
Hari sudah mulai gelap, acara syukuran akan dimulai pukul 7 malam, tapi sebagian tamu sudah hadir di rumah Erik. Tidak ada pakaian mewah di sana, Erik hanya mengenakan baju koko bewarna putih, dan Ella hanya memakai baju gamis panjang yang menutupi tubuhnya, dengan warna yang senada dengan suami dan anak-anaknya.
“Kamu nggak sholat Yang?” tanya Erik.
“Nggak, aku kedatangan tamu bulanan tadi sore,” jawabnya yang membuat Erik menatap penuh kecewa ke arahnya.
“Kok gitu sih!”
“Kenapa? Kan memang harusnya seperti itu Dokter Erik,” ucap Ella sambil menepukkan bedak di wajahnya.
Erik hanya menatap wajah Ella dari pantulan kaca dan Ella membalasnya dengan senyuman lebar, ke arah Erik terlihat kecewa.
Erik segera meninggalkan kamar utama, setelah mendengar ucapan istrinya. Dia harus lebih sabar lagi untuk tidak menyentuh istrinya selama satu minggu. Dia berjalan menuruni anak tangga, menemui anggota keluarganya yang sudah berkumpul di lantai bawah.
Erik mendekat ke arah kedua orang tuanya, yang tengah bermain dengan Riella dan kalun, mereka terlihat tersenyum senang saat bermain dengan kedua anaknya. Erik lalu berjalan keluar menyambut kedatangan Damar yang baru saja turun dari mobil.
“Selamat datang Kakak ipar, semakin terlihat tua saja kamu,” candanya sambil menepuk punggung Damar.
“Memangnya kamu nggak? mendingan aku sudah ada 3 kamu baru 2,” balas Damar dengan candaan.
Erik terkekeh saat mendengar ucapan Kakak iparnya itu, dia lalu mengambil Galang dari gendongan Damar.
“Kita lihat saja siapa yang akan menang!” ucap Erik sambil menaikkan nada bicaranya.
“Kalian mau lomba apa?” tanya Ella yang baru saja tiba. Erik diam tidak ingin menjawab pertanyaan Ella. Kerena pasti istrinya itu akan memakinya.
“Itu La, Erik mau nyaingi jumlah anak Kakak, katanya dia takut bilang sama kamu,” jawab Damar sambil melirik ke arah Erik yang menatapnya tajam.
“Kakak juga sama saja, mikirnya ke sana terus. Sama dengan, lelaki tua satu ini!” gerutu Ella dengan nada marah, dia lalu berjalan ke arah Sashi yang baru saja keluar dari toilet.
“Ana mana?” tanya Ella pada sahabatnya.
__ADS_1
“Nggak tau, katanya tadi mau beli oleh-oleh dulu buat Kalun sama Riella.” Sashi berucap sambil memeluk tubuh kecil Ella.
“Semoga kemarin itu ujian terakhir untuk kalian, dan kalian bisa hidup dengan tenang dan bahagia sepertiku dan Kak Damar.” Sashi mengusap punggung Ella yang terlihat kurus.
“Iya pasti,” jawab Ella. Sudah ayo kita tunggu di dalam saja, kasian anak-anak!” ajak Ella sambil menarik pelan tangan Sashi.
Tamu undangan sebagian sudah hadir di acara syukuran rumah baru Erik dan Ella. Ella segera menghampiri Haikal dan Nindi yang baru datang dengan keluarga besarnya, termasuk ayah dan bunda Kenzie, yang turut hadir. Ella memeluk satu persatu tamunya yang baru saja tiba itu, Erik langsung berdehem saat Ella memeluk Haikal, rasa cemburunya tiba-tiba menyala, saat melihat wajah kembaran calon suami istrinya yang meninggal itu.
“Lepaskan!” Ella langsung melepaskan pelukannya saat mendengar suara dingin suaminya. Haikal terkekeh saat melihat kelakuan Erik.
“Nggak tau kah Bung? Istriku sedang hamil, jadi nggak mungkin juga aku mengambil wanitamu,” jelas Haikal sambil terkekeh menatap Erik.
“Aku hanya berjaga-jaga saja, sekarang bukan hanya pelakor yang sedang marak, tapi pebinor juga sudah menjadi trending,” balas Erik sambil memeluk Haikal. Dia memeluk erat pahlawan istrinya itu.
“Terima kasih, maafkan sifatku yang sombong saat bertemu denganmu, mulai sekarang kita saudara,” ucap Erik menatap wajah Haikal.
“Baiklah, aku akan menganggapmu Kakak, karena kamu jauh lebih tua dariku,” ucap Haikal sambil terkekeh, “Aku senang bisa mendapatkan saudara laki-laki lagi,” jelas Haikal, sambil tersenyum ke arah Ella dan Ella juga membalas senyuman manis ke arah Haikal. Nindi yang berada di sana dengan perut besarnya, juga ikut bahagia saat mendengar ucapan Erik dan Haikal.
Semua orang terlihat bahagia, dan mendoakan pasangan yang lama berpisah itu. Kalun dan Riella merasa senang, tanpa di jelaskan lagi, dia sudah bisa paham, jika Ella adalah mama kandungnya, meski dulu mereka dulu tidak pernah bertemu langsung, tapi Erik selalu memberitahu pada kedua anaknya, jika yang di foto itu mamanya.
Acara inti syukuran sudah selesai, kini tinggal acara ramah tamah, menikmati hidangan makanan yang sudah tuan rumah siapkan.
Mata Ella memanas saat melihat suaminya memeluk Nadia yang baru saja memasuki rumah, meski Erik sudah menceritakan siapa Nadia, tapi hati Ella yang sedang sensitif masih bisa merasakan cemburu, bahkan nafasnya kini mulai sesak. Dia terus memperhatikan kelakuan Erik dari kejauhan. Dia tidak akan datang jika suaminya itu tidak memanggilnya untuk mendekat, beruntungnya sebagian tamu sudah pada pulang ke rumah, jadi tidak banyak yang tahu suasana hatinya saat ini.
“Riella ....” terdengar jelas di telinga Ella suara Nadia memanggil anaknya.
“Tante mama!” kaget Riella sambil menatap ke arah Nadia, gadis itu lalu berlari menghampiri Nadia.
“Eeee jangan minta gendong sama tante Nadia, kasihan di dalam perutnya ada adek kecil,” jelas Erik saat melihat anaknya sudah membuka tangannya minta gendong.
“Benarkah? Pasti Tante mama nanti bakalan nggak sayang lagi kan, sama Riella.”
__ADS_1
“Emmm ..., nggak dong. Tante tetap sayang kok sama Riella,” jelas Nadia yang sudah mensejajarkan tubuhnya dengan Riella. Ella terus memperhatikan interaksi mereka bertiga. Melihat mereka bertiga, membuat rasa cemburunya saat ini semakin membara. Dia meninggalkan mereka bertiga, menuju taman belakang, dia ingin mendinginkan kepala dan meredakan raca cemburunya, dengan tidak melihat dan mendengar ucapan mereka.
Ella duduk di kursi taman belakang, menengadahkan kepalanya ke arah langit yang terlihat cerah malam ini, dia menikmati angin malam dan ketenangan
saat ini, hanya bunyi suara daun yang terkena terpaan angin.
“Mama ...,” panggil kalun yang menghampiri Ella dari arah dalam rumah. Ella hanya menoleh ke arah anak lelakinya, sambil mengusap air matanya yang sejak tadi sudah keluar.
“Hai ..., sini Sayang!” perintahnya yang dituruti Kalun.
“Mama menangis?” tanya Kalun saat melihat mata Ella yang masih berair.
“Nggak, Mama sudah besar jadi nggak boleh menangis,” ucap Ella berbohong pada anaknya. Kalun lalu memeluk perut Ella, meminta kehangatan tubuh Ella dari dinginnya angin malam.
“Kita masuk saja yuk! Di sini dingin, takutnya nanti Kalun demam lagi,” ajak Ella yang sudah berdiri di hadapan kalun.
“Oke ..., kita bobo ya Ma, Kalun capek pengin tidur dengan Mama.” Ella langsung menggendong tubuh kalun dan dibawanya ke kamar utama.
“Anak Mama sudah besar ya, sudah berat sekali nanti kalau sudah besar, gantian Kalun yang gendong Mama,” ucap Ella saat berjalan ke kamar utama.
“Iya, pasti Kalun akan gendong Mama, mau gendong belakang, apa depan?” tanya Kalun yang semakin mengeratkan pegangannya di pundak Ella.
Saat masuk kamar, dada Ella masih tersasa sesak saat melihat Erik yang mengobrol dengan Nadia, bahkan Riella sudah pergi entah ke mana. Dia lalu merebahkan tubuh Kalun di kasur miliknya. Dia tidur di samping Kalun, memeluk anaknya itu lebih erat lagi, demi meluapkan rasa cemburu yang tengah dia rasakan.
“Ma ..., Kayra itu cantik nggak?” Ella langsung mendongakkan wajah Kalun untuk menghadapnya.
“Cantik dong, kan dia gadis, kalau Kalun itu tampan!” ucap Ella sambil mengusap pipi Kalun. Dia lalu mengecup kening Kalun.
“Sudah tidur! katanya capek.” Kalun berpura-pura memejamkan matanya saat mendengar perintah Ella.
“Beruntung kamu Sayang, masih bisa bertemu Mama, sedangkan Mama tidak pernah bertemu Bunda, Mama hanya bisa menemuinya lewat mimpi,” lirih Ella sambil mengusap rambut anaknya yang sudah tertidur.
__ADS_1
“Selamat malam Kalun, semoga mimpi indah.”