
Erik segera masuk ke rumah sakit, setelah dia memarkirkan mobilnya. Tanpa bertanya dengan perawat yang ada di sana, karena tadi dia sudah berpesan pada petugas supaya menyediakan ruangan khusus untuk istrinya, karena di sana ada Kalun dan Riella. Dia takut kedua anaknya itu, terpapar virus saat berada di rumah sakit.
Erik membuka kasar pintu ruangan Ella. Dia berhenti sejenak di balik pintu, berdoa semoga istrinya itu baik-baik saja dan tidak ada penyakit mematikan yang bersarang di tubuh istrinya. Dia berjalan mendekat ke arah bed Ella. Menatap istrinya yang masih terpejam. Dia lalu menatap kedua anaknya yang tengah duduk di sofa.
“Pa ... Mama Pa.” Rengek Riella saat melihat kedatangan Erik.
“Tenanglah Mama nggak papa Sayang, Mama cuma bobo sebentar,” ucap Erik menenangkan anaknya.
“Apa sudah ada dokter yang memeriksa sus?” tanya erik pada perawat yang berdiri di samping bed ranjang Ella.
“Belum ada Pak, katanya biar nunggu Bapak dulu,” jelasnya perawat itu.
Erik lalu meminta perawat untuk mengambilkan stetoskop, dia mendekat ke arah bed Ella diikuti Riella dan Kalun yang berada di sampingnya. Dia meletakkan punggung tangannya ke dahi Ella. Suhu tubuh Ella memang sedikit panas, dia sedikit panik karena saat meninggalkannya tadi pagi, Ella masih baik-baik saja.
Perawat masuk membawa stetoskop ditangannya. Dia lalu menyerahkan benda itu ke tangan Erik.
Elalu mulai meletakan benda itu di dada Ella. Dia tersenyum tipis saat sedang memeriksa Ella. Untuk meyakinkan lagi, dia kembali meletakkan benda itu di perut Ella.
“Kamu bikin suamimu ini, panik tau nggak!” ucapnya sambil mengecup dahi Ella. Erik lalu menyerahkan stetoskop itu keperawat di sampingnya dan memintanya untuk meninggalkan ruangan.
“Pa ... Mama sudah sembuh kan?”
“Iya, Mama nggak papa. Dia cuma kecapekan,” jelas Erik.
“Wah ... Papa hebat, Riella jadi pengen jadi Dokter seperti Papa,” ucap Riella yang kegirangan.
“Iya, nanti Riella jadi Dokter. Riella mau jadi dokter apa?”
“Jadi Dokter, apa ya? Pokoknya yang bisa nyuntik saja deh Pa.” Riella tertawa sambil memperagakan orang menyuntik di lengan Rrik. Anak gadisnya itu memang menggemaskan, dia lalu mengacak pelan rambut Ella dan menciumi leher Riella membuat anaknya itu tertawa keras karena menahan rasa geli.
Kalun yang mendengar ucapan Riella hanya menggelengkan kepalanya.
“Pa Kalun juga pengen jadi Dokter, tapi Kalun pengen jadi dokter bedah jantung, biar bisa menyembuhkan orang yang akan mati, biar nggak jadi mati,” terang Kalun sambil mendekat ke arah Riella dan Erik.
Erik semakin tertawa keras saat mendengar ucapan Kalun.
Erik lalu mengangkat tubuh anaknya yang mungil itu, ke tepi ranjang Ella. Mereka bertiga menunggu Ella untuk bangun dari tidurnya. Tapi yang ada kedua anaknya itu ikut tertidur di samping kanan Ella. Erik hanya melihat kedua anaknya yang tengah memeluk istrinya.
Ranjangnya memang cukup besar, karena Erik tadi sudah memesannya terlebih dahulu.
Ella mengerjapkan matanya, kepalanya terasa berat, tapi dia berusaha untuk bangun dari tidurnya. Dia menatap kedua anaknya yang masih mengenakan seragam sekolah, mereka masih tertidur di sana.
“Pap ...” panggilnya ketika melihat Erik tengah memainkan hp di sofa.
__ADS_1
“Heh ... sudah bangun?” tanya Erik sambil mendekat ke arah Ella.
“Aku kenapa?”
“Nggak papa, cuma kecapekan saja, tapi kepalaku rasanya berat sekali,” jelas Erik.
“Ya sudah, tidurlah lagi, aku akan menemanimu di sini,” lanjut Erik sambil mendudukan tubuhnya di kursi.
Erik tersenyum senang, melihat Ella sudah terbangun.
“Apa aku sudah boleh pulang Mas?” tanya Ella mengarahkan pandangannya ke arah Erik.
“Emm ... nggak boleh, kamu istirahat dulu di sini.” Erik merebahkan lagi tubuh Ella. Supaya istrinya itu bisa beristirahat dengan nyaman.
“Apa kamu menginginkan sesuatu?” tawar Erik.
“Nggak, lidahku pahit rasanya, tapi aku ingin memakan makanan berkuah yang panas dan pedas,” ucap Ella yang membuat Erik bingung.
Katanya ‘nggak’ tapi ingin memakan yang berkuah dan pedas. Batin Erik.
“Baiklah akan Mas carikan,” ucap erik sambil beranjak dari tempat duduknya. Namun, Ella menahan tangan Erik supaya lelaki itu tidak pergi.
“Aku ikut.”
“Hah?”
“Lalu? Mereka bagaimana?”
“Kita gendong saja, kamu gendong Riella dan aku gendong Kalun,” jelas Ella yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Erik.
“Kamu hamil Yang, nggak mungkin Mas mengizinkanmu menggendong Kalun,” ucap Erik yang membuat Ella tak mampu menutup mulutnya, dia masih menatap Erik lekat.
“Apa tadi, coba ulangi sekali lagi!” Erik yang tadi ingin merahasiakan berita itu dari Ella, justru keceplosan memberitahu istrinya.
“Mas!” ucap Ella yang sudah meninggikan nada bicaranya.
“Iya, di perutmu sudah ada calon adiknya Riella.”
Ella yang mendengar ucapan Erik reflek meraba perutnya yang masih rata.
“Really?”
“Ya ... besok pagi kita lakukan usg,” jelas Erik sambil mendekat ke arah tempat duduk Ella. Dia lalu membawa Ella ke dalam pelukkannya. Ella menangis di pelukkan Erik, hingga membuat Kalun terbangun.
__ADS_1
“Papa ngapain Mama?” tanya Kalun yang berusa mendorong tubuh erik.
“Nggak ngapa-ngapain kok, tadi Mama nangis karena kaki Kalun menendang perut Mama,” canda Erik.
“Apa benar Ma?” tanya Kalun yang khawatir.
“Nggak benar, Mama nangis karena ...” ucapan Ella terputus saat melihat Riella sudah memeluk erat pinggangnya, dengan mata yang masih terpejam.
“Mama kenapa?” selidik Kalun yang memberikan tatapan tajam ke arah Erik.
“Emm ... Kalun akan punya adik lagi,” jelas Ella singkat. Tapi Kalun terlihat tidak senang dengan ucapan Ella, dia justru menekuk wajahnya. Sambil kembali menidurkan tubuhnya.
“Kalun ... hey Sayang, kenapa? Apa Kalun tidak suka jika punya adik lagi?” tanya Ella yang sudah memeluk Kalun dari belakang.
“Bukannya Kalun tidak suka Ma, Kalun senang punya teman baru, tapi pasti Mama akan mengabaikan Kalun, perhatian Mama akan terus ke adik, iya kan? Itu yang membuat Kalun sedih,” ucap Kalun yang sudah berhadapan dengan Ella.
“Nggak Sayang ... kasih sayang Mama ke Kalun tidak akan berubah sedikit pun.” Ella memeluk erat tubuh Kalun.
“Kalau begitu, Mama harus janji ya, akan terus seperti ini.”
Ella langsung mencium gemas wajah Kalun. Membuat anaknya itu membalas dengan pelukkan di leher Ella.
“Adiknya kapan keluar Ma?”
“Masih lama dong, masih 8 bulan lagi,” jawab Ella.
“Apa Kalun dulu juga seperti itu?” tanya Kalun yang penasaran.
“Iya dong, Kalun dulu juga seperti itu,” jelas Ella sambil menepuk punggung anaknya.
“Mama capek nggak, waktu Kalun ada di perut Mama?”
“Ya capek, tapi Mama senang karena setiap malam Kalun selalu bermain bola di perut Mama,” canda Ella yang membuat anak lelakinya tertawa keras. Erik yang melihat kedekatan Ella dan Kalun hanya bisa menggelengkan kepalanya.
“Pokoknya umur 9 tahun kita harus bikin kamar sendiri untuk Kalun, Mas nggak mau ada lelaki lain menyentuhmu,” ucap Erik saat melihat Ella mencium wajah anak lelakinya.
Ella hanya mengusap dadanya saat mendengar ucapan Erik, kelakuan suaminya ini, sudah beberapa hari yang lalu mulai konyol, hingga membuatnya pusing.
.
.
NB :
__ADS_1
Cuma ingin ngasih tahu, mungkin Kepincut Cinta Dokter tinggal beberapa part lagi, jangan lupa untuk vote dan like.
Yang ingin saya melanjutkan cerita 'Kalundra' kasih komentar ya. Kalau di sini nggak ada yang minat baca rencana mau aku lempar ke platform lain.😁🤔👍🙏