
Erik akhirnya mengalah untuk mengajak Ella dan kedua anaknya untuk pulang, kerena ibu hamil itu terus merengek ingin memakan bakso yang berada di dekat rumahnya.
Bukan restoran bakso yang Ella inginkan, malainkan warung tenda yang terlihat sangat padat di kerumuni orang-orang yang tengah mengantre.
Ella melihat ke arah kursi belakang, melihat kedua anaknya yang enggan untuk turun dari mobil. Sedangkan Erik masih sibuk menelepon Yohan, karena dari tadi ponselnya berdering.
“Ma ... Riella nggak mau makan di sini, tempatnya jorok,” ucap Riella sambil melihat ke arah warung tenda.
“Itu bukan jorok Sayang, itu cuman orang-orang sendang mengantre untuk mendapatkan giliran,” jelas Ella.
“Pa kita makan di restoran sajalah.” Riella sudah menunjukkan wajah marahnya ke arah Erik.
Erik yang sudah menghentikan teleponnya, hanya melirik ke arah Ella.
“Kita pulang saja, nanti biar Yohan yang beliin buat kamu,” ucap Erik sambil menatap ke arah Ella, dia dari dulu memang tidak menyukai makanan itu, makanya dari tadi Erik kurang bersemangat.
“Ya sudah, Mas ajak pulang anak-anak dulu, biar aku makan di sini sendiri nggak papa,” jawab Ella yang sudah akan membuka pintu mobil milik Erik.
“Sayang ... nggak gitu juga kali Ma,” sahut Erik, sambil meraih kembali ponselnya.
“Lalu aku harus bagaimana?”
Tidak ada yang berani menjawab pertanyaan Ella saat Ella sudah mulai meninggikan suaranya.
“Kita suruh Mbak Ana saja bikinkan buat kamu, oke?” tawar Erik yang mencoba membujuk Ella.
“Terserah.” Jawabnya singkat sambil menatap kerumunan orang yang tengah mengantre untuk makan bakso. Erik terlihat senang karena tidak jadi makan bakso di warung tersebut. Tanpa melihat wajah Ella yang sudah cemberut.
Sampai di rumah Ella keluar lebih dulu, membukakan pintu mobil untuk kedua anaknya. Dia berjalan ke arah kamar lain yang berada di atas, lalu mengurung diri di sana. Pintu sudah Ella kunci agar suami dan anak-anaknya tidak akan memasuki ruangan itu.
“Sayang ... jangan seperti ini dong!” ucap Erik sambil mengetok pintu di mana Ella berada. Dia khawatir dengan kondisi Ella karena dari tadi siang dia juga belum makan, rencana makan bakso harus batal karena istrinya lebih mengalah darinya. Erik menyesal juga karena tidak menuruti permintaan Ella, dan pasti itu juga karena istrinya tengah ngidam.
“Sayang ...” panggilnya lagi. Tapi Ella yang berada di dalam hanya merebahkan tubuhnya di kasur yang tidak pernah dia tiduri.
Kalun dan Riella tidak tau jika mamanya tengah mengurung diri di kamar. Jadi mereka langsung menuju ke kamar utama.
“Ayo Mas temani, kamu bisa makan sepuasnya, kita pergi sekarang mau nggak?” bujuk Erik agar Ella mau membuka pintu kamarnya.
Ella yang berada di dalam kamar, hanya bisa meringkuk sambil memeluk gulingnya.
“Rasain ya ... biar saja seperti itu terus sampai pagi, pengennya menghamili saja giliran istrinya ngidam, suruh nganterin saja ogah-ogahan,” lirih Ella sambil memukul-mukul guling, seolah guling itu adalah suaminya.
Erik yang sudah tidak bersuara, membuat Ella semakin marah padanya, karena perjuangan Erik hanya sampai di situ saja.
Perlahan pintu kamar terbuka, rupanya Erik meminta pelayannya untuk mencarikan kunci kamar yang Ella tempati. Erik berjalan pelan menghampiri Ella, menyusul Ella yang meringkuk di atas kasur, tangannya terulur memeluk Ella dari belakang.
__ADS_1
“Ayo kita jalan-jalan!” ajak Erik sambil meletakkan dagunya di pundak Ella. Istrinya itu masih belum menjawab ucapan Erik.
“Sayang ... ayolah! Sudah marahnya, kamu mau makan bakso apa?” Erik menghentikan pertanyaannya, karena Ella berusaha melepas pelukkannya.
“Mau bakso beranak, bakso urat, bakso tengkleng, atau mau bakso daging,” lanjut Erik yang masih berusaha merayu istrinya.
“Atau kamu mau naik motor saja, mumpung anak-anak sudah tidur, kita jalan-jalan yuk,” bujuk Erik yang tiada henti-hentinya. Ella masih diam belum ingin membuka mulutnya.
“Nyebelin deh kalau hamil, pasti ngambekkan begini ...” keluh Erik saat melihat Ella masih menekuk wajahnya, Erik yang merasa lelah akhirnya hanya bisa diam, sambil memeluk Ella dari belakang. Namun, perlahan dia terlelap di belakang tubuh Ella.
Ella yang sudah mendengar suara nafas teratur Erik, menoleh ke arah belakang, memastikan jika suaminya itu sudah benar-benar terlelap. Dia tersenyum tipis saat melihat wajah nyenyak Erik.
“Lebih nyebeIin kamu tahu nggak, mau bikin nggak mau nurutin apa yang aku mau,” lirih Ella sambil menatap wajah Erik. Ella lalu beranjak dari kasur empuknya meninggalkan Erik yang sudah terlelap di sana. Dia berjalan turun ke lantai bawah, menuju dapur karena merasa lapar.
Semua pelayan sudah masuk ke kamarnya masing-masing, makanan juga sudah tidak ada lagi di meja makan. Ella lalu membuka lemari pendingin, mencari stock daging di sana. Dia mengeluarkan daging sapi mencoba membuat bakso daging sendiri, tanpa bantuan orang lain.
Cukup lama Ella berkutat di dapur hingga waktu menunjukkan pukul 11 malam, dia baru menikmati bakso daging kesukaannya, di temani suara detik jam Ella menikmati bakso itu di ruang makan. Tanpa mempedulikan Erik yang tengah bingung mencarinya.
“Ngapain kamu Yang?” tanya Erik saat melihat Ella tengah duduk di meja makan. Dia lalu berjalan mendekat ke arah Ella.
“Dapat bakso dari mana?” tanya Erik yang sudah duduk di samping Ella.
“Bikin sendiri,” jawab Ella singkat.
“Sayang ... kamu nggak boleh capek-capek, ingat anak kita masih kecil,” terang Erik sambil menghadapkan wajah Ella ke arahnya.
“Tapi kan, bisa minta tolong Bu Ana untuk buatin, nggak harus kamu yang bikin sendiri,” kata Erik yang sudah mendekatkan tubuhnya di dekat Ella.
“Sudahlah Mas, aku sudah capek, jangan kamu mengomel terus. Aku ingin menikmati bakso buatan tanganku. Kamu pergilah tidur, temanilah anak-anak!” ucap Ella lalu memberikan cabe bubuk ke dalam mangkok baksonya.
“Mas mau menemanimu saja, kamu juga butuh Mas di sini. Sudah itu cabenya jangan banyak-banyak nanti sakit perut!” peringat Erik yang sudah mengambil cabe bubuk dari tangan Ella.
“Biar saja.” Ella mengaduk-aduk bakso di mangkoknya, setelah tercampur rata dia lalu menyerahkan ke depan meja Erik, “Papa nggak mau aku diare, kan?” tanya Ella dengan nada manja.
“Nggaklah, kesehatanmu lebih penting saat ini,” jawabnya sambil menggelengkan kepalanya.
“Ya sudah, Papa yang makan saja!” perintah Ella sambil tersenyum menatap ke arah Erik.
“Kamu mau ngerjain Mas?”
Ella menggelengkan kepalanya, sambil melingkarkan tangannya ke lengan Erik.
“Ayo cepat makan, kasihan anak kita yang di dalam, keiinginanya tidak pernah terpenuhi,” ucap Ella sambil mengusap perutnya. Erik lalu menatap bakso di depannya, sepertinya bakso itu enak tapi dia dari dulu memang tidak pernah suka makanan berbentuk bulat itu.
“Apa mau aku suapin?” tawar Ella yang sudah akan mengambil sendok di mangkok.
__ADS_1
“Nggak, biar Mas makan sendiri saja,” ucap Erik yang kesusahan menelan salivanya.
Dengan berat hati Erik memakan makanan buatan Ella, matanya terpejam saat mengunyah bulatan bakso itu, membayangkan jika yang dikunyah adalah udang atau kepiting lada hitam kesukaannya.
“Enak?” tanya Ella saat melihat ekspresi Erik.
“Emmm ... mantap sekali, baru kali ini aku memakan makanan seenak ini,” bohong Erik agar tidak di permasalahkan Ella. Ella lalu mengambil sendok di tangan Erik, mencoba mencicipi bakso buatannya.
“Iya benar enak,” ucap Ella yang memuji masakannya sendiri.
“Aneh ya ...” ucap Erik sambil mengerutkan dahinya, “Apa lidah Mas ya, yang sedang bermasalah?” lanjutnya sambil menyendokkan lagi kuah bakso ke dalam mulutnya. Ella menahan suara tawanya, sambil menutup mulut supaya tidak terlihat Erik.
“Sini biar aku saja yang makan,” ucapnya sambil mengambil lagi mangkok di depan Erik.
Malam itu mereka begadang hanya karna semangkok bakso. Hingga pukul 2 pagi Ella dan Erik baru memasuki kamar utama, di mana ada Riella dan Kalun yang tengah terlelap. Seperti biasa Erik tidur di samping Ella, tidak mau di pisahkan oleh anaknya.
“Besok kembali ke rumah sakit ya, kita harus cek kondisi anak kita, kalau mereka baik-baik saja, Mas bisa menyentuhmu kapan Mas menginginkannya,” jelas Erik yang langsung mendapatkan cubitan dari Ella.
“Kenapa sih nggak bisa berpuasa sebulan saja!” maki Ella setelah mendengar ucapan Erik.
“Hahaha ... kamu nggak tau ya? Jika aku sudah berpusa 5 tahun lamanya!” peringat Erik yang sudah menghadapkan tubuh Ella ke tubuhnya.
“Rasanya seperti kita kecanduan obat-obatan terlarang, tau nggak!”
Ella terdiam sambil memanyunkan bibirnya, membayangkan jika Erik benar-benar mengalami kecanduan seperti dirinya.
“Sudahlah, aku mau istirahat, biarlah semua berjalan sebagaimana mestinya, tapi jangan ganggu aku dulu malam ini, aku sudah lelah,” ucap Ella sambil membalikkan tubuhnya membelakangi Erik. Senyuman tipis terukir di bibir Erik, setelah mendengar ucapan Ella.
“Terima kasih ya Sayang ... sudah mau melahirkan anakku lagi,” ucap Erik yang sudah melingkarkan tangannya di perut Ella.
“Aku terpaksa, karena kamu terlanjur menghamiliku,” jawab Ella sambil tersenyum tipis yang tidak bisa dilihat Erik.
“Walaupun begitu, tapi aku sangat bahagia, itu berarti suamiku masih sehat dari segala aspek,” lanjut Ella. Erik yang mendengar semakin mengeratkan pelukkanya. Menciumi pundak yang masih berlapis kain sutra tipis.
Mereka mulai terlelap, hingga matahari kembali menyinari ruangan kamar itu, bahkan kedua anaknya, sudah berangkat ke sekolah, tapi kedua orang itu masih saling berpelukkan. Ella yang perlahan membuka matanya, melirik ke arah wajah Erik yang masih terlelap. Ella mulai beranjak dari kasur ketika merasakan perutnya ingin mengeluarkan sesuatu, dia berlari menuju kamar mandi. Dia mulai mengeluarkan isi perutnya di wastafel.
Morning sikness sudah mulai menyerang Ella, Erik yang merasa terganggu, berjalan menyusul Ella ke kamar mandi. Membantu menyibakkan rambut dan mengusap punggung Ella. Namun, tiba-tiba dia memundurkan tubuh Ella, supaya bisa gantian dia yang memuntahkan cairan dari dalam perutnya.
“Aneh.” Ella mengernyit sambil bergantian mengusap punggung Erik. Tubuh Ella yang masih lebih kuat dari Erik, membantu memapah tubuh Erik menuju tempat tidurnya.
“Pasti keracunan bakso buatanmu semalam,” ucap Erik yang sudah bersandar di kepala ranjang tempat tidurnya.
TBC
.
__ADS_1
Maaf ya telat, jangan lupa like dan vote.