
Seorang wanita dewasa baru saja turun dari mobil hitam yang berhenti di depan pintu masuk rumah sakit. Langkah kakinya bergerak cepat menyusuri koridor menuju elevator. Hembusan nafas kasar keluar dari mulutnya, saat ia sudah berada di dalam. Jantungnya kembali berdegup tak normal, mata bulatnya sejenak terpejam, mengingat potongan berita yang beberapa jam lalu, baru sempat ia baca.
Naura Putri Ramones, putri kembar Erik yang lahir lebih awal dari Maura. Kini sudah menjadi wanita matang yang sebentar lagi genap berusia 31 tahun. Pengacara muda yang biasa mengurus kasus perceraian pasutri. Namanya cukup terkenal, karena sering memenangkan hak asuh anak kliennya.
Tapi hari itu, tiba-tiba semua orang menyebutnya pelakor. Imbas dari keberhasilannya memenangkan kasus hak asuh anak dari kliennya. Hal itu seolah bukti bahwa Naura adalah wanita simpanan Hanif.
Sekarang, ia tengah memikirkan cara, bagaimana menjelaskan pada kedua orangtuanya. Itu yang paling penting, selebihnya biarkan berjalan seperti air sungai, kemana akan membawanya bermuara.
Pintu elevator terbuka lebar. Ragu untuk melangkah! Ia takut, jika penjelasannya nanti tidak bisa diterima oleh kedua orangtuanya dan akan membuat kondisi mamanya semakin drop.
"Ayolah, ini hanya masalah kecil, Na!" gumamnya menyemangati diri sendiri. Usai menarik nafas panjang, ia melangkah, menuju ruang VIP bertuliskan nama bunga tulip.
Pintu ruangan ia dorong pelan. Kehadirannya disambut dengan sorot mata iba dari mamanya. Ia tak lekas mendekat, matanya melirik wajah Erik yang kini tengah duduk di kursi samping ranjang. Pria itu sedang menatapnya penuh tanda tanya. Seolah memintanya untuk segera menjelaskan. Huft! Bisakah dia tidak seperti itu? Sial, semua gara-gara pria bernama Hanif! Batinnya mengumpat.
Perlahan ia mendekat ke arah ranjang, memeluk dengan lembut tubuh mamanya yang semakin rapuh. Meluapkan rasa rindu, setelah satu bulan mereka tidak bertemu.
"Mama percaya apa yang akan kamu katakan!" bisik Ella di tengah pelukannya yang semakin kuat. Sejenak Ella membiarkan Naura puas melakukan hal itu. Ia lalu melepas pelukan putrinya. Berganti dengan mengadu pandang dengan Naura, merapikan rambut Naura yang sudah sebahu.
"Apa yang ingin Mama tanyakan?" Naura mengusap air mata di sudut matanya, lalu melirik ke arah pria yang sedang memperhatikannya.
"Mama nggak ingin bertanya. Tapi, mama meminta satu hal sama kamu!"
Mendengar itu Naura beralih duduk di tepi ranjang, kakinya menggantung bebas, sesekali ia goyangkan demi memutus kecemasan.
"Mama ingin Nana menikah." Ella berucap lirih, ingin menyentuh hati putrinya yang paling dalam.
Naura hanya menjawab dengan senyuman tipis. Lalu kembali menatap Erik yang masih diam di posisinya.
__ADS_1
"Mama sudah tua, Na! Mama ingin melihat kalian menemukan pasangan hidup, baru mama akan merasa lega ... setidaknya sudah ada yang menggantikan kami untuk menjagamu." Ella menjelaskan maksud dan tujuannya.
Naura berusaha menghindari pembahasan itu. Ia berdiri, mendekat ke arah lemari pendingin. Mencoba mencari apa saja yang bisa ia manfaatkan untuk mengalihkan pembicaraan. Panas juga, ketika seseorang membahas masalah pernikahan. Sedangkan ia belum pernah memikirkan sama sekali sampai sejauh ini.
"Na!" kini Erik mulai berbicara. "Kamu dengar apa kata mamamu?" tanyanya kesal. Tapi masih bisa mengendalikan amarahnya.
"Hmm ..." jawab Naura singkat, ia meneguk air mineral yang baru saja ia buka. Lalu kembali ke tempat asal semula.
"Nana belum kepikiran nikah, Ma. Nana masih nyaman dengan statusku saat ini. Bebas terbang ke manapun yang aku mau."
Erik menatapnya kesal, "jangan bilang kamu tidak menyukai pria, Na!" gertaknya memotong sang istri yang hendak berucap.
Naura diam lagi, tapi pandangannya kosong menatap ke arah jarum infus yang masuk ke tangan Ella.
"Katakan pada mama, di usia berapa kamu akan menikah? Mama akan memohon pada Allah, supaya mengambil nyawa mama selepas usia yang sudah kamu targetkan!"
"Mama sudah tua, Na. Mama akan lega kalau mama pergi, ada orang yang jagain kamu," ucap Ella memotong Naura yang hendak berbicara.
Naura tidak pernah kepikiran jika kedatangannya justru ini yang menjadi pembahasan, bukan tentang apa masalahnya saat ini.
"Selain itu kamu juga tidak akan kena masalah, seperti saat ini!" Ella menambahi lagi, membuat Naura memiliki kesempatan untuk menjelaskan.
"Ma, cukup Mama dan papa percaya padaku! Aku tidak melakukan hal bodoh seperti itu. Aku dan Hanif masuk ke hotel, karena ada berkas yang harus Hanif tandatangani saat itu juga!"
Semua orang yang berada di ruangan diam. Erik dan Ella menatap bersamaan ke arah Naura untuk meminta penjelasan.
"Hanif menuntut hak asuh putrinya! Dan yang selingkuh itu istrinya. Tapi, wanita itu justru memutar balikan keadaan!" Naura menjelaskan dengan emosi yang tertahan.Tapi reaksi Erik di luar dugaannya.
__ADS_1
"Papa nggak peduli! Papa ingin kamu buruan nikah!"
"Pa, ada hati yang perlu aku susun untuk menjalin sebuah komitmen! Tidak semudah menandatangani sebuah kasus, Pa!" Naura meluapkan apa yang ada di benaknya.
"Mulai sekarang pikirkan dirimu, Na!" Ella ikut menimpali.
Naura hanya bisa berdecak kesal saat ini. Ia menunduk, bingung harus bagaimana menghindari pertanyaan mamanya. Cukup lama ia diam, suasana kembali hening, kedua orang tuanya juga tidak angkat suara. Tapi mereka tetap memperhatikan gerakannya.
"Jujur , Ma, sebenarnya Nana takut!" lirihnya menatap Ella.
"Naura, apa yang kamu takutkan?" lirih Ella mencoba mencaritahu.
Naura tersenyum kecut. "Kak Kalun dan kak Riella ... mereka mungkin bisa melewati badai perceraian. Tapi, mereka hanya dua orang yang berhasil melewatinya. Selama ini, kasus yang Nana hadapi ujung-ujungnya berakar dari pelakor, pebinor, faktor ekonomi, keturunan. Nana takut jika nanti tidak bisa menghadapinya!" Nana meluapkan isi hatinya.
"Maka dari itu pilih yang benar-benar mencintaimu!" sambar Erik yang sedari tadi menyimak pembicaraan Naura.
"Emang kalau sudah cinta nggak bisa digoda pelakor? Mereka yang saling mencintai juga bisa goyah karena pelakor, Pa!"
"Lalu? Apa selamanya kamu tidak akan menikah?"
Naura diam, "untuk saat ini biarkan Nana nyaman dengan hidup Nana dulu."
Erik mendesah kasar. "Kalau tahun ini kamu gak nikah juga, Papa akan mencarikan jodoh untukmu!"
Keputusan Erik memang mutlak tak bisa diganggu gugat jika sudah berucap seperti itu. Mau tidak mau Naura harus menganggukan kepalanya, meski dalam hatinya ada ketakutan yang begitu besar.
...----------------...
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like dan komentar.