Kepincut Cinta Dokter

Kepincut Cinta Dokter
Ancaman Ella


__ADS_3

...Sudahkah Anda memberikan vote? Jika belum yuk, bantu vote cerita ini! 😍...


...Selamat Membaca...


Naura masih bisa menerima panggilan dari Abhi. Saat suaminya itu mengabari bahwa mereka sudah tiba dengan selamat di Siantar. Namun, ketika sore hari menjelang Maghrib, kondisi tubuhnya semakin drop. Bukan hanya suhu tubuh yang meningkat hingga menyentuh angka 39° Celcius, tapi Naura juga merasakan nyeri pada setiap sendi ototnya.


Ella mengira jika Naura demam karena merindukan suaminya. Ia mengerti karena Abhi adalah pria pertama yang membalas cinta Naura, saat hati mereka sama-sama dirundung jatuh cinta, jadi itulah yang membuat mereka berat untuk berpisah. “Ayo makan dulu, Na!” Ella meraih piring yang tadi disiapkan oleh pelayan, tapi sama sekali tidak tersentuh oleh tangan putrinya.


Naura menggeleng, menolak untuk makan, karena selain ia tidak ada nafsu untuk mengunyah makanan, dia juga merasakan perutnya tidak nyaman, lambungnya terasa panas.


“Duduk dulu, mama suapin kamu!” Ella mencoba memaksa, tapi Naura kali ini tidak menjawab, membuatnya semakin bingung, harus melakukan apa. “Kamu hampir 15 jam demam, Na. Kalau kamu nggak makan, nanti mama telepon Abhi, mama suruh pulang suamimu sekarang juga!” ancaman dari Ella berhasil membuat Naura membuka mata. Mata layuh itu menatap Ella yang duduk di tepi ranjang, seolah mengatakan jangan melakukan hal itu.


“Satu suap saja, Ma!” kata Naura. Saat ini nafsu makannya menghilang, tubuh yang biasanya gesit mendadak lemas tak bertenaga. Dia pakai untuk duduk bersandar saja, seolah tulang-tulang itu kehilangan kekuatan.


Mulut Naura terbuka menerima suapan bubur tangan Ella. Tapi, setelah suapan pertama berhasil masuk ke perut, mendadak keringat dingin menerobos pori-pori. Lambungnya tidak bisa diajak kompromi, ada seseorang yang seakan tengah bermain di dalam perutnya. Membuat dia kesusahan menahan rasa yang mendorongnya untuk dikeluarkan.


Di sisa tenaga yang dimiliki, Naura berlari ke arah kamar mandi yang ada di sudut kamar, menunduk di wastafel yang ada di sana. Makanan yang baru saja masuk, keluar dengan cairan yang seharian berhasil masuk ke tubuhnya.


Ella yang cemas lekas keluar kamar untuk melaporkan kondisi Naura pada suaminya. Ia heran juga dengan Naura, baru saja ditinggal, kenapa bisa berefek seperti ini. "Jatuh cinta membuat Naura gila, tidak bisa jauh-jauh dari Abhi," gerutunya saat berjalan menuruni anak tangga, tiba di depan pintu kamar, Ella mendorong kasar daun pintu di depannya.


“Mas, anakmu, dia muntah!” ujarnya panik saat melihat Erik duduk di sofa melihat tayangan di layar televisi.


“Dia haid kan?”


“Iya, ini hari ketiga katanya. Nggak mungkin hamil, kan?” Ella mencoba menebak apa yang dipikirkan suaminya.


“Lancar haidnya?” suara tanya Erik masih datar, seakan enggan untuk menanggapi laporan istrinya, fokusnya masih ke layar yang menampilkan ajang Olympiade Badminton.


“Sepertinya begitu,” sahut Ella.

__ADS_1


“Kecapean mungkin, pijat saja!”


Ella berdecak saat mendengar ucapan Erik, merasa percuma karena tidak mendapat respon tindakan dari suaminya. Ia lalu keluar kamar untuk menelepon dokter pribadi yang sedari dulu selalu merawat Naura saat sakit.


Namun, sayangnya dokter itu tengah berada di luar kota. Itulah sebabnya saat Naura menggelar pesta pernikahan dia juga tidak bisa menghadirinya. Ella terpaksa menunda untuk menghubungi dokter yang ada di rumah sakit karena ini sudah malam. Ia memilih kembali ke kamar Naura untuk memantau kondisi putrinya.


Ella memilih duduk di ranjang saat pintu kamar mandi Naura belum terbuka. Tak lama setelah itu ponsel Naura berdering nyaring, mata Ella melirik ke arah layar, ada foto Abhi di sana, Ella ragu hendak menerima panggilan itu, tapi mengingat kondisi Naura seperti ini Abhi juga berhak tahu.


Salam terdengar dari seberang telepon saat panggilan itu tersambung, setelah menjawab, Ella mengatakan jika Naura sedang berada di dalam kamar mandi. Abhi yang sungkan berniat untuk memutus panggilan teleponnya.


“Tunggu sebentar, Bhi!” Ella mencoba menahan saat Abhi mengatakan akan menelepon lagi nanti.


“Ya, Ma.”


“Kamu pulang kapan?” tanya Ella dengan penuh penasaran, ia kasihan dengan Naura, kalau pria itu pergi terlalu lama. Akan jadi apa nanti tubuh putrinya kalau nafsu makan pun tidak ada karena Abhi tidak ada di radar penglihatan.


Terdengar suara kekehan dari seberang panggilan, “Apa Nana terlihat berat saat aku pergi, Ma?”


“Terima kasih, Ma.”


“Ya, sudah ya … mama mau nyuapin Nana dulu, dia lagi susah makan. Mama nggak mau nanti pas kamu pulang, kamu menuntut mama karena tubuhnya semakin langsing.”


“Abhi titip Nana ya, Ma. Maaf harusnya kemarin Abhi bawa saja Nana, biar nggak merepotkan Mama.” Ada nada penyesalan ketika Abhi mengatakan itu.


“Ya, tenang saja! Dia masih putriku, aku justru senang karena masih bisa terlibat mengurusnya.” Setelah itu, terdengar suara Abhi pamit dan mengucapkan salam pada Ella. Tepat saat matanya menangkap Naura yang berjalan sempoyongan ke arah ranjang.


“Abhi telepon,” ucap Ella sambil meletakan kembali ponsel Naura ke meja nakas. Ia membantu Naura untuk naik ke ranjang, saat terdengar rintihan dari bibir Naura. “Baju kamu basah, mama ambil ganti dulu!”


“Mama nggak bilang kalau aku sakit, kan? Malu, sama Abhi,” tanya Naura menghentikan langkah Ella yang berjalan ke lemari pakaian.

__ADS_1


Ella tersenyum sebentar, “Mama bilang kalau kamu demam, tapi mama juga bilang padanya supaya tidak cemas memikirkanmu. Ada kami yang merawatmu di sini.” Ella menyerahkan home dress lengan panjang motif bunga. Tanpa rasa malu pada sang mama Naura lekas mengganti pakaiannya, Ella yang mengerti pun ikut membantu Naura.


“Kalau Abhi telepon lagi, katakan aku sudah baik-baik, saja. Nana nggak mau jadi penghalang, biarkan dia berkumpul dengan keluarga besarnya dulu. Pasti mereka juga merindukan Abhi, dia belum pernah pulang sejak dua tahun yang lalu.”


“Oke, mama keluar dulu, ya? Papa nggak mau makan, kalau nggak ada mama. Nanti mama datang lagi ke kamarmu,” ucap Ella melangkahkan meninggalkan Naura yang tidak mampu menjawab ucapannya.


Cukup lama, Ella menemani Erik di meja makan, Anak-anaknya sudah pulang ke rumah masing-masing, rumah sudah sepi, hanya ada mereka berdua di meja makan yang cukup luas itu. Suasana pun jadi sepi, tidak ada suara anak-anak yang berebut mainan.


Selesai makan malam, Ella mengecek kamar Naura, melihat Naura terlelap dengan lampu yang sudah dimatikan ia pun bisa bernafas legah. Kemudian berjalan ke arah kamar untuk menemani suaminya.


“Sudah tidur si Nana,” ucap Ella sambil masuk ke kamar yang ada di lantai satu. Seolah melapor pada sang majikan.


“Syukurlah, berarti dia sudah merasa enakkan,” sahut Erik. Ella hanya mengangguk, lalu naik ke atas ranjang.


“Nggak mau cerita-cerita dulu, Yang?” tawar Erik membawa Ella masuk ke dalam dekapannya.


“Nggak, aku sudah mengantuk!” Mendengar jawaban istrinya Erik menurunkan punggungnya dari kepala ranjang, meletakan kepalanya di bantal sedangkan tangannya memeluk erat pinggang Ella.


Sedangkan di kamar Naura, saat tengah malam tiba tubuhnya semakin drop, ia lemas, otot dan tulangnya seolah kehilangan fungsi, sulit sekali untuk digerakkan. Dengan tangan yang bergetar, ia meraih ponselnya di atas meja, berniat menelepon sang mama, tapi sayangnya saat ponsel sudah berhasil ia raih, ponsel itu justru terjatuh ke lantai. Dia menggeleng, karena tidak mampu lagi mengeluarkan tenaganya untuk mengambil ponsel.


Pagi harinya, saat Ella mengantarkan sarapan untuk Naura. Mendadak tubuhnya sulit untuk digerakkan ketika menangkap wajah Naura yang terlihat pucat pasi, seolah tak ada darah yang mengaliri wajah putrinya.


“Ma, jangan berteriak aku hanya demam. Mungkin lelah karena acara pesta kemarin.” Naura yang merasa terganggu memperingati Ella, dia baru bisa terlelap saat mendengar suara samar adzan subuh.


Mendengar suara parau yang dikeluarkan Naura, Ella berusaha keras untuk keluar kamar, dia ingin meminta sopir untuk menyiapkan mobil, ia tahu kondisi Naura lebih buruk dari kemarin. Dugaanya semalam salah! Seharusnya Ella menyentuh tubuh Naura baru bilang kalau anaknya sudah baik-baik saja.


“Kita bawa Nana ke rumah sakit!” cetus Ella saat berpapasan dengan suaminya di ruang keluarga.


“Jangan cemas begitu! Ingat kau juga perlu jaga kesehatanmu!” peringatnya saat Ella berjalan ke arah garasi mobil.

__ADS_1


...----------------...


Jangan lupa tekan like, vote dan komentar positif. Jadi, Naura itu sakit beneran, bukan korban bucin Abhi. Jadi jangan bilang NAURA Lebay . Tahu kan ya, kalau kurang istirahat itu bikin imun turun dan mudah terserang penyakit.


__ADS_2