
Happy reading, jangan lupa like dan vote ya.👍😊.
.
.
.
.
Keesokkan harinya, Ella dan Erik berniat mengunjungi rumah sakit setelah dua bulan tidak menginjakkan kaki ke sana, dia membawa Kalun untuk dikenalkan pada rekan mereka, di rumah sakit.
Setiap orang yang akan menggendong Kalun, Erik yang selalu cerewet mengingatkan supaya mereka mencuci tangan terlebih dahulu, tapi itu hanya untuk kelas dokter yang dekat dengannya, kalau hanya perawat tidak diperbolehkan untuk menyentuh anaknya.
Saat berjalan ke arah ruang pribadinya, mereka bertemu dengan Viona dan Rendi yang baru selesai dari poli anak. Ella menghentikan langkah Viona sambil memintanya untuk minum dulu di ruangannya, sambil berbincang masalah perkembangan anaknya, karena anak mereka hanya selisih 2 minggu saja. Setelah sampai di ruang pribadi Erik, para papa tua itu sudah asyik bercerita tentang pengalamannya menemani istri melahirkan.
“Istrimu saja lahirnya cessar mana serunya, nggak ngrasain digigit istri sampai berdarah,” ucap Erik yang setelah mendengar cerita Rendi.
“Emang sampai segitunya ya, Kalau lahiran normal?” tanya Rendi yang menggendong anak gadisnya.
“Iyalah...”
“Tapi setelah itu nggak terganggu kan, mentalnya? siapa tau loe butuh bantuan lagi, untuk terapi Nyonyamu itu,” ucap Rendi sambil menunjuk Ella dengan dagunya.
“Enak saja...! Istri gue waras ya! Anak loe cantik banget, kaya Ibunya,” ucap Erik yang keceplosan memuji anak Rendi. Ella yang mendengar suara Erik langsung menoleh ke arah suaminya.
Rendi yang melihat respon Ella hanya terkekeh, pasti setelah ini Erik akan berpuasa, sambil melirik ke arah Erik.
Erik yang melihat lirikan mematikan Ella, dia segera menghampiri Ella dan mengambil Kalun.
“Sepertinya, boleh nih..., nanti kalau sudah dewasa mereka kita jodohkan,” kata Rendi sambil mendekatkan anaknya ke anak Erik.
“Ceh! Mana mau anakku sama anakmu,” sahut Erik.
“Ya kan siapa tau mereka mau, lihat saja dari namanya sudah telihat sangat cocok Kalundra & Kayra,” ucap Rendi menambahkan.
“Gue ma ogah! Pewaris Ramones dapatnya anak psikiater, hahaha.” Rendi yang mendengar itu hanya menimpali Erik dengan tangannya.
“Hati-hati ya, nanti kalau anakmu jatuh hati jangan harap aku mengizinkannya,” ucap Rendi yang sudah berdiri hendak mengajak Viona pulang ke rumah.
__ADS_1
“Jodoh Allah yang ngatur bukan kita, biar mereka yang menentukan pilihannya saat dewasa nanti,” ucap Erik saat Rendi dan Viona hendak pergi.
Erik lalu memberikan Kalun kepada istrinya, karena sepertinya Kalun mulai haus, Ella segera pergi ke kamar setelah tamu suaminya itu pergi, dan Erik sedang membongkar bingkisan yang dulu hanya di letakkan di ruang pribadinya, yang belum sempat di bawa pulang, termasuk pemberian dari opa dan omanya Kalun yang belum sempat mereka buka. Di sana tertulis, 'hanya boleh di buka setelah Kalun 20 tahun'. Erik terkekeh saat membaca amplop coklat itu, dia bingung akan membukanya atau tidak, terlalu lancang jika dia yang membukannya karena itu untuk Kalun, lalu dia menyimpan kembali amplop coklat itu.
“Semoga papamu masih hidup saat kamu membawa surat ini,” ucap lirih Erik sambil menyimpan surat itu.
***
Lima minggu kemudian.
Sejak dari tadi pagi suhu badan Kalun panas, Ella berulangkali menelepon Erik untuk pergi ke apotek sebentar membelikan obat untuk anaknya setelah pulang dari kantor, karena Erik tadi bilangnya hanya sebentar pergi ke kantornya.
Erik segera bergegas keluar dari gedung kantornya saat melihat pesan dari Ella yang mengatakan jika anaknya tengah demam, dia segera membeli obat di apotek untuk Kalun dan testpack untuk Ella karena setelah masa nifas dan haidnya selesai dia belum juga datang bulan, Ella selalu mengelak mungkin karena pengaruh hormon yang belum stabil, dan hormon laktasi yang masih naik turun, jadi dia tidak mendapatkan datang bulan.
Sampai di rumah dengan percaya diri Erik menyerahkan benda itu ke tangan Ella.
“Apa ini? Aku nggak minta dibelikan ini kok,” ucap Ella sambil menunjuk testpack ditangannya.
“Cobalah besok siapa tau benar ada Ella junior di sana,” jawab Erik sambil tersenyum ke arah Ella.
“Nggak kamu kan selalu pakai pengaman, nggak mungkin akan terjadi pembuahan secepat itu,” ucapnya sambil beranjak ke kamar anaknya, “Ini hanya hormonku saja yang belum stabil Pa...,” lanjutnya.
Malam harinya Ella yang tidak bisa tidur karena bayinya terus rewel mulai bingung harus bagaimana lagi menenangkan, karena baby Kalun yang selalu menangis ketika bersamanya, jangankan untuk menyusu, setiap benda kecil miliknya menempel di bibir Kalun, bayi itu langsung memalingkan wajahnya, dan berontak.
Dia sudah menghubungi mertuanya untuk datang ke rumah, tapi Jihan tidak bisa datang, karena malam ini dia ada undangan ulang tahun perkawinan kerabatnya, dan dia akan datang besok pagi.
Tepat pukul 12 malam, Ella segera membangunkan Erik saat dirinya merasa lelah, demam Kalun sudah turun, tapi bayi kecil itu masih saja rewel, jadi dia bingung cara untuk menenangkannya.
Erik yang mengerti langsung mengambil Kalum dari tangan Ella.
“Kita beri Kalun susu formula ya...? Siapa tau dia lapar?” tawar Erik saat melihat Ella sudah bersandar di sofa.
Erik yang melihat wajah Ella yang mulai sedih, segera menghiburnya.
“Cuma sementara, selama dia rewel saja, besok kembali lagi kita beri dia Asi, mungkin dia rewel gara-gara lapar,” jelas Erik lalu mengusap pipi Ella yang sudah mengembung karena kecewa dengan dirinya sendiri.
“Badanmu juga demam Ma?” tanya Erik saat merasakan suhu pipi Ella yang tidak seperti biasanya.
“Iya mungkin karena Asinya tidak dikeluarkan jadi demam,” jelas Ella.
__ADS_1
“Nggak mau kamu pompa saja, biar keluar jadi kamu juga nggak demam,” ucap Erik sambil menyibakkan rambut Ella. Dia hanya menggeleng saat mendengar tawaran Erik, Erik yang tengah menggendong anaknya segera turun ke bawah untuk membuatkan susu formula, membiarkan istrinya untuk beristirahat.
Ella yang merasa tubuhnya lelah, tidak lama kemudian mulai terlelap. Dan Kalun masih bersama Erik di lantai satu, usia Kalun sudah hampir 3 bulan lebih, setelah usianya 2 bulan dia tidak pernah begadang lagi, hanya malam ini saja dia merasa Kalun rewel dan manja padanya.
Setelah Kalun tertidur di gendongannya dia segera membawanya kembali ke lantai atas menyusul Ella yang sudah tidur di ranjang, dia meletakkan Kalun di box bayi, dan dia ikut masuk ke dalam selimut yang Ella kenakan. Erik membawa Ella masuk ke dalam pelukkannya, supaya dia juga bisa cepat tertidur dengan memeluk istrinya.
***
Keesokkan harinya Ella bangun saat matahari mulai menyilaukan matanya, dia menoleh Kalun yang masih berada di dalam box, mungkin anaknya itu lelah karena kemarin dia terlalu lama menangis. Dia lalu menyentuh dahi anaknya, untuk mengecek suhu tubuh Kalun. Dia lalu tersenyum saat suhu tubuh Kalun tidak demam lagi.
Ella segera berjalan menuju kamar mandi karena merasa tubuhnya lengket, sebelum masuk dia kembali teringat pesan suaminya, untuk mengecek dengan testpack, dengan percaya diri dan yakin jika dia tidak akan hamil dia memgambil alat testpack itu, mengetes dengan urin pertama setelah bangun tidur. Dia menunggu sekitar lima menit untuk memastikan kebenaran alat testpack itu.
Dia langsung membuang alat testpack itu setelah mengetahui hasil pastinya, tubuhnya tiba-tiba seperti tidak bertulang, dia terjatuh di lantai kamar mandi, sambil menangis keras di sana, dia mengacak rambutnya karena merasa kecewa dengan dirinya sendiri, tangisnya semakin keras membuat Erik terbangun segera mendekat ke arahnya.
“Kamu kenapa?” tanya Erik yang sudah mendekat di depan tubuh Ella, lalu membawa Ella ke dalam pelukkannya.
“Tenanglah besok kamu bisa beri Kalun Asi lagi,” ucap Erik menenangkan Ella. Tapi Ella semakin marah dan memukul dada Erik dengan keras.
“Kenapa Yang?” tanya Erik yang bingung dengan Ella.
“Aku hamil!” teriak Ella sambil menangis sekeras-kerasnya. Membuat Jihan yang baru datang langsung mendekat ke arah sumber suara, dia hanya mendengar tangisan Ella yang keras, tidak mengerti dengan apa masalah sebenarnya yang Ella alami.
Dan Erik dia tersenyum bahagia saat keinginannya benar-benar terwujud.
“Nggak papa kita harus mensyukuri anugrah dari Allah ini,” ucapnya menenangkan Ella dalam pelukkannya. Ella mendorong Erik dan menundukkan wajah ke dalam tangan agar bisa meredam suara tangisnya.
“Kenapa Ella, Rik?” tanya Jihan yang baru mendatangi kamar mandi.
“Istriku hamil, Ma!” ucap Erik dengan keras dan percaya diri. Jihan yang mendengar itu langsung memukul ringan kepala Erik.
“Tega kamu ya!” ucapnya sambil tersenyum tipis ke arah anaknya, dia ingin marah juga tidak bisa karena sebenarnya dia juga senang karena akan bertambah cucu lagi, tapi di sisi lain dia juga sedih melihat Ella yang akan kembali merasakan ngidam di tengah Kalum yang baru berusia 3 bulan.
.
.
Terimakasih ^_^
Lanjut besok lagi ya, kira-kira siapa yang bakalan ngidam dan apa lagi yang diinginkan pasangan itu? Apa merepotkan seperti saat hamil pertama yang meminta cilok? Kita tunggu saja besok. Boleh yang mau ngasih ide, bisa tulis di komentar atau group.
__ADS_1