
Happy reading... jangan lupa untuk like👍
.
.
.
Waktu terus berlalu, kini usia kehamilan Ella sudah 30 minggu. Dia sedikit risih dengan sikap Erik yang bertambah over protektif terhadapnya. Bahkan sekarang di apartemen itu sudah terdapat dua orang pelayan yang membantunya. Membuat Ella tidak bebas bergerak untuk melakukan aktivitas seperti biasa.
Sudah berulangkali Erik mengajaknya untuk pindah ke rumah, tapi Ella selalu menolak katanya sekalian nanti setelah lahiran. Padahal Erik sudah tidak sabar mengukir kisah manis di rumah yang sudah dia siapkan untuk istrinya itu. Tapi apa boleh buat dia harus mengalah dan menurut dengan istrinya.
Hari ini adalah hari terakhir sebelum Ella mengambil cuti melahirkan, sebenarnya dia ingin sebulan lagi mengambilnya, tapi Erik yang selalu mengomel membuatnya tidak betah, dan terpaksa dia harus menuruti keinginan suaminya yang menyuruhnya beristirahat di rumah.
“Selamat pagi Sayang,” sapa Erik yang baru keluar dari kamar mandi. Sedangkan Ella masih berada di bawah selimutnya, baru tersadar dari tidur nyenyaknya.
“Kenapa kok melamun?” tanya Erik yang tidak mendapat jawaban atas sapaanya.
“Bingung saja mau ngapain ntar kalau sudah cuti.”
“Jalan-jalan nanti biar Mas yang menemanimu setiap hari, sudah sana mandi, kita harus segera berangkat, takut pasienmu terlalu lama menunggu,” ucap Erik yang sudah rapi mengenakan bajunya. Dia hanya mengenakan kaos bewarna putih dan celana jeans selututnya, karena hanya akan menunggu istrinya di ruang pribadinya.
Setelah selesai mandi Ella segera turun ke bawah, menghampiri suaminya yang sudah menunggu di meja makan.
__ADS_1
“Minum dulu!” perintah Erik sambil menyerahkan segelas susu ke Ella. Ella segera menerimanya dan meminum susu coklat buatan suaminya itu. Sudah menjadi rutinitas Erik membuatkan susu untuk istrinya itu. Meski di rumah ada pelayan tapi Erik yang ingin memastikan sendiri takaran susu untuk istrinya, sambil menghitung nutrisi yang masuk ke dalam tubuh istrinya.
Setelah selesai sarapan Erik segera mengajak Ella untuk keluar dari apartemennya, tingkahnya semakin membuat Ella malu, karena Erik tidak hanya menggandeng tangannya, tapi memeluk erat tubuhnya dari samping.
Sesampai di rumah sakit Ella sedikit terlambat karena tadi sempat terhalang macet saat berhenti di lampu merah. Hanin yang baru masuk sebulan yang lalu segera memberikan laporan kepada Ella. Tidak tau kenapa pasien hari ini lebih banyak dari biasanya, atau mereka tahu jika Ella akan mengambil cuti dan mereka sebenarnya hanya ingin berpamitan. Mungkin alasan konyol tapi seperti itulah alasannya setelah Ella bertanya pada orangtua pasien.
Padahal sudah 15 pasien yang dia tangani tapi masih terdengar suara ramai anak-anak di ruang tunggunya. Ponsel Ella yang dari tadi berdering pun tidak segera dia angkat, dia tahu jika itu pasti dari suaminya. Di pergantian pasien ke 20 Erik masuk membawakan makanan ke ruangan Ella, tanpa peduli dengan pasien istrinya yang tengah menunggu di luar. Erik dengan santainya menyuapkan bubur kacang hijau ke mulut Ella. Hanin tidak heran lagi dengan kedua atasannya itu lantaran seperti itulah Erik, beberapa bulan terakhir ini. Pasien yang sudah paham pun hanya bisa memaklumi sikap Erik yang semena-mena mengingat rumah sakit itu adalah miliknya.
Dan tanpa rasa berdosa, setelah selesai Erik melewati pasien yang menunggu istrinya, dan Ella baru bisa melanjutkan aktivitasnya kembali untuk memeriksa pasien selanjutnya dan tidak lupa meminta maaf atas sikap suaminya. Hanin merasa kasihan dan terharu dengan dokternya itu, perhatian Erik yang berlebihan terkadang membuat aktivitas Ella terasa terganggu.
Setelah menyelesaikan praktiknya Ella masih asyik duduk di meja kerjanya. Sambil memainkan ponselnya, yang terlihat banyak pesan masuk padanya. Dia senyum-senyum sendiri saat membaca pesan-pesan itu. Bukan pesan dari suaminya melainkan pesan dari para sahabatnya, sudah beberapa kali Ella meminta izin pada suaminya untuk mengadakan reuni kecil, tapi suaminya tidak mengizinkannya karena takut Ella akan kelelahan dan itu akan membuatnya semakin tersiksa karena harus memijit kaki Ella sepanjang malam.
“Jadi Dok?” tanya Hanin yang baru saja tiba dari arah luar.
“Jadi dong apa kamu sudah siap?” tanya Ella sambil menatap ke arah Hanin.
Ella yang sudah selesai segera menelepon suaminya, bahwa dia akan makan siang dulu dengan Hanin, dan meminta Erik untuk mengizinkannya mengingat ini adalah hari terakhirnya sebelum dia mengambil cuti. Erik yang mendengar permintaan Ella hanya bisa menuruti dan memaklumi sebelum istrinya itu hanya akan dia kurung di rumah.
***
Erik yang sedang sibuk memeriksa berkasnya semakin melupakan keberadaan Ella. Bahkan dia melupakan jadwal makannya yang terlewat, dia masih berada di ruang pribadinya di temani Yohan yang sedari tadi sibuk menjawab teleponnya.
“Bapak nggak makan siang?” tanya Yohan yang mengetahui makanan yang tadi dia bawa belum sama sekali disentuh.
__ADS_1
“Sebentar lagi, masih nanggung tinggal 3 file lagi,” jawabnya pada Yohan yang tengah mengkhawatirkannya.
“Pak Erik besok bisa menghadiri rapat? Karena semua kepala direksi mengharapkan Bapak bisa hadir,” tanya Yohan yang sebenarnya adalah perintah untuk Erik.
“Insya Allah bisa. Hari ini adalah hari terakhir istriku jadi mulai besok aku punya banyak waktu untuk datang ke sana.”
Mereka lalu terdiam cukup lama, karena Erik selalu menyukai ketenangan saat mengerjakan file-filenya, agar dia juga bisa berkonsentrasi. Tiga puluh menit Erik sudah menyelesaikan file di mejanya, setelah selesai dia mengajak Yohan untuk makan bersama di meja makan ruang pribadinya itu. Mereka makan siang dengan tenang, sesekali Erik menanyakan hal pribadi pada Yohan menyangkut pasangan hidupnya.
Sampai suara dering ponsel Erik yang berada di meja kerjanya memecahkan obrolan mereka. Erik segera mengangkat ponselnya, dia sedikit heran karena yang menelepon bukan nomor ponsel, melainkan nomor rumah sakit yang dia tangani.
“Hallo.”
“Hallo Pak Erik..., sebelumnya saya minta maaf! Saya cuma memberi kabar bahwa istri Bapak baru saja dibawa ke ruang UGD karena pinsan, bolehkah dokter Reyhan memeriksanya?” ucap perawat di ujung telepon.
“Jangan ada yang mendekat ke arahnya, dan pastikan hanya Hanin yang berada di sampingnya,” ucap Erik dengan nada dingin lalu menutup panggilannya. Erik lalu bergegas ke ruang UGD untuk memeriksa istrinya yang tengah pinsan. Dia langsung berlari menuju tempat Ella berada mengabaikan panggilan dan pertanyaan Yohan yang sedari tadi memanggil namanya.
Saat berada di dalam lift dia terus memikirkan apa yang sedang terjadi dengan Ella. Padahal terakhir dia menemui Ella, istrinya itu dalam kondisi baik-baik saja, dia membayangkan mungkinkah istrinya akan melahirkan sekarang? Kalau benar begitu, ini akan sangat merepotkan baginya, karena mereka berdua belum menyiapkan pakaian bayi yang masih berada di tokonya.
.
.
.
__ADS_1
.
Sekian ... dulu ya! Saya selesaikan dulu tugas saya, dilanjut nanti...C U.😜😊