Kepincut Cinta Dokter

Kepincut Cinta Dokter
S2 Ulang Tahun Riella


__ADS_3

Happy reading jangan lupa votenya banyakin😂 dan jangan lupa selalu tekan like.


.


.


.


Bella masih sibuk berada di dapur, dia mulai menghias cake untuk ulang tahun Riella yang diadakan sore nanti, karena anak gadisnya mengundang teman sekolah beserta orangtuanya. Beruntungnya Riella belum bangun dari tidurnya, jadi tidak ada yang mengganggu pekerjaannya saat ini.


Cake untuk Riella sudah selesai, tinggal memindahakan ke nampan yang lebih besar, Bella menggambar sesuai karakter kesukaan Riella, dia tersenyum manis saat melihat cake pertama untuk Riella sesuai keinginanya.


“Harusnya dari dulu Mama membuatkan cake untukmu Sayang.”


“Mbak Bella, Pak Erik minta dibuatkan kopi, katanya minta Mbak Bella untuk mengantarnya,” ucap pelayan yang baru saja menutup telepon rumah.


“Iya, buatkan saja Mbak, biar nanti saya yang mengantarkan,” ucap Bella.


“Kata Pak Erik, dia minta Mbak Bella untuk membuatkannya,” jelas pelayan yang sudah berada di samping Bella.


“Iya sebentar lagi, ini tinggal membersihkan saja, nanggung soalnya,” ucap Bella, dia lalu segera menyelesaikan pekerjaan dan membuatkan kopi untuk Erik.


Bella berjalan pelan menapaki anak tangga menuju kamar utama, tangan kanannya membawa secangkir kopi hitam pesanan Erik, dia tidak memikirkan tindakan apalagi yang akan dilakukan suaminya jika dia masuk ke kamar, saat dia membuka pintu, dia melihat Erik yang sudah terlelap di atas sofa. Dia mengambil selimut untuk menutupi tubuh Erik, dia mendekat ke arah wajah suaminya, sambil mengusap rambut hitam Erik.


“Ketampananku tidak berkurang, kan?” ucap Erik dengan mata yang masih terpejam, Bella lalu tersenyum ke arah Erik, dengan posisi yang masih membungkuk.


“Ternyata pura-pura tidur,” ucap Bella yang akan beranjak dari posisinya, tapi yang ada Erik menarik tangannya membuat Bella jatuh ke dalam pelukkannya dengan posisi membelakangi Erik.


“Mas lepaskan!” perintah Bella yang tidak bisa bergerak dari pelukkan Erik, dia mencoba berontak saat Erik semakin erat memeluknya.


“Menurutlah sebentar saja, sebelum kedua monyet kecil kita bangun,” ucap Erik yang masih asyik mencium aroma rambut Bella.


“Enak saja monyet, melahirkannya saja susah, tau nggak!”


“Masih mau nggak kamu melahirkan anakku lagi?” tanya Erik yang masih setia memeluk Bella.


“Mas nggak lihat, tadi Riella sedih karena nggak mau punya adik.”


“Berarti aku harus merayunya lebih dulu, sebelum aku melakukan itu padamu, kita harus punya anak setidaknya 4 lagi, supaya kita nanti tidak kesepian saat sudah tua,” ucap Erik yang sudah melepaskan pelukkan Bella.


“Enak saja, sepertinya aku tidak akan mampu lagian usiaku juga sudah 35 tahun, Mas tahu kan, resikonya melahirkan di usia sebanyak itu, cari sana wanita lain untuk melahirkan anakmu,” ucap Bella sambil merapikan anak rambutnya yang sudah berantakan.


“Hanya kamu yang pantas menjadi Ibu dari anak-anakku, dan aku tidak ingin jika orang lain yang menerima bibitku, aku akan menurutimu jika kamu hanya menginginkan dua anak,” jelas Erik sambil mendudukkan tubuhnya, “Tapi bisakah kita melakukannya sekarang?” bisik Erik yang sudah meletakkan dagunya di pundak Bella. Bella hanya melirik ke arah Erik sambil tersenyum, menatap ke arah layar tv di depannya. Dia tersentak saat Erik mengangkat tubuh Bella ke atas ranjang.


Sedangakan Erik terlihat senang karena Bella mengizinkannya untuk kembali melakukan itu padanya. Dia masih menatap wajah Bella, mengecup singkat pipi Bella, wajah mereka sekarang saling berhadapan, nafas mereka saling menyapu wajah orang di depannya. Bella menatap mata Erik yang sudah dipenuhi gairah, tapi Erik masih bisa sabar, dia ingin melakukannya dengan pelan, tidak terburu-turu seperti pertama tadi.

__ADS_1


Bella menikmati setiap sentuhan tangan suaminya, bahkan kini pakaiannya sudah terlepas dari tubuhnya, suaminya hanya membiarkan dia mengenakan pakaian dalam saja.


Erik menatap tubuh istrinya sambil tersenyum, dia juga mulai melepaskan baju yang dia kenakan, dia hanya menyisakan celana boxer bewarna biru yang dia pakai.


“Sudah siap menerimaku lagi?”


“Jangan lagi bertanya, atau aku akan berubah pikiran, cepat lakukan!”


“Sabar Sayang, aku ingin hari ini, menjadi hari istimewa untuk kita,” ucapnya sambil tersenyum, wajahnya yang dekat dengan Bella, membuat Bella semakin panas karena nafas Erik yang sudah mengenai lehernya.


“Kapan tanggal haidmu bulan lalu?”


“Tanggal 20, kenapa?” jeda Bella, ”Jangan macam-macam ya, sebelum masalah kita selesai, atau aku akan benar-benar pergi darimu,” jelas Bella yang sudah mengalungkan tangannya di leher Erik.


“Baiklah ” Jawabnya sambil mendaratkan bibirnya ke bibir Bella. Dia mulai menciumi tubuh Bella, menikmati setiap inchi lekuk tubuh Bella, dia menarik ikatan rambut Bella, dia memang lebih suka dengan rambut Bella yang dibiarkan terurai karena membuatnya semakin cantik.


Guuubbrakkkk ...


“Paaapaaa ...,” teriak Riella yang masuk ke dalam kamar. Bella langsung mendorong Erik dan menarik selimut tebal di sampinya.


“Monyet penganggu!” umpat Erik, sambil memejamkan mata karena menahan sesuatu di dalam sana.


“Papa ngapain kok nggak pakai baju sama Mama?” tanya Riella yang penasaran.


“Riella kenapa sudah bangun?” tanya Erik, dia sudah membawa Riella ke dalam pangkuannya.


“Iya tadi Riella nyari Mama, tapi Mama nggak ada, tapi Riella senang karena Mama ternyata di sini,” ucap Riella yang langsung mendapat pelukkan dari Bella.


“Sana Riella makan dulu sama suster,” ucap Erik yang mencoba mengusir Riella.


“Nggak Riella maunya makan sama Mama,” jawabnya yang masih lengket dalam pelukkan Bella.


“Iya, Riella keluar dulu ya ...! Mama mau ganti baju dulu, Riella tungguin Mama di bawah, oke!” perintah Bella.


“Oke, tapi Mama jangan lama-lama ya?”


“Oke ... Sayang.” Erik yang mendengar jawaban Bella, langsung merebahkan tubuhnya. Dia terpaksa harus menahan lagi gairahnya. Coba tadi dia mengunci pintunya pasti dia akan pura-pura tidur saat Riella membuka pintunya.


Setelah Riella keluar, Bella segera memakai kembali bajunya, tanpa melihat ke arah Erik yang tengah menatapnya.


“Kamu tega Yang ...!”


“Kalian memang penting buatku, tapi aku juga kasihan dengan Riella, dia juga membutuhkanku,” jelas Bella tanpa menatap wajah Erik.


“Bagaimana denganku, hemm ...?” ucap Erik yang sudah memeluk tubuh Bella.

__ADS_1


“Nanti, Sayang ..., sabarlah!” ucap Bella sambil menyentuh pipi Erik.


“Apa kamu lupa jika hari ini hari ulangtahunku? Aku ingin hadiah darimu,” ucap Erik yang sudah mengusap perut Bella.


“Maksudmu?”


“Jangan pura-pura tidak paham, Aku akan menagihnya nanti malam,” ucap Erik yang sudah melepaskan pelukkan Bella.


Bella lalu berjalan meninggalkan kamar utama menuju meja makan, meninggalkan Erik yang tersiksa karena hasratnya yang tidak tersalurkan.


***


Waktu terus berlalu, teman-teman Riella sudah hadir di pesta kecil-kecilan yang diadakan Riella, Bella hanya bisa menatap kebahagiaan anaknya dari balik pintu kamarnya. Semua keluarga besar juga hadir di sana termasuk kedua mertua dan kakak iparnya. Dia belum berani untuk menemui mertuanya, takut jika mertuanya itu menyalahkan dia karena sudah meninggalkan anak dan suaminya.


Lilin sudah Riella tiup, dia hendak memberikan potongan kue pertamanya untuk seseorang yang dia sayangi. Bella kaget saat Riella memanggil namanya, dia bingung hendak keluar atau tetap berada di kamar. Namun, tatapan Erik memintanya untuk segera keluar karena banyak tamu yang sudah menunggunya keluar.


Bella berjalan pelan keluar kamar, membuat semua orang tidak percaya dengan kehadirannya saat ini.


“Ella!” teriak Jihan yang kaget karena melihat kehadiran menantunya. Bima yang hadir di sana juga kaget saat mendapati kedatangan Bella. Dia lalu meraih ponsel yang ada di kantong celana yang dia kenakan.


“Hallo ....” ucapnya saat panggilan tersambung.


“Hallo, ada apa?”


“Apa kamu yakin, jika dia tidak akan mengingat keluarganya?”


“Yakinlah! Obat yang aku berikan bisa bereaksi untuk selamanya, dia hanya akan mengetahui jika dia itu Bella.”


“Tapi dia berada di sini, dengan keluarganya!”


“Jangan khawatir, dia akan tetap seperti itu, orang kepercayaanku sendiri yang sudah memastikan jika obat yang aku berikan selalu diminum olehnya,” jelas Axel.


“Oke ..., lebih baik kita segera selesaikan misi kita!” perintah Bima.


“Oke ..., lakukan tugasmu dengan baik! Aku akan secepatnya ke Jakarta, aku pastikan lelaki itu akan membayar semua penderitaanku di penjara!” ucap Axel dengan penuh amarah.


Bima segera mematikan ponselnya dan kembali masuk ke rumah Erik. Dia menatap ekspresi Bella yang terlihat bahagia. Orangtuanya tidak menyadari jika Bima yang selama ini mereka kenal, berusaha menghancurkan hidup Erik dan Ella.


.


.


.


TBC

__ADS_1


__ADS_2