
Happy reading, jangan lupa like, vote dan komentar ya.😀👍
.
.
.
“Lepaskan lelaki tua!” teriak Bella yang tidak bisa bergerak lagi.
Bruukkk
“Awwsshh ... Sakit tahu nggak! Ngapain juga kamu bawa aku ke kamar ini?” maki Bella saat Erik melemparnya tubuhnya di sofa kamar utama. Erik hanya diam menatap tajam ke arah Bella, membuat Bella salah tingkah dan mengusap tengkuknya sendiri.
Erik masih menatapnya, enggan menjawab pertanyaan Bella dia justru mendekatkan wajahnya, dan melum*t kasar bibir manis Bella.
Bella memaki Erik dalam hati, karena kelakuan kasarnya ini, dia masih menutup rapat bibirnya, agar lelaki tua di depannya ini tidak berbuat lebih padanya.
“Apa kamu tidak merindukanku? Merindukan kamar kita ini,” ucap Erik lembut, setelah melepas ciumannya di bibir Bella.
“Aku baru saja mengenalmu mana mungkin aku merindukanmu,” ujar Bella mengalihkan pandangannya dari tatapan Erik.
“Sayang, jangan menutupinya lagi, apa rencanamu? Apa kamu tega membiarkanku mati karena menahan rindu?” tanya Erik yang sudah duduk berjongkok di hadapan ella.
“Gila kamu!” umpat Bella yang sudah berdiri akan meninggalkan Erik. Namun, Erik mencekal lengan tangannya menahan Bella agar tetap berada di dalam kamar.
“Yang ... Please katakan padaku, jangan seperti ini, aku sudah tidak bisa berpisah denganmu lagi,” ucap Erik yang sudah mulai mengeluarkan air mata. Bella yang mendengar suara serak Erik, membatalkan niatnya untuk keluar dari kamar, dia juga tidak bisa menahan rasa sedih saat suaminya mulai mengatakan itu padanya.
Bella lalu membalikkan badan, mensejajarkan tubuhnya dengan Erik, mengusap air mata yang sudah menetes di pipi suaminya.
“Aku tidak suka, kamu memeluk wanita lain,” ujarnya sambil menatap lekat wajah Erik.
“Bukan itu yang ingin aku dengar, aku ingin kamu menceritakan semuanya yang terjadi padamu!” ucap Erik yang sudah membawa Bella duduk.
“Itu tidak penting!” jawabnya sambil mengalihkan tatapannya dari wajah Erik.
“Itu sangat penting bagiku,” sahut Erik.
“Kenapa kamu kurus seperti ini?” tanya Bella sambil mengulurkan tangannya, menyentuh pipi Erik.
“Aku tersiksa karena kamu pergi dari hidupku,” ucapnya sambil memeluk tubuh Bella.
__ADS_1
“Apa yang terjadi denganmu? Ceritakan semuanya!” perintah Erik yang mulai mengambil posisi nyaman untuk mendengarkan cerita ella.
“Kamu penasaran?”
“Ya, aku sangat penasaran karena dia membawamu pergi jauh dariku, dan membuat kita berpisah,” ucap Erik sambil mencium lembut pipi Bella.
“Saat itu aku tidak tau apa yang terjadi, saat aku terbangun aku sudah berada di Sidney, dan Axel yang berada di sampingku, dia bilang jika dia adalah tunanganku, dan kedua orangtuaku sudah meninggal saat kecelakaan bersamaku, aku tidak mengingat apapun saat itu, yang aku pikirkan adalah orang yang berada di depanku, beberapa hari setelah aku keluar dari rumah sakit, aku baru menyadari bahwa jari kananku tersemat cincin pernikahan kita, dan aku merasa ragu karena nama yang tertulis adalah namamu bukan nama Axel,” jelas Bella.
“Lalu di mana cincinnya sekarang, apa dia memintamu untuk membuangnya,” tanya Erik menatap wajah Bella yang mulai tersenyum.
Bella lalu meraih liontin kalungnya, menunjukkan ke arah Erik. “Ini tidak pernah jauh dari diriku, ya meski kamu sudah melepasnya, tapi aku masih akan tetap menyimpannya,” jelas Bella yang melirik ke arah jari telunjuk Erik.
“Bukan begitu Yang ... “
“Sudahlah! Aku paham kok, mana ada juga lelaki yang betah hidup tanpa belaian wanita,” ucap Bella, sambil mengalihkan pandangannya ke arah samping.
“Stop ... Kita baru saja bertemu, aku ingin melepas rinduku, jangan membuat masalah yang sebenarnya tidak perlu kita permasalahkan, lanjutkan ceritanya!” pinta Erik pada Bella. Dia lalu menatap ke arah Erik dan melanjutkan ceritanya.
“Ya sudah selama itu aku hidup dalam kendalinya, dia mengubah kehidupanku yang baru, mendatangan chef terkenal di sana, jadi ya lumayanlah buat nambah-nambah ilmu,” ucap Bella sambil tersenyum di ujung kalimatnya.
“Bagaimana kamu bisa bebas darinya?”
“Siapa bilang aku bebas? Dia masih memantauku, dia belum tau jika aku sudah mengingat semuanya,” jelas Bella.
“Saat aku dipulangkan ke Jakarta, diam-diam Haikal sudah menggantikan semua obat yang dikirimkan Axel untukku, dia juga mendatangkan Dokter Fera untuk terus memantauku, setelah kurang lebih satu bulan aku bisa mengingat suamiku yang mesum ini,” ucap Bella sambil mengalihkan pandangan Erik dengan telapak tangannya, karena pria itu terus menantapnya.
“Haikal, Dokter Fera?” tanya Erik yang bingung dengan nama yang disebut istrinya.
“Ya, Haikal, Nindi, Bunda, Ayah, Bu Lasmi, dan Dokter Fera mereka semua ada di sampingku, saat aku sedang sakau,” jelas Bella. Erik langsung mengeratkan pelukanya pada Bella.
“Tapi Bu Lasmi bilang dia ...”
“Iya karena aku yang memintanya,” sahut Bella.
“Yang, maafkan Mas yang tidak bisa menjagamu, Mas tidak tau jika kamu masih hidup, Mas terlalu bodoh untuk masalah yang kamu hadapi,” ucap Erik yang sudah meneteskan air matanya kembali.
“Apa Mas masih mencintaiku?”
“Bahkan cintaku padamu masih sama kuatnya seperti dulu,” jawabnya.
Mereka lalu berpelukkan, saling melepaskan rindu setelah 5 tahun tidak berjumpa. Mata Bella tertuju pada dinding sebelah kanan kamar utama miliknya, dia tersenyum saat melihat banyaknya foto dirinya, bahkan foto-foto di sana sangat jelek jika dijadikan pajangan.
__ADS_1
“Apa rencanamu Yang?” tanya Erik yang masih memeluk Bella.
“Biarkan berjalan sesuai pemikirannya, aku hanya ingin tahu apa rencananya,” jelas Bella.
“Tapi Mas nggak Mau jauh darimu lagi, Mas sudah terlalu lama mendapat gelar duda,” ucapnya sambil menyandarkan dagunya pundak Bella.
“Hanya sebentar, aku akan secepatnya memintanya datang, supaya kita juga tahu apa keiinginannya.” Ella mengusap punggung Erik, supaya suaminya lebih tenang.
“Bagaimana jika aku merindukanmu?” tanya Erik.
“Tinggal telepon saja!”
“Jika aku ingin membuat adik untuk Riella?” tanya Erik lagi. Ella langsung melepaskan pelukkannya.
“Masih sama seperti dulu!” Erik hanya terkekeh saat mendengar jawaban Bella.
“Aku nggak tau, apakah aku bisa memuaskanmu atau tidak, sepertinya aku ...”
“Apa itu karena aku menendangnya waktu itu?” tanya Bella yang tiba-tiba teringat ucapan Nindi padanya.
“Hmmm ..., yang mana?” Erik diam sambil memikirkan, “Bukan itu, setelah kamu pergi gairahku juga menurun, ntahlah mungkin karena aku terlalu mencintaimu,” jelas Erik yang kembali memeluk Bella. Bella hanya tersenyum sambil mengatur nafasnya, supaya lebih tenang lagi. Bella mengarahkan pandangannya ke arah jendela, menyandarkan dagunya di pundak Erik.
“Yang ...” panggil Erik sambil menarik wajah Bella ke arahnya. Bella hanya menatapnya, mencoba mencari tau apa yang diinginkan lelaki tua di depannya ini.
“Maukah kamu membantuku, menaikkan gairahku lagi, sepertinya hanya kamu yang bisa mengatasinya,” ucap Erik yang sudah memposisikan ella duduk menghadapnya. Suara jantung Bella mulai tidak bisa di kontrol lagi, meski ini bukan yang pertama kali untuknya, tapi perpisahan yang lama membuatnya menjadi nerveos. Dia terus menunduk tanpa melihat wajah Erik.
“Yang ...” panggil Erik sambil mengangkat dagu Bella. Mau tidak mau Bella harus menatap wajah lelaki di depannya ini. Erik mendekatkan wajahnya, hidungnya kini sudah menempel di hidung panjang milik Bella. Cukup lama Erik menatap mata Bella yang tepat berada di depannya. Tangannya sudah tepat berada di tengkuk Bella, dia mencium lembut bibir Bella, melepaskan kerinduan setelah lama tidak merasakan bibir istrinya. Dia melepaskan ciumannya saat nafasnya mulai tersengal.
“Apa kamu lupa caranya berciuman, heh?” tanya Erik yang masih menempelkan hidungnya di hidung Bella, “Jika kamu lupa, aku bisa mengajarimu lagi,” lanjutnya sambil mencium kembali bibir Bella, dia segaja menekan hidung Bella agar istrinya itu mau membuka mulutnya, Erik tersenyum senang saat Bella mengikuti intruksinya. Ciuman itu semakin dalam dan panjang, Bella yang awalnya menolak, kini bisa menikmati ciuman yang diberikan suaminya. Erik mulai menurunkan ciumannya ke arah leher Bella, Bella semakin terbuai dan menikmati sentuhan yang diberikan oleh Erik, suara desahan kecil dan merdu yang keluar dari bibirnya sudah dapat Erik dengar. Erik mulai membuka kancing baju Bella satu persatu, hingga sampai kancing terakhir, Bella menahan tangan Erik yang akan membukanya.
“Mas ... Aku harus segera menyelesaikan cakenya! Bersabarlah!” Erik membuang nafas kecewanya, wajahnya sudah ditekuk, merasa kesal, karena gairahnya yang tidak tersalurkan.
“Gairahmu masih sama saja, siapa bilang menurun!” ucap Bella yang sudah berdiri dan mengancingkan bajunya, dia hanya melirik Erik yang tengah bersandar di sofa.
“Selesaikan secepatnya, atau kamu mau suamimu ini menyusul dan melakukannya di sana!” peringat Erik saat Bella sudah menarik handle pintu. Bella hanya bisa mencibirkan bibirnya ke arah Erik, membuat lelaki itu semakin tergoda dan ingin segera menikmati tubuh istrinya.
.
.
.
__ADS_1
TBC