
Baca yuk! Biar penasarannya hilang. Jangan lupa untuk mendukung karya saya.👍🙏
DOR
Terdengar suara tembakkan menggelegar di gudang itu.
Penculik itu menjatuhkan pistol yang dia bawa tubuhnya ambruk ke lantai kerena tembakan dari Haikal tepat mengenai dada kirinya. Setelah berhasil mengalahkan anak buahnya Haikal dan Damar membantu Erik menyelamatkan Ella.
Beruntungnya mereka datang tepat waktu. Jangan tanya dari mana Haikal mendapatkan pistol itu, karena dia sudah bersiap menyiapkan hal terburuk sekalipun, pengalamannya di dunia mafia membuat dia lebih paham dengan situasi dan kondisi, berbeda dengan Erik yang hanya berkutat dengan alat USG dan gunting bedahnya.
Sedangkan Erik, memeluk Ella erat, menciumi wajah Ella.
“ Kamu tidak apa-apa? ” tanya Erik sambil meringis mengusap bekas darah di sudut bibir Ella.
“ Hanya perutku yang sedikit nyeri, ” ucap Ella yang tengah memeluk suaminya.
“ Kita ke rumah sakit sekarang, ” ucap Erik lalu segera menggendong Ella dan membawanya ke rumah sakit.
“ Urus mereka, jangan sampai terlepas, setelah kalian siksa bawa segera mereka ke kantor polisi, ” ucap Haikal pada anak buahnya, lalu segera pergi dari gudang itu mengajak Damar pergi dari sana menuju rumah bunda dan ayah.
Erik yang berada di mobil dengan Ella, merasa panik saat mendengar rintihan kesakitan Ella.
“ Tenanglah sayang, semua akan baik-baik saja, ” ucap Erik sambil mendengarkan petunjuk GMAPS menuju rumah sakit.
“ Sabar ya, 5 menit lagi sampai, Mas akan selamatkan anak kita, ” ucap Erik menenangkan Ella.
Setelah sampai depan pintu rumah sakit, Erik segera memanggil perawat yang berjaga di sana untuk menyiapkan ranjang, dia menggendong dan menidurkan Ella di ranjang yang sudah di siapkan perawat tadi, Erik tetap menerobos masuk ke dalam ruangan saat perawat menahannya, dia tidak mempedulikan ucapan perawat itu, yang dia pikirkan hanya istri dan calon anaknya.
“ Ambilkan saya stetoskop! ” perintah Erik yang membuat para perawat di sana melotot tak percaya dengan yang Erik perintahkan.
“ Apa kalian tuli? ” teriak Erik yang sudah mulai emosi, karena perawat di sana tidak bergerak sedikit pun.
“ Akan ada dokter yang memeriksa istri Anda, jadi Anda bisa menunggunya di luar, ” ucap perawat itu.
“ Aku akan memecat kalian, jika kalian tidak menuruti apa yang aku perintahkan! ” gertak Erik yang melupakan sedang berada di mana dia sekarang.
Pintu UGD terbuka, terdengar langkah kaki seorang dokter tampan memasuki ruangan itu, Erik menatap tajam saat melihat orang itu berjalan ke arahnya, dia justru berdiri di depannya, sedangkan orang yang ditatap hanya tertawa sinis ke arahnya.
__ADS_1
“ Ada apa ini? ” tanya dokter yang baru datang itu.
“ Ini dok, Bapak ini tidak mau keluar, dia justru meminta stetoskop, ” ucap perawat yang sedari tadi berdiri di sana. Erik berjalan mendekat ke arah dokter yang baru datang itu, lalu menyambar stetoskop yang ada di tangannya dan segera memeriksa istrinya.
“ Kamu belum makan? ” tanya Erik yang di jawab gelengan kepala oleh Ella, lalu Erik menuliskan resep obat dan menyerahkan kepada perawat yang berada di sana.
“ Ambilkan bubur, obat itu, dan siapkan kamar tebaik untuk istri saya, ” perintah Erik, yang membuat perawat itu terkejut.
“ Sudah turuti saja, ” ucap dokter yang baru datang tadi, Erik lalu mengarahkan tatapannya ke dokter itu.
“ Sedang apa kamu di sini? ” tanya Erik.
“ Harusnya aku yang bertanya padamu, apa kamu tidak membaca tulisan di depan sana? Joseph Hospital, ” jelasnya yang membuat Erik tersadar bahwa rumah sakit ini milik dokter yang di depannya itu.
“ Apa dia istrimu, kau terlihat panik saat dia terluka, ” ucapnya lagi sambil menatap Ella, tapi Erik masih enggan menjawab pertanyaannya.
“ Pergilah sebelum aku menghabisimu di sini, ” ucap Erik pada mantan sahabatnya itu.
“ Kenapa? Apa kamu masih dendam padaku, tentang tragisnya kisah percintaanmu, ” ucap Joseph memanasi Erik.
“ Ceh, ternyata kamu tidak berubah, masih jadi Erik yang..., ” ucap Joseph menggantung, lalu berjalan meninggalkan pasangan itu.
“ Bagaimana anak kita? ” tanya Ella setelah teman Erik pergi, Erik mendudukkan dirinya di tepi ranjang istrinya, lalu menatap lekat wajah yang dia rindukan itu.
“ Dia akan baik-baik saja, ” Erik mendekatkan wajahnya di depan wajah Ella, menempelkan keningnya di kening Ella, merasakan hembusan nafas istrinya, Erik mengecup singkat bibir istrinya.
“ Jangan pergi sendiri lagi, Mas tidak bisa melihatmu terluka, ” ucap Erik, Ella hanya bisa meneteskan air matanya.
“ Maafkan aku Mas, ” ucap Ella memeluk erat pinggang suaminya.
“ Permisi, kamarnya sudah siap Pak, dan makanannya sudah saya letakkan di sana, ” ucap perawat yang baru masuk itu, Ella segera melepas pelukkannya karena malu.
" Di rumah sakit juga ada penganggu, " bisik Erik di depan telinga Ella, yang membuat perawat itu tidak enak hati, karena mendengar bisikkan Erik.
“ Kita pindah kamar ya, sus tolong pasangkan infus di tangannya, ” perintah Erik lalu segera dia mengambil kursi roda dan mengajak Ella ke kamar yang sudah di siapkan, setelah sampai Erik mendudukkan Ella di ranjang ruangan itu.
“ Ayo makan dulu, habis itu minum obat, ” perintah Erik yang sudah membawa makanan ke depan Ella, lalu menyuapi istrinya.
__ADS_1
“ Jangan melamun terus, jangan di pikirkan lagi, semua sudah berlalu, semoga ini jadi pelajaran untuk kita, ” ucap Erik saat melihat Ella melamun.
“ Lala nggak tau, jika Mas nggak datang,mungkin Lala sudah tiggal nama, ” ucap Ella.
“ Itu tidak akan terjadi, makanlah yang banyak, biar anak kita bisa cepat besar, ” canda Erik agar bisa membuat Ella tersenyum, Ella menatap Erik mengelus pipi suaminya lalu tersenyum tipie ke arah suaminya itu.
Pintu kamar terbuka, terlihat banyak anak-anak masuk ke ruangan Ella yang membuat Erik menatap Damar bingung.
“ Mereka anak-anak panti, ” ucap Damar yang mengerti arti tatapan Erik.
Erik lalu menarik tangan Damar, mengajaknya untuk keluar kamar.
“ Jangan terlalu lama di sini, Ella butuh istirahat, ” ucap Erik yang membuat Damar tersenyum.
“ Iya. Aku nanti malam mau pulang ke Jakarta, kalian akan pulang atau tinggal di sini dulu? ” tawar Damar.
“ Tinggalkan kami di sini, kondisi janin Lala belum stabil,aku tidak bisa menjamin dia akan bisa bertahan jika aku pulang bersamamu malam ini, ” jelas Erik.
“ Baiklah, Lalu aku titipkan kepadamu, tolong jaga dia, ” pesan Damar.
“ Nggak usah kamu perintahkan, aku pasti akan selalu menjaganya, ” ucap Erik lalu segera kembali ke kamar istrinya, melihat Haikal yang sedang tertawa dengan Ella membuat hati Erik panas. Erik berjalan menghampiri Ella, memeluk Ella dengan erat, seperti anak kecil yang tidak mau ditinggal ibunya.
“ Ini dokter tampan kan dok? Yang kemaren telepon Aish? ” tanya gadis itu, Ella hanya mengangguk.
“ Kenapa dia memelukmu seperti itu? Apa dia takut jika Kakak Haikal akan mengambilmu? Hehehe, ” canda Aisyah yang membuat Erik semakin terbakar api cemburu.
“ Om hanya melepas rindu karena 2 hari tidak bertemu dengan dokter cantik Aish, om sangat merindukannya, ” ucap Erik yang tanpa malu menciumi pipi Ella, yang membuat anak-anak di sana terkikik sambil menutup mulutnya. Tapi pandangan Erik melirik ke arah Haikal yang mendengus kesal saat melihat mantan calon kakak iparnya bermesraan di depannya.
“ Mash... Malu ih...,” ucap Ella yang sudah merona karena kelakuan Erik. Erik ingin menciumi Ella lagi tapi tangan Ella segera menahan bibir Erik, yang membuat Erik cemberut dan melepaskan pelukkannya.
“ Kalian nggak pulang ya? Nanti ayah sama bunda nyariin lho...” ucap Erik mengusir halus, sejujurnya dia tidak suka melihat lelaki di depannya ini berada di sini, hatinya masih belum ikhlas sepertibdia melihat Kenzie di tubuh Haikal.
“ Ayah dan bunda sudah tahu om, kalau kita sedang berada di sini, ” ucap salah satu taman Aisyah. Erik menghela nafas panjang, mencari-cari alasan apalagi agar lelaki dan para kurcaci itu bisa segera pergi, karena dia ingin berduan dengan istrinya, melepaskan kerinduannya yang mungkin sudah di level 30.
Terima kasih yang sudah vote, like dan comen positifnya.🙏
Jangan lupa untuk mendukung karya saya lagi.🙏👍😁
__ADS_1