Kepincut Cinta Dokter

Kepincut Cinta Dokter
Tanggal Tujuh Bulan Tujuh


__ADS_3

...Selamat Membaca...


Di dalam mobil mini cooper warna putih yang dikemudian Abhi, tatapan Naura terus ke arah kertas foto yang ada di tangannya, pemberian dari dokter Lusy. Mulutnya terus-terusan membentuk senyuman saat menatap potret mungil calon anaknya. Janin itu baru berusia tujuh belas minggu. Tapi dokter Lusy sudah seratus persen yakin, jika calon anak mereka berjenis kelamin laki-laki.


Lebih menyenangkan lagi, saat melihat tingkah calon anaknya di layar monitor. Gerakan kaki yang terus menendang-nendang dan tangan mungil yang menutupi sebagian wajah, membuat calon orang tua itu gemas. Bayi itu seolah ingin memberi surprise kepada kedua orangtuanya, seperti apa rupanya nanti, dan itu membuat Naura semakin tak sabar untuk segera berjumpa dengannya.


Hari ini dokter Lusy mengizinkan mereka untuk melakukan USG 4D jadi hasil gambar yang diberikan terlihat lebih jelas.


“Anak kita ganteng nggak ya, Bhi?” Naura bertanya sambil menyimpan gambar USG itu ke dalam tas.



“Masa iya, aku ganteng kamu cantik anaknya jelek!” tutur Abhi, pandangannya ke arah pos penjaga rumah, penjaga rumah berusia 45 tahun itu lekas membukakan pintu gerbang untuknya. “Yang pasti … kalau ganteng kaya aku, kan?.” Abhi mematikan mesin mobilnya setelah tiba di halaman rumah.



“Siap-siap ya … jangan bawa baju banyak!” pesan Abhi saat mereka sudah keluar dari mobil, tangannya segera merangkul pundak Naura.



“Kenapa memangnya?” *Bangkok bukan surganya fashion jadi nggak mungkin akan berbelanja pakaian di sana*. Naura berucap dalam hati.


“Di sana musim panas, Sayang … pasti kamu gerah. Kalau gerah nggak usah pakai baju, pakai kain tipismu saja! Biar gampang juga!” Abhi mengakhiri ucapannya dengan senyuman simpul, kemudian sedikit menjauh dari istrinya saat merasakan sesuatu sedang mengancam.


Wajah Naura tampak menyesal kenapa harus berdiri tegak dan membuka telinganya lebar-lebar, hanya demi mendengar perkataan suaminya yang—hampir menyaingi papanya itu. “*nyesel* deh aku … beneran nyesel banget! Kenapa harus mendengarkan ocehanmu nggak berbobot itu!” Naura menggeram sambil berjalan memasuki ruang keluarga. Sedangkan Abhi mengekori langkah istrinya, terbahak tanpa suara.



“Dokter Lusy sudah mengizinkan kita untuk berbagai macam gaya, jadi ya—



Bugh!



Karena tidak ada angin yang lewat, bantal sofa yang dilempar Naura tepat mengenai wajah Abhi. Membuat pria itu tidak mampu untuk melanjutkan ucapannya.



“Dah, deh, kamu yang siap-siap, biar aku bersih-bersih rumah dulu! Itu masih ada cucian piring menumpuk!” perintah Naura.


Asisten rumah tangga yang dipekerjakan Naura sedang cuti untuk pulang kampung. Jadi kondisi rumah mereka saat ini cukup memprihatinkan.


“Kamu sengaja ya … biar aku memasukan baju-baju seexy mu itu ke koper, iya … kan?” ucap Abhi, berusaha menggoda Naura, senyumnya pun tak pudar, hingga beberapa barisan gigi depan mengering terkena udara.


“Pergi!” sentak Naura, yang tiba-tiba menjadi singa betina. Ia sudah lelah setiap hari menanggapi sikap Abhi yang seperti ini.


“Dah kamu duduk saja, ntar kecapek’an, biar aku yang beresin rumah.” Abhi menuntun istrinya untuk duduk di sofa, mengangkat kedua kaki Naura untuk naik ke sofa, kemudian meletakan bantal di bawah kaki tersebut. “Tidur ya, anak manis!” Abhi membaringkan Naura, supaya wanita itu bisa beristirahat dengan nyaman. Tapi Naura memberontak, dia tidak mau tidur dengan pakaian kerja seperti ini.


“Aku mau ganti baju dulu, biar tidurnya nyaman. Kamu beresin rumah, biar aku yang beresin barang-barang kita yang akan dibawa ke Bangkok!” keputusan Naura mutlak, dan Abhi menurut dengan ucapan istrinya. Membereskan setiap sudut rumah hingga semuanya bernar-benar bersih sebelum mereka tinggal pergi.

__ADS_1


...----------------...


Pekerjaan Abhi sudah beres menjelang adzan maghrib berkumandang. Saat ia masuk ke kamar untuk melihat Naura, ia justru melihat istrinya sudah terlelap di atas ranjang. Pandangan matanya tertuju ke arah dua koper yang siap tarik, dan tas jinjing milik Naura yang diletakan di atasnya.


“Bandel sih, kelelahan, kan?” gumam Abhi. Kemudian berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan diri.


Setelah keluar dari kamar mandi, Abhi terpaksa membangunkan Naura. Meminta istrinya untuk mandi dan bersiap karena setelah shalat isya’ mereka akan berangkat menuju bandara.


“Mau makan malam apa, Sayang?” tanya Abhi, dengan posisi sudah berdiri di depan pintu kamar mandi, demi bisa mendengar jawaban istrinya.


“Nanti saja makan di pesawat, Bhi. Aku pengen makan sambil menikmati langit malam,” jawab Naura.


“Astaga, anakku lapar nanti, Sayang? Kasihan nanti kamu mual karena dia protes?.”



“Dia bilang masih tahan, kok! Katanya kalau lapar suruh makan papanya saja!”



“Jangan ngodain gitu, deh, aku masuk nih!” ancam Abhi.


Terdengar suara tawa dari bibir Naura. “Iya, Sayang … nggak usah makan di rumah. Kita berangkat lebih awal saja, biar bisa makan di kabin, kan lumayan uangnya buat beli oleh-oleh!” ucap Naura sambil membuka pintu kamar mandi, menatap suaminya yang berdiri di depan pintu.


“Kamu mau kita pemanasan dulu? mumpung aku masih pakai sarung nih!” goda Abhi saat melihat Naura hanya menggunakan handuk, tampak menggoda dengan rambut yang masih basah.


“Emang bisa gituan pakai sarung? Dasar. Kepalamu itu kalau masuk ruang EEG pasti 95 persen isinya mesum!” cibir Naura sambil berjalan ke arah ruang ganti. Mencari pakaian yang nyaman, untuk bepergian.


“Kamu sendiri yang mulai tadi. Bisa loh aku pakai sarung asal sarungnya diangkat ke atas dulu! mau tes?”


“Syukurin salah sendiri godain aku!” Abhi menjulurkan lidahnya saat wajah Naura merah padam karena malu.


...----------------...


Tepat pukul 9 malam pesawat komersil yang ditumpangi Abhi dan Naura take off menuju bandara Suvarnabhumi. Satu tas jinjing yang dibawa Naura berisi aroma teraphy untuk pereda mual, sedangkan ransel di tas Abhi kini berisi makanan ringan.


Saat perjalanan menuju bandara, taxi yang mereka tumpangi terjebak macet. Jadi saat tiba di bandara jam check in sudah dibuka. Alhasil, Abhi memilih membeli snack ringan untuk camilan sebelum pramugari memberinya makan.


“Kau tidak ingin tidur, Sayang?” tanya Abhi, saat melihat wajah Naura menghadap ke arah jendela.


“Enggak aku belum ngantuk.” Naura menoleh sebentar ke arah Abhi menepuk lembut pipi suaminya kemudian melihat lagi ke arah jendela.


“Apa sih yang kamu lihat? Hitam gitu aja, loh! Mendingan lihat ke arahku!” cibir Abhi.


“Kamu sih sudah tiap hari aku lihatin, Bhi!”


“Bosan nggak?”


“Kadang sih iya. Kamu tahu nggak aku itu orangnya bosenan, kalau sudah bosan biasanya aku ganti semuanya. Tapi, berhubung kamu itu suamiku, dan tidak mudah tergantikan dengan barang baru. Jadi, ya aku akan menggenggamu erat. Karena kehilangan itu sakit, kalau sakit hati sulit diobati.”


“Tidur deh, Yang sepertinya bicaramu mulai aneh! Nggak nyambung!” titah Abhi sambil meletakan kepala Naura di bahunya.

__ADS_1


“Aku mau tanya sama kamu, Bhi. Tapi jawab serius ya … jangan ada kebohongan di antara kita!”


“Em, kenapa?”


“Apa yang membuatmu jatuh cinta sama aku?”


“Sederhana sekali pertanyaanmu.”


“Iya, tapi jawab jujur!” Naura sedikit mengangkat kepalanya demi melihat wajah Abhi.


“Lebih cenderung ke butuh sih!”


“Kok gitu?”


“Bayangin deh, Yang … aku makan pagi butuh kamu buat nyiapin, dari semua aktivitasku semuanya perlu bantuan kamu. termasuk … aku nggak mau lanjutin lah, nanti kena timpuk.” Abhi tertawa renyah. “Bahkan untuk menciptakan generasiku aku juga butuh kamu!”


“Nggak paham, aku.”


“Sama.”


“Nyebelin banget! oke baiklah karena jawabanmu tidak memuaskan aku kasih pertanyaan lagi sama kamu.”


“Heem, apa yang mau kamu tanyakan!”


“Kenapa … password laptopmu masih 0707?” Naura mempertemukan matanya dengan mata Abhi.


“Lah emang kenapa dengan angka 0707? ada yang salah”


“Lah, kok kamu malah balik yang tanya?”


“Kamu ingat nggak waktu kamu mecahin spion mobilku?”


“Kapan?”


“Dulu pertama kita bertemu. Masa nggak ingat?”


“Lupa, sepertinya.”


“Di café Rosa, kita sempat cekcok di sana, itu kan tanggal tujuh bulan juli.”


“Kau yakin, Bhi?”


Abhi mengangguk, “pertama kali aku dimaki wanita setelah beberapa tahun tidak ke Jakarta. Dan sekarang wanita itu ada di sampingku! Dulu aku kesel banget sama kamu, sampai-sampai aku ingat selalu tanggal itu.”


“Ow, gitu ya? Tadinya aku berpikir kalau kamu masih memakai nomor itu sebagai pengingat hari jadianmu dengan Olivia.” Naura merasa bersalah karena sudah berpikiran negatif terhadap Abhi.


“Kalau aku bilang seperti itu, berarti aku masuk orang bodoh dong. Aku nggak mau membawa masalaluku dengan Olivia ke rumah tangga kita. Aku menutup rapat hatiku untuknya. Dan sekarang Allah baik banget sama aku, dikasih jodoh yang lebih baik dari Olivia yaitu kamu.”


“Tapi kamu belum tahu aku sepenuhnya, Bhi. Kamu belum tahu seberapa egoisnya aku, emosionalku, kau belum melihat semuanya.”


“Kamu kan jodohku, jadi aku akan belajar untuk memahamimu,” ucap Abhi, lirih.

__ADS_1


Setelah itu Abhi mengakhiri obrolannya dengan Naura. Meskipun Naura ngotot meminta untuk melanjutkan obrolan, tapi Abhi melarangnya. Ia tidak mau Naura kelelahan, karena perjalanan masih sisa dua jam lagi.


...----------------...


__ADS_2