Kepincut Cinta Dokter

Kepincut Cinta Dokter
Extra Part : Kisah Cinta Naura


__ADS_3

Aroma menyegarkan dari seduhan teh hijau membangunkan Abhi yang kembali terlelap di sofa. Usai menjalankan kewajibannya, pria itu kembali tidur, dia tidak menyadari kalau ibu Susan dan putrinya sudah tiba di Cianjur.


Abhi mengerjap beberapakali, berusaha mengontrol cahaya matahari yang menyorot matanya. Meregangkan tubuhnya yang terasa pegal akibat sempitnya sofa yang ia tempati.


Aroma teh hijau semakin pekat, diiringi derap langkah kaki yang semakin jelas terdengar. Wanita cantik dengan senyum lebar menghampirinya. Abhi sempat mengucek matanya demi memastikan apa yang ia lihat saat ini. Sampai akhirnya suara wanita itu menyapa.


"Long time no see, Chacan." Wanita itu menyapa sambil menyodorkan teh hijau ke depan Abhi. "Bagaimana kabarmu?" tanya Olivia, sesaat kemudian.


Tapi, Abhi enggan untuk menjawab, dia memilih berdiri dan meninggalkan sofa. Mengabaikan wanita yang sudah terlalu dalam menyakitinya.


"Chachan, kamu mau ke mana?" Olivia yang tidak terima dirinya diacuhkan mencoba menahan kepergian Abhi. Kembali pria itu mengabaikannya, dia berjalan menuju kamar, untuk melihat Naura dan mengajaknya jalan-jalan pagi.


Tiba di kamar, gadis itu masih terlelap dengan selimut tebal yang sudah jatuh ke lantai. Ia hanya mampu menggeleng saat melihat kondisi Naura saat ini. "Sudah perawan tua juga, tidur masih saja bar-bar." Ia bergumam lirih, sambil mengambil selimut dan menyelimuti tubuh Naura.


Abhi berjalan ke arah jendela, kembali menutup rapat gorden yang subuh tadi sempat ia buka. Ia tidak mau sinar matahari membangunkan Naura saat ini. "Tidurlah yang nyenyak, setelah itu kita pulang." Abhi memberitahu pada Naura. Tidak berharap mendapat jawaban dari gadis tersebut. Ia langsung berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan diri.


Cukup lama ia berdiri di sana, setelah selesai ia bergegas keluar kamar. Ia berniat berkeliling ke daerah kebun teh. Menikmati pemandangan pagi, dengan cahaya matahari yang masih terasa sejuk.


Abhi menyapa Susan saat mereka berpapasan di pintu masuk. Wanita itu habis pulang dari pasar. Abhi menjelaskan jika ingin keluar melihat pemandangan, karena sudah lama tidak pernah berlibur ke puncak. Jadi, ada rasa rindu yang ia tahan.


"Hati-hati, Chan, jalanan licin." Susan berpesan padanya sebelum ia meninggalkan rumah.


Beberapa tahun yang lalu Abhi memang akrab dengan Susan. Ia sering mengantar Olivia pulang, saat gadis itu bilang merindukan ibunya. Jika kemalaman Abhi tidak diizinkan pulang oleh Susan. Tapi, bukan berarti ia tidur dengan Olivia. Kontak fisik paling parah yang ia lakukan adalah mencium bibir gadis itu. Prinsipnya kuat, dia tidak akan menodai wanita yang ia cintai, sebisa mungkin ia melindungi dan menjaganya.

__ADS_1


Tapi, siapa sangka. Ternyata mantan calon istrinya justru mencari kepuasan dengan pria lain. Dengan adik iparnya sendiri, dan itu memilukan.


Abhi berjalan pelan menyusuri jalanan berumput. Membalas ramah setiap ada orang yang menyapanya. Ia menoleh ke arah kanan, bayangan saat ia berduaan dengan Olive terlintas. Ia mengumpat keras lalu mengabaikannya. Meneruskan langkah, berjalan naik, melewati setiap jalanan kecil, kata orang semakin lama ia berjalan ke atas pemandangan akan semakin indah.


Merasa cukup jauh ia berhenti di samping bebatuan besar, beruntung ia membawa ponselnya, jadi ia bisa mengabadikan moment ini.


"Coba kamu sudah bangun, pasti seneng lihat beginian!" Gumamnya sambil menatap hasil tangkapan kamera. Ia teringat wajah Naura saat menikmati perjalanan kemarin. Namun, siapa kira ada wanita yang menyahut ucapanya.


"Aku sudah di sini."


Abhi menoleh, ada Olivia di balik punggungnya. Gadis itu tersenyum ramah padanya. Masih seperti empat tahun yang lalu, senyum yang mampu menggetarkan hatinya. Tapi hari ini, ia merasa ada yang lain.


"Jangan menghindar, Chan!" Olivia berusaha meraih lengan Abhi. Tapi pria itu segera menepisnya.


"Chan, kenapa kamu berubah? Iya aku salah dan aku minta maaf." Olivia menarik tangan Abhi dan membawanya duduk di batu hitam di samping Abhi.


"Sama seperti 5 tahun yang lalu. Maukah kamu menjadi pacarku , lagi?"


Abhi terdiam, seperti sedang memikirkan jawaban yang tepat, meski sudah tahu ada jawaban pasti dari hatinya saat ini. "Lima tahun yang lalu?" Abhi menatap Olivia lekat, seolah menuntut balasan dari tatapanya. "Kamu memintaku jadi pacarmu, dan ternyata itu hanya taruhanmu dengan teman-temanmu?" Ada sorot amarah di mata Abhi saat ini, saat mengingat kejadian itu. "Setelah aku memberikan cintaku. Kamu mengatakan tidak mencintaiku? Bodohnya aku." Abhi menertawakan dirinya sendiri. "Aku bodoh karena mencintai wanita sepertimu. Wanita yang seharusnya tidak patut aku perjuangkan. Harusnya aku menurut dengan ucapan mamaku. Tidak ngotot untuk menikahimu! Dan akhirnya mempertemukanmu dengan pria itu!"


"Chachan, ini serius aku sadar kalau aku sudah begitu dalam mencintaimu? Aku tahu, kamu pasti juga masih mencintaiku, kan?" Olivia menatap sayu ke arah Abhi memohon supaya pria itu percaya padanya.


Abhi terdiam, kembali menatap Olivia, tatapannya dalam seperti mencari kebenaran apa yang saat ini ia rasakan. "Aku memang masih mencintaimu." Abhi menarik nafas lalu membuangnya kasar. "Tapi kita tidak bisa bersama. Aku tidak bisa lagi melihat dan mendengar, betapa perihnya mendengar tangisan mama, betapa sakitnya suara tangisan adikku. Betapa lelahnya adikku saat harus berjuang melahirkan bayinya. Dan itu semua karena perbuatanmu. Aku tidak bisa menerimamu lagi." Olivia tergugu di depan Abhi, seolah suara tangisan itu bukti penyesalannya. Tapi, pria itu tidak peduli. Biarlah ia dicap pria yang meninggalkan Olivia, biarlah ini menjadi rahasia betapa buruknya sikap Olivia saat itu.

__ADS_1


"Aku harap kamu berhenti menggangguku dengan menggunakan kekuasaan papamu. Kita sudah selesai, dan aku sedang berusaha keras melupakanmu!"


"Maaf aku ralat, bukan keras! Tapi, mengabaikanmu!" lanjut Abhi.


Bruk!


Suara terjatuh itu mengalihkan perhatian Abhi. Awalnya Abhi acuh ingin melanjutkan ucapannya. Tapi saat mendengar suara Naura yang mengaduh kesakitan ia langsung berlari meninggalkan Olivia. Tidak peduli lagi teriakan mantan calon istrinya tersebut.


"Ngapain kamu mainan lumpur di situ?" Abhi tertawa saat melihat tubuh Naura berada di atas semak-semak pohon teh dengan baju bagian bawah terkena lumpur. Gadis itu memberengut, menahan rasa sakit di kakinya. Ia berusaha keras untuk berdiri, tanpa bantuan siapapun.


"Mbak nya habis lihat hantu, ia lari-lari, terus terjatuh." Seorang pegawai wanita menjelaskan kronologi singkat berdasarkan apa yang ia lihat.


"Astaga!" Abhi mengeluh, tapi hatinya merasa terhibur, ia tertawa dalam hati. "Kenapa nggak bilang dari tadi, sih!" ujarnya lugu, ia kemudian turun lalu menggendong tubuh Naura.


"Terus saja, terus-terus-teruskan olokan-mu itu! Habis ini aku akan menuntutmu! Kasus pembullyan!" gumam Naura di depan wajah Abhi, ia sejenak melirik ke arah Olivia yang berdiri tidak jauh dari mereka. "Kekasihmu nanti marah turunkan, aku!" peringatnya lirih di depan wajah Abhi.


"Mau pegangan aku? Atau kita akan terjatuh sama-sama! Kamu berat aku tidak yakin bisa menggendongmu sampai bawah!" Abhi mengabaikan perintah Naura, dia justru meminta gadis itu untuk mengalungkan tangannya di leher. Dan Naura menurut takut jika nanti mereka akan terjatuh bersama.


Abhi berjalan mantap menuruni jalan berumput, setelah hampir satu kilo berjalan, nafasnya mulai pendek. Namun, ia tetap fokus, pandanganya lurus ke depan tidak mau menatap ke arah gadis dengan wajah yang sudah bersemu merah. Sepertinya pipi itu memanas, terbukti bagian pipinya lebih merah dari yang lain. Mungkinkah itu blush on? pertanyaan itu mengusik batin Abhi tapi, segera ditepis oleh akal logikanya. Dia datang tidak membawa apapun kecuali pakaian yang kemarin menempel indah di tubuhnya.


...----------------...


Chachan itu panggilan sayang dari Olivia, makanya Abhi tidak suka saat Naura memanggilnya dengan sebutan itu.😂

__ADS_1


__ADS_2