Kepincut Cinta Dokter

Kepincut Cinta Dokter
Ekstra Part : Acara Kalun


__ADS_3

Erik keluar dari dalam kamar mandi. Dia mendekat ke arah Ella yang tengah merapikan rambutnya. Handuk di pinggangnya sengaja diikat dengan erat, supaya istrinya itu tidak menjahilinya.


Ella memainkan matanya ke arah Erik di pantulan cermin, menanyakan apa yang diiginkan Erik saat ini melalui gimik wajahnya.


“Celana dalamku mana?” tanyanya berbisik di samping telinga Ella.


Ella melirik ke arah suaminya, dalam hatinya berpikir, bukannya celana dalam selalu diletakkan di laci kamar mandi? Kenapa suaminya itu masih terus menanyakan benda keramat itu?


“Ambil sendiri Yang! nggak tahu apa aku lagi ngapain?” jawab Ella sambil menepukkan bedak di wajahnya. Erik hanya menatap pergerakkan tangan Ella, mulutnya kini sudah terlihat maju ke depan, saat merasakan perubahan sikap istrinya.


“Dulu waktu pengantin baru saja, mau makaiin! Sekarang suruh ngambilin saja malas-malasan,” cibirnya yang masih memperhatikan tangan Ella. Ella membuang nafas lelahnya, setelah mendengar ucpan Erik.


“Okey, aku ambilkan. Tunggu ya Sayang, Lelaki tuaku yang manja,” kata Ella sambil berjalan memasuki kamar mandi.


Saat dia kembali lagi ke kamar, dia masih melihat Erik berdiri di samping ranjang, sambil bersandar di meja nakes.


“Nih.” Ella meletakkan benda keramat yang di lipat seperti sosis itu ke dada Erik.


“Pakaiin dong!” pintanya yang semakin menjadi.


“Pakai sendiri, aku mau lihat anakku dulu dia sudah siap apa belum,” ucap Ella yang akan melangkahkan kakinya menjauh dari Erik.


Namun, tangan Erik secepat kilat meraih pinggangnya, membuat Ella menempel erat di tubuh Erik yang hanya mengenakan handuk sepinggang. Air yang ada di rambut Erik kini menetes menjatuhi wajah Ella, membuat wanita itu memaksa Erik untuk segera melepaskan pelukkannya.


“Bantu suamimu dulu, baru anakmu!” ucapnya sambil melepaskan pelukkannya. Ella seperti mendengar ancaman dari Erik karena Erik mengucapkannya dengan sedikit berteriak. Dia lalu menerima benda itu dan membantu mengenakan pakaian Erik dari atas hingga ujung kakinya, bahkan dia ikut memakaikan jel rambut suaminya saat ini.


“Yang hitam sudah bisa dihitung Yang,” ucap Ella ketika menyisir rambut Erik.


“Nggak papa, yang penting ada kamu yang setia di sampingku,” jelas Erik sambil tersenyum tipis ke arah kaca menatap Ella dari pantulan cermin.


Setelahnya, Ella mengenakan dasi kupu-kupu ke leher Erik. Pakaiannya hari ini nampak serasi suaminya. Mungkin malam ini dia bisa menjadi bintang utama untuk acara anaknya tersebut, pasti pasangan di luar sana akan merasa iri dengan Erik dan Ella mengingat mereka terlihat masih saja romantis walaupun usia sudah memakannya.


Malam ini mereka akan menemani anak lelakinya yang akan melangsungkan acara pertunangan dengan tambatan hatinya.


Setelah Kalun selesai kuliah di Harvard sebulan yang lalu, dia meminta izin papa dan mamanya untuk melamar Kayra, dan hari ini dia akan menyematkan cincin di jari manis Kayra, sebagai penanda jika Kalun serius menjalin hubungan dengan Kayra. Dan rencananya 6 bulan ke depan Kalun akan menikahi Kayra.


“Terima kasih wanitaku,” ucap Erik setelah Ella membantu menyelesaikan penampilannya. Dia bukan lagi mengecup bibir Ella yang semakin manis itu, dia langsung memberikan ciuman panas yang membuat Ella mengginggit bibir Erik, sebagai hukuman karena sudah membuat maku upnya berantakan.


Setelah keributan kecil yang terjadi di kamar, mereka berdua segera turun ke lantai satu. Erik memicingkan matanya, saat melihat Kalun yang mondar-mandir dengan wajah yang terlihat gelisah.


“Apa Papa dulu juga seperti ini saat ingin melamar Mama?” tanya Kalun yang membuat Erik tersenyum ke arah Ella.


“Papamu dulu, nggak seperti itu, lamaran pertama papamu dulu saat paman dan bibi menikah, dia itu hemat budget, takut hartanya terkuras,” timpal Damar yang sudah menunggu pasangan itu turun. Keluarga Damar turut serta saat acara acara Kalun yang akan di adakan di rumah Rendi. Mengingat Damar adalah satu-satunya saudara mereka. Dan Bima tidak ikut serta, dia merasa tidak pantas untuk menginjakkan kakinya di rumah keluarga Ramonnes, setelah dia keluar dari penjara, tapi Ella masih bisa berhubungan baik dengan Mila. Dia masih sering bertukar kabar padanya, mengenai Zoya dan Zalina.


Kalun sedikit terlepas rasa nerveosnya saat mendengar ucapan Damar, berbeda dengan Erik yang sudah menatap Damar dengan penuh emosi. Tapi dia sedikit tersenyum ke arah Ella saat mengingat kejadian yang hampir 30 tahun silam itu.


Setelah mereka semua selesai dengan dandanannya, mereka segera bertolak ke rumah Rendi.


Saat tiba di sana, Erik sedikit terkejut atas

__ADS_1


pesta yang diadakan oleh keluarga Rendi, dia pikir acara akan dihadiri oleh pihak keluarga saja. Tapi dia salah, acara tunangan itu dihadiri oleh banyak tamu-tamu penting. Apalagi setelah Rendi masuk dunia politik. Di sana banyak tamu yang di undang dari pihak partainya. Erik mengeluarkan nafas kasarnya, setelah mengetahui hal itu. Harusnya dia mengingatkan Rendi dulu, untuk membatasi tamu undangan. Karena sejujurnya Erik paling alergi dengan dunia politik dan media yang akan meliputnya.


Saat dia menapakkan kakinya memasuk rumah Rendi. Jepretan kamera menyilaukan pandangan matanya, beruntungnya Ella terus menggenggam tangan kirinya jadi tidak mungkin dia akan terjatuh.


“Kaca mataku mana?” tanya Erik yang meminta Ella untuk mengambilkan kaca mata. Ella yang sadar langsung mencarinya di dalam tas, lalu menyerahkan kepada Erik. Erik segera memakainya setelah Ella menyerahkan. Usianya semakin bertambah, tapi soal fashion Ella selalu mengupdatenha setiap saat, dia memakai kacamata agar sinar kamera itu tidak menyakiti matanya.


Mereka duduk di kursi terdepan, di jajaran orang-orang yang dianggap penting oleh Rendi. Dalam hatinya terus mengumpati sahabat sekaligus calon besannya itu. Sepertinya malam ini dijadikan Rendi untuk menarik hati ketua partai, supaya dirinya bisa menjadi kandidat wakil ketua partai politik yang diusungnya.


Perbincangan yang harusnya tidak dia dengar pun, kini terpaksa harus dia dengar, menurutnya ini bukan acara pertunangan. Melainkan acara sogokkan supaya rekan Rendi itu tahu jika dia salah satu besan orang terpenting di Jakarta, yang mungkin akan ikut menyumbang banyak ketika kampanye nanti.


Jangan salahkan Erik jika dia akan menyumbang 100 ribu, dia tidak akan pernah masuk ke dunia politik. Dia berpikir buat apa mencari kedudukan, supaya dikenal orang? Buatnya hidup damai dengan anak-anak diusia tuannya saat ini, adalah yang terpenting. Dia hanya ingin menghabiskan dan mendampingi keluarganya disisa waktunya. Bisa menikmati menggendong cucunya saja dia sudah akan bahagia sekali.


Acara inti dimulai kini Kalun sudah


mulai berbicara di depan semua orang, mengucapkan kata-kata cintanya untuk Kayra. Terlihat malam ini, Kayra begitu cantik dengan kebaya warna dusty ungu yang melekat pas di tubuhnya. Badannya memang sedikit lebih berisi mungkin itu juga yang disukai Kalun.


Kalun menoleh ke arah Ella ketika dia diminta


menyematkan cincin di jari Kayra. Dia memohon dengan isyarat mata, supaya


mamanya itu mau membantu memasangkan cincin berlian itu.


“Kamu cantik sekali,” puji Ella setelah memasangkan cincin di jari manis Kayra. Kayra membalas dengan senyuman manisnya juga ke arah Ella.


“Nggak boleh, peluk Kalun ini Tan?” tanya Kayra menggoda Kalun yang tengah terlihat nerveos.


“Nggak boleh ya! Belun sah.” Ella berucap


“Duh, sepertinya ceweknya yang


agresif ya?”


“Jangan-jangan itu cowoknya dipaksa


buat nikahi nantinya.”


Terdengar cibiran dari para tamu


undangan yang hadir. Erik hanya tersenyum miring saat mendengar nyinyiran dari para emak-emak di belakangnya itu. Setelah acara inti selesai mereka melanjutkan acara ramah tamah. Mereka semua menikmati hidangan yang tersedia di sana yang sudah disediakan oleh tuan rumah.


Kalun tengah duduk di samping Ella, dia masih suka bermanja-manja dengan Ella mengingat mereka baru satu bulan bertemu.


“Berarti cintamu nggak lagi untuk


Mama dong ya?” tanya Ella saat Kalun merengkuh lengannya.


“Mama ratu di hatiku selamanya, 50%


mama, 30% Kayra, 15% adik-adik dan 5% untuk papa,” ucap Kalun sambil menjulurkan lidahnya ke arah Erik, setelah selesai mengucapkan itu.

__ADS_1


“Awas saja jika berubah!” ancam Ella.


“Terserah kalian, yang penting jangan


sampai membuat mamamu ini sakit hati, awas nanti kamu ya, sampai membuat mama


sakit, aku bisa langsung mencoret namamu dari warisan Ramones!” kecam Erik dengan nada dingin. Setelah itu dia berpamitan ingin ke kamar kecil, karena sedari tadi dia sudah menahannya.


Setelah Erik selesai, dia sejenak


menatap kaca di depannya. Kharismanya masih sama, mungkin jika rambutnya tidak putih, bisa kali ya dapat istri lagi? pikiran jahatnya memenuhi otaknya ketika dia


menatap kaca di depannya. Dia lalu keluar kamar mandi, kembali menuju di mana


anggota keluarganya berada. Namun, langkahnya tiba-tiba terhenti ketika melihat wanita itu berciuman dengan panas dengan sosok lelaki di kegelapan. Dia hanya menatapnya dari balik tembok yang tidak jauh dari mereka. Dia menunggu kedua orang itu keluar dari sana. Karena jika dia keluar sekarang, pasti itu akan memancing keributan.


“Kenapa kamu justru bertunangan


dengannya? Katanya kamu mencintaiku,” ucap lelaki yang mengenakan pakaian


berwarna biru, Erik bisa dengan jelas mendengar ucapan itu.


“Ya papa yang memintaku, Bi. Kamu percaya saja, jika aku tidak akan benar-benar menikah dengannya. Setalah ini aku akan


pergi ke London untuk sekolah, dan kamu harus ikut denganku, biar kita bisa


terus bersama.”


Ucapan wanita itu membuat hati Erik


memanas, dia sama sekali tidak percaya jika gadis kecil yang dulu sering ditimang-timang


itu, kini menjelma menjadi wanita jahat yang suka berselingkuh. Erik masih mengamati wanita yang tengah memeluk lelakinya dengan erat. Sepertinya dia salah mengizinkan Kalun bertunangan dengannya. Tapi dia sedikit merasa kasihan dengan anaknya, karena Kalun sebenarnya sungguh-sungguh mencintai Kayra. Dia merasa


Kayra tidak pantas untuk mendapatkan Kalun.


Erik lalu berjalan kembali menemui


anggota keluarganya, setelah melihat Kayra dan lelaki itu pergi.


“Ayo pulang! Sudah malam, besok si


kembar juga harus sekolah,” ajak Erik pada seluruh anggota keluaganya. Sebenarnya


bukan itu alasan utama Erik mengajak pulang dia hanya ingin sedikit meredakan hatinya yang sedikit nyeri akibat melihat kejadian beberapa menit yang lalu.


Sesampai di rumah Erik langsung


menuju meja kerjanya, dia menghubungi seseorang untuk terus mengikuti Kayra. Supaya dia bisa mengetahui apa yang akan dilakukan calon menantunya itu.

__ADS_1


👣


Jangan lupa untuk like dan vote ya.👍🙏


__ADS_2