Kepincut Cinta Dokter

Kepincut Cinta Dokter
S2 Bertemu Di Alam Yang Sama


__ADS_3

Happy reading ya...😊 tunggu like tembus 400 baru update pokoknya😁😂


.


.


.


Setelah dari toilet, Erik segera menghampiri kedua anaknya, dia lalu mengenalkan Nadia pada Damar sebagai teman wanitanya. Damar terlihat biasa saja, tapi justru Sashi yang menatap tajam ke arah Erik. Karena merasa lelaki itu mengkhianati sahabatnya.


“Aku tunggu undangannya,” bisik Damar di telinga Erik, dia hanya menjawab dengan tatapan malasnya ke arah Damar.


“Seperti menunggu keajaiban, jika kamu menunggu undanganku dengannya,” ucap Erik sambil melirik ke arah Damar. Damar hanya mengusap punggung Erik seraya berkata, “Kamu sudah tua, tidakkah ingin membuatkan adik untuk keponakkanku yang cantik itu?”


Erik menatap ke arah Riella, yang tengah bermain dengan Galang, anak ketiga Damar.


“Biar anakmu saja nanti yang akan aku bawa pulang,” canda Erik.


“Bikinnya saja susah, nunggu 3 tahun baru nongol, masa iya! Harus aku kasihkan ke kamu,” jawab Damar.


Setelah acara selesai Damar mengajak Erik dan keluarganya untuk datang ke acara jamuan makan malam, mereka di sediakan meja dan kursi khusus, mengingat Damar adalah pemilik perusahaan.


“Paaa..., Lala mau makan cake saja, nggak mau makan nasi,” ucap Riella saat Erik hendak menyuapkan makanan ke mulut mungilnya.


“Nggak ada cake sayang, adanya puding Lala mau?” Riella menggeleng sambil menekuk wajahnya.


“Tadi ada Pa, tadi Lala lihat di meja sana,” jelas Riella sambil menunjuk ke arah meja yang tidak jauh dari tempatnya duduk.


“Biar aku ambilkan,” sahut Nadia yang sudah berdiri, membuat Riella tersenyum senang.


“Ehemmm..., sepertinya dia juga menyayangi anakmu,” ucap Damar yang dari tadi memperhatikan tingkah Nadia.


“Biarkan saja! Memang seharusnya begitu, tapi aku belum berniat untuk menikah, apalagi menjalin hubungan dengan wanita lain,” jelas Erik sambil mulai memakan makanannya.


“Yeee..., dapat cakenya,” sorak Riella ketika Nadia memberikan 2 potong cake di depannya.


“Kakak minta satu ya dik,” ucap Kalun pelan.


“Nggak boleh, ambil sendiri sana!” tolak Riella menampik tangan Kalun yang hendak mengambil cheese cakenya. Erik hanya melirik cake yang ada di depan Riella.


“Boleh Papa minta?” tanya Erik. Riella yang mendengar permintaan Papanya langsung menyuapkan ke mulut Erik.


“Enak kan, Pa...?” tanya Riella.

__ADS_1


“Iya, seperti buatan Mama...,” bisik Erik di telinga Riella.


“Apa iya Pa..., jangan-jangan ini buatan Mama!” Erik hanya terkekeh saat mendengar ucapan polos Riella.


“Mama sudah tidak ada lagi di sini, mungkin Papa yang sudah terlalu merindukan Mamamu, sudah ayo habiskan, Papa ada perlu dengan Om Yohan,” jelas Erik pada Riella supaya anaknya itu segera menghabiskan makanannya.


Riella menikmati cake itu tanpa peduli tatapan Kalun yang juga menginginkannya. Nadia yang melihat Kalun, beranjak menuju meja dan mengambilkan cake lagi, tapi yang ada cakenya sudah habis.


“Besok Tante belikan ya,” ucap Nadia pelan pada Kalun. Nadia benar-benar tulus menyayangi anak Erik, mengingat dia belum bisa memiki anak. Sikapnya yang seperti itu membuat Damar semakin yakin dengan wanita yang di kenalkan Erik padanya.


Malam semakin larut, Erik terpaksa harus mengantarkan Nadia kembali ke apartemennya. Karena Nadia tadi, datang menggunakan taxi. Kedua anaknya sudah terlelap di kursi belakang kemudi, jadi Erik bisa ngobrol sebentar dengan Nadia.


“Mamaku masih menghubungimu?” tanya Erik pada Nadia.


“Masih, dia menyuruhku besok untuk fitting gaun pengantin,” ucap Nadia.


“Apa?” kaget Erik saat mendengarkan ucapan Nadia.


“Iya! Aku juga bingung, harus bagaimana lagi, Mama sama anak, sama saja! sama-sama suka memaksa,” jelas Nadia.


“Ceh!” desis Erik sambil mengusap tengkuknya sambil memikirkan solusi yang paling tepat.


“Bagaimana jika kita menikah betulan,” celetuk Erik yang tiba-tiba kepikiran untuk menikah.


“Jangan-jangan kamu mulai jatuh cinta padaku ya...?” tanya Nadia.


“Najis tau nggak!” ucapnya lalu beranjak menuju mobil, meninggalkan Nadia yang masih menatap kepergiannya.


Erik melajukan mobil untuk pulang ke rumah, sampai di rumah dia melihat mobil Yohan yang sudah terparkir di halaman rumahnya.


“Tumben malam-malam datang,” ucapnya saat melihat kehadiran Yohan yang sudah duduk di dalam rumahnya. Dia lalu berjalan menghampiri Yohan sambil menggendong Riella.


“Tolong bawa Kalun masuk Yoh, dia masih berada di dalam mobil!” perintah Erik pada assistannya yang sedang menikmati kopi di ruang tamu, Yohan yang mendengar perintah Erik, segera mengangkat tubuh Kalun dari mobil dan segera membawanya ke kamar Erik. Dia sekilas menatap kamar Erik yang masih terdapat banyak foto mendiang istrinya. Mungkin hampir satu bagian dinding terisi foto kenangan Erik dan mendiang istrinya.


“Letakkan di sini!” Perintah Erik yang membuyarkan tatapan Yohan. Dia lalu meletakkan Kalun di ranjang Erik.


“Ada hal penting yang ingin saya bicarakan Pak,” ucap Yohan setelah meletakkan Kalun.


“Tunggu aku di ruang kerja! aku ingin bersih-bersih dulu,” perintah Erik pada Yohan yang masih berdiri di kamarnya.


Cukup lama Yohan menunggu, dia juga memikirkan akan mulai dari mana untuk menceritakan penemuannya kali ini, dia berjalan mondar-mandir di ruang kerja Erik, merasa panik dan takut jika Erik akan melampiaskan kemarahannya padanya.


Pintu ruangan terbuka, Erik memasuki ruang kerjanya. Dia menatap Yohan yang terlihat panik, berbeda saat tadi pertama kali melihatnya.

__ADS_1


“Kenapa denganmu? Apa sudah menemukan cincinya?” tanya Erik. Yohan hanya menggelengkan kepalanya.


“Lalu apa yang membuatmu datang ke sini?”


“Saya me- melihat Ibu Ella Pak.” Erik hanya berdesis tak percaya dengan ucapan Yohan. Mereka diam sejenak, hingga hanya terdengar suara jam dari tangan Erik.


“Kamu seperti Kalun!” ucap Erik singkat.


“Pak saya yakin 90% jika dia benar-benar mirip Ibu.”


“Omong kosong!”


“Bagaimana jika itu benar Ibu Pak?” tanya Yohan.


“Itu tidak mungkin, kamu tahu sendiri bagaimana aku mengurusnya waktu melahirkan,” jelas Erik.


“Tapi saya curiga dengan kepergian Bu Lasmi, yang tidak ada jejak sama sekali,” jelas Yohan.


“Mungkin kamu yang tidak pandai menemukan keberadaannya,” ucap Erik yang tidak percaya dengan ucapan Yohan.


“Apa Bapak sudah membaca surat dari Bu Ella?” tanya Yohan pada Erik.


“Surat?”


“Iya, surat yang dititipkan Ibu Ella pada saya, siapa tau Ibu Ella menulis sesuatu di sana, mengingat saat terakhir dia berpesan pada Bapak untuk berhati-hati pada Bima dan Axel.” Erik hanya diam, karena dia teringat surat, yang sampai sekarang belum berani dia buka.


“Aku belum berani membacanya, aku masih belum sanggup Yo...” ucap Erik sambil mengingat di mana dia menyimpan surat terakhir dari istrinya.


“Apa perlu saya bantu bacakan Pak?” tawar Yohan.


“Tidak perlu, aku akan membacanya jika aku sudah siap,” jelas Erik pada Yohan.


“Semoga Bapak secepatnya bisa membaca surat yang ditinggalkan Ibu,” ucap Yohan lalu segera berpamitan untuk pulang dari rumah Erik, karena sudah terlalu malam untuk berada di sana.


Erik hanya diam, sambil mengingat dengan benar kejadian di mana istrinya meregang nyawa di depan matanya sendiri. Dia teringat setelah menyentuh tubuh Ella yang dingin, dia hanya bisa menagis, setelah itu dia hanya mendengarkan penjelasan Bu Lasmi jika istrinya sudah tiada, tanpa memastikan kondisi Ella lagi, dia lalu teringat mimpinya, ketika Ella mengucapkan jika mereka akan bertemu lagi di alam yang sama. Dia melirik ke arah jam di tangannya yang sudah menunjukkan pukul 11 malam. Dia segera keluar dari ruang kerja miliknya, mengambil kunci mobil yang belum lama dia letakkan di samping meja tv, dia masih takut untuk membaca surat dari istrinya tapi dia juga penasaran dengan surat yang Ella tinggalkan untuknya, dengan cepat Erik melajukan mobil menuju apartemen, sambil mengingat-ingat lagi, di mana dia meletakkan surat dari Ella.


.


.


.


.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2