
Zhu San sedang diam mematung, Ia merasa bimbang apakah akan menerima penyesalan mereka berdua atau tidak. Saat itulah beberapa anggota sekte, melesat menyerang kedua orang Kakak beradik itu.
Gao Shan dan Gao Yan terkejut saat melihat hal itu, terlihat amarah di wajah mereka yang lalu membuat keduanya berdiri bersiaga.
Walau masih berusia belasan tahun, namun bakat beladiri yang mereka warisi dari sang ayah, membuat kemampuan keduanya, tidak bisa dianggap remeh.
Hal itu terbukti dengan terjungkalnya salah satu anggota sekte yang menyerang Gao Yan. Ia terkena tendangan keras di dadanya, setelah serangannya berhasil dihindari oleh Gao Yan.
Di sisi lain Gao Shan pun telah menjatuhkan satu orang yang menyerangnya. Hal itu membuat dua puluh anggota yang lain, segera bergerak untuk menyerang mereka berdua.
“Hentikan!”
Bentakan keras dari Zhu San membuat langkah dua puluh orang itu segera terhenti. Namun tidak dengan Gao Yan, Ia malah menghajar kepala salah satu anggota yang telah berhenti menyerang Gao Shan.
Anggota tersebut langsung terjungkal dengan kepala yang retak hingga membuatnya nyawanya melayang saat itu juga.
“Gao Yan!!! …”
Suara bentakan dari Zhu San yang sangat keras diiringi dengan hawa panas dan dingin yang kuat seketika memenuhi udara. Para anggota yang kembali hendak bergerak, tersurut lagi langkah mereka.
Wajah Zhu San terlihat mengelam menyaksikan apa yang baru saja diperbuat oleh Gao Yan. Ia yang awalnya akan membiarkan keduanya tetap hidup dan hanya memusnahkan tenaga dalam mereka berdua, kini berubah pikiran.
“Kau ! … Bagaimana bisa kau melakukan hal itu setelah mengatakan penyesalanmu tadi?!”
“Siapa yang berkata menyesal? Dia yang mengatakan menyesal sedangkan aku hanya diam saja. Zhu San! Kau pikir aku takut padamu Hah!”
Gao Yan menjawab perkataan Zhu San dan segera memasang kuda-kuda yang tidak Zhu San kenali. Keterkejutan juga terlihat dari wajah anggota sekte yang lain.
Gao Shan yang melihat Sang Kakak berniat menggunakan jurus rahasia yang mereka pelajari secara diam-diam, segera melakukan kuda-kuda yang sama.
Jurus itu mereka pelajari dari sepasang kakek dan Nenek yang merupakan musuh bebuyutan Fu Kuan. Keduanya dikenal di dunia persilatan Kekaisaran Liu sebagai Sepasang Hantu Kerempeng.
Disebut demikian karena keduanya memiliki postur tubuh yang sangat kurus, dengan tinggi badan di atas rata-rata penduduk Kekaisaran Liu pada umumnya.
__ADS_1
Sepasang Kakek Nenek itu, sudah sejak dua puluh tahun lalu menghilang dari dunia persilatan Kekaisaran Liu. Kabar terakhir adalah mereka menjatuhkan diri ke dalam Jurang Angin, setelah kalah bertarung dengan Fu Kuan.
Siapa sangka keduanya masih hidup dan kini memiliki dua orang murid yang berasal dari Sekte Pedang Bintang.
Tentu saja Zhu San pernah mendengar tentang hal ini dari guru pertamanya itu. Saat mereka bertiga masih berada di Lembah Iblis, beberapa tahun yang lalu.
Saat ini hanya Gao Shan dan Gao Yan yang mengetahui, jika mereka berdua masih hidup. Karena mereka diangkat menjadi murid dan diajari jurus untuk mengalahkan Jurus Tinju Besi milik Fu Kuan.
Zhu San menatap keduanya dengan heran, saat mereka berdua bersiap menyerangnya.
“Jadi kalian memang bena-benar tidak ingin bertobat rupanya. Baiklah jika begitu, majulah kalian berdua!”
Zhu San berkata seraya memukulkan pedang di pundaknya beberapa kali ke bahunya. Gao Yan dan Gao Shan menjadi geram, merasa diremehkan seperti itu.
“Jurus Hantu Melaknat Besi!”
Gao Shan dan Gao Yan berteriak bersamaan, sebelum keduanya melesat dengan kedua telapak tangan yang telah memancarkan cahaya merah kehitaman.
Keduanya begitu yakin dengan kekuatan jurus yang mereka kuasai dengan baik itu, namun apa yang terjadi kemudian membuat mata mereka melotot lebar.
Keduanya segera melesat mundur setelah lepas dari rasa terkejutnya. Namun gerakan keduanya terlihat lambat di mata Zhu San.
CRASSH
Kepala Gao Shan jatuh menggelinding saat Zhu San menggerakan tangan yang memegang pedang. Gerakan menebas yang sangat cepat itu, tidak terlihat sama sekali oleh keduanya.
“Adiiik!”
Gao Yan berteriak saat melihat kepala adiknya telah menggelinding ke dekat kaki Zhu San. Wajah Gao Yan pun menjadi pucat saat itu juga.
Ia tidak menyangka sama sekali, jika Paman Gurunya itu, memiliki kekuatan yang begitu tinggi. Rasa penyesalan pun segera merasuki hatinya karena telah memutuskan untuk melawannya.
Gao Yan hanya bisa pasrah saat melihat Zhu San telah menurunkan pedangnya dari bahu. Tanpa di duga oleh Gao Yan, Zhu San melesat sangat cepat dengan pedang yang mengarah tepat ke dadanya.
__ADS_1
PLAK!!
Zhu San tidak terkejut saat serangannya yang kurang dari dua jengkal lagi akan mengenai Gao Yan, harus teralihkan oleh sebuah tapak dari seorang Kakek kurus tinggi yang datang secara tiba-tiba.
“Akhirnya kalian berdua menampakkan diri juga.”
Zhu San segera melompat mundur membuat jarak diantara mereka menjadi sekitar empat meter.
“Shan’er!! … Kau!...”
Seorang Nenek yang bertubuh kurus dan memiliki tinggi yang sama dengan sosok Kakek yang baru muncul, segera berteriak memanggil nama Gao Shan.
Ia terlihat sangat marah kepada Zhu San, hingga langsung melesat menyerangnya. Hal yang sama dilakukan oleh sang kakek setelah Ia berkata lirih kepada Gao Yan.
Gao Yan pun segera melesat pergi setelah melihat Zhu San mulai diserang oleh Kedua Gurunya itu.
Hal itu dilakukan oleh Gao Yan, setelah sang Guru memerintahkan Ia pergi dari tempat itu, dan menunggu mereka berdua kembali ke goa tersembunyi, tempat di mana mereka berdua tinggal selama ini.
Zhu San mendengus kesal saat melihat Gao Yan meninggalkan tempat tersebut. Serangan kedua orang yang telah lanjut usia itu, begitu gencar kepadanya.
Mereka berdua menggunakan jurus yang sama dengan yang digunakan oleh Kedua murid mereka tadi.
Namun dari segi kecepatan dan kekuatannya, jelas jauh berbeda. Zhu San tersenyum tipis saat Ia terpaksa melompat mundur menjauhi keduanya.
Pedang Yinyang segera Ia masukan ke dalam Cincin Jiwanya. Lalu Zhu an mengerahkan dua puluh persen tenaga dalamnya untuk melawan mereka berdua.
Hawa panas dan dingin segera kembali memenuhi udara di tempat itu. Dahi kedua orang itu berkerut, saat melihat aura panas memancar dari tangan kanan Zhu San.
Sementara di telapak tangan kiri Zhu San memendarkan cahaya biru keputihan yang memancarkan hawa sangat dingin.
“Tubuh Yinyang Sejati! Mustahil … ini tidak mungkin!”
Kakek kurus kerempeng itu, segera berkata dengan mata melotot lebar. Hal yang sama juga terjadi pada mata Nenek kerempeng yang berjenis mata belok itu.
__ADS_1
******