Kepincut Cinta Dokter

Kepincut Cinta Dokter
S2 Tidak Mampu Mencintai Lagi


__ADS_3

Ingat ya untuk selalu berikan like dan vote👍🙏


.


.


.


Setelah perdebatan dengan Jihan, Erik segera membawa anggota keluarganya pulang ke rumah. Saat dalam perjalanan pulang, Riella terus merengek meminta ke rumah Nadia, padahal waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam, tapi gadis kecil itu, benar-benar tidak ingin ditolak. Tidak peduli jika kakaknya sudah tertidur di kursi belakang kemudi.


Erik yang mulai sakit kepala, mulai tidak sabar menghadapi anaknya yang tengah menangis, dia sengaja melajukan mobilnya dengan cepat, hingga Riella yang duduk di samping kirinya memejamkan mata dan menutup telinganya.


“Iya Pa..., stop... huwaaaa! Riella janji nggak ngrengek lagi, jangan seperti ini Pa! stop, Riella takut,” teriak Riella di tengah tangisnya. Namun, Erik masih saja melajukan mobilnya dengan cepat, hingga tiba tepat di garasi mobil rumahnya.


“Tolong urus dia Sus,” ucap Erik menutup pintu mobil dengan kasar. Membuat anak lelakinya yang duduk di kursi belakang terbangun karena suara dentuman pintu mobil.


“Papa marah ya Dek?” tanya Kalun yang baru terbangun dari tidur. Riella hanya menjawab dengan tangisan dan anggukan kecil.


“Lala pengen ketemu Tante mama Kak,” Riella menghentikan isakkannya sejenak, “Lala pengen ketemu sama dia, Lala pengen tanya, mau nggak Tante mama jadi Mama sungguhannya Riella,” ucap Riella yang mematap Kalun dengan instens.


“Kakak nggak setuju juga dengan keinginanmu,” ucap Kalun yang juga turun dari mobil meninggalkan Riella yang semakin keras menangis.


“Sus..., Lala salah ya? Kenapa mereka tidak mau melihat Lala punya Mama baru,” tanya Riella yang masih menangis di pangkuan susternya.


“Nggak Non, mungkin belum waktunya saja,” jawab wanita paruh baya yang menjadi pengasuh Riella, “Ayo kita turun, kita istirahat, besok biar bisa jalan-jalan,” bujuk pengasuh Riella, dia lalu menggendong Riella dan menidurkan Riella ke dalam kamarnya, menemani gadis kecil itu hingga terlelap.


Sedangkan Erik yang berada di dalam kamar mandi, tengah menikmati guyuran air hangat yang membasahi tubuhnya, mencoba meredakan rasa pusing yang tengah dia rasakan, Jihan dan anaknya, selalu menginginkannya untuk menikah lagi, dia sudah sering menolaknya karena bukan hanya dia nanti yang sakit, tapi pastilah istri barunya yang juga akan sakit hati, karena tidak akan pernah mendapatkan cinta darinya.


“Maafkan Papa yang tidak mampu mencintai lagi.” Erik berucap di tengah air yang mengalir di wajahnya, membiarkan air matanya yang juga ikut terbawa air.


Setelah beberapa menit Erik meraih handuk dan segera keluar dari kamar mandi, karena sudah merasakan sedikit membaik. Dia lalu berjalan keluar kamar menuju kamar Riella dan Kalun, telihat mereka berdua sudah berada di ranjang masing-masing di temani cahaya lampu yang temaram, setelah memastikan keduanya tidur, samar-samar terdengar isak tangis dari dalam selimut, bukan Riella yang menangis melainkan Kalun yang tengah menyembunyikan suara tangisnya. Erik mendekat ke arah Kalun, memaksa membuka selimut yang menutupi tubuh anaknya.


“Papa...,” kaget Kalun saat melihat Erik sudah berada di samping tubuhnya, dia berusaha mengusap air mata yang sejak tadi menetes, supaya tidak dilihat oleh Erik. Erik hanya tersenyum ke arah Kalun.

__ADS_1


“Mau tidur sama Papa?” tawar Erik, Kalun menggelengkan kepalanya, sambil menoleh adiknya yang sudah tertidur pulas.


“Adik biar Papa yang gendong,” jelas Erik ketika mengerti kekhawatiran Kalun yang takut meninggalkan Riella sendirian. Setelah mendengar ucapan Erik, Kalun turun dari ranjang mendahului Erik yang mengangkat tubuh Riella menuju kamar Erik.


“Tidurlah jangan menangis lagi, Papa akan menemani Kalun di sini,” ucap Erik yang sudah berada di antara ke dua anaknya.


“Kalun..., kenapa Kalun tadi menangis?” tanya Erik yang melihat anaknya belum memejamkan mata.


“Kalun nggak Papa, Kalun hanya kasian dengan Papa, Papa harus mengurus Kalun dan adik, dan juga mencari uang untuk kita, coba saja ada Mam...,” jawab Kalun yang terputus karena menyadari kesalahannya. Erik melepaskan tangan Kalun dari bibir mungil anaknya.


“Maaf ya, jika Papa belum bisa memberikan yang terbaik untuk kalian, tapi Papa akan terus berusaha untuk menjadi superhero kalian,” ucap Erik sambil memeluk Kalun.


“Riella juga mau dipeluk Papa,” ucap Riella yang mengagetkan Erik. Dia lalu menoleh ke arah belakang melihat Riella yang sudah terbangun. Erik langsung memeluk kedua anaknya.


“Maaf ya Pa..., tadi Lala sudah buat Papa marah,” ucap Riella yang sudah berada di pelukkan Erik, tangan Riella yang kecil itu sudah berada di leher Erik.


“Iya Sayang, Riella nggak salah kok. Papa yang salah karena tidak bisa memenuhi permintaan kalian,” ucap Erik menenangkan anaknya.


“Pa boleh nggak mulai sekarang Kalun tidur sama Papa, Kalun selalu terbayang wajah Mama yang memanggil Kalun, setiap akan tidur,” pinta Kalun dengan tulus. Erik tersenyum dan menyetujui permintaan kalun, mungkin dengan tidur bertiga seperti ini, dia juga tidak akan teringat terus dengan wajah Ella saat menjelang tidur.


***


Pagi harinya Riella terbangun lebih dulu, karena merasakan basah di bagian tempat tidurnya, dia yang takut akan dimarahi Erik, langsung menutupinya dengan selimut tebal, dan segera berlari ke arah kamar tidurnya. Erik yang sebenarnya sudah bangun hanya melirik sekilas kepergian Riella. Lalu tersenyum tipis, ketika menyadari bau ompol di sisi samping kanannya.


“Mungkin dia sepertimu Yang,” ucapnya lirih, sambil menatap Kalun yang masih nyenyak dalam pelukkannya.


“Ini baru mirip aku..., betah banget tidurnya.” Erik mengusap rambut kalun yang sudah tumbuh memanjang. Mencoba membangunkan anaknya, karena waktu sudah menunjukkan pukul 8 pagi, beruntungnya ini weekend, jadi mereka bisa bebas melakukan hal apapun.


“Kalun..., bangun Sayang, kita ke makam Mama yuk...,” ajak Erik yang berusaha membangunkan anaknya.


“Nanti Pa..., Kalun mengantuk.” Erik meraih tangan Kalun mendudukkan anaknya.


“Bagaimana jika kita ledekin Riella, adikmu ngompol di ranjang Papa.” Kalun yang mendengar itu langsung melihat ke arah samping Erik yang sudah kosong, yang masih terlihat jelas bekas dan bau ompol di sana. Kalun langsung berlari meninggalkan Erik yang tengah menatapnya sambil menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


“Lala ngompol..., Lala ngompol,” ledek Kalun yang sudah berada di kamar Riella, membuat Riella melemparkan bantal ke arah Kalun. Erik yang melihat kedua anaknya hanya bisa menggelengkan kepala, karena tidak segera bersiap untuk mengunjungi makam Ella.


Satu jam kemudian.


Mereka sudah berada di dalam mobil, ditemani baby sitter Riella yang selalu mengurus gadis kecil yang menggemaskan itu. Sampai di makam keduanya bergandeng tangan, mendahului Erik yang berjalan pelan di belakangnya, matanya terus menatap ke arah makam istrinya yang masih berjarak sekitar 20 meter, saat dia melihat siapa yang datang, dirinya menatap ke arah lelaki yang tengah mengunjungi makam istrinya.


“Itu siapa Pa?” tanya Riella yang menoleh ke arah Erik yang berdiri di belakangnya.


“Salim dulu sana, itu teman Mama dan Papa!” perintah Erik pada kedua anaknya.


Haikal tersenyum senang saat melihat Riella dan Kalun seperti anak kembar.


“Sendirian?” tanya Erik singkat. Haikal hanya mengangguk.


“Tadi sekalian berkunjung ke makam Kenzie jadi sekalian mampir,” jelas Haikal.


“Apa yang berada di dalam benar-benar jenazah Ella?” tanya Haikal.


“Apa maksudmu? Aku sendiri yang mengurus semuanya,” jelas Erik yang tidak suka dengan ucapan Haikal.


“Santai Bung, aku hanya curiga saja, kenapa Ella bisa meninggal secepat itu,” jelas Haikal, “Dan aku pernah...,” jeda Haikal, “Lupakan saja mungkin aku yang salah melihatnya!” lanjutnya.


“Dasar! Ngomong nggantung seperti itu, apa maksudmu?”


“Nggak papa, lupakan saja, aku harus segera pergi karena pesawatku sebentar lagi akan take off,” jelas Haikal pada Erik.


“Jika kamu butuh bantuanku, hubungilah!” pesan Haikal pada Erik sebelum meninggalkan Erik yang berdiri di depan makam Ella.


“Aku nggak akan menerima bantuanmu,” ucap Erik sambil tersenyum tipis. Lalu mengusir Haikal dengan isyarat tangan kanan.


.


.

__ADS_1


.


Next >>>


__ADS_2