Kepincut Cinta Dokter

Kepincut Cinta Dokter
Hanya Di Angan


__ADS_3

...Selamat Membaca...


Bayangan tangan Abhi yang membelai kulitnya secara lembut di tepi kolam sirna, saat Abhi tiba-tiba menggendong tubuhnya ala pengantin baru. Meski begitu tangan putih itu berhasil mengalungi leher suaminya, khawatir akan terjatuh.


Bibir Naura manyun, padahal dia sudah membayangkan hal yang indah-indah ketika Abhi tadi membalikkan tubuhnya, berharap suaminya itu melakukannya di sana. Tapi, itu hanya angan. Semua pikiran liarnya itu hanya di angan Naura saja.


“Nanti kedinginan kasihan anak kita!” ujar Abhi, sambil melangkahkan kakinya masuk ke penginapan. Rupanya ia bisa membaca dari tatapan kecewa istrinya yang sedikit memanyunkan bibirnya.


Naura hanya membatin, itu tidak akan terjadi! Di dalam kantong bayi itu, ada cairan yang membuat tubuhnya selalu dalam kondisi hangat. Bisa-bisanya suaminya berpikiran seperti itu. Sepertinya suaminya itu butuh pengetahuan lebih masalah kehamilan.


“Mau dilanjut atau stop?!” tawar Abhi saat membaringkan tubuh Naura di ranjang.


“Apa bisa kamu hentikan saja?” goda Naura dengan salah satu sudut bibir yang sudah terangkat.


“Jelas tidak bisa?” sahut Abhi, cepat.


“Nah itu tau. Kenapa mesti tanya lagi?” sungutnya, menatap kesal ke arah Abhi. Tapi hal itu justru membuat pria itu semakin gemas. Ingin sekali segera menyerang istrinya.


"Abhi ... jangan menatapmu seperti itu!" peringat Naura, saat melihat tatapan lekat istrinya.


"Entahlah, hanya menatapmu saja seperti candu." Abhi memuji, wanita itu semakin merona, karena pujian suaminya.


"Tataplah aku sepuasmu," tawa Naura pecah. Abhi yang sudah dirundung gairah semakin tidak sabar untuk menikmati tubuh Naura. Ia benar-benar menikmati bulan madu yang tertunda, dengan pasangan halalnya. Yaitu Naura.


Tiga puluh menit kemudian.


Keduanya baru saja keluar dari kamar mandi. Tetesan air masih terlihat dengan membasahi tubuh Naura. Abhi yang melihatnya lekas meminta istrinya untuk duduk di sofa, di tangannya sudah terdapat hairdryer yang siap pakai.


"Sini! Jangan bandel deh!" Abhi menepuk sofa saat istrinya tidak segera mendekat.

__ADS_1


"Nggak nambah, kan?" Naura sudah berpikir suudzhon terhadap Abhi, khawatir pria itu akan menambah porsinya.


"Nggak, Sayang. Aku tulus, ingin membantumu." Abhi memainkan alisnya naik-turun. Dia bahagia akibat kegiatannya pagi tadi yang begitu membuatnya terlena dan terpuaskan. Sampai-sampai mereka berdua lupa untuk mengisi perutnya.


"Buruan, kita belum sarapan, kasihan calon anakku!" ajak Abhi.


...****************...


Hari ke tiga di Bangkok. Naura dan Abhi menghabiskan waktunya untuk berjalan-jalan. Naura berniat mencari oleh-oleh untuk dibawa pulang ke tanah air tapi Abhi tidak mengizinkan, lantaran mereka pergi secara diam-diam, takut ketahuan jika mereka habis bulan madu.


"Nggak, usah beli oleh-oleh!" peringat Abhi, saat melihat Naura berdiri di depan toko accesoris.


"Bukan buat mereka, Bhi." Naura mendengus. "Kita cari kalung couple, gimana?"


Abhi yang mendengar permintaan istrinya mengalah, ia mengantar Naura masuk ke outlet accesoris tersebut. Saat Naura masuk, ia merasa senang saat melihat accesoris berwarna pink, khas anak cewek menyambutnya. tangannya mulai bergerak, menyentuh satu persatu pernak pernik yang di pajang di sana. Saat ia menarik satu gelang kecil. Terdengar nada peringatan dari suaminya.


"Anak kita panggilannya Rain, berarti laki-laki, kenapa kau mengambil benda untuk anak cewek?!" tegur Abhi.


"ih ... kode nih, habis Rain lahir ngajak langsung bikin," goda Abhi, menowel sedikit pinggang sang istri.


"Bikin saja terus, masalah jadi atau nggak bukan kamu yang ngatur!"


"Gemesin banget! untung istriku, kalau bukan aku laporin kamu karena gombalin aku!"


Naura diam, fokus dengan pernak-pernik lainnya, sampai keranjang itu penuh mereka berdua keluar dari outlet tersebut.


Dunia serasa milik berdua, mereka berjalan beriringan dengan lengan yang saling melingkar di pinggang. Berjalan sambil memakan es krim di tangan, mengamati wisata kuliner yang tersaji di sana.


“Bhi, cobain Tom Yum!” mintanya saat teringat dengan sesuatu. Makan tom Yum di siang hari lalu menggigit udangnya, sepertinya nikmat.

__ADS_1


“Boleehh, cari restaurant yang ada kode halal nya!” mereka berjalan menulusuri jalan trotoar.


"Ok," sahut Naura.


“Kamu nggak capek, Sayang? Kalau capek aku ambilkan stroller buat kita jalan-jalan!” goda Abhi saat melihat penyewaan stroller untuk anak bayi.


"Nggak! Aku lihat gituan jadi pengen belanja perlengkapan bayi, Bhi. Sudah nggak sabar, apa kita belanja sekalian ya! Gemas lihatnya," minta Naura, yang langsung mendapat sentilan di hidung kiriman dari suaminya.


"Nurut sama mama, papa, tunggu mau dekat hari lahiran saja. Atau kita minta baju bayinya Milena!" saran Abhi yang langsung mendapat gigitan gemas di lengan.


"Emangnya kamu mau punya anak satu saja! Baju bayi minjem gitu!" cibir Naura.


"Enak saja, ya nggaklah! Kalau bisa kita produksi terus sampai usiaku 50 tahun! Itu tadi kamu juga sudah siapin gelang untuk anak kita." Abhi tersenyum tipis ketika melihat ekpresi Naura, yang merona.


“Ngeri kamu, Bhi! Umur kamu 50 tahun aku 47tahun, nanti Rain baru 15 ya, trus mau adik berarti!" Naura membayangkan. "Jangan... Jangan ...jangan ngeri!!" ujarnya lantang. Abhi hanya bisa tertawa sambil memegangi perutnya, tak tahan karena merasakan ngilu di bagian limpa.


"Kita berhenti dulu, Sayang!" Abhi menahan tangan Naura meminta wanita itu untuk duduk. Saat mereka berdua melewati lapangan badminton. Naura yang paham suaminya penyuka bulu tangkis, segera menghentikan langkahnya.


"Haus, Bhi!” keluh Naura, mengusap lehernya, tenggorokannya terasa kering setelah lama berjalan Abhi yang paham segera membelikan Naura minuman yang tidak jauh darinya.


Bulan madu di hari ke tiga mereka mengisinya dengan berjalan-jalan di pusat kota Bangkok. Menikmati setiap sudut kota tersebut yang tidak akan pernah habis hanya dengan satu hari saja. Sampai-sampai Abhi harus menarik tangan Naura untuk kembali ke penginapan.


Bayangan makan tom Yum sirna, Naura seolah lupa dengan apa yang ia inginkan hari ini. Hari juga sudah sore, sedari tadi, mereka belum menemukan restoran tum Yun yang halal. Sampai akhirnya Naura melihat ke arah orang penjual permen kapas.


"Permen kapas, Bhi! mau ... aku mau ... itu, Bhi." Naura merengek persis seperti anak kecil, meminta Abhi supaya mau membelikan.


"Besok lagi!" sahut Abhi yang merasa lelah, karena sudah seharian ia berkeliling memutari kota Bangkok.


"Aihs. Kan Rain yang pengen!" Naura terpaksa mengeluarkan senjata ampuh yang bisa mematahkan penolakan suaminya. Dan Abhi tidak bisa menolak kemauan istrinya. ia dengan senang hati menuruti kemauan Naura, dan itu demi ... bukan demi, calon anaknya! Tapi demi melihat Naura tersenyum lagi.

__ADS_1


Karena dengan melihat senyum Naura, lelah yang ia rasakan seolah terangkat oleh angin yang melewatinya saat ini. Dia bahagia, berharap bisa merasakan ini setiap hari.


...----------------...


__ADS_2