
...Selamat Membaca...
“Mau dimulai dari mana?” tanya Naura, membuat Abhi melebarkan bibirnya yang sensual. “kita sudah dewasa harusnya tidak lagi bermain-main dalam berhubungan. Tapi aku juga takut untuk menjalin komitmen.”
“Aku akan menunggumu, Naura. Kita bisa saling mengenal dulu.” Abhi kembali meraih tangan Naura, sambil menatap mata bulat calon istrinya. Tatapan itu seolah berkata biarkan aku yang berjuang keras untuk meyakinkanmu.
Naura yang awalnya memasang tampang ragu, perlahan mulai luluh. Ia membalas genggaman Abhi, meletakan jemarinya di sela-sela jemari Abhi, lalu mencengkeramnya lebih erat lagi. “Be—beri aku waktu enam bulan. Kita jalani hubungan apa itu namanya—emm.” Naura tampak berpikir keras, seolah otaknya lumpuh saat ia sedang bersama Abhi.
“Pacaran?” sahut Abhi. Yang langsung mendapat jawaban gelengan kepala dari Naura. Gadis itu memejamkan mata, me-rilekskan pikirannya dengan menghirup aroma apel yang baru disemprotkan dari parfum elektrik. Lalu membuka matanya, menatap ke arah jendela kamar. “Aku inginnya lebih dari itu, tapi aku tidak bisa percaya gitu aja sama kamu!” ujarnya lirih.
Pria itu sengaja melepas genggaman tangan Naura. Membuat perasaan Naura kacau, seolah kehilangan sesuatu yang berharga di dirinya. Tapi, ia masih enggan mengakui itu pada Abhi.
“Tunggu! Aku jadi bingung.” Abhi kini berusaha menebak keinginan Naura. “Kamu mau aku halalin sekarang juga, kita panggil pak ustad dulu, aku gak masalah!? Aku siap, Naura!” tantang Abhi dengan suara lantang, wajahnya menunjukan keseriusannya.
“Chan! Bukan itu maksudku!” sanggah Naura cepat.
Abhi mendesah kesal, bukan mendengar sanggahan Naura. Tapi, panggilan itu membuat suara Naura menjadi lebih jelek dari biasanya. “Fix! Sebelum mama pulang, aku akan membawanya datang ke sini. Untuk mengatakan pada keluargamu, jika aku benar-benar serius menjalani hubungan ini! Aku juga akan mengenalkan mu pada keluarga besar ku, yang sangat penasaran dengan siapa jodohku!” kata Abhi diakhiri dengan senyuman lebar.
“Chan!”
“Bisa nggak, jangan memanggilku dengan sebutan itu?” Abhi menarik nafas. “aku tidak suka,” lanjutnya, setelah itu ia diam, karena sepertinya terlalu kasar dengan Naura. “Oke, baiklah kalau kamu memintaku untuk menunggu. Tapi kamu jangan terlalu khawatir dengan apa yang terjadi di depan sana. Kita sudah sering menyelesaikan masalah orang, aku tahu, kamu pasti takut tidak bisa menghadapi masalah yang akan datang.” Abhi kembali meraih tangan Naura, saat ingin mengecup punggung tangan tersebut, Naura segera menarik tangannya.
__ADS_1
“Naura, ini Abhi. Pria yang punya cara sendiri untuk mencintai wanitanya. Di hati Abhi, jika sudah ada satu, tak akan ada yang lain.” Abhi mencoba meyakinkan.
“Baiklah, enam bulan. Kalau kita bisa baik-baik saja. Aku siap menjadi istrimu.”
“Enam bulan? Tidakkah terlalu lama kita bermain-main.” Abhi tampak kecewa. “Usiaku sudah tidak muda lagi,” sungutnya, jelas sekali jika ia sudah tidak sabar.
“Jadi nggak mau? Ya, sudah. Aku tidak ingin salah pilih, aku ingin pernikahan sekali seumur hidup.”
Abhi membuang nafas lelah, lalu kembali meraih tangan Naura, kali ini genggamanya lebih erat. “Baiklah, enam bulan.”
Kesepakatan terjadi, dibarengi ponsel Abhi yang kembali berdering. Ia segera mengangkat, dan langsung mendapat cacian dari pria di seberang telepon.
Abhi terlihat geli mendengar pertanyaan Naura. “Ya, kita pacaran. Selama enam bulan, setelah itu kita bisa naik kelas. Menuju pelaminan.” Satu tangan Abhi menumpuk di atas punggung tangan Naura. “Aku akan buktikan padamu, kalau kamu tidak salah ... sudah menyerahkan hatimu padaku. Aku pulang, ya. Sampai ketemu di lain waktu.”
Ini aneh, Naura merasa aneh dengan dirinya, bisa-bisanya ia luluh dengan setiap kata yang diucapkan bibir sensual itu. Ia perlahan melepas tangan Abhi untuk merelakan Abhi pergi.
“Jadi kamu beneran jadian sama pria itu?” pertanyaan Alea menyadarkan dirinya dari dunianya yang sedang bermekaran.
“Iya, doain ya. Semoga enam bulan ke depan kita bisa melewatinya?” minta Naura.
“Kenapa lo nggak nikah saja sih? Enak kan halal. Bisa langsung malam pertama.” Saran Alea.
__ADS_1
“Hust! mesum!" Naura diam sejenak lalu menatap ke arah Alea. "Saat ini, banyak pekerjaan klienku yang berlawanan dengan firma hukumnya.” Jelas Naura. “Setidaknya, setelah ini aku bisa menolak pekerjaan jika pihak lawan menggunakan jasa Abhi.”
Alea mengangguk, sekarang ia sedikit paham, kenapa Naura meminta waktu untuk mengenal Abhi, “kenapa kalian nggak buka firma hukum saja. A&N Law.” saran Alea.
“Itu yang baru aku pikirkan, saat ini,” sahut Naura cepat.
“Gila, sudah sebucin itu kamu sama dia,” ledek Alea. Naura tertawa keras, menanggapi ekpresi sahabatnya yang tampak aneh.
“Siapa namanya tadi?” selidik Alea.
“Abhichandra Damanik. Bayangin saja deh gimana nanti kalau namanya berada di bawah namaku, ditulis dengan tinta emas di kertas undangan berkelas.” Naura menarik nafas dalam-dalam. “The Wedding Naura Putri Ramones And Abhichandra Damanik.”
“Mendingan lo pesan sekarang deh kartu undangannya, keburu tinta emasnya kadaluarsa!” Alea lalu berdiri setelah berhasil menarik hidung Naura.
“Selamat deh, ya. Jangan lupain aku yang masih jomblo, entah sampai kapan.”
Saat Naura hendak menjawab, ponselnya berdering. Dia menatap ke arah layar. Nomor yang tertera belum tersimpan di buku teleponnya. Dia sudah sering seperti ini, ditelepon kliennya di saat waktu yang tidak tepat. Tidak terlintas di benak Naura jika yang menelepon adalah wanita yang berhubungan baik dengan Abhi.
...----------------...
JANGAN LUPA LIKE, VOTE, DAN KOMENTAR YA. Sama itu, yang punya aplikasi K B M bantu SUBSCRIBE cerita Ella judulnya Kudapat Jandanya. Terima kasih.
__ADS_1