
Happy reading semoga suka dengan karya saya jangan lupa tekan like ya👍 vote juga.
Mampir juga yuk ke novel baru saya Cinderella Gendut buat yang gendut-gendut semoga termotivasi setelah membaca kisahnya.
.
.
.
.
.
.
Pagi ini Ella terlihat sedang berdiri di depan cermin, memoles wajahnya dengan alat make up andalan miliknya. Rencananya sebelum berangkat ke rumah sakit dia akan berkunjung dahulu ke makam Kenzie, dia sedikit lega karena Erik tidak jadi mengantarnya ke makam.
Setelah selesai bersiap, Ella segera keluar dari apartemen milik suaminya, dia berangkat menggunakan mobil fortuner milik Erik, karena dari dulu dia tidak membawa mobilnya ke apartemen Erik.
Saat tiba di makam, Ella berjalan ke arah gundukan tanah bertuliskan nama Kenzie membawa bunga bewarna putih ditangannya.
Tidak ada batu nisan dan marmer mewah disana, hanya rumput warna hijau yang sudah memenuhi gundukan tanah dan tulisan yang tercetak jelas di atas keramik, ntah kenapa hatinya terasa berdesir ketika meletakkan bunga lily di atas nisan itu, Ella duduk berjongkok di samping makam Kenzie dan bundanya, mendoakan bunda dan mantan calon suaminya. Bunda yang seumur hidupnya hanya dia kenal melalui foto dan Kenzie yang hanya 4 tahun berada di sampingnya mengisi hari-hari suka dan dukanya.
“Hai Zie...” ucapnya, seolah mengajak bicara Kenzie yang tengah duduk di atas batu nisan itu.
“Maaf... Karena aku sekarang jarang datang kesini. Bukan karena aku sudah melupakanmu,” jelas Ella, dia terdiam sejenak.
“Kamu pasti melihatnya kan? Melihat aku sudah bahagia dengan orang yang dulu aku benci, aku benci karena kesalahpahaman Zie, sekarang aku bahagia bersamanya, maafkan aku! Aku nggak bermaksud mengkhianatimu, kamu masih ada dihatiku, tapi maaf jika rasa itu tidak akan pernah bisa bertambah lagi, mungkin benar kata pepatah cinta tumbuh karena terbiasa, aku mencintainya begitu dalam Zie, hingga aku mampu melupakan kesalahannya, dan perlahan posisimu tergantikan lagi olehnya,” ucapnya sambil menahan tangis yang akan pecah.
“Semoga kita bisa bertemu lagi Zie, tunggu aku disana, aku akan jadi sahabat yang baik untukmu, terimakasih atas cinta dan kehadiranmu,” ucap terakhir Ella, lalu beranjak dari duduknya, dia berbalik badan meninggalkan makam Kenzie. Namun, dia kaget saat melihat orang yang berdiri tegap di depannya, nafasnya tertahan saat melihat Haikal yang sudah menatapnya lembut, sama seperti saat mata Kenzie menatapnya.
__ADS_1
“Hay ...” panggilnya. Ella hanya menjawab dengan senyuman tipis sambil menghapus sisa air matanya.
“Apa kamu tidak bahagia dengan suamimu? Kenapa kamu menangis?” tanya Haikal.
“Hmmm .... Aku bahagia, bahkan sangat bahagia,” jelasnya agar Haikal tidak salah paham.
“Lantas kenapa kamu menangis di makam saudaraku?” ucapnya sambil mengulurkan sapu tangan ke arah Ella.
“Tidak usah terimakasih,” tolak Ella sambil mengisyaratkan menolak ke arah Haikal.
“Mau menemaniku sarapan?” tanya Haikal pada Ella. Ella hendak menolak tapi merasa tidak enak dengan ajakkan Haikal, dia lalu melihat ke arah jam tangannya.
“Saya hanya punya waktu 30 menit, karena sebentar lagi harus ke rumah sakit,” jelasnya.
“Baiklah, kita sarapan di dekat sini saja, ayo!” ajak Haikal, Ella yang mendengar itu mengikuti langkah kaki Haikal, menatap punggung lelaki yang fisiknya 99% sama dengan Kenzie itu, sejenak dia teringat tentang bagaimana cara Kenzie memperlakukannya, cintanya yang tulus membuatnya merasa nyaman dan selalu terlindungi, bahkan mereka tidak pernah adumulut, dia memang lelaki terbaik yang pernah hadir di hidupnya, lelaki yang selamanya akan ada dihatinya, punya ruang sendiri yang tidak akan tergantikan oleh apapun.
Haikal mengajak Ella masuk ke dalam warung tenda yang menjual aneka bubur, dia menarik kursi agar Ella duduk tapat di depannya, lalu memesan bubur yang menjadi menu andalan warung tersebut.
“Bagaimana keadaan ayah dan bunda?” tanya Ella saat sudah selesai memesan bubur.
“Kamu pesan bubur toping udang?” tanyanya
“Iya ! Kenapa?” tanya balik Haikal.
“Nggak. Aku hanya teringat almarhum Kenzie saja, dia alergi dengan seafood,” jelas Ella yang teringat saat Kenzie masuk rumah sakit gara-gara makan bubur buatan bu Lusi.
“Ow... Benarkah? Aku tidak pernah tau dan mengenal dekat dengannya, kamu beruntung bisa mengenalnya,” ucap Haikal dengan suara serak, karena menyesal kenapa dia tidak mencari keluarganya dari dulu.
“Iya, dia orang yang sangat baik dan juga pekerja keras, sama seperti dirimu,” jelas Ella.
“Termasuk bekerja keras meluluhkan hatimu?” sahutnya. Ella tersenyum tipis ke arah Haikal membenarkan ucapan kembaran Kenzie itu.
__ADS_1
“Terus apa lagi kenangan indahmu dengannya?” tanya Haikal yang penasaran dengan kisah cinta saudaranya. Sebenarnya bunda sudah menceritakan semuanya, tapi dia ingin mendengarkan dari mulut wanita yang dulu sempat akan dinikahi saudaranya tersebut.
“Banyaklah, semua kenanganku sangat indah, dia tidak pernah menyakitiku sedikit pun saat kita bersama, tapi sekali dia menyakiti ingin rasanya aku meninggalkan dunia ini dan pergi menyusulnya,” ucap Ella dengan serius menatap wajah Haikal.
“Beruntung ada Erik!” ujar Haikal.
“Iya, kalau dipikir-pikir lucu juga, dulu saat aku meninggalkan Erik, Kenzie yang selalu ada dan menyembuhkan luka hatiku, saat Kenzie pergi dan tidak dapat kutemui ada Mas Erik yang selalu menemaniku, membawaku kecahaya yang terang, dan mampu mencintainya lagi,” jelas Ella.
“Kau terlihat begitu mencintainya,” ucap Haikal saat melihat ekspresi Ella.
“Iya. Aku bahkan merindukannya saat ini,” Haikal pun tersenyum mendengar ucapan Ella. Dengan mudahnya wanita di depannya ini mengatakan rindu pada orang yang belum dia kenal dekat.
“Apa kau mengenal Nindi?” tanya Haikal ke arah Ella.
“Nindi? Ada apa dengannya?” tanya Ella sambil memakan bubur didepannya.
“Dia akan menikah denganku,” ucap Haikal.
“Apa??” kagetnya Ella dia lalu meletakkan sendoknya ke mangkok, dia menatap mata Haikal mencari kejujuran disana.
“Saat itu kamu pulang lebih dulu untuk persiapan pernikahan, dan aku bertemu dengannya di apartemen Kenzie, dia mengira aku adalah Kenzie, dan saat itulah aku jatuh cinta pada Nindi, dan saat pernikahanmu dengan Erik, aku baru mengetahui jika dia juga datang, dan aku mulai mendekati Nindi, ” jelasnya yang malu-malu.
“Kapan kalian akan menikah?” tanya Ella sambil memakan buburnya kembali karena waktunya sisa 15 menit.
“Insya Allah bulan depan, dan aku berharap kamu bisa datang,” ucap Haikal serius.
Mereka berdua melanjutkan obrolannya hinga pukul 07.45. Ella yang sudah selesai sarapan segera berpamitan dengan Haikal. Meninggalkan Haikal yang masih asyik menatap kepergiannya.
Ella melajukan mobilnya ke arah rumah sakit, melayani pasien anak yang sudah menunggunya, hingga sampai siang hari. Namun, setelah selesai dia tidak langsung pulang, melainkan menuju ruang pribadi milik suaminya, dia merebahkan tubuhnya di ranjang milik suaminya, mencium aroma parfum Erik yang masih tertinggal disana, dia memeluk guling yang ada disana, ingin rasanya dia menelepon suaminya, tetapi dia takut jika itu akan menganggu pekerjaan Erik, hingga dia terlelap menabung rindunya dalam hati.
.
__ADS_1
.
Terimakasih sudah membaca kisah Erik dan Ella, Author berharap kalian suka dan like serta votes yang banyak.