
Happy reading, jangan lupa untuk like dan vote dan rate 5 bintang ya, aku tunggu!😁👍
.
.
“Sayang...,” ucap Erik yang baru menyadari saat melihat Damar duduk di ruang tunggu, dia membalas pelukkan Ella yang sama eratnya, menyalurkan kerinduannya setelah 2 bulan lebih tidak bertemu. Tanpa berucap atau berkata-kata Ella langsung menggigit bibir suaminya yang sudah lama dirindukannya itu, meluapkan kekecewaanya melalui gigitan di bibir Erik . Tapi tangannya masih memeluk erat suaminya, demi mengobati rasa rindu yang dideritanya selama ini.
“Awwww...,” rintih Erik saat merasakan gigitan Ella yang terlalu kuat. Ella melepaskan gigitan itu tanpa mengalihkan pandangannya ke arah lain.
“Masih banyak hukuman lagi yang akan aku berikan,” ucap Ella sambil menatap bibir Erik yang sudah mengeluarkan darah. Tanpa Ella sadari Erik mencium bibirnya tanpa mengizinkan Ella untuk mengambil nafas terlebih dahulu, Damar yang menyaksikan kejadian itu hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
“Pak! Di sini tidak ada bilik cinta atau sejenisnya ya?” tanya Damar pada polisi yang tadi mengantarkan Erik. Polisi itu hanya tertawa keras menanggapi ucapan Damar, sedangkan dua manusia itu masih asyik dengan kegiatannya. Ella yang merasa tidak kuat dengan rasa amis itupun tiba-tiba merasa mual. Dia berusaha melepaskan bibirnya dan segera berlari ke toilet.
“Nyerah! Segitu saja hukumanku!” teriak Erik saat melihat Ella yang berlari ke arah toilet. Pandanganya beralih ke arah Damar, menatap tajam ke arah Damar, sudah mengangkat tinjuannya hendak memukul kakak iparnya itu.
“Kamu mau di penjara lebih lama lagi! Hah!” peringat Damar sambil tersenyum ke arah Erik.
“Lala mendengarkan ucapanku saat aku meneleponmu semalam, jadi aku hanya bisa menjelaskan semua padanya,” lanjut Damar.
“Kamu memang tidak mengerti diriku.”
“Hah! Kamu bilang apa? Aku tau kamu merindukan adikku, harusnya kamu berterimakasih karena sudah membawanya kemari,” ucap Damar.
“Ceh! Bagaimana dengan kandungannya, bahkan kamu belum mengetahui keadaannya kan?” tanya Erik.
“Baiklah! Setelah ini aku akan membawanya ke dokter kandungan,” ucap Damar yang mengalah karena tidak ingin ribut dengan Erik.
“Kamu akan membawanya ke dokter laki-laki yang akan menjamah istriku?” tanya Erik menatap tajam ke arah Damar.
“Ya! Aku pikir itu tidak buruk, karena hanya ingin mengatahui kondisi anakmu,” jelas Damar sambil melirik ke arah Erik.
“Nggak! Jangan coba-coba kamu membawanya ke dokter. Biarkan aku yang memeriksanya.” Damar yang mendengar itu hanya bisa menertawakan sikap Erik.
__ADS_1
“Baiklah aku akan keluar dulu, kalian luapkan rasa rindu kalian, kalau perlu minta izin untuk ke hotel satu hari,” ucap Damar sambil tersenyum mengejek ke arah Erik.
“Kakak mau kemana?” tanya Ella yang baru saja datang.
“Kakak tunggu di luar, kamu bicaralah dengan suamimu,” ucap Damar sambil berjalan ke arah pintu keluar.
Ella lalu berjalan menghampiri Erik, dia berdiri di depan suaminya, membenarkan rambut Erik yang tidak pernah dia rapikan itu, Ella lalu mengikat rambut Erik dengan ikat rambut yang dia pakai.
“Dia sudah besar Yang,” ucap Erik saat perut Ella berada tepat di wajahnya. Sedangkan Ella masih asyik mengikat rambut Erik.
“Maafin Mas ya..., tidak berada di sampingmu selama ini,” ucap Erik sambil memeluk pinggang Ella, Erik mencium perut Ella yang dua bulan tidak pernah dia usap itu. Sedangkan Ella yang dari tadi menahan tangisnya akhirnya menetes juga tepat di wajah suaminya.
“Nak..., bilang mommymu supaya jangan menagis. Papa baik-baik saja di sini,” ucap Erik sambil berbisik ke arah perut Ella. Lalu menempelkan telinganya ke perut istrinya.
“Dia sudah bisa merespon apa yang kita ucapakan!” ucap Erik saat mendegar gerakan lembut dari arah perut Ella. Dia senang bisa kembali merasakan kembali aroma tubuh istrinya itu. Ella yang mendengar itu hanya bisa menagis tanpa suara sambil mengusap kepala Erik.
“Kapan Mas pulang?”
“Secepatnya, bersabarlah Yohan sudah mengurusnya!” jawab Erik yang masih memeluk Ella, “Apa kamu tidak merindukanku, jangan menangis lagi, waktu kita hanya sebentar!” lanjutnya sambil membawa Ella ke pangkuannya. Ella lalu menghadap ke arah Erik.
“Kamu tidak harus memakai baju seperti ini, bisakah kamu mengganti bajumu?” ucap Ella saat menyadari baju yang Erik kenakan.
“Hehehe..., sebentar saja! Anggap saja ini sebagai pelajaran untuk ke depannya agar kita lebih berhati-hati dalam mengambil langkah.”
“Maaf ya Mas! Gara-gara kejadian itu kita harus melewati semua ini,” ucap Ella sambil memeluk Erik.
“Jangan menyalahkan dirimu, sudahlah semua sudah berlalu, Yohan juga sudah menyerahkan bukti-buktinya jadi tenangkan dirimu. Kita akan segera berkumpul kembali, Mas janji akan menebus waktu yang sudah Mas habiskan selama di sini,” ucap Erik sambil membenarkan rambut Ella ke belakang.
“Tapi kamu harus pulang dulu ke Jakarta, tunggu Mas di sana,” lanjut Erik.
“Nggak! Aku di Bali saja, aku bisa tinggal di villa, dan aku akan menemui Mas setiap hari,” ucap Ella yang tidak ingin jauh dari suaminya.
“Apa kamu tidak kasian dengan anak kita? Hum! Dia masih terlalu kecil, untuk melakukan perjalanan villa ke sini,” jelas Erik yang tidak ingin Ella berada di Bali.
__ADS_1
“Ya sudah aku akan tidur di sini bersamamu,” sahut Ella.
“Hahaha.. , boleh mintalah izin kepada penjaga di sini,” ucap Erik dia lalu mendudukkan Ella di bangku sampingnya. Ella yang mendengar itu hanya bisa memanyunkan bibirnya.
“Lalu bagaimana caranya agar aku bisa bertemu denganmu setiap hari?” tanya Ella dengan lembut.
“Tunggulah Mas di Jakarta, kamu pulang dengan Damar hari ini!”
“Apa ini perintah? Tapi aku nggak bisa Mas sehari tanpa melihatmu, aku bisa stress karena terlalu memikirkanmu,” jelas Ella yang sudah mulai naik emosinya.
“Oke baiklah, biar Yohan mencarikan penginapan di dekat sini, Mas akan mengalah kali ini karena Mas juga merindukanmu,” ucap Erik sambil membawa Ella ke dalam pelukkannya.
“Apa kamu memeriksakan kehamilanmu?” tanya Erik sambil merasakan gerakan lembut di perut Ella.
“Tidak! Aku hanya menebus vitamin yang terakhir kamu berikan padaku, apa Mas masih mengalami mual?” tanya Ella yang teringat bahwa Erik yang mengalami moorning sickness.
“Sekarang sudah tidak terlalu parah!” Ella tersenyum saat mendengar ucapan Erik.
Mereka yang tengah asyik mengobrol, terpaksa harus mereka hentikan karena polisi sudah menyuruh Erik untuk masuk ke dalam, karena waktu berkunjung sudah habis.
“Mas masuk ya..., jaga dirimu baik-baik!” pesan Erik pada Ella sambil mencium kening Ella lama. Ella yang tidak ingin berpisah dengan Erik pun hanya bisa menangis sambil memeluk erat suaminya.
“Jangan menangis, Kita akan segera berkumpul lagi,” ucap Erik sambil melepaskan pelukan Ella karena penjaga sudah berulangkali memanggilnya.
“Yohan akan menemuimu setelah ini, percayalah Mas akan segera keluar dari sini,” ucap Erik meyakinkan Ella. Lalu berjalan meninggalkan Ella yang masih menatapnya. Dia tidak ingin menoleh lagi ke arah istrinya karena itu akan membuatnya lebih sakit lagi, dia berusaha mempercepat langkahnya, untuk mengeluarkan tangis yang sejak tadi dia tahan.
.
.
.
TBC
__ADS_1
Terimakasih yang sudah memberi like dan votenya semoga Allah membalas kebaikan readers.😐😊😁👍🙏