
...Selamat Membaca...
Suasana rumah Erik kembali sepi, hanya terdengar suara bising dari kompor gas serta alat-alat masak yang sedang dimainkan oleh ART nya.
Cucu-cucunya sudah kembali ke rumah masing-masing dan di saat seperti ini Erik justru bingung hendak melakukan apa, alhasil dia masih berdiam di kamar sambil menatap Ella yang tengah menyisir rambut di depan cermin.
Tak pernah bosan untuk terus menatap istrinya. Meski rambut yang tadinya hitam sudah banyak yang memutih, alat-alat kosmetik semakin banyak yang aplikasikan ke wajah, tapi baginya Ella masihlah sama. Cantiknya, judesnya, bandelnya, keras kepalanya, manjanya, mesu—oh bukan, yang mesum itu dia bukan istrinya, dia yang lebih dominan jika masalah itu. Tapi, entah kenapa, tak ada rasa bosan untuk mengucapkan terima kasih, aku mencintaimu, yang bahkan si pendengar saja sudah bosan untuk mendengarkan.
Harapannya cuma satu, ketika mati nanti, tangan istrinya lah yang ia genggam, mengantarnya pergi dengan senyuman yang indah.
"Ngapain kamu liatin aku kaya gitu?!" Ella baru menyadari kalau sedari tadi suaminya itu tengah memperhatikan cara dia berdandan.
Erik pun membalas dengan senyum simpul, berjalan mendekati istrinya. "I love you," ujarnya sambil memutar kembali tubuh Ella menghadap cermin. Ia berbisik kembali di samping pipi istrinya, "terima kasih, sudah mendampingiku melewati semuanya! Kita sudah hampir 40 tahun bersama."
"Ada mau nya pasti nih!" cibir Ella, menarik lembut hidung Erik yang tadinya panjang, kini sudah pendek di makan usia.
Erik tidak menangapi ucapan istrinya, pria itu justru mengalungkan tangannya di pinggang sang istri, meletakan keningnya tepat di belakang kepala Ella, kemudian menggoyangkan hidungnya dengan lembut, sampai tercium aroma shampo yang baru saja Ella gunakan. Wanginya sama, dari dulu tak pernah ganti.
Meski tubuh istrinya tak seramping dulu, tapi ia tetap suka memeluk Ella dari posisi ini. Lebih romantis dari pada pelukan depan yang katanya akan membangkitkan gairah.
"Setiap hari aku mau kamu." Erik membalikan tubuh Ella setelah puas menikmati rambut sang istri. Jemarinya membenarkan rambut Ella yang kembali berantakan.
"Dasar! Sudah ayo kita sarapan!" ajak Ella, menuntun tangan suaminya keluar kamar. Tapi saat tiba di ruang keluarga, mereka berdua memelankan langkahnya saat melihat para ART justru berkumpul menyaksikan acara televisi pagi ini.
Suara deheman yang keluar dari bibir Erik, mengagetkan mereka semua. Salah satu dari mereka lekas mematikan televisi tersebut.
"Kenapa dimatikan?" tanya Erik, menghampiri empat ART yang tengah duduk di karpet. Mereka sudah mengambil ancang-ancang untuk menjauh dari tempat itu.
"Itu, Pak ... Nganu, itu mas anu, bebas," jawab seorang pria yang tadi ikut menyaksikan berita.
"Coba nyalakan lagi!" perintah Ella, suaranya lebih lembut dari suaminya. Seseorang dari mereka kemudian menekan remote televisi 60 inchi yang berdiri di atas meja. Setelah menyala, suara dua orang pembawa acara berita pagi terdengar lirih.
"Keras Akan suaranya!" perintah Erik. Kemudian mengambil duduk di sofa, menantikan berita di depannya.
Seorang pria yang dikerumuni wartawan bergerak maju, meninggalkan pelataran gedung KPK. Sampai akhirnya langkahnya terhenti karena mendengar fitnah dari orang tersebut, pria itu seakan marah dengan hal yang sedang dituduhkan pada pengacaranya.
Bahtiar : Saya datang ke kantor ini bukan untuk apa-apa! Saya tahu ini ulah siapa, tapi penasihat hukum saya menolak bantuan dari kami. Dan saya sebagai pria sejati sangat menghargai keputusan beliau. Dan benar, waktu yang akan membuka semuanya. Allah akan selalu memberikan pertolongan di waktu yang tepat. Tak pernah terlambat. Saya selama ini tidak keluar bukan karena apa, tapi saya pernah didatangi wartawan ke rumah, meminta saya menceritakan apa yang sudah terjadi. Tapi pria itu justru membuat gosip yang tidak benar, sejak saat itu saya tinggal diam, tapi bukan bukan benar-benar diam.
__ADS_1
Apa ini terkait dengan pak Martinus, Pak?
Bahtiar menarik sudut kiri bibirnya, "Biarkan waktu yang menjawab!"
Itu pak Abhi!
Seru seorang wartawan saat melihat Abhi melangkah keluar gedung kantor KPK. Para wartawan pun mengarahkan kameranya pada Abhi dan Nathan.
"Tunggu, tunggu, saya mau menagih janji dulu," Bahtiar kembali bersuara, membuat beberapa orang langsung menyiarkan ucapannya lagi. "Saya mau menagih janji," ucap Bahtiar, wajahnya kini berubah garang. "Hei Erik, aku menang, sesuai janjimu, begadang satu malam denganku!" ucapnya.
Ella yang menyaksikan ikut menoleh ke arah suaminya yang tengah meringis saat mendengar ucapan Bahtiar.
"Jadi, apa yang kamu lakukan dengannya?" Selidik Ella, mencoba mencari tahu apa yang sudah Erik rencanakan.
"Hanya taruhan, kalau Abhi bisa bebas tanpa bantuan aku, kita begadang lagi seperti malam itu. Aku kalah, jadi aku harus menemani pria itu begadang sampai pagi, main catur!"
"Kamu rela ninggalin istrimu demi pria lain? Kamu juga nggak percaya banget dengan kemampuan Abhi!" keluh Ella.
"Enggak papa, Sayang. Asal aku tidak menemani begadang wanita lain." Erik mencoba menghibur, kemudian kembali menoleh ke arah televisi.
"Mati di penjara nanti tu, orang!" cibir Erik, ketika layar televisinya dipenuhi gambar Martinus.
"Sudah punya cucu belum dia, Mas?" tanya Ella yang penasaran.
"Kenapa?"
"Kasihan," lalu terdengar suara tawa dari Ella.
"Jelas kalah lah sama aku! Anakku saja empat dia satu. Dia belum punya cucu. Cucuku saja enam." Erik tampak bahagia mengatakan itu.
"Coba sebutkan nama cucumu nanti kalau benar aku kasih hadiah!"
"Hadiahnya apa dulu?" minta Erik sambil mengambil kue kering dari toples lalu memasukan ke mulutnya.
"Adalah nanti ... urut ya, aku maunya urut!" peringat Ella.
"Oke, pertama Cathaleya, Leonard, Gwen, Ibrahim, Shaqueena, Milena, Sevina, Arsakha—
__ADS_1
"Arsakha anaknya siapa?"
"Sama nenek yang lain," sambar Erik, yang langsung mendapatkan cubitan di pahanya.
"Sakit, Yang, ish!" Erik mengusap rasa menyengat di pahanya. "Dah yuk kita ke rumah Abhi!" ajak Erik mencoba mengendalikan amarah Ella.
"Aku akan minta orang buat nyari yang namanya Arsakha siapa tahu, memang ada hubungan darah denganmu!" Ella beranjak dari sofa, sedangkan Erik hanya mencebikkan bibirnya.
...🌼🌼🌼...
Selesai membelah banyaknya wartawan yang mengerubunginya, Abhi meminta Nathan untuk langsung mengantarnya pulang ke rumah. Pria itu sudah tidak sabar lagi untuk memeluk istrinya, atau melakukan hal lain dengan Naura.
"Yakin nggak pengen bawa oleh-oleh untuk istrimu?" tawar Nathan.
"Nggak, aku sudah tidak sabar bertemu dengannya!"
"Guayaa Lo, ya! Dulu saja bilang hati ini mati bersama luka yang sudah dia beri. Giliran ketemu jodohnya, emmm ... ampun-ampun deh!"
"Aku khawatir dia terlalu rindu padaku, dan stress makanya aku pengen cepat-cepat sampai rumah." Abhi menerangkan maksudnya.
Setelah itu mereka diam, hingga mobil Nathan memasuki pelataran rumah Abhi. Baru saja Abhi hendak menarik handle pintu, seseorang membuka pintu utama rumahnya.
Ia terkesiap saat melihat betapa mempesonanya Naura pagi ini. Dress merah dengan warna bibir senada itu seolah mengundang bibirnya untuk segera datang menyambut bibir merah itu.
Tanpa ragu lagi, Abhi melangkah maju lalu membungkam bibir merah itu dengan bibirnya. Kini bibir mereka menyatu, berpadu dalam lautan kerinduan. Tangan Abhi mulai bergerak, melaksanakan tugasnya untuk menangkup kepala istrinya, memperdalam ciumannya lagi. Tidak peduli jika di belakang tubuhnya ada jomblo yang tengah meneriakinya untuk menghentikan kegiatan mereka.
Napas Naura tersengal-sengal, saat Abhi melepaskan bibirnya. Sedangkan mata Abhi kini tengah memancarkan rasa kerinduan yang teramat dalam, tak bisa disembuhkan sebelum ia berhasil menguasai istrinya.
Naura mengulurkan tangannya ke bibir Abhi mengusap bibir bawah Abhi dengan ibu jarinya, "Aku merindukanmu," ucap Naura, lembut. Matanya sendu, bibirnya manyun. Tidak mampu mengucapkan kata lainya selain kata kerinduan.
Mendengar ucapan Muara Abhi yang tergoda kembali memangut bibir istrinya. Cukup lama mereka melakukan itu, bahkan mereka berdua menganggap Nathan benar-benar pergi dari rumahnya.
"Bernapas lah, Sayang!"
...----------------...
...END...
__ADS_1