Kepincut Cinta Dokter

Kepincut Cinta Dokter
Demam Dengue


__ADS_3

...Happy Reading...


Suasana rumah sakit Ramones, tepatnya bagian depan pintu Instalasi Gawat Darurat (IGD), menjelang siang ini mendadak gempar, tak terkendali. Bukan karena menangani pasien yang berada di Sakaratul mautnya, tapi karena suara perawat yang saling menyalahkan satu sama lain. Karena miss communication yang sudah terjalin, berakibat fatal. Para perawat mendadak bersikap tidak wajar saat mengetahui yang menjadi pasien adalah salah satu putri Ramones. (Tidak profesional)


Bagaimana perawat tidak panik, melihat kondisi Naura yang mulai kehilangan kesadaran saat tiba di sana? Dan pikiran tenaga medis bertambah buyar saat mendengar teriakan Erik memaki salah satu dokter, karena membuat kesalahan.


“Cepat, ambil sampel darahnya!” titahnya, tidak peduli jika ada orang memperhatikan sikapnya yang kasar.


Banyak prosedur yang tertunda, mereka tidak sigap dalam menangani pasien. Berulang kali pria itu menarik nafas dalam demi mengontrol emosinya. Apalagi saat melirik ke kursi tunggu, menatap istrinya yang tercenung, menatap ke arah dinding tombok di depannya. Erik hanya bisa berharap, semoga kondisi Ella tidak drop.


“Berapa lama lagi aku harus menunggu!” sarkasnya padawanita yang saat ini berada di depannya, padahal Erik tahu, jika dokter itu baru saja memanggil seseorang untuk mengambil sampel darah Naura. “Jangan menyimpulkan apapun sebelum hasil tes nya keluar, mengerti!” cegah Erik saat wanita di depannya hendak berucap. Ia kemudian berjalan mendekati istrinya.


“Everything gonna be okay!” ujarnya mendaratkan bokongnya di kursi samping Ella.


Tatapan Erik kemudian beralih ke arah pria yang baru saja tiba. Pria dengan kemeja putih, sedikit kusut, tengah berjalan mendekat ke ruang IGD. Erik yang sudah bisa melihat dari kejauhan lekas mendekat sebelum istrinya melihat pria itu.


Erik menjauh sebentar dari istrinya hendak menanyakan manajemen yang sudah Kenzo atur untuk rumah darinya itu.


Sejauh ini Kenzo merasa baik-baik saja, tidak ada masalah serius selama ia memimpin. Mungkin hanya satu yang membuat pekerjaan mereka kacau, tidak lain adalah kehadiran pria itu sendiri.


Tidak ingin membantah dan berdebat, Kenzo memilih meng-iya-kan apa yang dikeluhkan mertuanya, dan dia berjanji akan memperbaiki menajemennya. Kalau ia membantah pasti akan berakibat buruk dengan situasi saat ini.


Dokter yang menangani Naura keluar dari ruangan, dia memberitahu pada Ella jika sudah memberikan obat penurun demam lewat cairan infusnya. Tindakan belum bisa dilakukan karena belum mengetahui apa yang menyebabkan Naura demam tinggi.

__ADS_1


“Demam dengue,” cetus seorang perawat yang baru saja mendekat ke arah mereka.


Erik yang baru saja bergabung, menatap marah ke arah perawat. “Kalau salah bisa aku tuntut, ya! Rumahku bersih, mana ada nyamuk aedes!” nada marah Erik membuat nyali perawat itu menciut.


“Ada ruam di tubuh pasien!” perawat yang baru saja bekerja beberapa minggu itu tetap pada pendiriannya. “Saya baru saja mengganti baju pasien, saya melihat banyak sekali ruam di tubuh pasien, Dok!” kekehnya menjelaskan fakta yang terjadi. Perawat itu tidak tahu siapa yang ia hadapi saat ini.


Erik melirik ke arah kenzo yang masih berdiri di sampingnya. Sedangkan Ella sudah melesat masuk ke ruang IGD dia memilih menemani putrinya dari pada menonton perdebatan orang-orang yang mungkin tidak akan berujung, ia paham sikap suaminya, tidak mudah memang—membantahnya.


Ella paham tentang gejala demam berdarah, tapi sedari kemarin pikirannya tidak mengarah ke sana. Ia pikir Naura sakit karena merindukan Abhi. Memikirkan itu membuat Ella mengingat menantunya. Ia menepuk keningnya, menyadari jika lupa membawa ponsel Naura. Jelas pasti pria itu ingin mencaritahu kabar Naura, apalagi ia sempat mengatakan jika Naura tengah demam.


“Bagaimana bisa mengabari Abhi kalau nomornya saja dia tidak punya,” gumamnya saat berhasil mengambil ponselnya dari dalam tas. Abhi menantu baru, dia belum memasukan nomornya ke daftar nomor keluarganya.


Di luar ruangan, Erik sudah mengambil keputusan. Dia meminta Kenzo untuk menyiapkan satu kamar yang akan dihuni mereka bertiga, ia tidak mungkin tega meninggalkan istrinya sendirian menunggu Naura. Dan tentunya Ella tidak mungkin mau pulang, istrinya itu pasti ingin menjaga Naura.


Menjelang sore setelah Naura sudah dipindahkan ke ruang perawatan, Ella dipanggil oleh dokter yang menangani kondisi Naura. Tapi, Erik menolak Ella pergi, ia tidak mau tubuh Ella drop karena kelelahan.


“Dokternya suruh datang ke sini!” perintah Erik pada perawat yang menyampaikan pesan dari dokter yang menangani Naura. Perawat itupun segera keluar dari ruangan termewah di gedung tersebut, hendak menyampaikan keinginan pasiennya.


Naura baru saja membuka mata, tangannya memijat kepalanya yang terasa nyeri, ia belum kuat untuk duduk bersandar di kepala ranjang saat ini. Erik dan Ella yang duduk di sofa menunggunya pun lekas mendekat. Menanyakan apa yang diinginkan Naura.


“Katakan, Sayang … apa yang kamu inginkan?” tanya Ella memaksa, setelah pertanyaan pertamanya tidak mendapat jawaban, mencoba membantu mengambilkan apa yang di perlukan putrinya.


Jawaban Naura hanya menggeleng, wanita itu tidak menginginkan sesuatu, kecuali Abhi. Tapi, tentu saja ia tidak mengatakan pada Ella.

__ADS_1


“Ponsel,” ucap Naura, saat mencoba mencari ponselnya tapi tidak menemukan benda yang seharusnya selalu ada di genggamannya itu.


“Di rumah dong,” sahut Ella.


“Abhi, nanti nyari aku, Ma.”


“Nanti biar diantar oleh pak Ridwan.” Erik yang mendengar ikut menyahut. “Gimana ceritanya kamu bisa kena demam berdarah?” selidik Erik, setelah tadi bertukar cerita dengan ahlinya, ia yakin kalau penyakit itu menyerang Naura saat ini.


“Demam, berdarah?” Naura menelengkan kepalanya ke arah Erik, mencoba mencari kebenaran.


“Lima puluh persen gejalanya mengarah ke sana, kita tunggu hasil laboratoriumnya.” Naura memikirkan kejadian-kejadian yang baru saja ia alami. Ia mebuang nafas kasar saat menemukan satu hal.


“Sepertinya di rumah baru yang baru saja Abhi bangun, Pa! Aku sempat berkunjung ke sana sebelum Abhi berangkat ke Siantar.” Naura mencoba menebak, mencocokan dengan apa yang pernah ia alami. Ia teringat, bahkan ia merindukan tangan Abhi yang membantu mengusap sudut bibirnya.


Erik menggeleng saat mendengar penjelasan anaknya. “Di daerah mana rumahnya? Biar aku meminta orang untuk turun tangan.” Selidik Erik.


“Pa, jangan ikut campur, itu rumah suami Nana, jadi aku harus menghargainya.” Naura tidak ingin Erik terlibat dalam rumah tangganya.


“Kamu pikir papa mau apa? Papa cuma ingin mengirim orang untuk fogging ke seluruh ruangan rumah kalian!”


“Tunggu Abhi, Pa! Tunggu sampai dia pulang.” Ella yang sedari tadi mencuri dengar ikut memprotes tingkah suaminya.


“Ow, jadi tunggu ada korban lagi … baru kalian akan menyesalinya. Seberapa kumuh rumah itu sampai-sampai ada nyamuk berbahaya di sana.” Erik menarik nafas dalam. “Papa lebih tenang kamu tinggal di apartemen dari pada di sana. Kalau melihat mu seperti ini.”

__ADS_1


...JANGAN LUPA KOMENTAR DAN LIKE...


__ADS_2