
Kalau boleh minta! mampir yuk ke novel saya yang satunya CINDERELLA GENDUT, saya berharap kalian juga menyukainya, dan jangan lupa kasih bintang 5.
.
Happy reading jangan lupa untuk tekan like dan votes ya.🙏👍
.
.
.
“Axel di balik kematian Kenzie,” ucap Erik dengan pelan tapi jelas. Dia menatap perubahan raut wajah istrinya, tidak berubah menjadi sedih ataupun marah, wajahnya masih datar, tapi tatapannya mengarah ke arah lain, Ella tersenyum tipis ke arah Erik, membuat Erik bingung atas respon yang Ella berikan padanya.
“Yang...” Erik mencoba memanggil istrinya.
“kamu tidak apa-apa kan?” lanjutnya meraih tangan Ella.
“Hmmm... Nggak aku nggak papa kok, mana mungkin Axel membunuh Kenzie Mas dan polisi sudah memberitahu ke kita kalau Kenzie meninggal itu karena kecelakaan tunggal, dan lagian ya... Untuk apa juga kita mengungkit itu, Kenzie juga sudah tidak bisa kembali lagi,” jelasnya pada Erik.
“Syukurlah jika kamu berpikir seperti itu, jadi Mas juga nggak perlu mengkhawatirkanmu, dan anggap saja akan terus seperti itu selamanya,” kata Erik lalu membawa Ella ke dalam pelukannya.
Ella memeluk Erik erat, berharap yang diucapkan suaminya itu tidak benar, dia meyakinkan hatinya jika Erik telah berbohong padanya, dia tidak akan sanggup jika harus membuka luka itu lagi, tapi dia juga penasaran dengan apa yang telah terjadi.
“Mas ... Katakan bahwa kamu berbohong denganku!” Perintah Ella. Erik hanya menjawab dengan gelengan kepala dan mengusap punggung Ella.
“Mas... Apa yang terjadi sebenarnya?” Tanya Ella karena dia juga penasaran dengan kemayian Kenzie.
“Seperti yang kamu katakan tadi, anggap saja seperti itu, tidak akan terjadi apa-apa, tenanglah!” Ella melepaskan pelukkannya, mendongakkan kepala menatap mata Ella.
“Katakan semuanya padaku Mas, kebenaran yang membuat Kenzie meninggalkanku.” Erik tercengang saat mendengar Ella mengatakan itu, dia berpikir bahwa istrinya itu sudah bisa melupakan kenanganya dengan Kenzie.
__ADS_1
“Duduklah!" Perintah Erik membawa Ella ke sofa kamarnya.
“Awal mulanya Kenzie dan Axel memperebutkanmu dan kamu tau itu kan?” Ella mengangguk membenarkan ucapan Erik.
“Pada akhirnya Kenzie yang berhasil meluluhkan hati istriku ini, mulai dari situ Axel memendam rasa kesalnya pada Kenzie. Axel semakin dendam karena diam-diam Kenzie membeli saham yang sudah di wariskan padanya, sejak itu juga ayahnya Axel juga sangat menyukai sosok Kenzie karena sifat gigih dan kerja kerasnya dia mampu membawa rumah sakit itu kembali berdiri. Dan di situlah Axel semakin membenci Kenzie.”
“Tapi Kenzie tidak pernah cerita apapun tentang itu,” potong Ella saat Erik menjelaskannya. Dengan gemas Erik tiba-tiba mencium bibir Ella dengan lembut dan cepat.
“Kebiasaan ya! Dengarkan penjelasan Mas dulu jangan memotong perkataan Mas,”peringat Erik yang membuat Ella cemberut dan memajukan bibirnya.
“Axel merasa tidak terima dan ingin mengambil kembali sahamnya di rumah sakit itu. Namun, dia justru mendengar kabar jika Kenzie akan menikah denganmu dan dia semakin marah, dan merencanakan pembunuhan terhadap Kenzie,” Jelas Erik sambil menarik nafas panjang dan memejamkan matanya.
“Hingga saat hari pernikahanmu tiba, Axel meminta orang untuk merusak rem mobil Kenzie, hingga kecelakaan itu terjadi,” ucap Erik sambil membawa Ella ke dalam pekukannya, memberikan kekuatan pada Ella agar dia tidak drop lagi seperti kemarin. Terdengar suara tangis Ella lirih, dan air matanya sudah keluar membasahi baju yang Erik kenakan.
“Lebih parahnya lagi Axel membayar polisi yang melakukan penyelidikan membuat pernyataan palsu, jika itu memang benar-benar kecelakaan tunggal,” lanjutnya lagi yang membuat semakin keras menangis.
“Apakah keluarga Kenzie sudah mengetahuinya Mas?” Tanya Ella yang teringat beberapa waktu lalu dia bertemu dengan Haikal.
“Mas sudah berusaha menghubungi Haikal, tapi dia bilang akan ke Australia sendiri saja, jadi Mas serahkan saja urusannya dengannya,” jelas Erik.
“Kamu bertemu dengannya Yang? Kapan?” Tanya Erik yang pura-pura tidak tau, kejadian bertemunya Ella dengan Haikal.
“Iya.. Waktu di makam, saat Mas di Australia,” jelas Ella jujur pada Erik.
“Lalu? Ngapain saja kamu dengannya, dia nggak menganggumu kan?” Tanya Erik mencoba mengetes kejujuran istrinya. Sedangkan Ella memgerutkan keningnya saat mendengar pertanyaan Erik.
“Nggaklah! Ngapain juga... Dia cuma mengajak aku sarapan bubur ayam dan dia bilang jika sebentar lagi dia akan menikah dengan Nindi, itu saja.”
“Ow... Tapi dia tidak menciumukan Yang? Dia tidak grep-grep kamu kan?” Tanya Erik yang langsung mendapat pukulan keras di lengan tangannya.
“Emangnya aku wanita apaan mau saja digrep-grep sama laki-laki lain,” ucap Ella yang mulai tersulut emosinya.
__ADS_1
“Mas hanya khawatir, kamu terlalu cantik terlalu bahaya jika pergi sendirian, jadi Mas tanya seperti itu hanya mengkhawatirkan dan menyayangimu saja,” jelas Erik lalu mencium pipi kiri istrinya. Suasana hening saat Erik selesai mengucapkan itu, Ella masih berusaha keras mengusap air matanya yang keluar itu.
“Kenapa orang sebaik Kenzie harus punya musuh seperti Axel, coba dari dulu dia itu musuhnya Mas Erik, nggak akan mungkin Mas tega membunuhnya, iyakan Yang,” Tanya Ella yang membuat Erik segera melepaskan pelukkannya, lalu menatap Ella dari samping dengan rasa campur aduk.
“Apa maksudmu?” Tanya Erik menatap istrinya tajam.
“Apa itu artinya kamu lebih memilih Kenzie yang hidup dibanding Mas yang ada saat ini? Hum.” Ella terkekeh saat mendengar Erik mengucapkan itu, dia terlalu cemburu dengan Kenzie hingga bisa-bisanya berpikiran buruk pada orang yang sudah meninggal.
“Maksud aku, kalau dulu musuhnya Kenzie itu Mas pasti dia masih hidup dan aku bisa menikah dengannya,” jelas Ella yang semakin menggoda Erik tanpa memikirkan raut wajah suaminya yang sudah mulai naik pitam.
“Apa-apaan sih Yang? Semua sudah takdir dari Allah tidak bisa dirubah lagi, kamu itu ditakdirkan untuk Mas, walau Kenzie berhasil menikahimu, dan dia tidak meninggalkanmu pasti Allah punya cara lain untuk kita bisa bersama, karena kamu itu diciptakan untuk menjadi wanitaku, melengkapiku, bukan untuk lelaki manapun,” jelas Erik panjang lebar pada Ella. Wajah Erik sudah manyun seperti anak kecil yang meminta permen. Membuat Ella terbahak karena gemas melihat suaminya itu. Erik yang geram justru meninggalkan Ella yang sedang tertawa di sofa.
“Yang... Lhoh kok pergi?” Teriak Ella saat suaminya memakai jaket denimnya. Erik tak menjawab pertanyaan istrinya itu. Ella yang mengetahui Erik akan pergi, langsung mengikuti langkah Erik.
“Yang kamu mau kemana?” Tanya Ella karena Erik masih enggan menghentikan langkahnya.
“Satu langkah lagi, jatah buat nanti malam hangus,” Teriak Ella serius, tapi Erik masih melanjutkan langkahnya, dan mengambil kunci mobil yang ada di dekat tv.
“Oke masih nekat pergi? Baiklah 1 minggu hangus, Aku nggak mau dekat-dekat denganmu lagi,” Teriak Ella yang membuat Erik menghentikan langkahnya. Pikirannya terbayang satu minggu tanpa sentuhan dan berdekatan dengan istrinya, itu sangat menyiksa. Erik berbalik berjalan mendekat ke arah Ella, lalu menggendong dan mengangkatnya ke kamar dibawanya Ella ke kamar mandi, lalu mengunci pintu itu.
“Bersyukurlah karena suamimu ini kuat dan tampan,” ucapnya.
“Dan jangan pernah lagi membandingkan Mas dengan Kenzie,” ucap Erik yang sudah menyudutkan Ella di dinding kamar mandi, dia mendekat ke arah istrinya mendekatkan wajahnya ke wajah Ella. Hingga dahi keduanya pun bersentuhan, membuat jantung Ella semakin berdebar lebih cepat.
“Mas mau ngapain?” Tanya Ella yang sebenarnya sudah tau maksud Erik.
“Menurutmu?” ucap Erik yang sudah melepas baju atasnya. Membuat Ella menutup matanya.
“Buka matamu?” Perintah Erik pada Ella.
“Buka matamu Sayangg,” Perintahnya lagi karena Ella masih menutup rapat matanya.
__ADS_1
“Jangan berpikiran mesum, Mas tau kamu kelelahan, Mas hanya ingin kamu membersihkan jerawat yang ada di punggung Mas ini,” ucap Erik yang membuat Ella bernafas lega, dan pelan-pelan membuka matanya, tapi disambut dengan ciuman panas dari suaminya.
Terimakasih sudah membaca, semoga suka cerita kisah lika-liku Erik dan Ella. Saya berharap readers mau memberikan dukungan like dan votes untuk saya .🙏👍