
“Apa maksudmu, mereka?” tanya Ella penuh selidik sambil memperhatikan wajah Erik.
Erik hanya tersenyum manis, belum berniat menjawab pertanyaan Ella, dia masih sibuk memperhatikan layar dan dan memainkan alat usgnya.
“Kita pakai usg transvag*nal ya, biar lebih jelas?” tawar Erik.
“Aku istrimu, bukan pasienmu! Lakukan jika memang itu diperlukan,” jawab Ella, dia kesal karena Erik tidak mau menjelaskan tentang kondisi anaknya.
“Tarik nafas, saat aku memasukkan benda ini, supaya tidak menyakitimu,” pesan Erik yang sudah bersiap memasukkan stick transfunder di tangannya.
“Aku sudah tau!” jawab Ella, “Awww ...!” rintihnya ketika Erik memasukkan benda panjang itu ke dalan tubuhnya.
“Mas kan, sudah bilang tarik nafas!” ucap Erik sambil terkekeh.
“Harusnya Mas bilang dulu, supaya aku bersiap,” maki Ella menatap tajam ke arah Erik, “Kamu sengaja, kan?” selidiknya saat mendengar tawa kecik dari bibir Erik.
Setelah kondisi Ella tenang Erik mulai menggerakkan stick transfunder, memastikan lagi keberadaan anaknya. Suara detak jantung terdengar, tapi Erik belum mau menjelaskan apapun pada Ella.
“Jelaskan Mas, kamu jangan diam saja!” perintah Ella menatap wajah Erik yang tersenyum tipis.
“Sebentar, pasti akan Mas jelaskan. Tapi Mas ingin mengambil dulu gambar yang pas, untuk menjelaskannya padamu,” ucap Erik sambil menatap layar di depannya.
Suasana hening, karena Ella merasa kesal dengan Erik, sedangkan Erik masih sibuk memainkan alat transfunder tanpa menjelaskan pada Ella.
“Dengarkan ini detak jantung anakku!” perintah Erik.
“Ternyata ada 2 calon anak kita di sini.” Erik tersenyum senang saat mengucapkan itu. Dia lalu menarik alat usg nya dari tubuh Ella.
Ella sudah mendudukan tubuhnya, bersiap mendengarkan penjelasan Erik.
“Kamu membawa dua anakku di dalam sini, jadi lebih berhati-hatilah, jangan terlalu lelah, jangan terlalu banyak bergerak,” jelas Erik yang sudah mendekatkan wajahnya di perut Ella.
“Jika melihat hasil usg, usianya baru 7 minggu 5 hari, kamu tahu kan sekecil apa?” ucap Erik yang masih betah berada di depan perut Ella.
__ADS_1
“Aku akan melahirkan 2 anak sekaligus?” tanya Ella memastikan, dia belum begitu yakin dengan ucapan suaminya.
“Iya Sayang, apa mau lihat lagi.” Erik berucap sambil mendongakkan wajahnya ke arah wajah Ella.
“Apa kamu meragukan kemampuanku?” ucap Erik yang sudah duduk di tepi bed Ella.
“Bukan meragukanmu, aku hanya ingin memastikan Sayang ... jadi di sini ada dua anak kita?” ucap Ella yang terlihat senang, tapi tanpa dia sadari air matanya mulai menetes membasahi pipinya.
Erik menghapus air mata Ella, sambil menganggukan kepalanya.
“Kamu senang?” tanya Erik.
“Senang, tapi kok bisa ya, di keturunanku nggak ada gen yang kembar,” ucap Ella yang sudah akan turun dari tempat tidur.
“Mau kemana?” tanya Erik menahan tangan Ella. Ella memicingkan matanya ke arah Erik.
“Bayar dulu dong!” peringat Erik sambil mendekatkan bibirnya ke wajah Ella.
“Sayang ... jangan begini kamu tau sendiri kan, hormonku meningkat sekali saat hamil, aku kasihan denganmu yang tidak bisa memberikanku nafkah ....” Ella menghentikan ucapannya ketika mendengar suara tawa keras dari bibir Erik.
Ella menunduk malu saat mendengar ucapan dan suara tawa yang keluar dari mulut Erik. Tanpa melihat ke arah Erik lagi, Ella berjalan ke arah pintu keluar. Ella kaget karena dengan sengaja Erik menggendong tubuh Ella dari belakang. Erik sudah itu tidak mempedulikan teriakan yang keluar dari bibir Ella.
“Mas turunin, malu ih! Itu di lihatin sama pelayan,” ucap Ella saat Erik membawanya menuju kamar utama. Ella heran karena tiba-tiba tubuh Erik kembali kuat, tidak seperti sebelum mereka tadi memasuki kamar tamu.
“Sepertinya, aku sudah bisa memberimu nafkah batin!” ucapnya sambil menendang pelan pintu kamar dengan kaki. Dia berbalik untuk menutup kembali pintunya. Namun, saat dia ingin meletakkan Ella di kasur, Erik langsung kembali lemas karena melihat dua anaknya tengah bermain di atas kasur. Ella yang masih berada di gendongan Erik hanya mampu menahan senyumnya.
“Turunkan aku!” perintah Ella sambil tertawa.
“Nggak! Kita cari kamar yang kosong saja!” jawab Erik yang akan kembali berjalan meninggalkan kamar utama.
“Papaa ... Riella mau digendong juga dong! Riella kangen digendong Papaa ... selama Papa sakit kan nggak pernah gendong Riella,” ucap Riella yang sudah menahan kemeja Erik. Ella semakin senang saat mendengar ucapan Riella. Erik menurunkan tubuh Ella, sambil bibirnya berkomat-kamit mengumpati anaknya.
“Kita bisa menundanya dulu, lakukan setelah mereka terlelap,” bisik Ella di samping leher Erik.
__ADS_1
“Itu pasti, dan aku akan memberikan bonus yang banyak untukmu,” jawabnya sambil melirik ke arah Ella, yang sudah mendekat ke arah Kalun.
“Bonus apa Pa?” tanya Riella yang penasaran.
“Itu. Emmm ... kita dapat bonus, Riella kan minta adik satu, Papa kasih bonus satu lagi, jadi adik Riella nanti ada dua,” jelas Erik sambil menatap ke arah Ella yang tengah memeluk Kalun.
“Apa kamu mau menyapa kedua adikmu?” Erik berucap sambil menggendong Riella ke arah Ella dan Kalun.
“Iya, di mana Pa?” jawab Riella yang semakin ingin tahu.
Erik memerintahkan Ella untuk bersandar di kepala ranjang, dia lalu meminta Riella untuk meletakkan kepalanya di pangkuan Ella.
“Ayo bicara sama adik!” perintah Erik yang membuat Riella bingung. Ella yang memahami ekspresi Riella segera menjelaskan pada anak gadisnya.
“Di perut Mama ada dua adik Riella, coba pegang dulu, pasti adik nanti akan senang,” ucap Ella sambil menarik tangan mungil anaknya, Ella meletakkan tangan kecil itu untuk mengusap perutnya.
“Tak ade apa-apa pun.” Erik dan Ella saling bertukar pandangan saat mendengar ucapan anaknya yang sudah terbawa logat serial kartun.
“Tunggu satu bulan lagi, nanti pasti bisa ajak adik main,” jelas Erik sambil mengusap rambut Riella.
Kalun yang berada di samping Ella, hanya mendengarkan mereka berbicara.
“Apa adik Riella akan secantik Kayra Pa?” Erik menatap Kalun sambil tersenyum tipis.
“Gen mu itu, baru 6 tahun sudah tahu mana cantik dan mana yang tidak!” cibir Ella yang menatap ke arah Erik.
“Hahaha ... nggaklah! Aku tahu kamu cantik saat kamu usia 9 tahun dan Mas saat itu baru usia 18 ke 19 tahun kok, mungkin ikut kamu, yang bisa membedakan mana yang tampan dan tidak tampan, nyatanya kamu kan yang selalu mengingatku dari waktu kecil,” balas Erik sambil memperhatikan wajah Ella yang sudah mulai emosi. Ella diam sejenak, menatap suaminya, menarik keras hidung panjang Erik, membuat Erik mengaduh kesakitan.
Sore itu mereka merasakan kehangatan kebersamaan di kamar, tanpa ada beban apapun, semua terlihat bahagia menyambut anggota keluarga yang kurang lebih 7 bulan lagi akan hadir ditengah-tengah mereka.
Erik menjadikan 5 tahun yang lalu sebagai ujian terberat untuknya dan Ella, tapi dia bersyukur Allah masih mengizinkannya untuk memperbaiki waktu yang sudah dilewatkan, bahkan dia merasa mendapatkan kado terindah dari Allah, atas perjuangannya selama ini.
.
__ADS_1
.
Jangan lupakan untuk menekan tanda jempol ya!😂