
Happy Reading, jangan lupa votenya đđ
.
*
*
Ella berjalan menghampiri Keisya yang sudah terlihat dari arah ke jauhan,
terlihat tangan Keisya sudah menyambut pelukan hangat Ella.
" Assalamuâalaikum Key, " ucap Ella.
" Waâalaikumsalam Kak, " jawab Keisya yang sudah memeluk Ella.
" Di mana calon suamimu? " tanya Ella saat melihat Keisya datang sendiri.
" Em... Dia baru ke toilet Kak, tunggu sebentar ya, " Ella mengangguk dan duduk di kursi.
" Bagaimana kabar Kakak, Keisya minta maaf karena kemaren tidak bisa ikut datang ke acara Kakak, " ucap tulus Keisya.
" Nggak papa Key, santai saja. Jangan merasa bersalah seperti itu, " ucap Ella.
Tak berapa lama terdengar seorang laki- laki memanggil Ella.
" Ella, " ucap lelaki itu, Ella yang merasa di panggil segera menoleh ke arah suara.
" Deven, "ucap Ella kaget. Saat melihat Deven berdiri di depannya.
" Hay, gimana kabarmu? " tanya Deven sambil mengulurkan tangan ke arah Ella.
" Aku baik, kamu? " tanya Ella balik.
" Seperti yang kamu lihat, aku akan segera menikah, " ucap Deven lalu segera menghampiri Keisya.
" Berhubung Kak Ella sudah mengenal calon suamiku, jadi sepertinya aku tidak perlu lagi memperkenalkan Deven ke Kakak, " ucap Keisya menjelaskan.
" Tunggu! " ucap Ella, " Apa Deven calon suamimu? " tanya Ella yang diangguki oleh Keisya.
" Benar-benar kejutan, " ucap Ella sambil tersenyum ke arah keduanya.
" Ayo Kak, karena masih ada lagi kejutan untukmu, " ucap Keisya, namun Ella masih menatap Deven, seolah meminta penjelasan kenapa Deven bisa bertemu Keisya.
Saat di perjalanan, Keisya menceritakan semua kisahnya, bagaimana dia bisa bertemu dengan Deven, yang dulu sempat menjadi rival kakaknya, justru sekarang menjadi jodohnya. Ella ikut bahagia mendengar perjalanan cinta mereka yang begitu indah.
__ADS_1
Ella menatap pemandangan alam dari jendela, kota yang baru bisa dia datangi saat ini, padahal dulu rencana dia akan datang bersama Kenzie, namun rencananya pupus karena Kenzie sudah di panggil oleh Yang Maha Kuasa.
Ella segera turun saat mobil sudah berhenti di rumah bangunan kayu, rumah khas adat Kalimantan Selatan, terlihat bunda Kenzie sudah menyambutnya.
" Assalamuâalaikum Bun, " salam Ella pada wanita paruh baya yang tengah berdiri di depannya.
" Waâalaikumsalam Sayang, gimana kabarnya? " jawab bunda Kenzie yang sudah memeluk Ella.
" Alhamdulillah sehat Bun, " ucap Ella.
" Apa kamu tau, dari tadi suamimu sudah berkali-kali menghubungi Bunda, " ujarnya.
" Benarkah? " ucap Ella lalu melepaskan pelukkannya dan menatap bunda Kenzie.
" Iya, dia khawatir dengan kondisimu, Bunda baru tau jika kamu tengah hamil muda, harusnya kamu tunda dulu untuk datang kemari, " ucap bunda Kenzie menasehati Ella.
ââ Hehehe, sudah terlanjur Bun, yang penting Lala selamat sampai sini, Lala senang bisa bertemu dengan Bunda disini, " ucap Ella.
" Sudah ayo, kita temui Ayah Kenan, dia sudah menunggumu di meja makan, " ajak bunda Kenzie.
Ella lalu mengikuti bunda Kenzie untuk masuk ke dalam rumah adat itu, walau terbuat dari kayu tapi rumahnya tampak dingin, lantainya juga nampak mengkilat walau hanya dari kayu ulin, dia berjalan menghampiri ayah Kenan yang sudah berada di meja makan.
" Assalamuâ alaikum Yah, " ucap Ella.
" Waâalaikumsalam Re, gimana kabarnya, "
Mereka bertukar cerita saat makan siang bersama, sambil menceritakan kegiatan anak-anak panti disana.
" Pasti akan sangat senang, jika mereka semua bertemu denganmu, " Ella hanya tersenyum sambil mengunyah makanannya, kerena teringat ucapan Kenzie dulu saat ingin mengajaknya kesini.
" Istirahatlah, pasti kamu capek, kasian calon anakmu, " ucap bunda Kenzie, lalu segera mengantarkan Ella ke kamar bekas Kenzi dulu. Karena itu satu-satunya kamar yang kosong saat ini.
" Ini kamar Kenzie Bun? " tanya Ella.
" Iya, hanya ini kamar yang kosong, " ucap bunda Kenzie. " Atau kamu mau ke panti tidur di kamar anak-anak? " lanjutnya menawari Ella.
" Nggak usah Bun, biar Ella disini saja, " ucap Ella.
" Baiklah, Bunda tinggal ya, kalau ada apa-apa jangan sungkan untuk minta tolong pada Bunda, " ucap bunda Kenzie, Ella hanya mengangguk lalu segera masuk ke dalam kamar, kamar mantan calon suaminya, dia tersenyum menatap gambar-gambar yang tertempel di dinding, dia baru tau kalau Kenzie ternyata benar-benar pandai melukis, matanya menatap lukisan sket yang mungkin baru setengah jadi, tapi nampak begitu indah, lukisan itu nampak seperti dirinya, dia lalu berjalan mengambil lukisan itu, mengamati tulisan tangan di ujung lukisan, Rehuella Zipora. Ella tersenyum saat mengetahui tulisan itu adalah namanya, dia sadar jika itu memang gambar dirinya. Dia lalu berjalan ke ranjang merebahkan tubuhnya di sana, melupakan ponsel yang sedari tadi belum di aktifkan
Di sisi lain Erik tengah gusar karena tak kunjung mendapatkan kabar dari istrinya.
" Bu Santi, apa besuk tamu dari Australia jadi datang ke sini? " tanya Erik pada assistannya.
" Jadi dok, apa dokter mau saya ambilkan makan siang dulu, " tawar Bu Santi pada Erik yang sedari tadi tidak makan apapun.
__ADS_1
" Nggak usah bu, nanti saja, " ucap Erik.
" Tapi dokter Erik belum makan dari tadi, " ucap bu Santi.
" Nggak papa Bu, tinggalkan saya sendiri, " ucap Erik yang mulai sedikit emosi menghadapi bu Santi.
" Ini yang Mas paling nggak suka dari kamu Yang, selalu mengabaikan Mas, saat-saat jauh seperti ini, " ucap Erik sambil memijit pelipisnya karena merasa sedikit pusing.
Dia khawatir dengan kondisi istrinya tapi Ella tak memberikan kabar apapun padanya, sekali lagi dia berusaha menghubungi ponsel istrinya, namun masih sama belum aktif juga, dia akhirnya menelepon bunda Kenzie menanyakan kabar istrinya.
" Hallo Bun, Assalamuâalaikum, " ucap Erik saat ponselnya tersambung.
" Waâalaikumsalam, kenapa Nak? " tanya bunda Kenzie.
" Apa Lala sudah sampai Bun? Kenapa ponselnya aku hubungi tidak tersambung, " keluh Erik pada bunda Kenzie.
" Ella sudah sampai satu jam yang lalu Nak, mungkin dia tertidur, tadi selesai makan siang ibu antar dia ke kamar, " jelasnya.
" Ow. Gitu ya, baiklah terima kasih Bun, Erik nitip Lala ya, tolong jangan sampai dia terlalu capek, " pesan Erik.
" Iya, pasti ibu akan menjaga istrimu, " jawab bunda Kenzie.
Erik lalu segera mematikan ponselnya, menatap wallpaper di layar yang dia pegang itu, melihat dengan seksama wajah istrinya yang tengah tertawa, bibir merah ranum milik istrinya selalu membuat dia ingin mengecupnya, Erik menghela nafas panjang menyandarkan kepalanya di kursi, menikmati masa-masa rindunya yang baru di tinggal setengah hari oleh belahan jiwanya.
***
Ella terbangun saat ada seseorang memasuki kamar Kenzie, matanya melotot sempurna saat melihat lelaki itu berjalan mendekatinya, dia ingin mengatakan sesuatu tapi mulutnya hanya terbuka tanpa bisa mengeluarkan suara, lelaki di depannya ini menatap Ella dengan tajam.
" Siapa kamu? " ucap lelaki itu.
" Kenzie? " ucap Ella sambil mengusap matanya, bahwa yang dia lihat benar Kenzie atau bukan.
Lelaki itu segera merebahkan tubuhnya di samping Ella, Ella yang menyadari itu langsung turun dari ranjang dan keluar kamar.
" Bun ... Bun..., " teriak Ella berjalan mencari- cari bunda Kenzie, namun dia tidak menemukan bunda Kenzie.
" Mbak, Ibu kemana? " tanya Ella pada pelayan yang ada di dapur.
" Ibu keluar Mbak, dengan Mbak Keisya dan Bapak, " jawabnya.
Ella yang mendengar itu, langsung lemas sambil memegang kepalanya yang sedikit pusing,
" Apa Mbak baik-baik saja? " ucap pelayan itu saat melihat wajah Ella yang sudah pucat.
" Saya baik-baik saja Mbak, " ucap Ella lalu segera berjalan menuju sofa depan tv. Dia tidak ingin kembali ke kamar itu lagi, dan harus bertemu lelaki itu.
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca karya saya, semoga sehat selalu, jangan lupa untuk vote dan likenya ya.đđđ