
...Selamat Membaca...
Mata Naura terus mencuri pandang ke arah Abhi yang tengah duduk tak jauh dari posisinya saat ini. Di depan suaminya, pria berjaket bomber itu tampak serius, seolah ada hal penting yang tidak bisa ditunda untuk disampaikan.
Ia cukup tahu siapa pria itu, meski baru beberapa kali bertemu beliau, tapi namanya sudah melejit karena kesigapannya dalam menangkap para koruptor. Dan mungkin, target selanjutnya adalah menangkap Abhi. Suaminya.
Petugas penyidik itu hendak membawa Abhi ke kantor demi melakukan pemeriksaan. Tapi sepertinya Abhi tengah ber-negoisasi dengan pria tersebut. Mengingat pria datang tidak sendirian.
Naura sedikit bernapas lega, saat Abhi kembali berjalan ke arah meja yang ditempatinya saat ini. Ia tersenyum menyambut Abhi yang sedikit tegang.
“Kita pulang?!” ajak Abhi yang langsung dijawab anggukan kepala oleh Naura.
“Queen ngantuk, ya? Dari tadi Om liyat nguap terus. Maaf ya, sudah lama nungguin om Abhi.” Abhi kemudian menggendong Shaqueena, berjalan ke arah pintu keluar, sambil menunggu Naura yang tengah melakukan pembayaran.
Shaqueena yang tadi menjadi pengisi suara, kini sudah terlelap di bangku belakang. Sedangkan dua orang dewasa itu tenggelam dalam pikiran masing-masing. Tidak ada yang memulai percakapan di sana. Sampai mobil yang dikemudikan Abhi tiba di depan rumah Erik.
“Kamu masuk kamar dulu, ya!” perintahnya, saat melihat Naura melepas seat belt- nya.
“Kamu mau ke mana?”
“Nggak ke mana-mana cuma mau ngantar Shaqueena ke kamar orang tuanya. Atau kamu mau ... dia gangguin kita?” Abhi mencoba tersenyum, untuk menenangkan Naura yang jelas sekali terlihat tertekan, atas pertemuannya dengan salah satu petugas KPK tadi.
“Aku tunggu di kamar,” ucap Naura. Dia tidak menjawab candaan suaminya, memilih keluar dari mobil, meninggalkan suaminya yang masih mengurusi Shaqueena.
Saat Naura keluar dari ruang ganti ia berpapasan dengan Abhi yang baru saja masuk ke kamar. Naura terus memperhatikan suaminya yang berjalan ke arah kamar mandi. Sebelum akhirnya, pria itu duduk di seranjang denganya.
“Bisa kamu ceritakan, Bhi bagaimana awalnya?” tanya Naura, setelah tak ada suara apapun yang dikeluarkan suaminya. Pria itu hanya duduk bersandar sambil memeluk bantal yang biasa ia jadikan alas kepala.
“Yang jelas aku tidak melakukannya.” Abhi menjelaskan singkat.
“Aku nggak tanya kamu melakukannya atau tidak? Aku memintamu untuk bercerita padaku!” dari nada bicaranya, emosi Naura mulai aktiv, saat melihat Abhi yang seperti ogah-ogahan terbuka padanya.
Abhi mendongak, sambil memejamkan matanya. Ia masih berpikir bagaimana cara menjelaskan pada istrinya, secara halus, supaya Naura tidak stress.
__ADS_1
“Abhi!” panggil Naura dengan sedikit berteriak. Dia sudah tidak sabar untuk mendengar cerita dari suaminya.
“Aku hanya ingin kau tidak terlalu memikirkan masalahku!”
“Apa aku sudah gila. Kamu ingin, aku tidak memikirkanmu. Saat kamu dirundung masalah? Kamu suami aku, Bhi! Ayah dari janin yang aku kandung! Bagaimana kamu berpikir untuk merahasiakannya dariku?!” napas Naura tersengal-sengal, dia tengah dilanda puncak emosi saat ini. Matanya pun tak ada teduh-teduhnya, berbeda dari sebelum mereka pergi ke kedai es krim.
Dan Abhi masih terlihat santai, dia paling menang dalam pengendalian emosi saat berhadapan dengan orang yang ia cintai. Ia justru memberikan pelukan untuk Naura, berusaha menenangkan terlebih dahulu. Tapi gadis itu justru memberontak, memintanya untuk menjauh.
Tapi Abhi kualahan, ia menyerah. Takut juga kalau Naura akan semakin stress. “Oke aku jelaskan!” pelukan Abhi semakin erat, meminta Naura untuk tenang. Bibirnya bahkan mengecupi pipi Naura yang sudah basah karena air mata. “Apa kamu melihat dan mendengar berita tadi sore?”
“Hakim Agung ditangkap karena menerima suap.” Naura menyahut dengan cepat. Ia paham hakim itu adalah orang yang sama, yang mengurus kasus pak Bahtiar dan Jordan, pastilah masalah itu Abhi juga mengetahuinya dengan jelas.
Abhi mengusap kepala Naura, kemudian membawanya ke dapan dadanya. Mengusap lengannya lembut, entah ada maksud apa ia terus melakukan itu pada Naura.
“Kamu yang menyuapnya?” tuduh Naura. Setelah Abhi tak mengeluarkan sepatah kata pun. “Atas suruhan siapa—pak pak Bahtiar?” Naura mengusap air matanya. “Katakan, Bhi!” mendongak menatap wajah Abhi dengan tatapan marah.
“Kau tidak akan percaya kalau aku menjelaskan!” kata Abhi. Dan ia sendiri tidak percaya jika masalahnya menjadi pertikaiannya dengan Naura.
“Aku pengacara Bhi! Jangan menutupi lagi, aku yang akan membelamu kalau sampai nanti kasus ini masuk ke persidangan!”
“Aku minta tim penyidik, untuk memberiku waktu sampai besok. Misalkan—,” Abhi menahan penjelasannya. Dia menatap wajah istrinya, sambil merapikan rambut panjang Naura yang menutupi sebagian pipinya. “Ini misalkan, besok aku belum menemukan buktinya … maukah kau berjanji padaku?”
“Nggak, aku nggak mau berjanji apapun padamu!” sahut Naura.
“Sayang ….”
Tangan Naura terangkat, meminta Abhi untuk berhenti berbicara. “Apa ini terkait ancaman pak Martinus tadi pagi. Kalau benar, aku akan mencabut tuntutan ku pada Olivia!”
“Hei!”
Naura yang sudah ingin beranjak dari ranjang, terdiam saat mendengar suara Abhi yang teriak. Tangisnya semakin terdengar jelas. Bukan karena teriakan Abhi tapi karena kelakuannya sendiri. Menyalahkan dirinya sendiri, kalau saja ia menyetujui permintaan pak Martinus pasti suaminya tidak akan kena fitnah seperti ini.
“Kamu tahu kan, kalau tidak ada orang jahat … maka tidak akan ada pengacara baik seperti kita. Nathan juga pengacara baik sama dengan kamu dan aku, dia tidak akan membiarkan sahabatnya berlama-lama menjadi tahanan.” Abhi terkekeh sambil tangannya sibuk mengusap air mata Naura yang terus mengalir membasahi pipinya.
__ADS_1
“Kenapa sih, kamu masih bisa tertawa seperti itu! Aku itu khawatir sama kamu!” maki Naura, dengan wajah cemberut.
“Jangan berlebihan ah, khawatirnya! Kita kan masih bisa bertemu! Kamu tenang saja, tidak perlu memikirkan aku!” pesan Abhi.
“Besok, mungkin penyidik akan memeriksa aku! Jadi, kamu tenang di rumah, jangan percaya dengan ucapan orang! Apalagi dengan tayangan berita! Itu berbahaya! Percaya saja dengan setiap kata yang keluar dari bibirku!” Abhi menatap wajah Naura, menepuk pelan pipi istrinya. “Oke!”
“Jam berapa kamu datang ke kantor KPK?”
“Pagi, mungkin!”
“Aku ikut!”
“Ngapain? Mau pacaran di sana, yang ada banyak yang iri sama kita!” tolak Abhi.
Naura hanya diam, dia kesal dengan Abhi, karena bisa-bisanya pria itu justru mengajaknya becanda di saat dirinya tengah dalam kondisi cemas seperti ini.
“Aku akan cepat pulang, menemani kamu dan anak kita nanti! Dan saat aku pulang, aku harap kamu masih mencintaku! Sama seperti hari ini!” pesan Abhi.
“Berapa uang yang diterima Hakim Agung?” Naura tidak menanggapi ucapan Abhi, dia masih ingin tahu duduk masalah sebenarnya, berjaga untuk menjadi pengacara suaminya.
“Berapa ya?” Abhi tampak berpikir keras, padahal ia tahu betul jumlahnya. “Satu koma dua miliar, pengirimnya atas namaku!” jelasnya, setelah sekian lama hening.
Penjelasan Abhi membuat Naura langsung menoleh ke arah pria di sampingnya. “Kenapa segitu rapinya orang itu memfitnahmu! Aku akan meminta bantuan sama papa!”
“Sayang … jangan lakukan!” tolak Abhi.
“Kenapa, Bhi?!”
“Kita lewati dulu ini bersama. Kalau kita gak bisa melewatinya kita baru minta bantuan papa! Ini ujian kesetian untuk kita. Apa kamu masih bisa mencintai aku, kalau aku berubah status menjadi nara pidana?” Abhi kembali menarik ujung hidung istrinya.
“Asal kamu tahu, Bhi. Sekalipun kamu jadi pasien ODGJ pun, aku masih tetap mencintaimu!”
Abhi terbahak, seolah tak ada beban yang ia tanggung saat ini. “Aku sudah gila, ini! Beneran, aku gila! Karena kecanduan kamu! Berharap saja gak ada petugas yang menangkapku dan menjebloskan aku ke rumah sakit jiwa!”
__ADS_1
Naura mendaratkan cubitannya di perut Abhi. Mengambil bantal lalu memakainya untuk alas kepala. Meninggalkan Abhi yang masih ingin berbincang dengannya.
...-------- BERSAMBUNG --------...