
Happy Reading jangan lupa vote yang banyak biar tambah strong ngetiknya.ππ
*
*
*
Ella masih enggan mengalihkan pandangan matanya dari wajah polos Erik yang tengah tertidur, dia menatap jam di dinding, padahal jam sudah berada di angka 8. Menatap kembali wajah suaminya yang telah berhasil menghamili dirinya dalam waktu 1 bulan, sambil menggoyangkan tubuh suaminya.
" Yang, antar ke klinik yuk, " ucap Ella yang tidak mendapat respon dari Erik. Ella lalu meraih ponselnya memberitahu Ratna untuk mengalihkan jadwalnya pada dokter baru yang ada di klinik.
Ella masih ingin bermalas-malasan diranjang dengan suaminya, dia masih ingin tidur didada dan dipeluk erat Erik, akhirnya dia punya cara membangunkan suaminya, Ella lalu mengeratkan pelukkannya hingga membuat Erik bangun dari tidurnya.
" Kenapa? " tanya Erik bingung, Ella hanya diam tidak mau menjawab.
" Mas nggak ke rumah sakit? "
" Nanti siang saja, sekalian ngantar kamu pulang, " jelas Erik memeluk Ella.
" Nanti jangan lupa datang ya, atau mau kesana sekalian bareng dengan Mas " lanjut Erik mengingatkan.
" Nggak usah, nanti Lala berangkat sendiri saja, " ucap Ella yang malas jika harus menunggu kelamaan di rumah sakit.
Singkat cerita, Erik dan Ella berpamitan pada kedua orang tuanya setelah menyelesaikan sarapan yang kesiangan itu, Erik segera menjalankan mobil milik papanya menuju apartemen miliknya.
" Mas langsung berangkat saja ke rumah sakit, biar Lala turun di sini," ucap Ella saat mobil sudah sampai di depan apartemen.
" Iya, tapi kamu hati-hati ya, " peringat Erik, lalu turun dan segera membuka pintu untuk Ella.
Ella segera berjalan masuk ke dalam lobby setelah mobil suaminya tidak terlihat lagi, dia berjalan pelan menuju lift yang akan mengantarkannya ke apartemen miliknya.
Dia ingin memasak dulu sebelum datang ke rumah sakit, Ella ingin makan bersama suaminya setelah cek up nanti. Dia masih belum percaya kalau dia benar-benar hamil, pikirannya melayang memikirkan kepergiannya ke Banjarmasin yang kurang 3 hari lagi, pasti suaminya tidak akan mengizinkan, mungkin dia akan memakai senjata satu-satunya seorang perempuan.
*****
Sore ini Ella berjalan ke arah ruang praktek Erik, jam sudah menunjukkan pukul 6 sore harusnya kalaupun masih ada pasien paling tidak sisa 1 atau 2 orang, dia melihat ibu Santi yang tengah memanggil pasien untuk masuk ke ruang praktek suaminya.
" Mbak Ella nyari dokter Erik ya? sebentar ya ini sisa 2 pasien lagi, " ucap bu Santi.
" Nggak kok bu, saya disini sebagai pasien dokter Erik, tapi ibu jangan bilang Mas Erik dulu ya? " bu Santi hanya tersenyum dan mengangguk ke arah Ella, Ella lalu duduk di ruang tunggu kursi pasien sambil memainkan ponselnya, tatapannya beralih ke ibu-ibu hamil didepannya, satu ibu hamil dengan kehamilan besar, dengan pria disamping yang sedang mengusap-usap perutnya, dan satunya lagi wanita hamil yang masih muda tidak ditemani siapapun disampingnya, pikiran Ella sudah kemana- mana, membayangkan suaminya memegang wanita itu, namun seketika dia segera menepis pikiran jelekknya itu, lalu mengarahkan kembali matanya ke ponsel yang dia pegang, sampai suara bu Santi terdengar dia baru tersadar jika pasien lainnya sudah pulang.
" Masih ada 1 pasien lagi dok," ucap bu Santi pada Erik.
" Iya, panggil saja, " ucap Erik yang melupakan perjanjiannya dengan sang istri.
" Selamat sore bu? ada yang bisa saya bantu? " ucap Erik yang belum menatap kehadiran istrinya karena dia sedang mencari-cari ponselnya dilaci meja.
__ADS_1
Ella masih menatap suaminya, sneil putih itu membuat suaminya tampak lebih tampan dari biasanya, Ella hanya menggelengkan kepala lalu mendekat ke arah Erik.
" Selamat sore dokter Erik, bisa tolong bantu saya ? " Erik yang merasa familier dengan suara itu langsung mendongakkan kepala dan tersenyum ke arah Ella.
" Maaf dengan Ny. siapa kalau boleh saya tau dan dimana suamimu? O ya bu Santi, tinggalkan kami berdua, karena saya masih ingin bermain -main dengan pasien terakhir saya, " usir Erik lalu berdiri dan mengunci pintu.
" Panggil saya nona Lala dok, saya nggak tau dimana suami saya, apakah dokter mau bertanggung jawab atas kehamilan saya ini, lumayan dok saya sexy cantik lagi, " ucap Ella dengan suara centil, sambil bercanda menggoda Erik dengan melepaskan kancing baju atasnya.
" Hahahaha, anda sama sekali tidak lucu nona! " ucap Erik dengan tawanya milirik kancing yang dilepas Ella, " sudah ah, dokter vs pasien penggodanya, bisa- bisa Mas meminta jatah disini, " lanjutnya yang masih dengan senyum, Ella lalu kembali mengancingkan bajunya.
" Nggak mau ya sudah, " ucap Ella yang belum berhenti menggoda.
" Sudah yang, yuk kita periksa, " Ella tersenyum menatap suaminya.
Erik lalu melepas jas sneilnya dan menggulung lengan kemeja hingga ke siku.
" Silakan berbaring Ny. Erik, " ucap Erik membantu Ella naik ke ranjang pemeriksaan, hari ini Ella menggenakan kemeja dan rok payung selututnya, jadi dia tidak perlu mengganti baju pasien.
" Nggak usah tegang sayang, kita akan bertemu calon anak kita, " ucap Erik saat melihat Ella begitu tegang.
" Usia kehamilanku berapa minggu Mas? " tanya Ella saat melihat Erik menggerakkan alat USGnya.
" 5 minggu sayang, " mata Ella membulat tidak percaya dengan ucapan suaminya.
" Kok bisa? aku baru telat datang bulan 5 harian, " tanya Ella lagi.
" Mas akan USG dengan metode transvaginal ya? ini belum terlalu jelas, karena usia kandunganmu masih sangat muda, " jelas Erik.
" Transvaginal? maksudnya? " Ella tidak melanjutkan ucapannya saat dia teringat pernah mengetahui metode yang dimaksud suaminya.
" Apa Mas juga melakukan itu ke pasien lain? " ucap Ella sambil mendudukan tubuhnya berhadapan dengan Erik.
" Sudah menjadi resiko Mas sayang, tapi Mas nglakuin ini jika pasien Mas yang meminta atau jika memang benar -benar pasien membutuhkan saja, " jelas Erik pada Ella.
" Terus bagaimana reaksi suaminya, saat melihat Mas ubek- ubek milik istrinya, " Ella bergidik membayangkan suaminya menyentuh milik orang lain.
" Kan Mas sudah bilang itu sesuai permintaan, kalau mereka yang minta berarti mereka mengizinkan dong, " ucap Erik menjelaskan.
" Sudahlah jangan dibahas lagi, " ucap Erik yang sudah mengutak- atik mesin USGnya.
" Aku tanya satu lagi, tapi jawab jujur ya? " ucap Ella yang masih ingin tau kegiatan suaminya.
" Apa lagi yang, " ucap Erik yang masih focus didepan layar .
" Tapi kamu jangan marah, " peringat Ella.
" Apa dulu pertanyaannya, " ucap Erik yang merespon dengan sedikit malas.
__ADS_1
" Apa Mas pernah horny dengan pasien Mas, " Erik langsung beralih menatap Ella, lalu tersenyum tipis ke arah istrinya.
" Percaya atau tidak Mas cuma bisa horny sama kamu, Mas sudah disumpah untuk menjaga dengan baik etika sebagai dokter, Mas tidak pernah mengambil kesempatan untuk melecehkan, semua murni hanya untuk pemeriksaan pasien Mas sayang, jadi jangan berpikir Mas bisa horny dengan wanita yang Mas pegang, " jelas Erik sambil mencubit pipi Ella, Ella lalu tersenyum ke arah suaminya.
" Udah yuk kita lihat baby kita, " ucap Erik kembali merebahkan tubuh istrinya di ranjang, Erik membantu Ella menekuk kedua kaki Ella untuk memudahkan Erik memasukkan tranduser berbentuk stik yang sudah diolesi gel sebelumnya.
" Rileks sayang, " ucap Erik mengingatkan, setelah tranduser masuk ke dalam tubuh istrinya Ella memejamkan mata dan mengigit bibirnya, ketika Erik mendorong lebih kedalam.
" Apa sakit? " tanya Erik melihat sikilas ekspresi Ella, lalu kembali menatap monitor di depannya.
" Nggak ada apa-apanya dibandingkan dengan punya kamu, " canda Ella, Erik tersenyum dan mulai menggerakkan tranduser, mencari- cari Erik Junior di sana.
" Kamu lihat kantung dengan titik putih kecil itu? " tanya Erik pada istrinya.
" Iya, " ucap Ella singkat.
" Say hi to our baby, " Erik menunduk mencium dan mengecup bibir Ella.
" Hay, Erik Junior, " gumam Ella lalu menatap suaminya dengan haru, karena merasa sangat bahagia, doanya begitu cepat dikabulkan oleh Allah.
" I Love You and our baby, " ucap Erik begitu lembut.
" Aku juga mencintaimu, apalagi bayi kita, pasti dia akan bahagia punya papa penyayang sepertimu, " ucap Ella sambil tersenyum menatap dalam suaminya.
" Apa bayi kita sehat? " tanya Ella.
" Sehat sayang, perkembangannya sesuai dengan usianya, " ucap Erik seraya mengambil pelan alat yang ada di tubuh Ella.
" Pemeriksaan hari ini sampai disini ya, Insya Allah bulan depan kita bisa mendengar detak jantungnya, apa perlu Mas bawakan dophler biar bisa dengar detak jantungnya setiap saat, " Ella menggeleng menolak tawaran Erik.
Erik lalu mengajak Ella untuk duduk dikursinya dan merapikan rambut istrinya yang sedikit berantakan, mengikat rambut Ella dengan ikat rambut yang ada di laci meja kerjanya, jangan bertanya itu punya siapa, itu jelas punya Ella yang sengaja dibawa agar bisa mencium wangi shampo istrinya yang tertinggal di ikat rambut. ( maklum pengantin baru )
" Mas..."
" Hmm..."
" Apa aku masih bisa pergi ke Banjarmasin? "
" Sayang...! " Ucap Erik memutar kursi yang diduduki Ella.
Terima kasih sudah membaca, target saya
" KEPINCUT CINTA DOKTER " ini hanya sampai 100 part saja, mudah -mudahan bisa cepat selesai. Jangan lupa like, vote, dan coment.
Baca juga " CINDERELLA GENDUT " .πππ
" Dikasih izin nggak ya enaknya? jangan-jangan nanti disana ketemu Kenzie? " author bertanyaπ
__ADS_1