
...Selamat Membaca...
Rombongan keluarga Abhi disambut ramah oleh pihak keluarga Erik. Di depan pintu utama, ada Damar dan Sashi dengan warna baju yang serasi. Ditambahi Ghea beserta suaminya, yang ikut berdiri di samping Sashi.
Deretan selanjutnya ada Kenzo dan Riella yang sedang hamil. Baim dan Shaqueena entah berada di mana, kelakuan mereka berdua super hiperaktiv, berlarian sana-sini. Tapi tetap, masih aman dalam pengawasan mbok Yem.
Di sebelah mereka ada Anna dan Panji hanya Alea yang mereka bawa, karena kedua anaknya sibuk dengan urusannya masing-masing.
Mereka semua melebarkan senyuman menyambut rombongan keluarga Abhi yang ternyata melebihi 40 orang. Dan Alby, kini bertugas menuntun rombongan keluarga Abhi untuk duduk di kursi yang sudah disediakan.
Acara pagi ini sengaja diselenggarakan di dalam rumah, mengingat bulan ini tengah musim hujan. Takut jika nanti tiba-tiba turun hujan dan membubarkan para tamu yang hadir. Erik tidak mau itu terjadi, mengingat ini acara spesial untuk Naura.
Meski begitu, tak mengurangi keindahan dekorasi rumah Erik. Aroma bunga asli bukan bunga palsu tetap menusuk ke hidung para tamu undangan. Aromanya bercampur menjadi satu, mampu membuat rileks para tamu undangan.
Abhi berjalan mendekat ke arah kursi, sesuai petunjuk Alby. Di depan kursi kosong itu sudah ada Erik dan Ella yang sudah berdiri, bersiap menyambutnya.
Pasangan lansia itu tetap kompak, Ella pagi ini mengenakan baju kebaya asimetris warna merah, serasi dengan corak kemeja batik yang dikenakan Erik. Mereka dengan ramah menyalami keluarga Abhi. Ella bahkan tampak akrab dengan Widya dan Eyangnya Abhi. Padahal ini baru pertemuan kedua kalinya Ella dengan Widya. Tak kalah ramah, ia juga memeluk erat Eyang dari Abhi. Wanita yang lebih tua darinya itu sampai berkaca-kaca saat melihat keramahan keluarga Ella.
__ADS_1
Setelah tamu duduk di tempatnya masing-masing, pembawa acara pun mulai berbicara. Mengucapkan salam pembukaan, basa-basi lebih dulu, demi mencairkan suasana, yang sedikit menegang. Memberikan candaan untuk Abhi, supaya pria berkemeja biru navy itu, juga larut dalam acara lamaran.
Sampai akhirnya, giliran microfon yang ada di tangan pembawa acara, dipasrahkan pada Abhi. Sempat ada teriakan di belakang tubuh Abhi memberikan dukungan, tapi tetap saja ia bisa merasakan debaran hati yang terlalu menyiksa.
Abhi menoleh ke arah mamanya, meminta dukungan. Lalu berbisik di samping telinga eyang. "Doain ya, Eyang," minta Abhi lalu beranjak dari tempat duduknya. Ia berjalan ke arah tempat yang sudah didekorasi sedemikian rupa. Tertulis dengan jelas inisial namanya dan nama calon istrinya. Bunga mawar putih dan komplotannya pun terpasang di atas tulisan tersebut.
Abhi menerima sebucket bunga warna putih yang diberikan Nathan. Bibirnya mulai bergerak mengucapkan salam, terdengar jelas suaranya bergetar. Ia terus mencoba mengatur degup jantungnya, sampai ia siap untuk mengatakan niatnya.
“Dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim, dan niat karena Allah—serta ridho dari orang-orang yang Abhi sayangi, mama, Eyang dan keluarga besar Damanik.” Abhi menatap ke arah rombongan yang tadi ia bawa, ke arah Nathan juga yang sedang menertawakannya tanpa suara.
Erik dengan ketampanan yang belum luntur, berdiri dari posisi duduknya, mendekat ke arah Abhi dan menerima microfon dari pembawa acara. Ia manarik nafas sejenak karena sempat diserang demam panggung selama 10 detik, setelah itu ia berhasil mengendalikannya.
“Nak, Abhi … saya sebagai orang tua Naura, jujur bahagia sekali, karena Nak Abhi sudah mau mencintai Nana, putri kesayangan kami.” Erik melirik istrinya yang sedang mengusap sudut matanya.
“Namun, kami di sini tidak berkapasitas untuk menerima lamaran, Nak Abhi. Karena pada akhirnya, yang akan menjalani hubungan ini adalah Nak Abhi dan putri kami. Jadi, sepenuhnya kami serahkan pada Nana.”
Suasana ruangan yang tadi sempat riuh, kini hanya alunan music lembut yang menanti kehadiran Naura. Semua mengarah ke arah tangga lantai dua.
__ADS_1
“Tapi tunggu dulu!” Erik mengangkat tangan, mencoba menghentikan pemain pianis yang tengah menekan tuts keyboard. Semua orang mendadak tegang menatap ke arah Erik. Abhi pun juga tak mau kalah, kedua sisi alisnya yang tebal hampir menyatu.
Sedangkan Erik hanya tersenyum jahil sambil mengangguk. Dia memutar tubuhnya, lalu berjalan ke arah kamar yang ada di lantai bawah, untuk menemui orang yang tengah bersembunyi di kamar tersebut.
Semua tamu tegang, menatap pintu warna coklat, di mana tadi Erik masuk. Lalu bernafas lega saat bunyi erangan dari engsel pintu itu terdengar.
Saat Erik keluar dari kamar, ada dua orang yang mengapit dirinya. Dua wanita dengan dandanan dan baju kebaya yang sama. Mereka kompak berjalan mendekat ke arah Abhi.
Abhi pun hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil terkekeh ke arah keluarga besar Damanik, ia paham maksud Erik.
“Kami beri tawaran untukmu. Pilihlah mana yang namanya Naura, kalau jawabanmu hari ini benar. Silakan bawa pulang hari ini juga. Kamu lihat!” Erik menatap dua orang yang tadi duduk di belakang kursinya.
"Sudah ada penghulu, dan perwakilan dari KUA menyaksikan ini!"
...----------------...
...Like, vote, dan komentar.❤️...
__ADS_1