Kepincut Cinta Dokter

Kepincut Cinta Dokter
Kesepian


__ADS_3

Happy Reading Jangan lupa kasih votenya🙏👍


Ella Pov.


Pagi ini aku kurang bersemangat saat akan berangkat keklinik. Aku heran sudah lima hari Mas Erik tidak menghubungiku, atau pun menemuiku. Sepertinya dia marah mengingat kejadian terakhir dirumah Zie pagi itu. Aku selalu memikirkan ucapannya saat terakhir kita bertemu.


" Pagi dok, " sapa Ratna, perawat yang membantuku saat sedang praktek, aku hanya tersenyum kearahnya, lalu melanjutkan berjalan kearah ruanganku.


" Dok, lima belas pasien ya, " lapor Ratna saat aku mulai mendudukkan diriku dikursi.


" Sepuluh menit lagi ya Na, " ucapku karena aku ingin mempersiapkan diri dulu, aku mencari keberadaan ponselku, berniat untuk meneleponnya, namun dua panggilanku juga tak dijawab Mas Erik.


" Kemana sih Mas Erik, kok nggak ngasih kabar? " karena putus asa tak mendapat jawaban, segera kumulai saja praktek pagi ini, bertemu wajah bayi- bayi membuat hiburan tersendiri untukku, aku terhibur saat melihat tawanya ketika kuajak berbicara, dan menangis saat aku menyuntikkan jarum di badannya.


Hingga pukul sebelas siang pekerjaanku pun baru bisa aku selesaikan, kulihat Ratna sedang membereskan berkas- berkas data pasien.


" Na, apa tidak ada tamu untukku, " tanyaku pada Ratna.


" Nggak ada dok, apa dokter nungguin dokter Erik,? " tanya Ratna yang sudah mengetahui profesi Mas Erik.


" Nggak kok, " kilahku karena malu ketahuan kalau aku sedang menunggu kedatangannya.


" Kemana sih Mas Erik, kok nggak pernah datang lagi ke klinik, biasanya jam makan siang pasti datang, " ucapku dalam hati.


Setelah aku menyelesaikan pekerjaanku, aku berniat mengunjungi Mas Erik dirumah sakitnya, saat sudah sampai disana kutanya petugas resepsionis yang berdiri di dekat pintu masuk,


" Permisi sus, apa dokter Erik ada? " tanyaku


" Maaf apa anda mau periksa? bagaimana kalau bertemu dengan dokter Reyhan karena dokter Erik baru cuti, " jelas perawat itu tanpa menatapku.


" Apa cuti? " tanyaku memastikan


" Astaga bu, jangan teriak begitu ini rumah sakit, nggak sopan banget, iya dokter Erik cuti, " ucapnya menatapku dengan tatapan tak suka.


" Mas Erik ini, nyari perawat kok begini nggak ada ramah-ramahnya, " batinku


" Apa dokter Erik baru sakit? " tanyaku lagi. Perawat itu tak menjawab pertanyaanku karena mengira aku hanya pasien yang akan mencari perhatian pada dokter Erik.


Aku pun segera pergi dari sana, melajukan mobilku kerumah mama Jihan, aku yakin mama Jihan pasti tau Mas Erik ada dimana,


" Kamu kenapa begini Mas, pergi tanpa kabar, ditelepon juga nggak diangkat, " ucapku.


Setelah sampai rumah mama Jihan akupun segera turun, dan mengambil parcel buah yang aku beli saat perjalanan tadi.


" Assalamu'alaikum ma, " salamku saat melihat mama Jihan.

__ADS_1


" Wa' alaikumsalam sayang, ayo masuk, " ucapnya menyuruh masuk kedalam rumah.


" Apa Mas Erik ada disini ma, " tanyaku saat sudah berada di depan tv.


" Apa dia belum juga mengabarimu, " aku pun menggelengkan kepala.


" Memang ya, anak itu sepertinya minta di sunat lagi, dia pergi ke Bali. Mama pikir dia sudah mengabarimu, " ucap mama Jihan.


" Apa? " kagetku saat mendengar jawaban dari mama Jihan.


" Iya sayang, dia menyelesaikan tugas dari Bima, " jelas mama Jihan.


" Tapi kenapa dia nggak ngabari Lala, pamit juga nggak, Lala telepon juga nggak di angkat, " ucapku menjelaskan.


" Mungkin dia baru sibuk, " ucap mama Jihan.


aku pun merasa kesal dengan sikap Mas Erik yang pergi tanpa pamit dan kabar.


" Sudah jangan dipikirkan, ayo sini mama tadi bikin cheeze cake, kamu masih suka kan La, " ajak mama Jihan, aku pun mengikutinya dari belakang.


" Harusnya Erik disana sepuluh hari, tapi karena pekerjaannya sudah hampir selesai kemungkinan lusa akan pulang, " jelas mama.


" Benarkah ma, Lala akan menjemputnya nanti di bandara, " ucapku mama Jihan hanya tersenyum menatapku.


" Bah.. Lala masih belum bisa memikirkannya ma, Lala masih ingin fokus ke klinik dulu, " jawabku.


" Apa kamu nggak merasa kalau Erik menunggumu La, usia dia sudah tidak muda lagi La, mama cuma minta, jika Lala mencintainya segeralah menikah dengannya." jelas mama Jihan panjang lebar.


" Nanti Ella pikirkan lagi ma, Lala masih bingung dengan perasaan Lala. Lala hanya takut nanti akan menyakiti Mas Erik, " jawabku menjelaskan. Setelah itu mama Jihan menceritakan tentang keadaan Mas Erik ketika dia aku tinggal ke Sydny, saat dia rapuh ketika aku akan menikah, dan dia juga menceritakan kondisi Mas Erik saat setelah dia hampir saja menodaiku, setelah hampir maghrib aku baru pamit pada mama Jihan, karena takut ayah mencariku. Di perjalanan aku memikirkan ucapan mama Jihan, tentang sakit hati Mas Erik yang dia alami. Aku juga merasa bersalah atas apa yang dia rasakan saat itu.


Malam ini ntah kenapa aku merasa kesepian saat aku tidak mendengar suaranya. Saat dia tidak menemuiku, ternyata aku juga merindukan celotehan -celotehannya, aku menatap layar ponselku berharap malam ini dia akan menelepon, tapi aku menunggu hingga jam sembilan malam dia tak kunjung meneleponku.


" Apa aku menghubunginya saja ya, " ucapku lirih sambil menatap lagi ponselku.


Selang beberapa menit, ponselku berdering panggilan vidio dari Mas Erik,


" Haduh..sudah ditelepon duluan, kok deg- degan ya, " ucapku mendudukkan diri di kepala ranjang sambil merapikan rambutku dengan tangan.


" Ha...hallo.." ucapku gugup setelah menggeser tombol hijau.


" Hay,,, La.. "


" Katanya tadi kamu kerumah mama ya? dan kata mama kamu nyariin Mas, kenapa? " tanya Mas Erik padaku.


" Oh... nggak papa kok Mas, Lala tadi cuma mampir saja kebetulan lewat kesana. " jelasku.

__ADS_1


" Oh ya sudah kalau begitu. kiraiin nyari Mas, " ucapnya tanpa pamit lalu dia mematikan ponselnya.


" Hlo...kok di matikan sih, " ucapku saat melihat panggilan itu tidak tersambung lagi, Aku pun segera menyalakan handpone lagi dan menghubunginya melalui panggilan suara. Cukup lama aku menunggu namun setelahnya Mas Erik mengangkat teleponnya.


" Hmm... " ucapnya malas mengangkat telepone dariku.


" Mas, apa Lala punya salah ke Mas Erik? kenapa sepertinya Mas marah ke Lala, " tanyaku hati- hati takut menyinggungnya.


" Lala nggak salah kok sama Mas, cuma Mas saja yang salah karena sudah teramat dalam mencintai Lala, " ucap Mas Erik dengan suara parau. Aku yang mendengar itu hanya mencerna ucapannya.


" Mas, maafkan Lala, Lala nggak bermaksud mengabaikan Mas Erik, Lala cuma... " ucapku terhenti saat Mas Erik memoting ucapanku.


" Apa Lala nggak sedikit pun merindukan Mas? "


" Ak**u rindu Mas, aku kangen padamu, aku kesepian tanpa celotahanmu, " ucapku dalam hati


" Mas kapan pulang, " tanyaku tanpa menjawab pertanyaannya.


" Mas belum tau, mungkin bisa sebulan lagi, " ucapnya yang membuatku bingung, tadi bilang mama lusa akan pulang.


" Apa?? " teriakku namun seketika kusadari saat mendengar Mas Erik tertawa.


" Apa kamu malu mengakui, kalau Lala merindukan Mas, " ucapnya.


" Iya, Lala merindukanmu Mas, " ucapku namun panggilan itu tiba-tiba terputus beralih ke panggilan vidio.


" Benarkah kamu merindukkan Mas, " tanyanya saat melihat wajahku. Aku pun mengangguk membenarkan ucapannya.


" Kalau begitu besuk jemput Mas di bandara, karena Mas juga sudah sangat merindukanmu, " ucapnya.


" Baiklah dokter Erik, saya akan menjemput anda," ucapku menyetujui permintaannya.


" La. I LOVE YOU, " ucapnya aku yang mendengar itu hanya menatapnya, tanpa menjawab ucapannya, lalu tersenyum kearahnya.


" Tidurlah, besuk jemput Mas jam dua siang, " ucapnya memberitahuku.


" Baiklah, besuk aku akan berdandan yang cantik agar Mas senang, " ucapku


" Nggak usah, Mas suka Lala yang natural, " ucapnya. Lalu aku segera menutup panggilan itu, merebahkan tubuhku berusaha memejamkan mata, namun yang ada pikiranku hanya memikirkan Mas Erik,


" Apa benar cintanya padaku masih seperti dulu, "


Aku memikirkan perasaanku untuknya, hingga jam satu dini hari aku baru bisa memejamkan mata.


Terima kasih yang sudah mendukung karya saya. jangan lupa like, vote, dan comentnya👍🙏

__ADS_1


__ADS_2