Kepincut Cinta Dokter

Kepincut Cinta Dokter
Extra Part : Kisah Cinta Naura


__ADS_3

NAURA berharap semua urusan hari ini akan berjalan lancar. Meski ia tahu, kerjasama dengan perjaka usang itu, sangat membosankan serta menegangkan. Karena terkadang ia seperti mendapat serangan jantung mendadak.


Satu tarikan nafas keluar kasar dari bibirnya. Setelah merasa siap, ia mengangkat kepalanya, menatap lurus ke depan. Dari posisinya saat ini, ia bisa melihat mobil Abhi sudah terparkir manis menghadap barat, tepat di sisi sebelah kanan pintu masuk rumah mewah Martinus.


Naura menarik tuas pintu mobil, kemudian melangkah menuju pintu utama. Hari ini, ia sengaja mengenakan celana panjang pensil warna khaki, serta blazer coklat tua yang membalut kaus warna putih. Agenda hari ini, setelah ia menemui Martinus, ia berniat menemui Susan.


"Selamat pagi, Bu. Saya ada perlu dengan pak Martinus—apa beliau ada?" sapanya, bertanya pada wanita yang tengah membersihkan guci di dekat ruang tamu.


Wanita itu menjawab ramah sambil mengamati wajah Naura, seolah mengingat siapa wanita di depannya saat ini. "mari saya antar, Bu!" ujarnya setelah beberapa detik, meminta Naura untuk mengikuti langkahnya. Naura pun menurut dan mengikuti wanita tersebut.


Saat pintu ruangan Martinus terbuka, ia bisa melihat Abhi duduk tegap di depan meja kerja Martinus. Terlihat serius, seperti tengah membicarakan hal penting. Tapi, Naura tidak mau tahu, yang penting sekarang, ia harus segera mendapatkan alamat tempat tinggal ibu Susan.


"Maaf menganggu, Pak. Selamat pagi." Naura berjalan masuk, mendekat ke arah meja pak Martinus.


"Silakan duduk, Nak!" Naura mengangguk diiringi senyuman tipis sebagai jawaban, lalu mendaratkan bokongnya di kursi kosong, sebelah pria dingin yang kini sedang meliriknya tajam.


"Ada apa, ini? Kebetulan saya sedang berbincang dengan—


"Bapak saya permisi dulu," potong Abhi yang sudah berdiri, hendak menyalami pria tua tersebut, dan bersiap meninggalkan ruangan.


"Kenapa buru-buru? Nggak mau menyapa dulu, ini pathner mu, Bhi!" seru Martinus mencoba menahan kepergian Abhi. Tanpa menjawab dengan suara, Abhi tersenyum tipis, beberapa detik kemudian ia meninggalkan ruangan Martinus.


Setelah kepergian Abhi, barulah Naura mengatakan maksud kedatangannya. Ia ingin berkunjung ke rumah wanita yang saat ini masih berstatus sebagai istri Martinus.


"Untuk apa Anda mendatanginya?" Martinus justru bertanya.


"Nggak papa, Pak. Saya hanya ingin mengenal beliau lebih dekat. Siapa tahu bisa mendamaikan bapak dengan ibu Susan."


Brak!


Suara gebrakan meja terdengar memenuhi ruangan. Naura sedikit memundurkan kursinya, takut-takut kemarahan Martinus akan berlanjut. Apalagi setelah mendongak dan melihat wajah Martinus berubah merah padam.

__ADS_1


"Kamu hanya perlu mengurus surat perceraianku dengan wanita itu! Tidak dengan yang lain!" peringat Martinus.


Naura menatap kesal pria di depannya. "Bapak juga harus tahu! Pengadilan tidak akan mengabulkan, jika alasannya hanya karena bosan. Oleh karena itu saya ingin menemui istri Anda. Siapa tahu dia punya alasan kuat untuk bercerai dengan Bapak." Naura berusaha mencari alasan yang tepat untuk meyakinkan pria tua tersebut, bahwa dia berada di pihaknya.


Martinus diam, tatapannya menusuk tepat di mata Naura. Tapi, tangannya dengan lincah membuka laci, mengambil kertas warna coklat muda lalu menyodorkan ke depan Naura. "Saya tidak akan bertanggungjawab, dengan apa yang terjadi denganmu, jika kamu tetap nekad menemui wanita ini." Martinus mengambil nafas dalam. "Dia keras kepala!" Katanya, kemudian.


Naura bergegas mengambil kertas yang disodorkan Martinus. Membaca sejenak alamat yang tertera di sana. "Terima kasih, Pak." Senyum Naura merekah, lalu segera berdiri, berpamitan dan bergegas meninggalkan ruang kerja Martinus.


Namun, saat Naura membuka pintu, ia dikejutkan dengan tindakan Abhi yang langsung menarik tangannya dengan kasar.


"Lepas, Bhi! Ini kekerasan, aku bisa melakukan visum dan menuntutmu!" lirih Naura dengan nada tegas, langkahnya terseok-seok mengikuti derap langkah Abhi yang panjang.


"Ikut aku!" ketus pria itu, tanpa menoleh ke arah Naura yang kualahan.


"Aku nggak mau!"


"Aku akan memaksamu!"


Abhi menghentikan langkahnya, mengeratkan genggaman di pergelangan tangan Naura, lalu menatap tajam ke arah Naura yang sedang mencebikkan bibir tipisnya. Merasa menang, tapi dia kesal.


"Abhi. Lepas Abhi!" teriak Naura yang merasakan sakit di pergelangan tangan. Tapi, Abhi seolah tuli, ia melanjutkan langkahnya, mendekat ke arah mobil Mercedes warna putih yang ada di depan rumah Martinus.


"Abichan, lepas! Ini sakit!" teriak Naura, lagi. Saat mereka berada di halaman rumah Martinus. Tapi tetap saja, Abhi tak membiarkan tangan itu terlepas. "Chachan!"


Abhi berhenti, berbalik menatap Naura, kali ini lebih dalam, ada sorot amarah di matanya. "Jangan memanggilku dengan sebutan itu!"


"Woah, ada apa ini? Apa mengingatkan masa lalumu!" Naura dengan cepat mengibaskan tangan Abhi, saat pria itu lalai. Berhasil. Dia lalu berjalan ke arah mobilnya. Berniat meninggalkan Abhi.


Ia ingin segera bertemu dengan Susan, mengenal lebih dekat perempuan itu. Siapa tahu bisa menemukan apa yang terjadi sebenarnya. Tanpa ia duga sebelum tiba di mobil, tubuhnya melayang bebas, kepalanya beralih di punggung kekar Abhi. Pria itu menggendongnya layaknya tukang kuli yang sedang memikul beras.


Abhi membuka pintu mobil, meletakan tubuh Naura di kursi samping kemudi, memasangkan seatbelt Naura dengan kasar. "Nurut dan diam!" peringatnya sambil menikmati wajah Naura yang merah padam. Setelah puas, ia menutup pintu mobil dengan keras. Bergegas memutari mobilnya, supaya wanita itu tidak mencoba kabur.

__ADS_1


Dalam perjalanan, Naura benar-benar mengunci bibirnya. Dia berusaha keras, menghindari kontak mata dengan Abhi. Menatap ke jalan yang perlahan mulai meninggalkan kota Jakarta menuju kota Bogor.


Dua jam tanpa kata, hanya kebisingan dari kendaraan yang menyapa. Tak ada suara yang keluar dari bibir keduanya. Sampai tepat pukul satu siang Abhi menghentikan mobilnya di salah satu rumah makan pinggir jalan. Naura masih diam, pura-pura terlelap, saat Abhi memintanya untuk turun.


"Mau turun atau mau aku cium, di sini!" Abhi berbisik di samping telinga Naura, membuat gadis itu langsung membuka mata, khawatir jika pria itu berbuat nekad.


Naura bergegas turun, tanpa meninggalkan sepatah kata untuk Abhi. Saat ia masuk ke rumah makan yang tidak terlalu luas. Hidung Naura disambut dengan aroma masakan yang mengguncang perutnya.


Sepanjang jalan masuk ke arah meja, berjajar aneka menu lalapan. Mulai ayam sampai ikan, dari mentimun sampai terung kecil, sayuran hijau yang sebagian sudah direbus, beberapa macam sambal yang menggoda lidah juga tersaji di meja, mulai sambal warna hijau hingga sambal kecap. Naura yang sudah lapar bergegas mengambil piring dari anyaman rotan, yang sudah dilapisi daun pisang. Perutnya tidak bisa sekejap saja menahan godaan.


Setelah selesai ia mendekat ke arah kasir, berniat untuk membayar. Ia disapa ramah oleh penjaga yang bersiap menghitung total makanan yang sudah ia ambil.


"Suaminya nggak dilayani, Mbak?" tanya penjaga kasir.


Naura menoleh ke arah pintu masuk, melihat Abhi yang tengah mencuci tangannya dengan sabun. "Biar dia ambil sendiri." Jawaban kasar Naura membuat wanita di depannya menatap ke arah Abhi.


"Ceritanya pasangan lagi merajuk, ya?" ledek kasir wanita sambil menyembunyikan tawa.


Tanpa menjawab, Naura menatap Abhi. "Chan, tolong bayar sekalian, nanti gue ganti!" serunya saat Abhi menoleh ke arahnya.


"Dih, romantisnya, suami istri minta dibayarin," celetuk penjaga kasir. Tapi, tatapan Naura semakin tajam, dan segera meninggalkan meja kasir, ia mengambil duduk yang hanya ada dua kursi satunya ia gunakan untuk meletakan blazernya. Sengaja ia melakukan itu supaya Abhi tidak mendudukinya.


Abhi yang peka, memilih duduk dekat jendela kaca yang tengah mempertontonkan hamparan kebun teh, mulai menikmati makanan yang sudah ia ambil.


Naura pun begitu, seolah mereka berdua tak saling kenal. Ia mengabaikan Abhi, memilih menikmati makanan di depannya. Sesekali menoleh ke belakang, mengamati Abhi, yang tampak memikirkan sesuatu.


Setelah makanannya tandas tak bersisa, Naura sengaja menunggu Abhi masuk lebih dulu ke mobil. Tapi, yang terjadi Abhi justru kembali melontarkan kata yang membuatnya mendidih.


"Kalau mau makan semeja denganku, bilang saja. Nggak takut tu leher terkilir!" ujarnya sambil menyembunyikan tawa. "Aku tinggal ke masjid dulu!" gumamnya, tapi masih bisa didengar Naura.


...----------------...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE, VOTE, KOMENTAR, DAN GIFT...


__ADS_2