Kepincut Cinta Dokter

Kepincut Cinta Dokter
Hanya Masalah Kecil


__ADS_3

Kalau boleh minta! mampir yuk ke novel saya yang satunya CINDERELLA GENDUT, saya berharap kalian juga menyukainya, dan jangan lupa kasih bintang 5.


.


Happy reading jangan lupa untuk tekan like dan votes ya.🙏👍


.


.


.


Sudah dua hari Erik dan Ella berada di resort mewah itu, Erik sudah menjelaskan pada istrinya jika resort itu milik mereka berdua, awalnya Ella marah karena Erik tidak pernah bercerita, tapi karena dia merasa senang berada disana, marahannya hanya terjadi 10 menit, menit berikutnya Ella sudah kembali mesra dengan Erik.


Selama di resort mereka hanya diam di kamar, bahkan Erik tidak membiarkan Ella turun ke lantai bawah, karena dia ingin Ella menikmati waktunya hanya berdiam di dalam kamar dan melayaninya.


Selama dua hari ini, Erik benar-benar seperti hewan buas. Kulit Ella yang semula putih bersih sekarang sudah terdapat banyak tanda merah dimana-mana, kalau saja di tidak melarang Erik mencetaknya di leher mungkin lehernya juga sudah memerah seperti area yang ditutupi nya dengan baju.


Saat ini Erik dan Ella sedang berada di meja makan, Ella baru menyadari jika selain mereka berdua, di bawah ada beberapa pelayan yang melayani mereka. Mungkinkah mereka mendengar teriakkannya setiap malam? Ella merasa tidak enak hati jika mereka benar-benar mendengarnya.


“Mas nggak balik ke Jakarta?” tanya Ella sambil menyuapkan makanan ke mulut Erik.


“Nggak Mas masih ingin disini menemanimu, disana juga ada Yohan, biarkan dia yang mengurusnya,” jelas Erik sambil mengunyah makanannya.


“Mas. Boleh nggak Lala minta satu permintaan,” ucap Ella sambil memakan apel di depannya.


“Jangankan satu, semua yang kamu inginkan Mas akan mewujudkannya” ucap Erik tersenyum manis ke arah Ella, sambil memainkan ponselnya.


“Mas. Lala serius.”


“Ada apa? Katakan,” ucap Erik sambil menatap wajah istrinya berharap Ella segera mengatakan keinginannya.


“Kalau Lala minta Mas berhenti praktik, Mas mau nggak?” Erik menghentikan aktivitas tangannya, dia menatap istrinya dengan menyunggingkan senyuman manis.


“Tergantung alasannya, kalau alasan kamu masuk akal, Mas akan menurutinya,” ucap Erik.


Ella terdiam saat mendapat jawaban dari suaminya, memikirkan apa yang menjadi alasan besar dia menginginkan hal itu, sebenarnya dia hanya tidak ingin suaminya itu menyentuh wanita lain selain dirinya, ntah kenapa hatinya benar-benar tidak rela saat mengingat itu, dia ingin egois, menginginkan Erik sepenuhnya hanya untuk dirinya, bukan untuk pasien atau yang lainnya.


“Sudahlah! Lupakan saja, aku tidak punya alasan lain selain satu kata cemburu dengan pasienmu.”

__ADS_1


Erik tertawa keras saat mendengar alasan Ella, dia sebenarnya juga sudah bisa menebak alasan istrinya meminta itu.


“Tunggulah sebentar lagi Yang, ada waktunya Mas akan berhenti mengurusi pasien-pasien Mas, dan jangan berpikir macam-macam karena akan membuatmu semakin kesal dengan Mas,” jelas Erik saat sudah menghentikan tawanya.


“Nggak usah cemburu... Secantik dan semulus apapun pasien Mas, aku tidak akan tertarik dengannya, karena Mas sudah punya lebih dari yang mereka punya, lagian mereka juga sudah bersuami dan mana mau Mas menerima bekas orang lain,” jelas Erik.


“Hah,, berarti kalau Kenzie dan aku sudah melakukannya, Mas nggak mau denganku?”


Erik terdiam saat Ella menyebut nama Kenzie, pikirannya langsung mengarah pada Axel, haruskah dia menceritakan semua ini pada istrinya? Tapi dia takut jika nanti akan membuat istringa kembali stress. Dia bingung dengan apa yang harus dia lakukan, karena Yohan juga belum bisa menemukan bukti untuk menyeret Axel ke kantor polisi.


“Mas... Kok bengong? Apa ada masalah?” tanya Ella menegur suaminya yang terlihat melamun itu.


“Emm ... Nggak, Mas Cuma mau bilang jika Kenzie sudah berbuat itu ke kamu Mas tetap akan menerimamu, tapi kan kenyataanya dia belum menyentuhmu dan Mas bahagia, karena Mas jadi yang pertama yang menikmati tubuhmu,” ucap Erik sambil melirik tanda merah yang tercetak di leher istrinya, meski hanya dua, tetap saja dia bangga bisa memperlihatkannya pada orang lain, berbeda dengan Ella yang berusaha keras untuk menutupi tanda merah itu.


“Kenapa, ngliatinnya kok gitu banget,” ucap Ella saat melihat mata Erik yang menatapnya dengan tatapan mesum.


“Sudah ya! Lala capek, pulang dari sini aku mau ke salon buat pijit,” lanjutnya saat mengerti tatapan Erik yang mengarah padanya.


“Boleh asal pijitnya di rumah, biar Mas yang mijitin kamu, emangnya kamu nggak malu jika tato di tubuh bagian dalam dilihat pelayan salon?” ucap Erik diakhiri bisikkan di telinga Ella karena melihat pelayan sedang melihat ke arah mereka berdua.


Ella yang mendengar itu langsung menyuapi Erik dengan kasar hingga sendok mengenai bibirnya.


Cup.


“Dah diam! Sudah sembuh itu,” ucap Ella setelah memberikan kecupan singkat pada bibir suaminya. Erik tersenyum senang melihat perlakuan Ella, dia selalu suka dengan sikap Ella yang selalu mencuri cium kepadanya itu, tanpa mempedulikan pelayan yang menatapanya tiba-tiba Erik mengangkat tubuh Ella menuju kamar, meninggalkan makan malam yang belum selesai itu. Ella sudah meronta ketika Erik mengangkat tubuhnya, tapi Erik tidak mau menurunkan istrinya itu justru membawanya ke dalam kamar.


*****


Setelah merasa bosan, keesokan harinya Erik mengajak Ella kembali ke Jakarta, mereka akan kembali ke apartemen milik Erik, karena Erik merasa Ella sudah sehat kembali dan siap melakukan tanggung jawabnya.


Baru dua puluh menit perjalanan Ella sudah tertidur pulas di kursi samping kemudi.


“Apa kamu segitu lelahnya?” Tanya Erik lirih saat mendapati istrinya yang sudah terlelap.


“Jangankan kamu, Mas saja sebenarnya juga lelah,” ucap Erik sambil fokus ke jalan, bibirnya terangkat saat mengingat kejadian tiga hari yang sudah dia lewati dengan istrinya, seperti bulan madu dadakan. Mungkin jika belum berhasil bulan depan dia akan mengagendakan bulan madu di kapal pesiar.


.


.

__ADS_1


Tiga jam berlalu ...


Erik mengangkat tubuh istrinya saat sudah tiba di tempat parkir apartemennya, dia pelan-pelan meletakkan tubuh Ella di ranjang miliknya, agar istrinya tidak terbangun. Dia lalu mengangkat ponselnya yang sejak tadi berdering.


“Bagaimana apa kau sudah menemukan buktinya?” Tanya Erik saat mengangkat telepon itu.


“........”


“Cepat serahkan pada polisi, sudah terlalu lama dia bebas berkeliaran, dan aku tidak mau istriku mengetahui semua ini, dan jangan bocorkan apapun soal kematian Kenzie pada istriku,” pesan Erik pada sekertarisnya Yohan, lalu segera menutup panggilan dan berbalik menghadap istrinya yang sedang tertidur, tapi dia tercengang saat mendapati Ella yang sudah duduk menatap Erik dengan penuh pertanyaan.


“Kenapa Mas? Ada apa dengan kematian Kenzie, kenapa Mas menyebut polisi,” tanya Ella yang penuh rasa penasaran.


Erik terdiam, sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain , haruskah dia menceritakannya sekarang dengan Ella.


“Yang...” ucap Erik sambil berjalan ke arah jendela, membuka gorden jendela dan melihat keramaian dari atas sana.


“Ada masalah sedikit, nggak usah kamu ikut memikirkannya, kamu jaga kesehatan saja, agar tidak drop seperti kemarin,” jelasnya.


Ella menatap suaminya, yang dari tadi mengalihkan pandangannya ke arah jendela, Ella lalu berjalan mendekat ke arah Erik , memeluk Erik dari belakang, mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, Ella meletakkan kepalanya di punggung kiri suaminya, sambil memainkan jarinya membentuk lingkaran di punggung kanan Erik, sedangkan tangan kirinya sudah melingkar di perut Erik.


“Katakan Sayang... Sekecil apapun masalahmu, berbagilah denganku,” ucap Ella lembut. Erik diam belum mau menjawab ucapan Ella, dia berbalik menghadap ke arah istrinya, menatap mata Ella yang penuh penasaran itu, dia lalu mengangkat kepala istrinya memberikan kecupan singkat di bibir Ella.


“Ini bukan apa-apa, biar Mas selesaikan masalahnya,” ucap Erik yang sudah akan melepaskan pelukan Ella, dia ingin segera meninggalkan posisi seperti ini, karena tidak tahan ingin segera menyelesaikan masalahnya.


“Mas ...” Panggil Ella sambil menahan tangan Erik yang akan pergi.


“Yang. Mas takut kamu akan seperti kemarin.”


Ella memikirkan ucapan Erik, dia paham yang ditakuti oleh suaminya, dia akan kembali stress dan sedih lagi.


“Aku janji nggak akan seperti kemarin, percaya padaku,” ucap Ella meyakinkan suaminya yang kelewat khawatir itu.


Erik memejamkan matanya, sambil menghirup nafas dalam lalu mengeluarkannya dengan kasar.


“Baiklah mungkin Mas akan mengatakannya,” Erik menatap lagi mata Ella.


“Axel adalah pelaku di balik kematian Kenzi.”


Bersambung....

__ADS_1


Insya Allah dilanjut nanti ya.


__ADS_2