
Happy reading,
.
.
.
Matahari semakin terik di luar sana, tapi Erik masih tertidur nyenyak di atas ranjang kamar, kedua anaknya sudah berada di sekolah diantarkan oleh sopir pribadi yang sudah di sediakan Erik. Dia menatap ke arah samping dinding kamarnya, terlihat banyak foto Ella di pajang dinding kamarnya.
“Aku akan sangat malu jika kamu pulang ke rumah,” ucapnya sambil tersenyum. Tapi sekilas dia langsung mengubah ekspresinya.
Dia membuang kasar nafasnya, menoleh ke arah samping, membayangkan jika istrinya benar-benar masih ada di sana. Dia akan sangat bahagia jika Ella akan jadi orang yang pertama dia lihat ketika bangun tidur.
Cukup lama Erik terdiam di atas ranjang, pikirannya berlarian ke mana-mana, sampai dering ponselnya berdering, telepon dari Nadia dia abaikan, karena dia tahu pasti Nadia sudah menunggunya di cafe.
Dia segera beranjak dari ranjang, bersiap untuk menemui Nadia di cafe yang tidak jauh dari rumah miliknya, dia tidak mau juga jika Nadia terlalu lama menunggu.
Sekitar tigapuluh menit Erik sudah mulai keluar dari rumah menuju cafe yang ditunjuk Nadia. Benar saja, sampai di sana Nadia sudah menunggunya, Erik yang baru tiba, berjalan mendekat ke arah Nadia, mereka mulai makan siang dan bercerita ke sana-sini, Erik juga menceritakan soal Ella yang menuliskan surat untuknya, dari mulai Yohan dan Kalun yang pernah melihat orang mirip dengan Ella. Nadia hanya menjadi pedengar yang baik untuk Erik. Hingga mereka tidak menyadari, ada seseorang yang menatap kebersamaan mereka berdua dengan geram, orang itu iri dengan Erik yang bisa sedekat itu dengan wanitanya.
“Aku harus mulai dari mana ya, Rik. Untuk mengatakan pada Nugie?” tanya Nadia yang bingung akan memberitahukan kondisinya pada mantan suaminya.
“Mulai awal pertemuan kalian,” jelas Erik singkat.
“Aku takut dia tidak akan percaya padaku, jika aku hamil anaknya,” jelas Nadia.
“Terus, apa harus aku katakan jika dia anakku? Heh..” setelah Erik mengatakan itu dirinya terjatuh karena mendapatkan tinjuan di wajahnya.
“Erik...” teriak Nadia yang kaget, karena tiba-tiba Erik dipukul oleh seseorang.
“Jadi kamu hamil anaknya?” tanya lelaki itu. Nadia hanya diam tanpa menjawab. Nugie lalu meraih kerah kemeja yang Erik kenakan, Erik yang mulai melawan, segera melepaskan cekalan Nugie dari pakainnya.
Keributan terjadi di sana, hingga membuat perhatian pengunjung ke arah mereka bertiga, termasuk Bella yang tengah menyaksikan dari awal kejadian baku hantam Erik dan Nugie, dia hanya menggelengkan kepala ketika melihat dua lelaki dewasa yang tengah memperebutkan seorang wanita.
Nadia yang khawatir dengan kondisi Erik, karena Nugie akan melayangkan pukulannya ke arah Erik. Dia lalu memeluk mantan suaminya.
__ADS_1
“Stop, Gie! Aku hamil anakmu, jangan pukul lagi Erik, dia tidak tau apa-apa!” Nugie langsung menoleh ke arah Nadia dan menjatuhkan tangannya, mengurungkan niatnya untuk memukul Erik. Erik yang mulai tenang, menatap kerumunan orang-orang yang tengah menatapnya, dia hanya tersenyum tipis sambil menusap ujung bibirnya yang sedikit berdarah.
Matanya tertuju pada wanita yang berjalan mundur meninggalkan kerumunan itu, dia tersenyum manis ke arah Erik, Erik yang juga tengah melihatnya, perlahan membalas senyuman wanita itu. Bella keluar dari cafe karena urusannya di sini sudah selesai.
Erik yang baru menyadari, siapa wajah yang dia lihat, langsung beranjak dari tempat duduknya, mengejar langkah Bella yang baru saja pergi dari kerumunan.
Cukup lama Erik berjalan mengikuti langkah Bella, hingga dia tiba di tempat parkir mobil, dia melihat Bella yang hendak membuka pintu mobilnya. Dia yang baru sadar jika itu benar-benar istrinya, menahan pintu mobil Bella, supaya pintu mobil tidak terbuka. Bella yang kaget langsung berbalik badan, menatap lelaki yang sedang mengurung tubuhnya.
Sedangkan Erik, menatap wajah Bella dengan mata yang berkaca-kaca, mereka saling menatap cukup lama, tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulut mereka berdua. Erik yang di posisi menguntungkan, segera menarik tengkuk Bella, mendekatkan bibirnya ke arah bibir Bella. Dia langsung mencium bibir yang sangat dia rindukan itu, dia cukup lama memberikan ciuman di bibir Bella, sambil memejamkan matanya, berbeda dengan Bella yang berusaha menutup rapat bibirnya, supaya lelaki di depannya ini tidak berlaku kurangajar padanya.
“Brengsek! Lelaki tua tak tau diri!” maki Bella bersamaan dengan tulang kakinya menendang ke arah benda berharga milik Erik.
“Aw..., Sayang akhirnya kita benar-benar bertemu di alam yang sama, please jangan tinggalkan aku lagi!” ucap Erik sambil memeluk erat tubuh Bella.
“Kita pulang ya, anak-anak sudah menunggu kita,” ucap Erik pada Bella, Bella yang berontak dari tadi, merasa lelah dan tidak kuat lagi untuk melepaskan pelukkan Erik.
Erik sangat bahagia, karena secepat ini bisa menemukan istrinya dia melepaskan pelukan di tubuh Bella. Menatap lagi wajah Bella, dia masih tidak yakin jika itu benar-benar istrinya, mereka terdiam cukup lama, sampai akhirnya Bella mendaratkan tamparan di pipi kiri Erik yang masih memar akibat pukulan Nugie.
Plaaakkkk...
“Itu kamu Sayang, aku yakin... Aku masih ingat rasa manis bibirmu, itu masih sama,” lirih Erik sambil melihat kepergian mobil Bella. Dia langsung menuju tempat parkir mobilnya, untuk mengikuti ke mana arah mobil Bella pergi.
Cukup lama Erik mengikuti mobil Bella, hingga akhirnya mobil itu berhenti di sebuah toko roti. Erik hanya mengawasi Bella dari kejauhan, sambil menatap terus mobil yang Bella gunakan.
“Jika dia tidak segera keluar, bisa jadi dia pemilik toko roti ini,” lirihnya lalu segera turun dari mobil, dia berjalan masuk ke toko kue milik Bella.
“Selamat siang Pak..., silakan dipilih kuenya,” sapa penjaga toko yang berdiri di balik meja saat Erik membuka pintu masuk toko roti Bella.
Erik hanya menatap sekeliling toko roti milik Bella, banyak anake roti di sana, dia bingung juga mau alasan apa dia datang ke sini. Sekilas matanya menemukan cheeze cake yang ada di etalase, dia tersenyum mengingat cake itu kesukaan Ella.
“Saya ambil semua cheeze cake yang ada di meja itu,” ucap Erik sambil menunjuk ke arah meja. Lalu segera membayarnya ke kasir.
“Mbak kenal dengan orang ini?” tanya Erik sambil menunjukkan foto di layar ponselnya.
“Ow... Ini Kak Bella, dia pemilik toko roti ini Pak,” jelas penjaga toko.
__ADS_1
“Bella?”
“Iya, apa mau saya panggilkan, kebetulan Kak Bella baru saja masuk di ruangannya,” jelas penjaga kasir. Erik diam sejenak sambil menggaruk pelipisnya.
“Tidak mbak, terima kasih,” jawabnya singkat lalu meninggalkan toko roti dan membawa cheezee cake kesukaan anaknya.
Dia melajukan mobilnya untuk pulang ke rumah, di perjalanan Erik terus memikirkan wanita bernama Bella tadi. Saat berhenti di lampu merah di meraih ponselnya untuk menghubungi Damar.
“Hallo...” ucapnya pada lelaki di ujung telepon.
“Kenapa? Apa kamu mau memberikan undangan pertunangan,” canda Damar di ujung telepon.
“Apa istriku punya kembaran?” tanya Erik langsung.
“Ceh! Untuk apa kamu tanya itu? Kamu tau sendiri perkembangan Ella dari kecil hingga besar, kenapa masih bertanya lagi,” maki Damar.
“Kamu datanglah ke toko roti Bella di Jl. Thamrin, akan ada kejutan di sana.”
“Ada apa memangnya?”
“Datanglah sendiri, aku tunggu kabarmu secepatnya, kalau perlu cepatlah datang ke rumahku,” perintah Erik pada Damar, lalu mematikan panggilan teleponnya. Belum lama dia meletakkan ponsel di dashboard, ponsel Erik kembali berdering, karena panggilan dari Yohan.
“Hallo Pak...,”
“Katakan saja!”
“Bapak di mana? Kalau bisa cepat datang ke kantor!” ucap Yohan pada Erik.
“Tigapuluh menit lagi aku akan tiba di kantor,” ucap Erik sambil memutar setirnya ke arah kantor miliknya. Entah apa yang akan dikatakan Yohan, kenapa juga dia tidak ingin mengatakannya lewat telepon, dia sangat kencang melajukan mobilnya, karena penasaran dengan apa yang Yohan ingin bicarakan.
“Semoga saja ini petunjuk darimu,” lirihnya sambil fokus menatap ke arah jalan.
.
.
__ADS_1
TBC