhenti bergerak, tubuhnya seperti mengambang di atas air. Ia sangat menikmati olahraganya pagi ini.
__ADS_1
Abhi yang sedari tadi bersandar di pintu tersenyum simpul saat melihat tingkah istrinya, hanya tersenyum tanpa suara, takut ketahuan jika diam-diam ia memperhatikan. Ingin sekali rasanya ikut berenang dan membantu Naura tapi ia takut. Bukan karena takut tidak bisa berenang tapi ia takut tidak bisa menahannya. Melihat perut istrinya yang mengembung tanpa penutup kain, dada nya yang terlihat kepingan kecilnya di balik kemben warna putih, ia khawatir kalau melihanya lama-lama akan berubah liar.
Naura lekas menenggelamkan tubuhnya saat menyadari tatapan dari Abhi. ia berenang menuju tepi lalu menatap Abhi dengan penuh tanda tanya.
“Kok berhenti?” selidik Abhi yang belum puas menatap sang istri berenang, menurutnya sangat menyenangkan.
“Malu kamu lihatin aku kaya gitu!” jawab Naura.
“Kenapa? Lucu kok, kaya pinguin,” ucap Abhi. Naura yang kesal langsung menamparkan tangannya ke air. Hingga air itu tepat mengenai baju suaminya.
“Kamu jahil banget, deh! Bilang saja kalau kamu mau ikut masuk! Pakai basah-basain aku dulu!” goda Abhi sambil berjalan ke arah bibir kolam.
“Masuk saja, nanti aku naik kalau kamu masuk ke sini!” ancam Naura.
“Nggak boleh, kita berenang bareng!” Abhi melepas kausnya, dan melamparkan ke sembarang tempat. Mengacuhkan pikirannya yang akan bertransformasi menjadi kuda liar.
Sedangkan Naura menatap suaminya dengan tatapan mata was-was saat pria itu mondar-mandir memamerkan gaya berenangnya. Ia lekas naik untuk mengambil bathrobe yang tadi ia lempar ke kursi. Meninggalkan suaminya berenang sendirian di sana.
“Nggak asyik!” cibir Abhi. Naura mengabaikan dan berjalan masuk ke kamar, tapi panggilan Abhi kembali menahannya.
“Itu ada apa di belakang pantaatmu!” tegur Abhi, sambil kembali menyelam mendekati tepi kolam.
“Apa?!” selidik Naura. Mencoba mencari tahu dengan menilik ke arah pantaatnya.
“Nggak ada apa-apa, kok!” ujarnya, kemudian.
“Ih … kamu nggak lihat, Sayang … mendekatlah dulu!”
Naura menurut, dan benar saja, Abhi mengambil sesuatu dari belakang tubuh Naura.
“Nah kan benar!” ucap Abhi.
__ADS_1
“Ada apa?” selidik Naura.
“Buka deh!” perintah Abhi, menyerahkan kepalan ke depan Naura.
“Cacing lagi?!” Naura mencoba menebak.
“Bukan! Makanya buka, dulu!”
“Abhi … nggak banget penting deh!”
“Ya, sudah aku buang nih!” ancam Abhi.
“Jangan aku lihat dulu!”
Naura berjongok, disambut Abhi dengan tawa dalam hati, wanita itu berusaha membuka tangannya. Setelah berhasil, suara Abhi mengejutkan, “Tidak ada!!” suara teriakan Abhi begitu mengejutkan Naura, wanita itu nyaris terduduk dari posisi jongkoknya, wajahnya menahan amarah karena kejahilan Abhi.
“Kebiasaan kamu, ya! Nanti kalau aku jantungan gimana! Kamu mau aku dan anakmu mati!”
“Wee … ngomongnya itu loh, dijaga, dong!” tegur Abhi, dengan telunjuk berada di depan mulut Naura.
“Habisnya kamu gitu!” selepas itu Naura menggigit jari Abhi yang ada di depan mulutnya, gigitan gemas seperti memakan loly pop dengan sedikit memainkan lidahnya.
“Jorok ih!” seru Abhi, mencoba menarik jarinya. Tapi, sekeras apapun ia menarik Naura justru menggigitnya semakin kuat.
“Astaga Sayang ih … jangan jariku yang kamu kulumm!” seru Abhi, ia nyaris kehilangan fokus karena Naura begitu menggoda dirinya.
“Kenapa?” jari Abhi berhasil lepas saat Naura membuka mulutnya, pria itu mengeluarkan seringai tipis, dengan gerakan cepat, menarik istrinya masuk ke kolam.
“Kamu sengaja, kan membangunkan singa yang kehausan! Kita sudah cuti satu minggu loh!” ujar Abhi.
Naura tertawa mendengarnya, wajahnya kembali merona saat Abhi tiba-tiba menarik simpul bathdrobe yang ia kenakan. Akankah suaminya itu punya ide menarik untuk ia bisa menikmati sentuhannya. Main di kolam renang mungkin. Membayangkan saja wajah Naura semakin merona.
__ADS_1
...----------------...