Kepincut Cinta Dokter

Kepincut Cinta Dokter
Extra Part : Kisah Cinta Naura


__ADS_3

Naura memasuki apartemen dengan tubuh tak bertenaga. Bukan hanya kondisi fisik saja, otaknya pun seolah berteriak, meminta dirinya untuk diajak refreshing.


Ia menghempaskan kasar tubuhnya di sofa abu depan ruang tv. Pandangannya menatap ke arah langit-langit, seperti ada hal menarik selain warna putih polos yang biasa ia lihat. Tangannya mulai sibuk mencari keberadaan ponselnya. Setelah mendapatkan, ia segera menekan nomor telepon sahabatnya yang berstatus sama, jomblo gagal move on. Menurut Alea.


"Aku sudah di apartemen, jam 8 kita cus ke puncak ya! Tapi, lo buruan kesini. Aku butuh teman cerita. Hanif nyebelin hari ini." Naura berucap layaknya kereta api yang berjalan di atas rel, tidak membiarkan wanita di seberang sana memotong ucapanya sedikit pun.


Bahkan, Naura langsung mengakhiri panggilannya, setelah menyampaikan maksud ia menelepon. Setelah panggilan berakhir ia berdiri untuk mengganti baju, berjalan menuju kamar, mengambil piyama motif Donal Duck favoritnya. Setelah itu ia kembali ke Sofa, mencari posisi ternyaman untuk sejenak memejamkan mata.


"Gila, jelas bukan dia alasan gue masih sendiri!" gerutunya ketika mengingat pertanyaan Hanif. Tanpa izin lebih dulu, bayangan kejadian 6 tahun silam kembali hadir dalam ingatannya.


FlashBack On


Hubungan baik antara Naura, Maura dan Hanif sudah terjalin sejak mereka duduk di bangku SMP. Mereka selalu satu kelas, kemanapun selalu bertiga. Dan itu berlanjut sampai mereka duduk di bangku SMA.


Saat mereka kuliah, Hanif berpisah dengan mereka berdua. Meski berbeda kampus, Naura masih sering berkomunikasi baik dengan Hanif. Sesekali bertemu walau hanya sekedar makan siang bersama, ataupun nonton film.


Semakin dewasa Naura menyadari jika ia mulai tertarik dengan Hanif. Ada rasa berbeda ketika ia bersama pria tersebut. Tapi, Hanif tidak peka, dia terus asyik dengan dunianya, menganggap kedekatan mereka murni karena hubungan pertemanan. Naura semakin tersiksa dengan rasa yang semakin nyata, perlahan ia mulai terbuka, menceritakan perasaanya pada Maura.


"Kalau lo, nggak bilang mana dia tahu, Na! Dia itu cowok aneh!" kata Maura sedikit membentak. Dan ia masih enggan untuk mengatakan langsung pada Hanif.


Hanif adalah pria pertama yang berhasil mencuri hati Naura, pusat perhatiannya selalu tertuju pada Hanif. Tapi, saat mereka hampir menyelesaikan studinya, malam itu Naura mengungkapkan apa yang ia rasakan selama ini. Berharap kepastian sebelum ia pergi.


Dan jawaban Hanif justru membuatnya sakit hati. Hanif membawa wanita ke depannya, mengenalkan gadis bernama Maya adalah kekasihnya. Saat itu Naura menerima semuanya dengan lapang. Membiarkan Hanif nyaman dengan pilihannya.


Waktu terus berjalan, satu bulan setelah Hanif mengenalkan Maya padanya. Ia melihat gadis itu bersama pria lain. Dia memberitahu Hanif tentang perbuatan wanita tersebut. Tapi, kenyataanya, Naura justru yang tersakiti, karena Hanif tidak mempercayainya. Menganggap Naura keterlaluan karena terlalu mencampuri urusan pribadinya.


"Na, kamu berubah! Kamu tidak seperti Naura yang aku kenal selama ini! Aku tahu kamu mencintaiku, tapi bukan dengan cara seperti ini kamu memisahkan aku dengan Maya!" kata Hanif malam itu, penuh emosi, membiarkan persahabatan yang selama itu mereka jaga hancur begitu saja.

__ADS_1


"Hanif, lihatlah dengan hatimu! Siapa wanita yang kamu cintai! Kalau kamu benar-benar sudah bisa memastikan itu bukan aku. Oke aku akan menjauh darimu! Aku tulus jatuh hati padamu! Tapi, kalau kamu tidak mau melihatku. Aku akan pergi, menghilangkan rasa ini!" Hanif terdiam, mungkin tengah bertanya pada hatinya yang paling dalam.


"Aku sudah memutuskan untuk melanjutkan kuliahku ke luar negeri, pesawat ku akan berangkat besok pukul 8 pagi. Bisakah aku meminta padamu satu hal saja!" lanjut Naura setelah hening menyapa.


"Nana!"


"Hanya satu, janji hanya satu!"


"Kau meninggalkan aku?" tanya Hanif.


"Aku ingin memelukmu, untuk pertama dan terakhir." mengabaikan ucapan Hanif. Naura mengatakan keinginannya.


"Nana ... jangan pergi. Aku masih membutuhkanmu yang selalu mengingatkan aku!" kata Hanif, kini suaranya tidak sekeras saat memaki Naura tadi.


Gadis itu masih bisa tersenyum, "tidak! Kamu tidak lagi membutuhkan aku. Sudah ada Maya di sampingmu, wanita yang kamu cintai. Aku akan berdoa untuk kebahagianmu, Hanif!" bibir Naura dengan lancar mengatakan itu, tapi matanya sudah terasa pegal karena menahan cairan bening yang meminta untuk diloloskan.


"Terima kasih, setidaknya aku pernah mengalami ini dengan cinta pertamaku! Semoga kamu bahagia Hanif!" ujar Naura dengan suara lembut.


"Maaf, Nana ... andai aku memperingatimu lebih awal, hal ini pasti tidak akan terjadi."


"Ya, jangan pedulikan aku. Naura akan baik-baik saja." gagal, Naura gagal menahan air matanya. Ia memejamkan mata, menguatkan hati kalau ia pasti akan baik-baik saja tanpa kebiasaan yang Hanif selalu lakukan padanya.


Hari itu, malam terakhir pertemuannya dengan Hanif sebelum Naura benar-benar pergi keluar negeri. Naura sengaja mengganti nomor ponsel dan memutus akses komunikasi yang mungkin akan diketahui oleh Hanif. Ia ingin mengubur dalam perasaannya itu.


"Jika mencintaimu adalah sebuah kesalahan, maka seterusnya aku akan menganggapnya begitu. Tidak akan Hanif lagi dalam hidupku! Just a friend, yeah just a friend, Hanif!" Naura mencoba menguatkan hatinya dengan kalimat-kalimat itu, sampai ia benar-benar lupa dengan Hanif. Menyibukan diri di negeri orang, mencari pengalaman baru dari orang-orang di sekitarnya. Perlahan rasa itu menguap, meski kenangan bersama Hanif tak sepenuhnya pergi.


Lima bulan setelah kepergiannya, Maura memberi kabar. Jika Hanif terus mencarinya. Dan Naura membiarkan Maura merahasiakan keberadaanya saat ini.

__ADS_1


"Aku sudah bisa melupakannya. Jangan mengingatkan aku padanya lagi."


"Dia putus loh!" ucap Maura.


"Aku nggak mau jadi tempat pelarian. Aku—


"Dia sadar, selama ini kehilangan kamu!"


"Stop, Ra!"


Sejak saat itu Maura enggan untuk membicarakan tentang Hanif. Namun itu hanya berlalu berberapa bulan, setelah satu tahun kemudian Maura kembali membahas Hanif.


"Dia menikah. Dijodohkan sama orangtuanya."


"Hmmm ... biarkan saja! Aku sudah tidak peduli dia mau ngapain!"


"Ah, maaf ya aku tidak bisa membantumu!"


"Jangan sok begitu! Sudah sana urus kisah cintamu sendiri."


Flashback Off


Suara ketukan pintu apartemen membuyarkan lamunan Naura. Dari sofa yang ia duduki, ia berteriak sekuat tenaga, "gaya banget Lo, kaya tamu agung, minta dibukain pintu!" gerutunya sambil beranjak dari sofa, berjalan ke arah pintu. Ia menarik gagang pintu, bibirnya bersiap memaki sahabatnya yang hari ini bersikap manja. Namun, saat ia melihat siapa yang berdiri di depannya, wajah manisnya langsung berubah kesal.


...----------------...


...Jangan lupa like, komentar, dan vote ya ♥️...

__ADS_1


__ADS_2