Kepincut Cinta Dokter

Kepincut Cinta Dokter
S2 Rencana Terselubung


__ADS_3

Happy reading, jangan lupa like dan vote, komentar positif.


.


.


.


Cukup lama Erik menunggu Bella menelepon tunangannya, dia hanya bisa menatap dan menguping pembicaraan Bella, otaknya bekerja keras memikirkan cara agar Bella cepat pulih dari ingatannya, dering ponselnya berbunyi, Erik segera meraih ponselnya yang sejak semalam dia letakkan di meja dekat brankar.


“Ada apa Ma?” tanya Erik yang sudah menempelkan ponsel di samping telinganya.


“Cepatlah datang ke rumah, ada yang Mama ingin bicarakan terkait pernikahanmu,” ucap Jihan di ujung telepon.


“Nanti malam ya Ma, Erik baru sibuk ...!” tolak Erik yang tidak ingin bertemu Jihan saat ini, dia malas bertemu Jihan, karena pasti yang akan di bahas tentang pernikahannya dengan Nadia.


“Baiklah Mama akan menunggumu,” ucap Jihan, tidak lama ponsel itu mati. Erik menatap Bella yang masih menelepon tunangannya. Cukup lama dia berdiri di samping ranjang Bella, hingga Bella juga menatap kearahnnya.


“Kenapa lihat-lihat?” tanya Bella yang sudah mematikan teleponnya. Erik hanya diam mencoba mengalihkan pandangannya dari tatapan Bella, berpura-pura tidak peduli dengan Bella.


“Tolong keluarlah, aku harus mengganti bajuku, pasti orang di rumah sudah mengkhawatirkan aku,” lanjutnya, Erik menatap sebentar wajah Bella, lalu berjalan meninggalkan ruangan Bella, dia meraih ponselnya untuk menghubungi Yohan dia meminta Yohan untuk mengirim anak buahnya supaya memantau terus kondisi Bella.


Bella keluar ruangan dengan pakaian yang sudah rapi, pemberian dari Erik yang tadi pagi dia berikan padanya. Erik terus menatap wajah Bella tanpa berkata satu kata pun.


“Apa ada masalah dengan riasanku?” tanya Bella sambil meraba pipinya.


“Emmm ... Nggak ada, aku hanya merindukan istriku,” jawab Erik sambil mengalihkan pandangannya ke arah bawah, “Aku akan mengantarmu! Jangan menolak!” lanjut Erik, sambil berjalan berdampingan dengan Bella.


Saat melewati ruang bersalin, Erik menghentikan langkahnya, menatap sebentar pintu masuk di samping kirinya.


“Saat itu aku berpisah dengan istriku di sini, aku pikir dia sudah benar-benar meninggalkanku.” Bella yang tadi tidak peduli dengan ucapan Erik, Tiba-tiba ikut menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Erik yang tertinggal di belakangnya.


“Maksudmu?” tanya Bella, yang tidak paham dengan ucapan Erik.


“Apa kamu tidak merasakan sesuatu saat melewati ruangan ini?” Bella terdiam sambil menatap pintu masuk ruang bersalin, dia hanya tersenyum tipis.


“Aku merasa ada yang beda, sepertinya aku ...”


“Kamu ingat!” sahut Erik.


“Sepertinya aku harus segera pergi dari sini, telingaku sungguh tidak bisa mendengar mulutmu berbicara lagi,” jelas Bella. Dia lalu berjalan meninggalkan Erik yang masih mematung di depan ruangan.


Erik segera berlari mengejar Bella yang sudah berada jauh darinya. Dia mencekal tangan Bella untuk di raihnya, dia hanya ingin mengetahui di mana istrinya itu tinggal sekarang. Dia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak membiarkan siapapun menyakiti istrinya.


Satu jam kemudian.


Erik segera melajukan mobilnya ketika Bella sudah turun dari mobilnya, sedangkan Bella masih menatap mobil Erik yang semakin jauh meninggalkan rumahnya, bibirnya terangkat ke atas, dia membuang pelan nafasnya saat mobil Erik sudah tidak terlihat lagi.


“Tunggu waktunya tiba, pasti semua akan kembali seperti semula, aku juga merindukanmu,” lirihnya. Dia lalu masuk ke dalam rumah, menuju kamar miliknya.


“Pak Erik yang mengantar mbak Bella?” tanya wanita paruh baya yang berdiri di dekat pintu masuk. Bella tersenyum ke arahnya.

__ADS_1


“Iya.”


“Hati-hati mbak, mereka selalu mengintai gerak-gerik kita,” ucap wanita yang sudah sebulan menemani Bella, “Mbak Bella kenapa bisa meninggalkan obatnya?” ucap bu Lasmi sambil menyerahkan obat di tangannya.


“Iya hampir saja dia tahu,” ucap Bella.


“Pak Haikal semalam menelepon saya, menanyakan Mbak Bella, katanya ponsel mbak Bella tidak bisa di hubungi,” ucap bu Lasmi.


“Iya tadi pagi aku sudah meneleponnya,” jelas Bella.


“Aku masuk ke kamar dulu ya Bu, sepertinya aku sedikit pusing,” pamit Bella yang sudah akan melangkahkan kakinya ke kamar.


“Apa perlu saya panggilkan Dokter Fera?”


“Nggak usah Bu, semalam aku sudah berbicara dengannya,” jelas Bella sambil berjalan meninggalkan ruang tamu. Bella masuk ke dalam kamar, merebahkan tubuhnya di kasur yang sudah semalam tidak dia tiduri.


Dia tersenyum kecil saat melihat cincin yang ada di liontin kalungnya.


“Aku harus mengetahui apa rencana mereka sebelum dia menjatuhkanmu,” ucap Bella sambil mengusap cincin yang ada di kalungnya.


“Dan ingatlah, kamu harus berterimakasih pada Haikal dan Nindi, mereka diam-diam sudah banyak membantumu, membantu kita supaya bisa bertemu kembali,” lanjut Bella yang bermonolog sendiri.


“Aku merindukan kalian ...,” ucap Bella yang sudah beralih menatap ponselnya, menatap lekat foto orang tercintanya. Namun, tak lama dia segera mengangkat panggilan dari lelaki yang sudah menghancurkan hubungannya dengan Erik.


“Hallo ...,” ucapnya sambil menempelkan ponsel di samping telinga.


“Hai ... Gimana kabarmu? Kamu tidak lupa kan minum obat?” tanya lelaki di ujung telepon.


“Iya, aku selalu rajin minum obat, tenanglah aku akan selalu mengingatnya,” jawab Bella dengan nada yang dibuat seramah mungkin.


Iya, tapi obat itu sudah kuganti dengan obat dengan yang lain. Ingin sekali Bella mengucapkan itu, tapi dia urungkan karena itu akan membuat Axel akan langsung datang ke Jakarta.


“Kamu nggak ke rumah sakit?” tanya Bella pada Axel.


“Nggak, aku merindukanmu, aku nggak bisa fokus untuk melakukan operasi, jadi aku menyerahkannya pada rekanku,” jelas Axel di ujung telepon.


Bella hanya menggaruk hidungnya yang tidak gatal saat mendengar ucapan rindu dari Axel, ingi rasanya memuntahkan isi perutnya, dia sangat jijik dengan lelaki di ujung teleponnya.


“Aku tutup dulu ya, aku mau mandi, gerah soalnya,” ucap Bella yang beralasan ingin segera menutup panggilan telepon Axel.


“Oke ..., Bye jangan lupa menjemputku saat aku tiba di Jakarta,” ucap Axel berpesan pada Bella. Dia lalu menjawab dan segera menutup panggilannya, merebahkan lagi tubuhnya. Namun, dia segera duduk dari tidurnya saat mendengar suara pintu kamarnya terbuka.


“Kamu baik-baik saja?” tanya Nindi yang baru saja masuk ke dalam kamar Bella. Bella tersenyum ke arah sahabatnya.


“Seperti yang kamu lihat,” ucap Bella yang sudah memeluk Nindi.


“Haikal langsung memintaku datang, saat mendengarmu masuk rumah sakit,” ucap Nindi, yang sudah duduk di samping Bella.


“Iya, aku kemarin lupa untuk membawa obat,” jawab Bella.


“Bersabarlah sebentar lagi, kamu akan berhenti dari obat-obatan itu,” jelas Nindi saat melihat wajah Bella yang mulai sedih.

__ADS_1


“Kamu sudah bertemu dengan suamimu?” Bella tersenyum tipis sambil menatap ke arah pantulan kaca di depannya.


“Dia masih seperti dulu, masih saja mesum padahal sudah 45 tahun,” ucap Bella.


“Hot daddy,” sahut Nindi.


“Di mana Kenzo?”


“Dia di luar dengan Bu Lasmi,” jelas Nindi.


“Aku kemarin bertemu Riella dan Kalun, mereka sama-sama menggemaskan, sangat mirip denganku dan Mas Erik.”


“Iyalah! Kan, mereka anakmu dengannya,” sahut Nindi.


“Andai waktu itu aku tidak benar-benar pergi meninggalkannya, pasti perpisahan ini tidak akan terjadi,” ucap Bella.


“Sudahlah, tenangkan dirimu, sekarang fokus dulu ke pengobatan ketergantunganmu itu, sambil kita merencanakan pembalasan untuk mereka,” jelas Nindi yang kembali memeluk Bella.


“Pak Erik mau menikah?” tanya Nindi, “Kamu nggak takut dia akan benar-benar meninggalkanmu?” Bella hanya tersenyum saat mendengar ucapan Nindi, dia juga tahu jika Erik akan menikah, tapi dia yakin jika suaminya tidak akan melakukan itu, karena dia tahu Erik masih mencintainya.


“Iya,” jawabnya singkat.


“Minggu depan Riella ulang tahun, aku akan membuatkan kue yang special untuknya.”


“Ya, ini adalah moment pertamamu, setelah ingatanmu kembali, beri dia hadiah yang special, misalanya adik baru mungkin?” goda Nindi yang langsung mendapatkan cubitan kecil dari Bella.


“Kamu tahu sendiri, hubunganku seperti apa?”


“Berarti kalau sudah kembali ke pelukkan mereka, langsung dong ya, bikin adik buat Riella,” ucap Nindi.


“Nggak usah diperintahkan, pasti lelaki tua itu sudah akan menghamiliku lagi!”


“Hahaha. Sebutan baru untuk Pak Erik?”


“Iya, lelaki tua yang kadar mesumnya masih saja tinggi, kamu tau pertama kali dia melihatku, dia langsung mencium bibirku di depan umum, dan reflek saja aku langsung menendang pusakanya,” ucap Bella mengingat kejadian pertemuan pertamanya dengan Erik setelah beberapa tahun tidak bertemu.


“Kamu tidak takut, jika itu akan membuatnya tidak bisa memberikan kenikmatan padamu? Hah ...,” canda Nindi yang semakin membuat Bella memerah.


“Kapan HPL anak gadismu? Jangan terlau banyak pergi jauh-jauh, itu akan membuatmu kelelahan,” ujar Bella yang mengalihkan pembicaraan.


“Masih dua bulan lagi, tenang saja,” jawabnya singkat menenangkan Bella sambil mengusap perutnya.


“Kapan Haikal akan pulang ke Jakarta?”


“Masih beberapa hari lagi, dan aku akan menemanimu di sini, atas permintaanya, bukan hanya dia yang khawatir tapi Ayah dan Bunda mereka juga mengkhawatirkanmu, banyak orang Axel yang terus mengikutimu, kamu juga harus jaga dirimu baik-baik,” jelas Nindi yang sudah membuka pintu karena gedoran dari bu Lasmi.


“Aku akan senang jika kalian berada di sini, apalagi dengan melihat Kenzo, mungkin aku bisa mengobati rasa rinduku pada Kalun dan Riella.”


.


.

__ADS_1


.


TBC


__ADS_2