Kepincut Cinta Dokter

Kepincut Cinta Dokter
Mengelabuhi Ella


__ADS_3

...Selamat Membaca...


Erik berjalan ke arah meja makan setelah panggilan dari Abhi terputus. Sekuat tenaga ia menyembunyikan raut cemasnya dari sang istri. Dia tidak ingin penyakit lupus yang diderita Ella kambuh, karena memikirkan keberadaan Naura saat ini. Ia harus menjaga kondisi istrinya tetap kondusif.


“Siapa yang telepon, kenapa menjauh dari aku?” tanya Ella, ketika melihat Erik kembali duduk di sampingnya. Pria itu selalu begitu, memilih duduk di sisinya saat keempat anaknya sedang tidak berada di rumah.


“Abhi,” jawab Erik, singkat.


“Kenapa Abhi?” selidiknya, beralih menatap Erik, dengan tatapan cemas.


“Nggak papa. Cuma minta maaf kalau beberapa hari ini tidak bisa datang.” Erik berusaha memberi alasan yang tepat, sesuai kondisinya saat ini.


“Gitu saja? Kenapa kamu harus menjauh?” Ella masih curiga, karena tidak biasanya Erik bersikap seperti itu.


“Cemburuan banget kamu, Yang! Apa kamu pikir aku punya wanita simpanan?” Erik memaksakan senyumannya, sengaja mengalihkan pembicaraan supaya Ella tidak lagi membicarakan tentang menantunya. Ia takut keceplosan dan mengatakan semua apa yang tadi disampaikan Abhi.


“Ya, kan ... siapa tahu, ada yang lebih menggoda dari oma-oma ini!” sahut Ella.


“Kamu pikir ada? Wanita di luar sana yang mau sama opa-opa seperti aku!” balas Erik.


“Sama kamu nggak mau, tapi sama hartamu mau!” Ella lalu mengambilkan sayur dan meletakan ke piring suaminya. "makan yang banyak biar kuat!" senyum menggoda terbit dari bibirnya, menghibur Erik yang terlihat tegang.


“Terima kasih,” ucap Erik, senyum tulus keluar dari bibirnya. “Habis ini kita tidur ya, aku lelah sekali.”


“Oke, aku juga lelah. Seharian ini banyak tenagaku yang terkuras hanya untuk menemani Anna ke salon.”


Erik tersenyum kaku, masih dirundung rasa cemas atas kabar yang baru saja dia terima. Kaki dan tangannya sudah gatal untuk segera mencari keberadaan Naura saat ini. Tapi mengingat istrinya masih terjaga, ia tidak tega untuk meninggalkannya sendirian.


Selesai makan malam, Erik membawa Ella masuk ke kamar. Ia ingin menidurkan istrinya lebih dulu sebelum mencari keberadaan Naura. Namun, rupanya Ella justru bercerita tentang kenangan mereka saat masih muda, yang seolah begitu indah tak ada hambatan.


Saat Ella melontarkan pertanyaan padanya, ia memilih pura-pura terlelap supaya bisa segera terbebas darinya.


“Ih ... nyebelin! Aku ngoceh sampai berbusa malah ditinggal tidur!” gerutu Ella, lalu membalikan tubuhnya membelakangi Erik .


Mendengar napas Ella yang mulai teratur, Erik lekas menurunkan kakinya untuk meninggalkan ranjang. Ia mengecup kening Ella sebelum benar-benar meninggalkan kamar. "tidurlah, sampai bertemu lagi."

__ADS_1


Erik berjalan keluar rumah menuju pos penjaga, pertama yang ia temui adalah seorang pria yang diminta untuk menjaga Naura. Dia sangat paham, jika posisi Naura saat ini dalam bahaya, karena kasus yang tengah ditangani Abhi. Jadi, ia sengaja mengirimkan penjaga untuk putrinya.


“Bagaimana kamu menjaga putriku?!” tanya Erik dengan nada tinggi. "Atau jangan-jangan ....” mata Erik memicing mencoba mencari kebenaran atas kecurigaan saat ini.


“Tidak, Pak. Saya tidak pernah berkhianat.” Pria itu menatap lekat ke arah Erik. “Biar saya jelaskan dulu. Saya datang pukul 9 pagi, dan saya pikir nona Naura berada di dalam rumah, karena mobilnya masih ada di garasi!” jelas pria itu.


Erik menarik napas dalam setelah mendengar penjelasan ajudan yang dikirimkan olehnya. “Lalu, bagaimana kasus yang ditangani Abhi?!” tanyanya, ia tengah mencaritahu siapa yang berani menculik putrinya.


“Jordan masih dalam pencarian, Pak.”


“Apa mungkin orang mereka, yang menculik putriku?”


Pria di depan Erik mendongak, “Sejauh ini, saya tidak melihat mereka menargetkan nona Naura, Pak! Yang mereka targetkan adalah pak Abhi!”


Kaki Erik menendang ke arah udara kosong di depannya. Ia mengacak rambutnya kasar karena tidak bisa mendapatkan informasi keberadaan Naura. Ia segera meraih ponsel di saku celana untuk menghubungi Abhi.


“Kau di mana?” tanya Erik saat mendengar suara pria di ujung telepon.


“Abhi dalam perjalanan ke Bogor, Pa!”


“Nomor polisi yang ada di mobil itu, adalah milik Farah, mantan istri Hanif. Dia tinggal di Bogor, jadi Abhi mau menyusul ke sana!” jelas Abhi, dengan nada tenang.


“Ya sudah, kirimkan alamatnya padaku!” kata Erik lembut, bukan saatnya ia mencari siapa kambing hitam di sini, karena kondisi benar-benar genting, Naura tengah membutuhkan bantuan.


Erik segera meminta sopirnya untuk mengantarkan mobil ke posisinya saat ini. Setelah mobil itu berhenti di depannya, ia segera membuka pintu kemudi, membuat pria yang bekerja sebagai sopir itu terkejut. Dan melarang Erik untuk mengemudi sendiri.


“Apa kamu lupa? Jika almarhumah mamaku tidak melarang aku ikut balapan, pasti aku sudah menjadi mantan pembalap nasional!” Erik kemudian masuk, melingkarkan seat belt ke tubuhnya.


“Tapi, Pak, bahaya! Nanti kalau ibu tanya gimana?” peringat sang sopir, yang khawatir akan kondisi Erik.


“Dia sudah tidur, aku usahakan akan cepat pulang! Jangan ada yang memberitahunya tentang kondisi Naura saat ini. Kalau aku belum pulang, cari alasan yang tepat untuk dia tetap tenang, PAHAM!” Tatapan Erik penuh peringatan ke arah dua pria yang menjadi ajudan dan sopir pribadinya.


Tanpa membuang waktu lagi, Erik segera melajukan mobilnya ke arah kota Bogor. Mengemudikan mobilnya jauh di atas rata-rata. Dia ingin segera sampai di mana keberadaan Naura saat ini.


...🌼🌼🌼...

__ADS_1


Di mobil lain, Abhi hampir tiba di tempat yang sudah ia janjikan dengan Nathan. Ia mengemudikan mobilnya dengan perasaan tak tenang, pedal gasnya pun menjadi korban emosinya, beruntung ia melewati jalan tol JAGORAWI jadi perjalanan tak begitu lama.


Setelah tiba di lokasi, Abhi lekas mendekati Nathan, sahabatnya itu sudah tiba satu jam yang lalu menunggu kedatanganya.


“Ayo, Than!” ajak Abhi tanpa basa-basi lebih dulu, seolah tidak pernah lelah meski habis melakukan perjalanan jauh. Nathan hanya bisa menurut, dia berdiri dan mengikuti instruksi Abhi.


Namun, saat kaki Abhi hendak meninggalkan tempat tersebut ponselnya berdering nyaring. “Sebentar!” Abhi mencoba menahan Nathan, ketika membaca siapa nama yang tertera di layar ponselnya.


Suara wanita pun menyambutnya ramah, Abhi dengan seksama mengamati dan mendengarkan apa yang diucapkan oleh wanita di ujung telepon. Tangannya yang kosong mengepal erat saat mendengar ucapan Farah. Nathan yang mendengar pun hanya menggelengkan kepala, seolah tidak percaya jika Farah melakukan itu padanya.


Setelah ponsel itu terputus, tubuh Abhi mendadak lemas, tenaganya seolah menguap bersama ucapan yang ia dengar dari istrinya. Ia mendudukkan tubuhnya di bangku kosong yang tadi di tempati oleh Nathan, mengusap rambutnya dengan kasar lalu menariknya kuat-kuat, meluapkan emosi dalam hatinya.


“Kita harus melibatkan polisi!” usul Nathan, saat menatap mata putus asa dari wajah Abhi. Tapi, sama sekali tidak mendapat respon dari Abhi.


“Kau hanya buang waktu, Bhi! Istrimu membutuhkanmu!” peringat Nathan, saat Abhi tak kunjung beranjak dari posisinya. “biarkan aku yang membawa mobilnya.”


Abhi kemudian berdiri, dia berjalan lebih dulu dari Nathan. “Ke gedung yang pernah kita datangi, feelingku mengatakan Farah membawanya ke sana,” ucap Abhi, setelah sekian lama menutup mulutnya.


Ia masuk ke mobil Nathan, dan meminta Nathan untuk melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi ke arah bangunan kosong yang pernah mereka datangi bersama.


“Kenapa Farah tega melakukan ini?” tanya Nathan, tapi pertanyaan itu tak mendapat jawaban dari Abhi. Pria itu masih diam, tenggelam dalam lamunan dan perasaan bersalah.


Setelah perjalanan kurang lebih dua puluh menit, mobil Nathan berhenti di depan bangunan kosong. Tanpa menunggu Nathan keluar lebih dulu, Abhi langsung keluar dari mobil milik sahabatnya.


Tulang rahang Abhi yang tegas semakin mengeras, ketika melihat mobil Farah terparkir di sana. Dia sudah tidak sabar untuk memberi pelajaran pada wanita itu. Saat tiba di mobil Farah, Abhi langsung menarik pakaian pria yang berada di samping Farah. Dengan kasar ia membawa pria itu keluar dari mobil, lalu menghempaskan tubuh pria itu ke tanah.


“Aku menyesal sudah menjadi pengacara wanita mu!” serunya, lalu menatap ke arah Farah. “di mana kau sembunyikan istriku!” wajah geram Abhi tampak jelas saat ini.


Farah terbahak, saat melihat ekpresi Abhi. “Secinta itu kamu dengan wanita itu! Dulu kau membelaku mati-matian dan sekarang kau ....”


Dengan cekatan Abhi meraih senjata api yang ia selipkan di belakang tubuhnya, lalu menembakkan ke udara. "Cepat katakan!" teriaknya.


“Kau tak akan menemukannya!” Farah tertawa sinis. “ugh, atau kamu ingin melihat istrimu dinikmati pria-pria itu!”


“Biadap kau!” seru Abhi, seraya mengarahkan ujung pisstolnya ke arah Farah, lalu menarik pelatuk senjata api tersebut.

__ADS_1


...--------BERSAMBUNG--------...


__ADS_2