Kepincut Cinta Dokter

Kepincut Cinta Dokter
Extra Part 2


__ADS_3

Happy reading, jangan lupa untuk like seberapapun kecewa readers budayakan untuk menekan tombol like, karna itu sangat mendukung cerita ini😂😂😜👍.


.


.


.


Erik berjalan meninggalkan makam Ella, dia ingin menerima takdir yang dia hadapi saat ini, separuh jiwanya pergi untuk selama-lamanya, meninggalkan luka dalam di hatinya. Dia melajukan mobil ke arah apartemen miliknya, apartemen yang banyak kenangan dengan Ella.


Pertemuan pertama kali saat bertemu dengan Ella terlintas di pikirannya, gadis kecil berusia 7 tahun itu begitu cantik, kuat, cerewet, rambutnya diikat ekor kuda, gadis kecil itu tengah bergelayut manja di lengannya, dia sama sekali tidak merasa malu dengan Erik yang saat itu jauh lebih tua darinya. Saat itu Erik sedang mengunjungi Damar yang sedang sakit di rumah sakit. Dia lalu membawa gadis kecil itu ke kantin dan membelikan coklat di sana, mengingat tidak ada orang yang menjaga, karena ayahnya fokus ke kesehatan Damar, Erik lalu membawanya masuk ke ruang bayi, untuk menghibur Ella yang tidak punya kawan sama sekali saat di rumah sakit.


“Ih..., bayinya lucu ya Kak...” ucap Ella kala itu. Erik hanya tersenyum ke arahnya.


“Nanti kalau sudah besar, Kakak mau nggak punya bayi denganku?” tanya gadis kecil itu.


“Kamu mau punya bayi dengan Kakak?” Ella menggangguk.


“Tunggu tinggimu, sama dengan Kakak ya,” ucap Erik sambil berjongkok di hadapan Ella.


***


“Ya Allah kenapa Kau mengambilnya dariku,” lirih Erik sambil mengusap wajahnya kasar.


“Sayang..., Mas kangen..., bagaimana kamu di sana?” Erik terus berucap tanpa mendengar dering ponsel yang sejak tadi berdering. Perlahan dia mulai memejamkan matanya, karena lelah sejak kemarin matanya tidak bisa terpejam.


“Mas..., bangun..., ayo kita makan malam dulu..., aku sudah siapkan kepiting lada hitam kesukaanmu,” ucap Ella sambil menepuk pipi Erik. Erik lalu meregangkan tubuhnya menatap wajah Ella yang tersenyum menggoda ke arahnya.


“Nakal kamu ya, perutmu sudah sebesar ini! Mas nggak mau menyentuhmu,” ucap Erik yang mengerti arti senyuman Ella. Ella terkekeh mendengar ucapan suaminya, dia lalu duduk di tepi ranjang.


“Hayoo..., ini ultahmu 41 tahun loh! Nggak mau 41 ronde?” canda Ella sambil tertawa renyah.


“Pergi sana, jangan menggodaku aku nggak akan kuat bila kamu tetap berada di sini,” usir Erik saat menatap wajah istrinya. Namun, yang ada Ella justru mendekat ke arahnya, dan bergelayut manja di lengannya.


Cup.

__ADS_1


“Selamat ulang tahun suamiku, Papa dari anak-anakku.” Erik lalu membawa Ella ke dalam pelukkannya.


“Terima kasih.” Erik mengusap rambut panjang Ella.


Ella segera menarik tangan Erik, di bawanya Erik ke meja makan, di sana sudah tersaji kue ulang tahun, dengan lilin yang menyala.


“Hanya kita berdua?” tanya Erik.


“Iya," jawab Ella sambil tersenyum.


“Kamu kenapa menangis Mas...?”


“Nggak..., aku nggak papa. Bersyukur saja ternyata kamu masih tetap setia bersama Mas...,”


“Mas aku ke dapur dulu ya... Aku punya kejutan buat Mas,” ucap Ella berjalan menuju dapur, meninggalkan Erik di meja makan. Namun, setelah 1 jam dia tidak kunjung kembali ke meja makan membuat Erik kecewa karena terlalu lama menunggu.


“Sayang ayo cepat, lilinnya sudah hampir habis!” teriak Erik. Dia lalu berjalan ke arah dapur, mencari Ella yang akan memberikan kejutan di sana.


“Sayang..., Sayang..., Sayang...,” berulang kali Erik memanggil tapi tidak ada sautan di sana.


“Jangan main petak umpat begini dong, ingat perutmu sudah besar, nanti jatuh..., Sayang..., kamu nakal ya...!” ucap Erik tiada hentinya memanggil Ella.


“Sayang..., please keluar atau Mas akan marah, uang bulanan nggak akan Mas transfer ya...” ucapnya lagi karena Ella tidak kunjung keluar. Erik kemudian kembali ke arah meja makan yang sudah kosong, tidak ada kue ataupun lilin yang menyala di sana. Dia baru menyadari jika dia sedang berhalusinasi. Dia lalu menjatuhkan tubuhnya ke lantai, menangis tersedu-sedu di sana.


“Kembalikan dia ku mohon!” teriaknya sambil menangis. Dia menangis lama di sana, seperti tidak punya kekuatan lagi untuk bertahan hidup.


Setelah puas menangis, Erik segera kembali mengambil kunci mobil miliknya. Berjalan ke arah tempat parkir, padahal jam sudah menunjukkan pukul 9 malam, tapi terlihat Erik melajukan mobilnya ke arah makam Ella dengan kecepatan tinggi.


Sampai di sana, hanya terlihat ribuan gundukkan tanah yang menyambutnya. Dia kembali mendatangi makam Ella di tengah gerimis kecil yang membasahi tubuhnya. Erik menjatuhkan tubuhnya di dundukan yang masih basah itu, mengungkapkan kesedihannya saat ini.


“Kenapa kamu setega ini Sayang..., kembalilah... Please..., kumohon kembalillah! aku butuh kamu, mereka membutuhkanmu Yang,” ucap lirih sambil memeluk gundukan tanah yang masih basah itu, tangisnya sudah tidak terhindar dari tadi, hingga matanya sulit untuk di buka.


“Aku akan menyusulmu secepatnya, lihatlah aku akan berada di sisimu, menemanimu, sesuai janjiku,” ucap Erik lalu mengusap air matanya. Dia lalu berjalan menuju tempat parkir mobil yang tidak jauh dari makam Ella.


Erik segera menyalakan mobil, mengemudi dengan tangisan yang masih menghampirinya. Sesekali memejamkan mata untuk menghentikan air matanya supaya bisa terhenti, tapi yang ada air mata itu masih saja mengalir. Bibir Erik terangkat ke atas, dia tersenyum saat melihat cahaya lampu terang di depannya.

__ADS_1


“Aku datang Sayang...!” ucapnya sambil tersenyum.


Bruaaakkkk...


Kecelakaan itu tidak bisa lagi terhindarkan, karena keduanya mengemudi dengan kecepatan tinggi. Suara teriakan dari sopir truk itu pun terdengar, dia turun menghampiri mobil Erik yang sudah menambrak bagian bak truknya.


“Tolong nggak ya..., nanti kalau dia mati bisa di penjara aku.”


“Kita tolong saja, kasian jika istri dan anaknya sedang menunggu di rumah,” ucap rekannya.


Sopir itu mendengus kesal setelah mendengar rekannya berucap.


Tapi dia membenarkan ucapan rekannya itu dan segera mereka membawa masuk Erik ke rumah sakit terdekat, kebetulan rumah sakit itu adalah rumah sakit milik Erik. Perawat yang mengetahui segera menghubungi kedua orangtua Erik.


Satu jam kemudian...


Terlihat Jihan dan Yusuf belari menuju ruang IGD, Sampai di sana dokter yang menanganinya belum juga keluar dari ruangan. Mereka lalu berniat untuk mengunjungi bayi Erik yang masih berada di sana.


Tangis Jihan pecah melihat bayi mungil, yang memakai kain putih untuk membungkus tubuh kecilnya, hatinya sakit melihat cucunya yang baru lahir sudah tidak memiliki mama lagi, apalagi saat mendengar malun menyebut nama "Mama".


“Sayang..., ini Oma..., kamu yang kuat ya cantik, doakan Papamu, supaya dia baik-baik saja,” ucapnya sambil menyentuh tangan bayi perempuan itu. Tidak lama terdengar dokter yang menangani Erik memanggil mereka. Dokter itu menghela nafas panjang mengingat kondisi Erik yang tidak dalam baik-baik saja.


“Bagaimana kondisinya?” tanya Yusuf yang khawatir sedari tadi.


“Maaf saya harus mengatakan ini Pak, jika Pak Erik tidak sadarkan diri, dia mengalami koma, dan kemungkinan bertahan hidup Cuma 30%,” ucap dokter yang ada di depan kedua orangtua Erik, Jihan yang mendengar itu langsung terjatuh ke dalam pelukan suaminya, dia tidak sadarkan diri saat mendengar jika putra bungsunya itu tidak sadarkan diri. Dokter yang hendak menjelaskan keadaan Erik, terpaksa harus mengurungkan niatnya, mengingat kondisi Jihan yang juga tidak baik.


.


.


.


Sudah ya... tidak ada extra part lagi. Tenang saja Erik nggak amnesia kok, dia masih ingat jika dia sudah beristri dan beranak dua.😂


Terima kasih yang sudah mau mendukung karya ini, maaf juga bila ada yang kecewa dengan endingnya.

__ADS_1


__ADS_2