
Kalau boleh minta! mampir yuk ke novel saya yang satunya CINDERELLA GENDUT, saya berharap kalian juga menyukainya, dan jangan lupa kasih bintang 5.
.
Happy reading jangan lupa untuk tekan like dan votes ya.🙏👍
.
.
.
Dua hari berlalu...
Saat ini Ella sedang berada di ruang praktiknya bersama dengan Hanin, pasien sudah habis tapi mereka masih asyik duduk berdua di ruangan Ella. Ella terus menatap Hanin yang tengah memakan rujak buah di tangannya. Tenggorokannya menginginkan dia memakan rujak itu, tapi dia malu untuk mengatakannya pada Hanin.
“Enak ya Nin?” Tanya Ella basa-basi siapa tau Hanin mau menawari rujak yang sedang dia makan itu.
“Enak bu, ini anak saya yang pengen bukan saya,” ucapnya sambil mengusap perutnya yang membuat Ella semakin menginginkan rujak di depanya, dia ingin juga merasakan menyidam lagi seperti dulu yang pernah dia alami.
“Ibu mau?” ucap Hanin yang langsung mendapat anggukan dari Ella, karena sedari tadi dia sudah ingin memakan rujak itu, Ella langsung mengambil sendok di laci mejanya, dan memakan rujak itu dengan lahap.
“Ibu hamil juga ya? Semangat banget makannya,” tanya Hanin yang curiga dengan kelakuan atasannya itu.
“Nggak! kemaren saja aku haid kok, tapi aneh deh Nin, aku haid hanya semalam saja, paginya sudah tidak keluar lagi,” jelasnya mengingat kejadian 2 hari yang lalu.
“Itu tandanya ibu sedang hamil!” Ucap Hanin pada Ella.
“Ih... Kamu ini orang haid kok di bilang hamil, aneh tau nggak,” maki Ella sambil memukul pelan tangan Hanin.
“Tapi aneh juga sih Nin, aku nggak pernah haid hanya sehari dan ini ku juga terasa nyeri dan bengkak,” lanjut Ella sambil menunjuk ke arah benda di dadanya.
“Ibu dokter, ini kasusnya seperti saya kemaren, coba deh tanya sama dokter Erik!” ucap Hanin yang membuat Ella semakin penasaran.
“Maksudmu Nin?” Tanya Ella yang tidak paham.
__ADS_1
“Iya kemarin saya pikir juga begitu bu, karena pagi saya keluar flek coklat, tapi sore sudah tidak keluar lagi, selang 1 minggu saya mual-mual disertai pusing dan ternyata saat saya periksa ke dokter, mereka merujuk untuk pergi ke dokter kandungan, dan ternyata saya sedang hamil 7 minggu, saya sempat nggak percaya juga karena saya yakin saya baru selesai haid, tapi waktu di usg saya sudah bisa mendengar detak jantungnya, dan dokter Erik menjelaskan, waktu itu saya tidak haid melainkan terjadi penempelan embrio ke rahim dan itulah yang menyebabkan pendarahan implantasi,” jelasnya pada Ella. Ella yang mendengar itu sedikit lega, semoga dia benar -benar mengalami fase yang Hanin lewati.
“Kehamilanmu sudah berapa bulan Nin?” tanya Ella pada asistennya itu.
“Jalan 5 bulan bu, dan kemungkinan cowok sesuai keinginan suami saya,” jelas Hanin yang mempunyai watak cerewet itu, tapi Ella sedikit terhibur dengan kecerewetannya yang selalu membuatnya tertawa dengan logatnya yang jawa tulen alias medhok itu.
“Nin. Boleh minta tolong? Beliin tespack di apotek dong, tapi jangan sampe ketahuan ya kalau saya yang menyuruhmu, apalagi kalau sampai Mas Erik lihat, saya takut jika negatif nanti dia akan kecewa,” Perintah Ella pada wanita di depannya itu.
“Beres bu... Ini rujaknya buat ibu saja, baby boy saya lagi pengen makan cilok, sekalian saya nanti beli di depan,” ucap hanin yang membuat Ella teringat masa saat Erik membuat cilok untuknya. Dia tersenyum ke arah Hanin, lalu menganggukan kepalanya.
“Tapi jangan lupa pesananku ya, yang paling bagus akurasinya!” Teriak Ella saat melihat Hanin keluar dari ruanganya, Hanin hanya mengacungkan jempolnya dan berjalan ke arah apotek.
.
.
5 menit berlalu...
Ella semakin berdebar karena Hanin tak kunjung datang, dia seperti orang bodoh yang percaya saja dengan ucapan Hanin, padahal kan dia dokter dan Hanin perawat, kenapa dia menurut saja dengan ucapan Hanin, tapi Ella lebih percaya pada pangalaman Hanin tentang kehamilannya.
“Mana Nin,” ucap Ella yang belum menyadari siapa yang ada di depannya.
“Apanya?” Tanya Erik sambil mengerutkan kening saat mendengar ucapan Ella, Ella melihat ke arah depan, merutuki kebodohannya karena tidak melihat siapa tadi yang masuk ke dalam ruangannya. Lalu tersenyum manis ke arah suaminya.
“Kamu minta ke Hanin apa Yang?” Tanya Erik yang curiga.
“Emmm emm enggak papa, aku Cuma pesan cilok saja ke Hanin tadi, aku pikir yang datang Hanin!” ucapnya yang ingin menyembunyikan rahasia yang belum pasti itu dari Erik, sambil berjalan mendekat ke arah Erik yang tengah duduk di sofa.
“Kamu pesan cilok dimana? Jadi begini ya, kamu suka jajan sembarangan waktu praktik? Dan ini apa? Kamu habis makan rujak?” Tanya Erik saat mendengar ucapan istrinya.
“Ini punya Hanin tadi Yang, katanya anaknya pengen makan rujak, jadi dia beli di depan tadi,” jelas Ella yang berbohong, padahal Ella yang menghabiskan rujak milik Hanin.
Pintu ruangan terbuka, menampilkan Hanin dengan perut yang terlihat sedikit membuncit, Erik menoleh ke arah Hanin, dan Ella segera memberi kode agar Hanin menyimpan benda titipannya terlebih dahulu.
“Ini rujak kamu Nin? Kenapa nggak dibuang sampah bungkusnya? Bikin jorok ruangan.” Ella yang mendengar itu memberi kode ke arah Hanin agar dia mengunci mulutnya, supaya tidak terjadi keributan.
__ADS_1
“Mas... Sudahlah! Ini hanya masalah kecil, jangan di perpanjang, lebih baik kita makan siang saja yuk, Lala sudah lapar,” ucap Ella dengan manja sambil mengusap perutnya, mencoba mengalihkan perhatian Erik yang akan bersiap memaki Hanin.
Erik yang mendengar suara manja istrinya merasa kasihan dan segera dia mengajak Ella keluar ruangan dokter anak itu, menuju kantin rumah sakit.
Sampai di kantin Ella memesan jus apel dan gado-gado kesukaannya, dia mengambil ponsel yang ada dikantong jasnya. Memberitahu Hanin agar meletakkan benda kecil itu di laci.
“Hay pak direktur,” sapa lelaki yang berdiri di samping Erik. Erik memalingkan pandangannya saat melihat dua orang yang berdiri di sampingnya.
“Boleh kita ikut gabung?” Tanya Reyhan salah satu dokter kandungan yang sering sekali memback-up Erik.
“Rik. kamu tau nggak, Viona hamil? Hamil anak gue, gue bentar lagi jadi Papa! Loe gimana? Masih belum bisa lari juga ya kecebong loe?” ucap Rendi yang sudah duduk di bangku depan Erik. Yang langsung mendapat tatapan tajam dari Erik.
“Gimana sih ceritanya dokter kandungan yang biasanya ngatur orang buat hamil, tapi giliran prakteknya sendiri zonk,” canda Rendi yang membuat Ella merasa bersalah pada suaminya.
“Mas Lala ke toilet dulu ya,” pamitnya pada Erik. Erik hanya mengangguk sambil melirik makanan Ella yang belum tersentuh sama sekali.
“Bisa nggak sih mulut loe itu sedikit di filter, hati wanita itu lembut, nggak bisa dengar kata-kata kasar loe tadi,” ucap Erik saat melihat Ella tidak terlihat.
“Gitu saja marah, nggak asyik banget sih loe, lagi PMS ya makanya tidak bisa melampiaskan, jadi bawaanya ingin marah-marah teeerooos,” candanya pada Erik.
Reyhan yang mendengar perdebatan dua dokter itu hanya bisa menggelengkan kepalanya, sambil menyimak ucapan keduanya.
Tidak lama ponsel Erik berdering, Ella menelepon mengabarkan bahwa dia pulang ke apartemen karena merasa sakit kepala. Erik yang hendak mengantarnya pun dia tolak karena Ella ternyata sudah berada di dalam taksi online yang dia pesan.
Ella menatap jalanan yang ramai itu, memikirkan ucapan Rendi tadi, dengan bangganya memamerkan istrinya tengah hamil. Ella ingin mas Erik juga seperti itu tapi kapan?
Semoga saja besok hasilnya positif ya Mas dan kamu bisa memamerkan pada teman-temanmu itu. Batin Ella sambil menatap ke arah jalan.
“Pak kita mampir ke apotek sebentar ya!” Perintah Ella pada sopir taxi itu.
.
.
Lagi nggak nih? votenya yang kenceng dong biar saya juga kencang nulisnya.😁👍🙏
__ADS_1