
...Selamat Membaca...
“Boleh aku nebeng kamu, Bhi. Sepertinya kita searah, kan?” bujuk Olivia saat ia sudah berdiri di depan Abhi.
Abhi yang mendengar ucapan Olivia justru memalingkan wajahnya ke arah lain. Namun, dalam hatinya bersyukur karena gadis itu tidak lagi menggunakan panggilan sayangnya dulu saat mereka masih sayang-sayange.
"Abhi ...." suara sensual dari bibir Olivia justru membuat Abhi merasa risih. Ia kembali menoleh ke arah Olivia. Menurutnya wanita itu kini tidak menarik sama sekali, meski tengah pakaian pass body tanpa lengan. Dulu saat ia masih dengannya, tubuh Olivia sangat indah. Tapi tidak untuk saat ini. Menurutnya, milik Naura lah yang paling terindah.
“Abhi!” seru Olivia, membuyarkan lamunan Abhi.
“No. Dulu kita ... memang searah. Tapi tidak untuk saat ini. Silakan cari tumpangan yang lain!” suara Abhi terdengar sinis. Jelas ia menolak keinginan Olivia, pertama ia tidak mau aroma parfum Olivia tertinggal di dalam mobilnya selain itu ia juga tidak mau menambah masalah lagi dengan Naura, kalau sampai mengetahui ia mengantar Olivia.
Abhi kemudian melanjutkan langkah kakinya keluar resto. Meninggalkan perasaan kesal pada Olivia karena mendapat penolakan darinya. Terdengar makian tak jelas yang bisa didengar oleh Abhi.
Kondisi jalan tampak lenggang saat Abhi mengemudikan mobilnya ke arah rumah Erik. Saat mobilnya berhenti di lampu merah, Abhi berusaha keras menghubungi Naura. Namun, tetap saja panggilan teleponnya tidak mendapat jawaban dari sang istri.
Tiba di kediaman rumah Erik, suasana rumah sudah terlihat sepi. Mungkin, mereka sudah masuk ke kamarnya masing-masing. Abhi yang tidak ingin membuang waktu, segera melangkahkan kakinya menaiki anak tangga. Saat tangan Abhi menggerakkan gagang pintu, dia hanya mampu berdecak lirih karena pintu ternyata dikunci oleh istrinya.
Ia segera merogoh kantung celana, mencari ponselnya. Berniat mengirimkan pesan singkat pada sang istri.
📨 Sayang, buka dong! Aku mau ngetuk pintu takut kalau ganggu waktu tidur penghuni rumah. Buka ya, please!
Abhi kemudian bersandar di samping pintu demi menunggu Naura membuka pintu kamar. Tapi nihil, gadis itu sama sekali tidak merespon pesan singkat yang ia kirimkan. Merasa sia-sia, Abhi memutuskan untuk duduk di sofa lantai atas.
📨Aku tidur di sofa beneran, nih? Jangan kejam-kejam, dong, Sayang … kita ini pengantin baru, loh! Masa tega biarin aku kedinginan di luar kamar.
__ADS_1
Namun sayangnya ... pesan kedua itu pun juga tak mendapatkan respon dari sang istri. Jadi mau tidak mau Abhi benar-benar harus tidur di sofa malam ini.
Abhi berulang kali membolak-balikkan tubuhnya, sibuk mencari posisi ternyaman untuk mengistirahatkan tubuhnya saat ini. Sebelum memejamkan mata, matanya kembali mengecek pesan yang dikirim pada Naura. Tapi, hanya centang satu, ponsel istrinya itu ternyata belum menerima pesan singkat darinya.
Abhi membuang nafas lelah sambil menatap pintu kamar Naura, berharap pintu itu akan segera terbuka. Sampai matanya lelah dan terlelap di atas sofa.
Di dalam kamar, Naura tengah membolak-balikkan tubuhnya karena tidak bisa tidur. Ia tahu kalau Abhi sudah pulang. Naura bisa mendengar saat mobil suaminya asuk ke garasi. Tapi, ia enggan untuk menyambut kedatangan Abhi.
Hatinya masih kesal dan ingin memberikan sedikit pelajaran pada pria yang lebih tua tiga tahun darinya itu. Naura mengambil ponselnya. Membaca lima pesan terakhir dari Abhi yang isinya meminta dia untuk membukakan pintu.
“Cek! Enak saja. Tidur saja sana di sofa!” ujarnya sambil menatap kesal ke arah pintu. Seolah Abhi tengah berdiri di sana. Naura kembali menyalakan lampu kamar, ia benar-benar tidak ingin menyapa Abhi, membiarkan pria itu kedinginan dan dikerubungi nyamuk.
Naura memilih membuka aplikasi novel online di ponselnya. Membaca novel dari penulis favoritnya, sampai ia tak menyadari jika jarum jam sudah berada di angka dua. Naura sampai melupakan, jika nanti pukul 10 pagi akan ada acara pesta pernikahannya.
“Huft, menyebalkan … harusnya jangan mati, kan kasihan siapa yang akan ngurusin anaknya,” gumam Naura, saat ikut terbawa alur cerita yang disuguhkan dari penulis favoritnya. Tak selang lama, saat merasa matanya sudah terasa pedih, ia menutup ponselnya. Beranjak dari ranjang, berniat melihat keadaan Abhi.
Abhi yang merasa tubuhnya terguncang, mengerjapkan matanya berulangkali. Melihat bayangan Naura di depannya, ia memberikan senyuman tipis ke arah wanita tersebut. Ia menggeser tubuhnya untuk menempel di ujung sandaran sofa, lalu menepuk ruang sempit di sampingnya.
“Bobo sini,” ujarnya kembali memejamkan mata.
“Jadi, nggak mau tidur di kamar!?” cerca Naura menatap kesal ke arah wajah Abhi yang kembali memejamkan mata.
“Mau banget!” Abhi dengan cepat mendudukan tubuhnya, “Kamu nggak marah lagi kan, Honey?” selidiknya.
Naura diam menatap Abhi dengan tatapan kesal, “siapa bilang!? Kalau bukan karena besok acara pesta pernikahan kita, aku enggan membangunkanmu!” Naura membalikan tubuhnya segera berjalan ke arah kamar. Abhi yang melihat Naura hampir tiba di bibir pintu, ia segera menyusul langkahnya, khawatir kalau nanti Naura akan kembali mengunci pintunya.
__ADS_1
Di dalam kamar, Abhi segera mengganti pakaiannya, melempar kemeja dan celananya di sofa. Dan tingkahnya itu tidak luput dari pengamatan Naura. “Bisa nggak, bajunya ditaruh di keranjang baju kotor!” tegur Naura.
Abhi pun membalas tatapan Naura, ia tak mengerti, biasanya wanita itu akan mengambil dan membantu memindahkannya ke keranjang. Tapi tidak dengan kali ini. Abhi pun menurut segera memungut pakaian kotor tersebut dan meletakan pakaiannya ke keranjang. Setelah itu ia kembali berjalan ke arah pintu kamar.
“Mau kemana, kamu?” tanya Naura, membuat Abhi menoleh ke arahnya.
“Abang sholat dulu ya, Sayang? Janji habis ini ... Abang jelasin semuanya ke Eneng!” sahut Abhi sambil tersenyum menenangkan ke arah Naura. "Calm down, please!" Serunya. Setelah itu Abhi segera berlalu meninggalkan Naura sendirian di dalam kamar.
Naura benar-benar menunggu Abhi, sebab ingin mendengar penjelasan dari suaminya sebelum acara pesta nanti dilaksanakan. Namun, matanya yang mengantuk tidak mampu sebentar saja untuk menunggu Abhi. Perlahan matanya mulai terpejam erat, Naura tertidur dengan posisi duduk.
Abhi yang baru selesai menyelesaikan sholat Sunnah, ia tersenyum tipis saat mendapati pose tidur Naura. Dengan gerakan pelan, takut Naura terbangun, ia membenarkan posisi tidur Naura. Menyelimuti kaki Naura dengan kain Bali kesukaannya, dan terakhir ia mendaratkan kecupan di kening Naura. Bibir Abhi tertarik ke atas saat melihat Naura menggeliat, tangannya mengusap kecupan yang tadi ia berikan.
“Kamu menggemaskan!” lirihnya sambil mengusap lembut pipi Naura, seolah mengusap pipi bayi yang baru saja tertidur.
“Jangan tinggalin aku, Bhi!" Naura melingkarkan tanganya ke pinggang suaminya.
Abhi yang mendengar Naura mengigau, segera menggelengkan kepalanya. Ia tahu Naura mengucapkan itu saat berada di bawah alam sadarnya. Ia bersyukur dicintai Naura sedalam ini.
“Insya Allah, nggak akan, Sayang. Abang nggak akan ninggalin kamu. Abhi hanya untuk Naura, tidak untuk wanita lain,” bisik Abhi di samping telinga istrinya. Gadis itu hanya diam, dan sepertinya Naura semakin tertidur nyenyak dalam dekapannya.
...----------------...
...Terima kasih sudah berkenan membaca, untuk ke depannya jangan menimbun bab ya. Insya Allah, akan up rutin lagi, kita lanjutkan kisah Abhi dan Naura dengan konflik ringan....
...Salam Sehat,...
__ADS_1
...Ella...