
...Selamat Membaca...
“Om Abhi, om Abhi, om Abhi!” bibir Shaqueena berulangkali berucap memanggil nama Abhi, napas gadis itu sudah terkapah-kapah, karena sedari tadi kakinya melompat-melompat di atas sofa, meluapkan rasa senangnya saat ini. Bahkan, senyum gadis itu tak henti mekar, memperlihatkan giginya yang karies. “Baim, oh … Baim! Aku nak kasih tauuu!” melompat lagi, setelah tak mendapat sahutan dari saudara kembarnya. “Kemarilah cepat! Om Abhi jadi artis!” serunya dengan tingkah laku yang masih sama.
Itulah respon Shaqueena saat melihat pengacara tampan nan gagah itu mengenakan pakaian warna orange khas tahanan KPK. Anak itu belum paham, belum mengetahui jika om-nya tengah difitnah orang.
Suasana rumah masih lenggang, para orang dewasa masih sibuk di dalam kamar. Apalagi Naura, wanita itu masih membentangkan sajaddahnya, bersujud lama-lama, ketika ditimpa masalah.
Shaqueena kembali melompat riang, saat memencet remote kembali wajah Abhi yang terlihat. Dia bangga karena Abhi begitu popular saat ini.
“Queena … duduk! Jatuh nanti!” terdengar peringatan dari sang opa yang baru saja masuk ke rumah.
Gadis lincah nan gesit itu lekas menoleh ke sumber suara, turun dengan cekatan. Bahkan Erik berulangkali mengusap dadanya, takut jantung itu terlepas saat melihat tingkah Shaqueena.
Gadis itu kemudian berlari riang menghampiri sang opa yang masih mengenakan jaket tebal. Tangan mungil Shaqueena lekas menarik tangan keriput Erik, lalu menuntunnya ke arah sofa.
“Om Abhi, Opa! Dia jadi artis terkenal! Pagi ini masuk tipi!” ujarnya dengan nada riang, khas anak kecil yang belum memikirkan masalah berat.
“O, ya?” Erik pura-pura terkejut, seolah baru saja menerima kabar berita itu. Lalu beralih menatap ke arah layar LED 60 inchi di depannya. Tangan kanan Erik dengan cekatan meraih remote, kemudian mematikan volume televisi tersebut. “Om Abhi ganteng!” pujinya.
“Iya, papa Ken tidak punya jambang, om Abhi lebih ganteng!” Shaqueena yang belum tahu apapun hanya ikut-ikutan memuji Abhi seperti opanya. “Tapi, Opa … tadi ada yang bilang suap, suap. Om Abhi main suap-suapan sama siapa?”
Erik menggaruk tengkuknya, mencoba mencari alasan yang tepat untuk menjawab ocehan gadis yang belum genap lima tahun itu. “Samaaa siapa, ya? Queena bisa tebak?” dengan suara menggoda Erik pura-pura berpikir keras.
Gadis itu menggeleng. “Apa mungkin sama mama Naura? Tapi, mama di rumah kok!” ujarnya.
“Sudah sudah, tidak usah dipikirkan! Minta mandi sama mbak Susi, nanti kita jalan-jalan!” titah Erik seraya mengangkat tubuh Shaqueena turun dari sofa. Gadis itu pun melesat, menjauh dari ruang keluarga.
Erik yang merasa lelah, melepas jaket yang masih melekat di tubuhnya, saat ia hendak menyampirkan jaket di sandaran sofa, matanya justru berpapasan dengan Ella yang baru saja keluar kamar.
Ella tampak acuh saat Erik memberikan senyuman, ia justru berjalan menuju dapur tanpa menyapa lebih dahulu ke arah suaminya. Erik yang merasa tidak nyaman mengikuti Ella, tiba di dapur ia mengusir ART nya untuk segera menjauh.
__ADS_1
“Jadi, apa yang kamu lakukan semalaman di luar sana?” selidik Ella. “Mengubah status anak menantumu jadi tersangka suap?” ketusnya tanpa menatap ke arah Erik tapi tetap saja tangannya sibuk membuatkan teh chamomile untuk Erik.
“Aku tidak bisa membantu Abhi!” jelasnya singkat. “temanku angkat tangan setelah aku menceritakan duduk masalahnya!”
Ella yang mendengar membuang napas lelah. “Suruh Doni bertindak!” mintanya.
“Ya, kamu tenanglah dulu!” minta Erik, menarik tangan Ella dan menuntunnya ke arah meja makan.
“Kamu dari kemarin meminta aku tenang! Tapi tidak ada peningkatan apapun dengan kasus Abhi, dia justru menjadi tahanan KPK.” Ella trus mengeluarkan makiannya mumpung keadaan rumah masih terasa sepi. Dan cucu-cucunya tidak akan membela opa nya yang menyebalkan ini. Saat ia hendak melemparkan kembali makiannya, mata Ella menangkap Naura yang berjalan menuruni anak tangga rumahnya. Gadis itu sudah berpakaian rapi dengan pakaian khas wanita kantoran.
“Mau ke mana, Sayang?” sapa Ella, berjalan mendekat ke arah Naura.
“Aku harus melihat Abhi, Ma … statusnya sekarang menjadi tahanan! Aku khawatir dia akan memikirkan aku! Aku akan bilang padanya kalau aku baik-baik saja!” ucap Naura berjalan mendekati meja makan.
“Sarapan dulu!” Erik ikut menyahut.
“Aku bawa sandwich saja,” tolak Naura ia berjalan mendekat ke arah dapur, mengambil kotak makan, kemudian mengisinya dengan potongan roti yang sudah dibuat assisten rumah tangga.
Tapi, kemacetan yang melanda kota metropolitan, membuatnya tiba di kantor KPK tepat waktu. Jelas saja, ketika dia menapakkan kakinya ke pelataran gedung, wartawan yang menanti kedatanganya berbondong-bondong mendekat ke arah Naura. Sedikit nerveos karena jujur dia tidak pernah berhubungan dengan media. Ia sedikit menutupi wajahnya dengan tangan saat masuk ke kantor gedung.
Mba, Mbak Mbak Mbak
Suara panggilan disusul pertanyaan saling bersahut-sahutan mencoba menghentikan langkah Naura saat ini. Tapi, wanita itu memilih mengabaikan panggilan mereka. Sampai Naura merasakan ada yang menarik-narik tasnya. Ia memaksakan kakinya untuk berhenti. Dan melayani para wartawan.
Begitu tubuhnya berbalik, menghadap ke kamera berbagai pertanyaan bermunculan. Terdengar panas di telinga Naura, karena fitnah-fitnah itu justru berkembang dan melebar ke berbagai spekulasi buruk tentang suaminya.
“Saya tidak akan menjawab pertanyaan kalian. Saya hanya ingin berkata bahwa suami saya hanya difitnah. Justice for all, termasuk suami saya! Terima kasih.” Hanya itu yang diucapkan Naura. Dia lalu berlenggang memasuki gedung kantor.
Mereka paham Naura datang untuk siapa. Tapi saat ini, Abhi tengah menerima tamu dari pengacaranya. Dan petugas meminta Naura untuk menunggu.
“Aku akan masuk, saya juga pengacara Abhi!” Naura ngotot ingin menerjang petugas yang menghadang langkahnya. Dan dia berhasil melewati mereka. Meski setelah itu terdengar suaranya berteriak untuk menangkap Naura. Beruntung petugas yang bertemu dengannya beberapa hari yang lalu mengizinkan dia untuk masuk.
__ADS_1
“Pak Abhi tengah menerima tamu,” ujarnya sambil menuntun langkah Naura menuju ruang pertemuan tahanan sementara. Setelah melihat Abhi dari kejauhan ia meminta petugas itu untuk meninggalnya.
Naura mengintip sejenak bagaimana kondisi Abhi saat ini, pria itu tengah berbicara serius pada Nathan. Tapi, saat Abhi menyadari kedatanganya, situasinya berubah 180 derajat, mulai dari mimik wajahnya, hingga senyum dari bibir Abhi, yang terlihat jelas jika itu dipaksakan olehnya.
“Hai …” sapa Abhi beranjak dari tempat duduk, lalu berdiri di samping meja. Keduanya diam, tidak ada yang bergerak dari posisinya. “Apa kamu masih mau memeluk aku? Saat melihat diriku memakai baju ini?” Abhi berbalik meminta Naura membaca tulisan yang kini tercetak jelas di punggungnya.
Meski Naura merasakan nyeri yang begitu hebat di dadanya, sekuat tenaga ia menahan air matanya di depan Abhi. Ia tidak boleh lemah saat di depan pria itu, dia ingin terlihat baik-baik saja supaya tidak menambah beban suaminya.
Naura berjalan ke arah meja yang ditempati oleh Abhi dan Nathan. “Kamu sudah makan?” tanya Naura saat jarak mereka sudah dekat, kemudian mengeluarkan kotak makan berisi sandwich yang tadi ia bawa dari rumah.
“Sudah, dong! Tadi makan sama rendang jengkol, pakai daun singkong, sambal hijau!” Abhi mengusap rambut Naura, mencium sebentar aromanya. Ia tahu pasti semalam istrinya menunggu dia pulang, terlihat matanya terdapat lingkaran hitam karena terlalu banyak begadang.
“Enak dong, aku malah nggak bisa makan.” Naura menumpuk kedua telapaknya di atas paha Abhi.
“Kenapa?”
“Mikirin kamu … makan pakai apa? Andai saja kamu bisa mengirim pesan padaku, aku kan nggak akan mikirin kamu.”
“Aku baik-baik saja, Sayang ….”
“Astaga, jadi kalian seperti ini juga kalau di rumah?” cibir Nathan, saat melihat tingkah mereka berdua.
“Apasih! Pergi sana, nggak usah lihat dan dengar! Nanti kamu ke pengen!” usir Abhi saat mendengar suara protes yang dilontarkan Nathan.
“Okey, gue nyari sarapan dulu.” Nathan beranjak dari tempat duduknya, lekas keluar mencari makanan untuk mengisi perutnya, dari pada tinggal lama-lama di ruangan itu membuat jiwa jomblonya berteriak.
Tapi, saat ia hendak menyeberang jalan untuk masuk ke salah satu kafe. Ia melihat bayangan Martinus tengah memberikan uang pada seorang pria berpakaian biru gelap. Merasa ada yang aneh, Nathan lekas menangkap kegiatan mereka dengan kamera ponselnya.
“Siap, siap. Saya akan melakukannya, Pak!” hanya terdengar samar. Nathan tidak bisa mendengar jelas suara pria itu. Setelah itu, Nathan menunggu mobil yang membawa Martinus meninggalkan jalanan depan gedung KPK.
...-------- BERSAMBUNG --------...
__ADS_1