Kepincut Cinta Dokter

Kepincut Cinta Dokter
Extra Part : Kisah Cinta Naura


__ADS_3

Cuma mau bilang, kisah Kalun ada di novel MISTAKE (NT)


Riella ada di novel THE DELAYED OF LOVE STORIES (NT) & DI UJUNG PENANTIAN ( K B M APP-END) di sana ada disinggung kenapa Maura bisa Alby.😅


Selamat Membaca, di sini Ella kasih cerita Naura ya, semoga tetap suka, dan tidak berhenti baca. Jangan lupa like dan komentar.


💕


Tanpa menghabiskan sarapannya lebih dulu, Naura bergegas mengekori Erik yang akan menemui Hanif. Meninggalkan semua orang yang masih berkasak-kusuk di meja makan. Dia ingin mencuri dengar apa yang Hanif katakan pada papanya.


Saat Erik sudah berdiri di depan Hanif, Naura sengaja menghentikan langkahnya bersembunyi di balik tembok pembatas, menyembunyikan bayangannya dari Hanif dan Nora. Khawatir tiba-tiba gadis kecil itu menemukannya, dan tidak mau lepas darinya seperti waktu itu.


Obrolan mereka tidak terlalu lama, karena Hanif harus mengantar Nora ke rumah orangtuanya lebih dulu sebelum pergi bekerja. Erik bahkan tidak ingin basa-basi, menawarinya minum teh lebih dahulu. Hanif langsung pergi, setelah perbincangannya dengan Erik selesai.


Naura menggertakan giginya setelah melihat kepergian mobil Hanif. Mood nya bekerja menguap begitu saja pagi ini. Apalagi saat melihat Erik tersenyum penuh arti ke arahnya. Dia semakin ingin memblokir nomor ponsel Hanif sekarang juga.


"Gimana?" Erik bertanya sambil menoel dagu Naura. Menghentikan langkah Naura yang hendak keluar rumah.


"Nggak minat! Yang sendiri saja aku malas. Apalagi yang sudah berekor." Naura menjawab tegas, lalu kembali melanjutkan langkahnya menuju mobil, membuka pintu dan segera memasangkan seatbelt. Meninggalkan Erik yang terus menerus menatap heran ke arahnya.


"Papa nggak usah mikirin Nana, sejauh ini Nana bahagia dengan kehidupan Nana. Ow ... ya, nanti malam Nana pulang ke Sudirman ya. Papa sama Mama nggak usah nungguin Nana pulang!" pesannya. Ia ingin menenangkan diri, dari kejaran masalah jodoh yang beberapa hari ini terus bersliweran di kepalanya.

__ADS_1


"Dasar! Jaga dirimu baik-baik! Jangan memasukan pria sembarangan!" peringat Erik sebelum mobil Naura bergerak menjauh meninggalkan rumahnya.


Naura melajukan mobilnya keluar dari komplek perumahan mewah rumah Erik. Sebenarnya dia sering tidak pulang ke rumah, karena jarak kantor dan rumah Erik yang terlalu jauh membuat papanya menyiapkan satu unit apartemen di daerah Sudirman, untuk berjaga kalau-kalau ia kelelahan. Dan itu cukup membuatnya hidup tenang.


Pikiran Naura masih berkeliaran, belum bisa tenang saat mengingat ucapan Hanif dengan papa nya tadi. "Bodoh! Dasar pria bodoh! Ck." Naura menggeleng, tak percaya dengan ucapan Hanif. Dia sama sekali tidak mengira kalau pria itu akan seberani itu mendatangi dan berbicara pada Erik.


Flashback On.


Berita desas-desus jika Naura menjadi orang ketiga di pernikahan Hanif semakin gencar. Hanif yang mendengarnya pun merasa tidak enak hati dengan Naura. Hingga ia membuat janji dengan gadis itu untuk makan siang bersama di salah satu restoran yang cukup sering mereka kunjungi.


Naura menyetujui permintaan Hanif. Ia pikir Hanif akan membicarakan perihal babysitter untuk Nora. Tapi rupanya salah, Hanif punya niat lain atas ajakan makan siang tersebut.


"Aku akan bertanggungjawab atas berita yang beredar," ucap Hanif setelah keduanya selesai menyantap makan siang. Naura memicing, meminta penjelasan. Menelisik wajah Hanif secara detail, apa ada maksud tertentu dari ucapan pria di depannya itu.


"Lalu? Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Naura, disusul kekehan kecil.


"Menikahimu!"


"What!" teriak Naura dengan mata nyaris terlepas dari tempatnya. Dia shock berat mendengar ucapan Hanif. Sorotan matanya semakin tajam saat mata Hanif menatapnya dengan tatapan berbeda.


Keduanya diam cukup lama, hanya suara dentingan sendok dan piring dari meja sebelah yang mendominasi. Sampai akhirnya Naura sudah tidak bisa lagi menahan rasa kesalnya.

__ADS_1


"Tinta di akta ceraimu belum kering! Jangan membuatku semakin masuk lagi ke dalam hidupmu, Bapak Hanif!" Naura berkata penuh penekanan, menunjukan amarahnya.


"Ibu Naura yang terhormat. Please, tatap aku sebagai pria bukan klienmu!"


Naura semakin kesal, ia mengambil gelas jus di depannya, lalu segera menyedotnya hingga tandas. Meluapkan kesalnya dengan terus-menerus menyedot batu es, menimbulkan suara berisik, siapapun yang mendengar pasti akan risih.


"Ya, mungkin aku pernah berbuat salah padamu. Dan aku menyesal, tapi tolong maafkan aku!" kata Hanif lembut.


"Ya, aku memaafkanmu. Kita bisa berteman. Selagi aku bisa berteman denganmu! Tapi tolong jangan bilang kamu ingin menikahiku, karena itu tidak akan terjadi. Jangan pedulikan namaku, aku sudah biasa mendapatkan ucapan kasar dari manapun! Itu sudah risiko ku saat mendapati klien pria." Naura bicara panjang lebar. "dan aku membantumu itu murni karena kamu temanku! nggak lebih," imbuhnya.


"Nana ...." Hanif mencoba meraih tangan Naura, tapi buru-buru gadis itu menjauhkan tangannya.


"Kita sedang dalam keadaan genting, aku nggak mau omongan masyarakat semakin buruk terhadapku. Aku harus pergi, ada klien yang harus aku temui!" Naura sudah berdiri meninggalkan meja tempat mereka berdua makan siang.


"Na, aku akan datang ke rumahmu dan menjelaskan pada om Erik!" teriak Hanif, saat Naura sudah hampir tiba di pintu kaca.


"Tidak perlu, mereka percaya padaku!" balasnya tegas.


"Aku akan melamarmu!"


Naura menggeleng, matanya memperingati Hanif untuk tidak melakukan hal itu.

__ADS_1


Flashback Off.


__ADS_2