
Budayakan untuk memberikan like di setiap part ya. Terima kasih 🙏
Ke esokkan harinya Ella sudah bersiap untuk pulang ke rumah, dia dijemput oleh Damar yang sengaja datang terlambat ke kantor.
“Ingat ya ..., hari senin jadwal kontrol dan jangan lupa dihabiskan obatnya,” pesan Erik pada Ella yang tengah duduk di kursi roda.
“Baik Dok,” jawab Ella singkat. Ella segera berlalu meninggalkan Erik dengan di dorong Danu.
“Terimakasih ya Rik,” ucap Damar pada Erik.
“Santai aja, Bro,” balasnya, “Apa pun akan gue lakukan buat calon bini gue,” bisik Erik di telinga Damar.
Setelah mengantarkan Ella dan keluarganya pergi, Erik berjalan menuju tempat parkir, untuk mengambil mobilnya. Ia segera melajukan mobil tersebut menuju rumah kedua orangtuanya, di perjalanan Erik terbayang senyum manis Ella, ntah apa yang dipikirkannya sehingga membuat bibirnya tersenyum simpul hanya dengan mengingat wajah gadis itu.
“Hanya membayangkan senyumanmu saja bisa seperti ini, bisa gila lama- lama kalau kaya gini turus,” lirih Erik ketika mobil berhenti tepat di lampu merah.
Setelah menempuh jarak tiga puluh menit, Erik tiba di rumah kedua orang tuanya. Erik turun dari mobil, berjalan pelan menuju pintu utama. Jihan yang melihat Erik datang, segera menyambut anak kesayangannya itu.
“Anak Mama ini tumben datang, Mama kira sudah lupa jalan pulang!” tegur Jihan melihat langkah kaki Erik yang semakin dekat dengannya.
Erik yang sudah di depan Jihan, mencium tangan dan kedua pipi mamanya.
“Baru minggu lalu Erik ke sini, Ma,” ucap Erik.
“Harusnya kamu itu tinggal dulu di sini, Mama itu masih kangen sama kamu,” ucap mama Jihan.
“Kalau kangen kan bisa dateng ke apartemen Erik Ma,” jawab Erik sambil tertawa.
“Papa sama Kak Bima sudah pulang belum Ma?” tanya Erik.
“Kamu ini, ini kan baru jam sebelas, masih di kantor dong, Sayang,” jawab Jihan.
“Kakak ipar di sini juga ya Ma?”
“Iya, kasian hamil tua tidak ada yang mengawasi kalau di sana, biar Bima juga nggak capek mondar-mandir ke Bandung,” ucap Jihan menjelaskan.
“Kamu kenapa, kok ada yang beda gitu dengan auramu?” tanya Jihan.
Belum Erik menjawab terdengar suara anak kecil berbicara.
“Hayo Om Eyik,” ucap gadis kecil berusia dua tahun dengan khas cadelnya.
“Hay Zoya sayang,” jawab Erik sambil menggendong lalu mencium pipi Zoya.
“Om Eyik bwa cocat gak,” tanya Zoya.
“Maaf ya Sayang, Om Erik gak bawa. Om nggak tau kalau Zoya di sini,” jawab Erik sedikit cemberut mengikuti wajah Zoya.
__ADS_1
“Udah pantes kamu jadi ayah Rik, buruan nyari bini keburu tua ntar,” canda Mila kakak ipar Erik yang baru saja tiba di depannya.
“Doain aja Kak biar cepet ketemu sama jodohnya,” jawab Erik santai.
Mama Jihan hanya tersenyum melihat candaan menantu dan anaknya itu, dia bahagia melihat anak dan menantunya akur.
“Bagaimana Kak, calon adeknya Zoya sehat?”
“Iya alhamdulillah sehat, cuma disuruh diet karbo sama yang manis-manis saja sama dokter, karena kemaren terakhir periksa bbj sudah 2,5 kg padahal hpl masih sebulan lagi,” jelas Mila.
“Sudah tau jenis kelaminnya Kak?” tanya Erik lagi.
“Iya sudah, cewek lagi,” ucap Mila dengan kecewa, karena sebetulnya dia menginginkan anak laki-laki.
“Nggak papa Kak, yang penting sehat, ntar kalau sudah keluar bisa bikin lagi yang cowok, ntar aku kasih tipsnya,” canda Erik.
“Halah, enak aja, cowok enak kalu ngomong, yang ngrasin itu lho,” sewot Mila, “Ntar Kakak minta bantuan kamu aja ya Rik kalau lahiran, rencana Kakak mau lahiran di sini aja soalnya,” lanjut Mila meminta bantuan pada adik iparnya.
“Iya, pasti aku usahain Kak,” jawab Erik.
“Ayo makan dulu, itu sudah siap makan siangnya,” ajak mama Jihan yang baru datang dari arah dapur.
“Iya Ma,” sahut Erik sambil berjalan menuju meja makan sambil menggendong Zoya.
“Zoya sini sama Mama, biar Om Erik makan dulu,” ucap Mila.
“Om Eyik, Zoya kan bental lagi mau jadi Kakak jadi halus pintel makan cendili bial ntal bisa cuap adek,” ucap Zoya.
“Anak pintar,” puji Erik sambil mengusap rambut Zoya.
Setelah makan siang selesai Erik beristirahat di kamarnya yang ada di lantai dua. Sampai sore tiba dia baru terbangun, dia lalu meraih ponselnya melihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul 5 sore, mengingat hari ini adalah hari sabtu, jadi dia tidak ada jadwal praktek.
Erik segera beranjak dari tidurnya, berjalan masuk ke dalam kamar mandi yang ada di kamarnya. Setelah selesai mandi Erik mengambil ponselnya kembali, lalu mengirimkan sebuah pesan pada nomer baru, yang baru disimpan beberapa hari yang lalu.
To Ella : Selamat sore
Kirim pesan Erik pada Ella, tapi setelah lima belas menit tak kunjung mendapat balasan dari sang pemilk. Erik lalu memutuskan turun ke lantai satu menuju ruang keluarga, baru dia duduk ada bunyi pesan masuk di ponsel yang dia pegang, segera Erik membaca nama pengirim di layar hp nya, senyumnya keluar saat membaca nama pengirim.
From Ella : Sore, siapa?
Balasan dari Ella yang masuk ke dalam ponsel Erik, membuat senyum Erik terpancar sempurna.
To Ella : Teman kakak kamu.
From Ella : Pak Erik ya?
To Ella : Yup. Sudah makan? perutnya gak kambuh lagi, kan?
__ADS_1
From Ella : Sudah Pak Erik, sudah gak sakit kok perutnya.
To Ella : Oh bagus klu begitu, lagi ngapain?
From Ella : Lagi tiduran saja, ditemani boneka panda.
Erik hanya tersenyum saat mengingat bahwa Ella masih menyimpan boneka panda pemberiannya, mungkin sudah 8 tahun yang lalu dia memberikan boneka hitam putih khas panda itu. Baru akan membalas pesan Ella terdengar suara mama Jihan.
“Kok senyum - senyum sendiri sich, chat sama pacar ya, kenalin dong ke Mama,” ucap Jihan.
“Ah Mama bikin kaget aja, Mama masih inget Lala gak?” tanya Erik.
“Lala anak nya Mas Danu? ya ingatlah Mama kan masih sering ketemu,” jawab mama Erik.
“Iya Ma, aku pengen melamar dia Ma, Mama bantuin Erik ngomong ke Papa ya, Ma,” pinta Erik.
“Bukannya Lala masih kecil ya Nak, emang dia mau sama kamu?” ucap mama.
“Iya sih dia baru masuk kuliah taun ini, setidaknya kan bisa tunangan dulu Ma, nikah nya nunggu lulus kuliah,” jawab Erik sekenanya.
“Kamu mau nikahin anak kecil Rik!” terdengar suara Yusuf dari luar yang baru masuk sambil menggendong Zoya.
“Jangan -jangan dia hamil ya, makanya kamu cepat cepat pengen nikahin?” selidik Yusuf yang hanya mendengar sepenggal cerita Erik.
“Ih ..., nggak kok Pa, Erik gak mau ya, lakuin hal kaya gitu sebelum benar benar sah jadi milik Erik,” ucap Erik.
“Ow syukurlah kalau begitu, lalu yang tadi Ayah dengar apa?” tanya Yusuf memastikan.
“Ini hlo Pa, Erik itu pengen melamar anaknya Mas Danu, tapi pengennya tunangan dulu setelah lulus baru dech dinikahin,” jelas mama Jihan.
“Tunggulah satu tahun lagi Rik, biar dia nyaman dulu di kampusnya yang baru, setelah itu terserah mau kamu nikahin atau tunangan dulu,” ucap Yusuf.
“Tapi Pah, entar kalau Lala nya diambil orang gimana?” jawab Erik.
“Kamu tenang aja, Papa kan kenal Lala sudah dari dulu, Papa tau dia anak nya seperti apa,” jawab Yusuf.
“Baiklah,” jawab Erik singkat, sedikit merasakan kecewa.
“Kamu tidur sini kan, Sayang,” tanya mama Erik.
“Iya Ma,” jawab Erik
.
“Ayo makan malam dulu, tolong panggilkan Bima dan Mila, Bi!” ucap mama Erik.
“Baik Nyonya,” jawab Bi Izah ART di rumah orangtua Erik.
__ADS_1
Setelah berkumpul di meja makan, mereka akhirnya makan malam bersama dengan formasi lengkap, lalu di lanjutkan menonton tv bersama, dengan suara canda tawa dari si kecil Zoya yang bercanda dengan sang kakek.