Kepincut Cinta Dokter

Kepincut Cinta Dokter
Extra Part


__ADS_3

...Selamat Membaca ...


Bunyi detak jam semakin terdengar jelas di pendengaran Abhi. Saat layar LED di depannya menayangkan adegan bersembunyi.


Jam di dinding apartemen Naura sudah menunjukan tepat di angka satu dini hari. Tapi, malam pertama mereka hanya diisi dengan menonton beberapa film.


Ini adalah film ke tiga yang mereka putar, dan Naura berjanji pada Abhi, setelah film ini selesai akan tidur.


Setelah makan mie instan sebagai penghangat tubuh selepas hujan-hujan tadi. Yang diakhiri dengan ciuman bibir karena berebut mie terakhir dan ke duanya akhirnya kompak tertawa.


Kini, giliran bungkus snack kentang yang berserakan di karpet, korban keserakahan dan kerakusan mereka berdua.


Saat ini, Abhi sedang duduk bersandar di kaki sofa. Sedangkan Naura meletakan kepalanya di dada Abhi. Jika ia ingin mengunyah snack, tangannya terpaksa terangkat dari pinggang Abhi. Tapi jika sedang diam, ia memeluk pinggang suaminya dengan erat.


Terkadang ia menyembunyikan wajah ketakutannya di dada Abhi. Jika layar LED tengah menayangkan adegan Kuyang yang tengah memakan janin. Entah tahun berapa film itu pernah menjadi tayangan fenomenal, tapi Naura baru melihatnya hari ini dan itu bersama Abhi nya.


Lucu juga di daerah Kalimantan. Sebagian orang di daerah sana, mempercayai jika bulu landak menjadi tolak bala saat seorang wanita sedang hamil. Mereka punya Allah, kenapa tidak meminta perlindungan pada Allah saja? Di sepanjang film itu, begitulah gerutuan Naura, dan dada Abhi lah yang jadi sasaran beberapa kali terkena luapan emosi Naura.


"Lihat film itu diambil segi baiknya, jangan semua diambil! Begitu pun baca novel online! Aku tahu kamu pasti suka baca novel online, kan? Di beranda depan bukannya diisi foto aku, tapi isinya aplikasi novel online semua!" kini giliran Abhi protes.


"Ih, sejak kapan kamu berani pegang ponselku?" Cerca Naura. Cemberut, dan kelakuannya itu lebih mendorong Abhi untuk segera mengecupnya.


"Tadi waktu papa telepon." Abhi menjawab singkat. Ya. Erik memang telepon ketika Naura sedang membuat mie instan. Pria itu mengkhawatirkan kondisi mereka karena hujan yang turun semakin deras.


Tapi, setelah itu Erik menggoda Abhi, untuk segera membuatkan cucu yang banyak untuknya. Beruntung Naura tadi tidak mendengar—jadi ia tidak perlu malu, jika mereka gagal melakukannya malam ini.


Naura mendesah, lalu tangannya dengan jahil meraba janggut Abhi, yang bersih dari bulu. "Abhi, nanti kalau aku hamil. Kamu bakalan melakukan apa?"


"Pertanyaannya apa, yang bener dong?" Protes Abhi saat tak paham pertanyaan istrinya.


"Itu ... tadi kan wanita itu minta es oyen, dan suaminya dengan gigih mencari penjual es Oyen, apa kamu juga akan seperti itu?" Naura menjelaskan maksud pertanyannya.


"Bagaimana mau hamil, kalau kita bikin saja belum!" keluh Abhi sambil memalingkan wajah.


Perkataan Abhi membuat Naura terdiam. Sesungguhnya Naura takut. Sebab di novel online rating dewasa yang ia baca, saat malam pertama pasti akan menyakitkan, dan itu bisa membuat si wanita kesulitan untuk berjalan, bekum lagi nanti si pria meminta double porsi. Tapi, setelahnya mereka akan bisa menikmati dan menyerukan nama satu sama lain.


"Sayang ..." panggil Abhi saat melihat perubahan wajah Naura yang putih menjadi sedikit merona.


"Hmm, iya, kenapa?"


"Kamu mikirin apa?" tanya Abhi penasaran.


"Wajib kah, kita melakukan malam ini? Jujur aku belum siap menerima rasa sakitnya." Naura menatap wajah Abhi, takut jika suaminya itu kecewa.

__ADS_1


"Ugh ... jadi kamu sedari tadi begadang, gara-gara aku takut minta hak ku sekarang?" selidik Abhi.


"Enggak, siapa bilang?!" Naura mengelak, tidak mau disalahkan. "Mau malam pertama sekarang? Ya, hayuk! Kita masuk kamar, matikan lampu!" Naura tidak tahu, jika kalimat candaannya justru ditanggapi serius oleh Abhi.


Jemari Abhi dengan sigap meraba remote tv di sampingnya, lalu menekan tombol power, seketika layar LED berubah jadi warna hitam pekat. Ia kemudian menggendong tubuh Naura dan membawanya masuk ke kamar.


"Abhi ...." Suara Naura terdengar serak. Entah karena ketakutan atau karena memang tidak mau melakukannya.


"Hmm, kenapa, Sayang?" tanya Abhi.


"Pelan-pelan yah ..." ucap Naura dengan sorot mata memohon.


"Sesuai permintaanmu, Sayang." Dengan gerakan pelan Abhi merebahkan tubuh Naura di atas ranjang. Ia kemudian berdiri untuk mematikan lampu, kemudian menyalakan lampu kecil yang ada di samping ranjang.


"Tidak akan sakit jika kamu rileks. Jangan tegang! Jujur, ini juga pengalaman pertama untukku. Jadi kita belajar sama-sama, ya?! Aku belum pernah tahu seperti apa caranya. Tapi berdasarkan artikel ya—


"Lakukan, segera!" potong Naura, memutus ocehan Abhi.


Pria itu pun tersenyum menyeringai. Lalu mulai menindih tubuh Naura. Bolehkan ia bertanya google sebentar, beginikah cara pertama yang benar?


Abhi tertawa dalam hati ketika pertanyaan itu muncul di pikirannya. Ia lalu menarik tubuh istrinya untuk duduk bersandar di kepala ranjang. Dan ia duduk di paha Naura, tidak terlalu ditekan dalam. Takut Naura tiba-tiba terserang penyakit pegal.


Merasa rambut Naura menganggu, Abhi meraih ikat rambut yang ada di samping lampu tidur. Ia lalu membuat ikatan di rambut Naura. Kini ia bisa melihat keindahan leher istrinya yang melambai untuk dikecup.


Abhi mendaratkan bibirnya di bibir Naura. Setelah kedua bibir itu menyatu ia mulai bergerak lembut, merasakan manisnya bumbu barbeque yang masih tersisa di bibir Naura.


Dalam hati Naura berdoa, supaya kegiatannya malam ini dijauhkan dari syaiton yang ingin mengganggunya. Seakan ada dorongan yang memintanya untuk diperlakukan lebih, Naura pun kini mulai berinisiatif melakukanya lebih dulu.


Bekal dari novel yang ia baca, kegiatannya ini akan membuat si pria keenakan, ia pun mengikutinya. Dengan menarik pucuk gunung kembar Abhi. Tapi bukanya lenguhan yang ia dengar, Abhi justru mengaduh kesakitan.


"Aw, sakit ya? Maaf ..." mohonnya.


Seolah ingin membalas dendam pada Naura, kini Abhi melepaskan piyama Naura dengan kasar. Belum juga mulai, tangan Abhi sudah mengeluarkan keringat dingin saat melihat warna kulit putih Naura. Dengan tangan sedikit gemetar Abhi melepas pengait bra istrinya.


Matanya membulat sempurna, bibir atas bawahnya kini sulit menyatu, ketika melihat betapa kerasnya puncak gunung kembar tersebut. Abhi mengatur nafas, setelah sedikit normal ia mendaratkan lidahnya di sana, memainkannya seperti Ara yang sedang mengenyot botol susu.


Tanpa perhitungan, dan itu mampu membuat Naura menjerit keras. Tapi, suara itu mampu membuat nafsu Abhi semakin menggebu, ribuan sel dari dalam dirinya meronta untuk dikeluarkan.


"Apa sudah siap?" lirih Abhi di sampingnya telinga Naura, ia sudah kembali merebahkan tubuh Naura.


"Katanya harus basah dulu, Bhi. Kamu lihat deh sudah basah belum, katanya kalau belum bakalan sakit," ucap Naura, polos.


"Kalau belum basah diapain? Kasih air ya, biar basah? Biar kita bisa langsung ke inti."

__ADS_1


"Jangan. Kita kasih olive oil saja!" Naura menolak.


"Kamu nggak punya cairan lubricant?" tanya Abhi.


"Buat apa aku punya barang kaya gitu, Abhi?" Naura yang tersinggung mulai menaikan nada bicaranya.


"Kan siapa tahu, pernah main ...."


"Ish, cepat masukan!" Perintah Naura yang ingin segera mengakhiri kegiatannya. Ia malu karena Abhi memandanginya dengan tatapan kelaparan.


Dengan slow motion Abhi melucuti pakaiannya sendiri, memperlihatkan bukti gairahnya yang sudah tegak menantang pada istrinya.


Sedangkan Naura hanya diam membeku, kesusahan memasukan salivanya lagi. Bayangan buruk mulai hinggap di benaknya saat ini.


"Kita mulai, ya?" Abhi meminta izin. Lalu menurunkan ****** ***** istrinya.


Seketika wangi dari milik Naura, menggoda imannya. Ia sudah tidak tahan lagi. Tanpa ragu Abhi membuka lebar kaki istrinya. Abhi mulai mencelupkan miliknya ke milik Naura.


Istrinya itu tidak menjerit, tidak pula mencakar punggungnya saat ia mencoba memasukan miliknya. Naura hanya menggigit bibir bagian dalam, demi meredam rasa sakit akibat seranhan benda tumpul tersebut.


"Kita lanjutin besok lah? Sepertinya kamu kesakitan?" tawar Abhi, yang tidak tega melihat wajah kesakitan Naura.


"Apa ... jika kita menundanya. Besok tidak akan sakit? Jika sama saja sakitnya, mendingan sekarang sekalian. Kepalang tanggung!" Kata Naura.


Dan Abhi pun mencondongkan tubuhnya untuk mendaratkan ciuman di bibir Naura. Ciuman lembut dan menggairahkan. Berharap dengan seperti itu, istrinya bisa lebih rileks dan sedikit melupakan rasa sakitnya.


Dengan empat kali dorongan yang sedikit bertenaga, milik Abhi pun berhasil memasuki sarangnya. Pria itu bernafas lega, saat miliknya sepenuhnya masuk. Mata Abhi terpejam erat, bibirnya melenguh nikmat, saat merasakan dinding servik Naura yang merema*s. miliknya.


Ia berhenti sejenak seolah membiarkan benda miliknya itu melakukan sapaan lebih dulu.


"Hurt, Abh." Naura mengeluh, sambil terengah. Keringat mulai keluar efek menahan rasa sakit saat benda asing itu memenuhi dirinya.


"Hanya sebentar saja, Sayang!" Abhi mencoba menenangkan, ia pun sedikit menarik tubuhnya. Matanya bisa melihat bukti keberhasilan membobol gawang Naura, darah segar bisa terlihat menempel di miliknya.


Rasa bahagia menyelimuti hati Abhi saat ini, sampai ia lupa apa yang harus ia lakukan selanjutnya.


Abhi pun mencium wajah Naura sambil mengucapkan terima kasih. Karena wanita itu sudah menjaga kehormatannya. Setelah itu Abhi yang berperan sebagai Joki, memulai aksinya. Ia bermain lembut, memperkenalkan Naura pada kenikmatan ibadah dalam pernikahan.


Tidak sampai 20 menit Abhi pun mencapai klimaksnya. Bukan karena Abhi ejakulasi dini, tapi karena mereka baru merasakan kenikmatan pertama kalinya, jadilah begitu.


Setelah selesai, Abhi pun merebahkan dirinya di samping Naura. Mengontrol nafas sambil mengusap keringat di tubuhnya. Ia menyelimuti tubuh Naura yang terkulai, dan membawanya ke pelukan. Malam ini, akhirnya Abhi bisa tidur dengan lelap.


... -TAMAT-...

__ADS_1


...----------------...


Yang suka mereka boleh follow Ig Rehuella1


__ADS_2