
...Selamat Membaca...
Pesta pernikahan Naura dan Abhi sudah selesai, acara itu hampir memakan waktu setengah hari lamanya sanking banyak tamu yang hadir. Itu pun sebagian tamu masih memaksa untuk masuk demi mengucapkan dan mendoakan kedua mempelai.
Kegiatan itu menyisakan rasa lelah yang memeluk tubuh kedua mempelai. Naura mengeluh sakit pada tumitnya karena terlalu lama memakai sepatu high heel dalam posisi berdiri. Jadi, setelah mereka masuk ke kamar hotel, pintu besi itu belum terbuka lagi.
Atas permintaan Erik. Semua anak dan cucunya diwajibkan untuk tidur di kamar yang sudah di sediakan. Dan Erik sengaja menyiapkan kamar spesial untuk mempelai dengan view terbaik yang ada di hotel El Group. Sebuah kamar yang sudah dihias dan beri taburan bunga mawar layaknya kamar pengantin. Meski ia tahu, hal itu tidak ada gunanya untuk mereka, karena Naura sedang datang bulan.
Bukan hanya keluarga Erik yang menginap di hotel mewah tersebut. Widya dan Ara, keponakan dari Abhi yang masih berada di Jakarta ikut menginap di sana.
Tepat pukul tujuh malam, Erik sengaja memanggil mereka untuk berkumpul di restoran. Sebuah meja persegi sudah di susun memanjang, dikelilingi anggota keluarga Erik dan Abhi. Mereka tengah menunggu kedatangan mempelai yang masih sibuk di dalam kamar.
“Coba panggil, Kal!” perintah Erik pada sang putra, saat tak kunjung mendapati Naura. Tanpa membantah ucapan Erik, Kalun lekas beranjak dari posisinya.
Erik mengamati satu persatu anggota keluarganya saat ini. Ada Alby yang tampak mesra dengan Maura, Riella bersama Kenzo serta Aluna sendiri karena Kalun baru saja beranjak. Sedangan cucu- cucunya saat ini sudah bersama babysitter masing-masing untuk ditidurkan karena kelelahan.
Matanya kemudian menangkap Ella. Terlihat rona bahagia yang terpancar dari wajahnya. Hatinya pun ikut bahagia saat melihat hal itu.
Saat ini Ella tengah duduk di samping Widya, berbisik-bisik menceritakan masa kecil anaknya, bergantian. Bagi Widya, cerita Ella lebih menarik untuk di dengar karena wanita itu merawat dua anak sekaligus, meskipun dibantu oleh babysitter.
“Si Nana itu lebih lengket sama aku—kalau Rara sama papanya. Nana juga manjanya minta ampun, kalau Rara lebih bisa mandiri. Ya, meskipun wajah sama, lahir dari rahim yang sama tapi tetap saja, Allah punya cara lain supaya kita bisa membedakan.”
“Beda, Sayang … itu si Rara ada gigi ginsulnya. Kalau Nana nggak ada, giginya rapi, kaya kamu.” Erik ikut menyahut. Membuat Ella menoleh ke arah Erik, lalu tersenyum mengangguk, membenarkan ucapan Erik.
Tak lama kemudian, Abhi, Kalun, dan Naura tampak mendekat ke meja. Kalun kembali duduk di samping sang istri, sedangkan kedua mempelai mengambil duduk di kursi kosong samping Widya.
“Berhubung sudah lengkap dan papa juga sudah lapar, mari kita makan!” ajak Erik, pada anggota keluarganya. Ia kemudian melirik ke arah Ella untuk mengambilkan menu utama untuknya. Seperti kebiasaanya setiap hari. Katanya kalau dia mengambil sendiri, tidak akan habis.
“Wajah kamu pucat, Na, kenapa?” tanya Riella yang saat ini berdiri di samping Naura, mengambil daging ayam untuk Kenzo
__ADS_1
“Kelelahan, semalam kurang tidur, juga.” Naura menjelaskan sambil sedikit memejamkan mata. Abhi yang paham kini melayani Naura, mengambilkan menu makanan kesukaan istrinya.
“Mau mama pijitin, Na?” tawar Widya. “Mama jago loh, kalau soal pijat memijat.”
Naura tersenyum tipis ke arah Widya. “Terima kasih, Ma. Tapi ada Abhi yang janji mau mijitin, iya kan, Sayang?” Naura mencari pembelaan.
“Dia nggak mau sama, Mama. Soalnya kalau pijat dengan Mama nggak ada plus-plusnya.” Abhi justru menggoda, sambil menyerahkan makanan pada istrinya. Mengisyaratkan untuk segera makan.
“Plus-plus juga nggak papa, kalian halal, kok!” sambar Erik.
“Abhi juga jago mijit kok, Na! Enak pijatannya, eyang saja ketagihan. Coba nanti kalau main ke tempat eyang pasti Abhi diminta untuk mijit.” Widya membanggakan keahlian Abhi.
Naura yang baru mengetahui fakta itu hanya mengembangkan senyuman cerah, bangga atas suaminya karena memiliki banyak keahlian.
Suasana kembali hening, mereka begitu menikmati makan malam yang sudah disiapkan. Setelah semua selesai makan malam mereka masih berada di sana. Widya yang hendak pergi meninggalkan Jakarta meminta waktu sebentar untuk berbicara.
“Tidak perlu sungkan begitu. Kita sudah menjadi keluarga. Bukannya dua orang menikah itu bukan hanya menyatukan dua hati saja? Tapi juga keluarganya juga. Jadi, nggak perlu sungkan. Jika butuh bantuan apapun segera hubungi saya, atau mama Ella.” Erik menjawab. “Apalagi kalau main ke Jakarta, jangan lupa untuk singgah ke rumah kami.”
Berbeda dengan Erik, Naura justru menatap kesal ke arah Abhi. Ia sedikit tidak rela, karena akan berpisah untuk sementara waktu.
“Mama ikut penerbangan jam berapa?” tanya Abhi.
“Ikut penerbangan malam, Bhi. Kasihan tulangmu kualahan ngurus supermarket. Mama sudah meninggalkannya terlalu lama.”
Abhi menganngguk, “Oke. Biar nanti Abhi yang mengantar, mama dan Ara.”
Adik dari Abhi, memang sudah bertolak ke Bali, saat pesta sudah selesai tadi. Karena ada urusan yang tidak bisa ditinggalkan.
Pesan untuk berhati-hati pun diucapkan oleh para wanita yang ada di sana. Widya mengucapkan terima kasih sekali lagi, atas kehangatan yang sudah diberikan oleh keluarga Erik.
__ADS_1
“Na!” Kalun memanggil adik kandungnya, dengan nada kasar. “Kakak punya hadiah untuk kamu!” ujarnya ketika Naura sudah menatap ke arahnya.
“Asik … apa itu, Kak?” tanya Naura penasaran, saat Kalun mengeluarkan amplop putih dari dalam tas Aluna.
“Tiket bulan madu,” jawab kalun, sambil mengibaskan amplop itu ke udara.
“Kapan?” tanya Naura.
“Tenang, Ma! Masih minggu depan. Kakak kan, tahu kalau kamu lagi halangan, masa iya, mau bulan madu? Kan, nggak seru!”
“Kakak yang pengertian!” seru Naura kemudian berlari kecil ke arah Kalun. ia mengambil amplop tersebut, kemudian membukanya dengan pelan takut robek. Ia penasaran ke mana Kalun memesankan tiket bulan madu untuknya.
Naura menggeleng, kemudian menekuk wajahnya. “Masa iya, sama kaya Maura … ke Korea, aku kan nggak suka opa-opa.” Naura mengeluh.
“Ya sudah kalau nggak mau, sini! Biar nanti kakak sama kakak iparmu yang berangkat.” Kalun menengadahkan tangannya, hendak meminta tiket paket bulan madu itu. “Biar jadi adik cewek untuk Gwen.” Kalun merings tanpa aba-aba, istrinya mendarat tinjuan ke lengannya.
“Enak saja, sayang tahu … nggak!” Naura menyembunyikan amplop itu ke saku celana jeans nya, lalu beralih memeluk leher kalun. “Terima kasih, Kak! Minta tambahan uang saku boleh nggak?” bisiknya supaya Abhi tak mendengar, namun tetap saja Abhi paham karena sedari tadi ia mengamati Naura.
“Kakak ngadu ke Abhi nih kalau kamu meluk-meluk gini!” peringat Kalun.
“Abhi saja lihat, wlex!” balas Naura sambil menjulurkan lidahnya. Ia lalu berjalan pelan ke arah Abhi, kembali duduk di samping suaminya.
Sebagian wanita hamil sudah izin untuk kembali ke kamarnya masing-masing. Widya dan Ella yang kelelahan juga seperti itu, meninggalkan para prianya di restoran tersebut. Kecuali Naura yang begitu lengket dengan Abhi malam ini.
Erik bertanya pada Kenzo tentang perkembangan rumah sakit yang dikelolanya. Setelah mendapat laporan ia menatap ke arah Abhi. Ia teringat akan ucapan rekanya saat berbisik di pelaminan.
“Kau yakin akan mengambil kasus itu, Bhi?” tanya Erik. Bukan hanya Abhi, Naura yang tidak tahu menahu lekas meminta penjelasan pada sang papa.
...-------- BERSAMBUNG --------...
__ADS_1