Kepincut Cinta Dokter

Kepincut Cinta Dokter
Extra Part


__ADS_3

...Selamat Membaca...


Usai membalas semua email masuk, Abhi baru menyadari ada yang tidak beres dengan air muka Naura saat tadi meninggalkannya. Pikirannya memutar ulang kejadian sebelum Naura pergi, merasa tidak menemukan kesalahan apapun yang sudah dilakukan, ia berniat menghubungi sang istri.


Namun sialnya, Abhi baru teringat jika ponsel Naura ia sembunyikan di bawah karpet. Alhasil, sekarang bingung bagaimana cara menghubungi istrinya. Abhi akhirnya menyerah, memilih berjalan keluar kamar, mendekati Widya yang sedang duduk di meja makan. "Nana belum pulang ya, Ma?" tanya Abhi.


Widya mengernyit, "istrimu baru pergi satu jam. Kamu sudah kelimpungan begitu! Kangen? Kenapa tadi nggak kamu antar saja?"


Abhi mengabaikan pertanyaan sang mama. Ia kembali melanjutkan langkahnya untuk mencuci cangkir bekas teh yang ia minum.


"Ma, yang ngambil cangkir ini tadi Mama, kan?" tanya Abhi, sedikit mengangkat cangkir ke arah Widya.


"Mana? Nggak lah, Bang! Nana sendiri kok tadi yang nyiapin," jawab Widya.


Abhi lalu meraih penutup kabinet menemukan cangkir bertuliskan nama Olive di sana.


"Pantas saja, marah!" gumamnya.


"Kenapa, Bang?"


"Nggak papa? Sepertinya menantu Mama marah gara-gara lihat cangkir Olive di sini!" Abhi tersenyum sinis ke arah cangkir yang tersimpan di sana.


Sedangkan Widya justru terkekeh saat mendengar penuturan Abhi. "Pede banget kamu, Bang! Sok kecakepan!"


"Ih, Mama. Kan, memang Abhi cakep! Dah ya, Abhi mau nyusul Nana dulu!" Abhi lalu berjalan ke arah kamar untuk mengambil jaket dan kunci mobilnya. Ia berniat menyusul Naura ke kantor. Biar saja istrinya itu bertambah kesal saat melihatnya tiba-tiba datang, niatnya hanya ingin menjelaskan pada Naura kenapa cangkir itu masih berada di sana.


Saat di perjalanan, Abhi sengaja mampir ke toko bunga, ia ingin membelikan bunga untuk istrinya sebagai tanda maaf dan ungkapan penyesalan.


Setiba di gedung kantor Naura, beberapa orang tampak terkejut. Abhi yang biasanya, selalu datang menggunakan pakaian formal jika berkunjung. Tapi hari ini, ia datang menggunakan pakaian biasa dan tampak lebih segar dari biasanya.


"Saya ingin bertemu ... ibu Naura!" izin Abhi setelah berdiri di depan meja resepsionis.


"Pak Abhi, silakan tunggu di sofa dulu."


"Di sofa?" Abhi menatap heran ke arah wanita di depannya.


"Iya, ibu sedang ada tamu?" jawab wanita di depan Abhi.


"Tamu? Pria atau wanita? Kamu bilang sama ibu Nana, kalau yang datang itu suaminya!" ketus Abhi, dan itu mampu membuat wanita di depannya semakin membeku saat mendengar pernyataannya.


"Cepat, atau aku langsung masuk ke ruangan ibu Nana," ancam Abhi, yang membuat wanita itu gelagapan. Ia bergegas mengangkat interkom nya dan menghubungi Naura.


"Silakan naik, Pak Abhi! Perlu saya antar?" tanya wanita itu setelah mendapat izin dari Naura.

__ADS_1


"Nggak perlu!" kata Abhi lalu berjalan menuju lantai dua.


Tanpa mengetuk pintu lebih dulu Abhi langsung mendorong pintu ruangan Naura. Sekarang ia bisa melihat Naura sedang sibuk dengan berkas-berkas di tangannya.


"Untuk kamu!" kata Abhi meletakan bunga yang ia bawa di atas meja.


Naura hanya melirik ke arah Abhi. "Terima kasih." Lalu kembali fokus ke arah kertas di tangannya.


"Tadinya mau aku bawain bunga Edelweis yang tidak bisa layu. Tapi tahu sendiri bunga itu dilindungi. Meskipun bunga ini bisa layu dimakan waktu ... tapi tidak dengan perasaanku." Abhi melirik Naura, wajah istrinya masih datar, dan itu membuatnya kesal. "Mau aku bantuin, Sayang? Aku bosan nih, di rumah nggak ada kamu yang diajakin becanda," rayunya mencoba mengambil alih kertas di tangan Naura.


"Nggak perlu! Ini rahasia!" ucap Naura menjauhkan file yang ada di tangannya.


"Sini biar cepat selesai!"


"Aku bilang nggak perlu, Abh! Kamu ngerti nggak sih!" emosi Naura sudah meningkat tapi Abhi tetap enggan untuk menjauh.


"Aku ngerti! Aku ngerti ... kalau kamu lagi cemburu aku paham itu, Sayang! Dengarkan aku—itu hanya masalah cangkir yang tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kehadiranmu saat ini!" Mata Abhi membulat sambil menahan tangan Naura yang ingin melanjutkan mengerjakan berkasnya.


"Tapi, nyatanya ke mana pun kamu pergi, cangkir itu selalu ada bersamamu!" balas Naura.


"Tidak sengaja kebawa, Nana!"


"Ngeles saja terus!"


"Kan bener! Laki tu memang ya! Semuanya nyebelin!" Naura menunduk, meletakan keningnya di tepi meja.


"Kan, salah lagi, jawab ini salah itu salah? Aku harus gimana?" tanya Abhi, seraya mengusap lembut rambut Naura.


"Pergilah! Jangan menemui aku, dulu!"


"Lalu aku harus menemui siapa? Olive? Kan kamu istriku?" tanya Abhi, tangannya masih setia mengusap rambut Naura. "Sayang ... kamu boleh cemburu, tapi jangan tunjukan dengan sikap jelekmu ini! Ini membuatku bingung. Kamu tahu, Olive memang pernah ada, tapi itu sebelum aku mengenal kamu! Sekarang ada kamu yang berhak menerima cinta dariku! Paham?"


Naura hanya diam, menunduk, membiarkan tangan Abhi beralih memainkan jari-jarinya yang lentik, sambil memutar cincin nikah yang baru dua hari ia kenakan.


"Aku sengaja ambil cuti, biar bisa menghabiskan waktu denganmu! Jadi, jangan sibukan dirimu dengan pekerjaan."


"Lalu apa mau mu?" tanya Naura.


"Masih tanya? Kalau aku bilang maunya meluk kamu terus! Kamu mau nurutin?"


"Dasar, mesum!"


"Ya, sudah kita jalan-jalan saja!"

__ADS_1


"Aku nggak kuat jalan, perutku lapar!"


"Mau makan dulu? Lobster bakar?"


Naura mengangguk, membuat Abhi langsung tersenyum cerah. Lalu mengulangi menyerahkan setangkai mawar putih itu ke istrinya.


"Bunga ke dua darimu!"


"Masih ingat saja!"


"Iyalah! Meski yang pertama kamu ngasihnya dengan wajah kesal karena kalah!"


"Tapi, nggak terpikirkan kan, kalau jodohmu adalah musuh debatmu?"


"Sama sekali tidak. Aku tidak kepikiran sama sekali untuk menikah, apalagi dengan pria seperti kamu!"


Abhi hanya menatap Naura dengan tatapan intens.


"Ngapain lihat-lihat!"


"Nggak salah kok, lihatin kamu!"


"Jelas salah, nanti kecantikan ku pudar!"


"Emang kamu cantik?"


"Kalau nggak cantik, mana mungkin kamu bisa jatuh cinta padaku?"


Abhi terkekeh, lalu menarik hidung Naura. "Bukan karena kamu cantik, kamu nggak cantik sama sekali. Aku jatuh cinta sama kamu, itu karena kamu asyik saja, diajak debat, di luar maupun di dalam!"


"Mau aku marah lagi!"


"Marah untuk?"


"Kamu nyebelin, Abhi!"


"Kamu gemesin, Nana!"


"Sudah keluar! Aku batalin makan siang nya!"


"Oke, aku akan menunggumu di sofa!" Abhi beranjak dari kursi berjalan ke arah sofa yang ada di ruangan Naura.


Dasar suami nggak peka! batin Naura menatap kesal punggung Abhi.

__ADS_1


Baru saja Abhi hendak memejamkan mata, dering panggilan telepon mengurungkan niatnya. Ia meraih ponsel tersebut, setelah membaca nama si penelepon ia segera duduk.


__ADS_2