
Qin Rui dan tetua Zheng An bersama Liu Ling serta puluhan tetua dari berbagai sekte aliran putih yang datang, sedang sibuk menangkis serangan hujan panah ke arah mereka.
Keempatnya tersadar oleh teriakan Xie Han yang melompat turun keluar tembok dengan menebaskan pedang di tangannya yang telah membara.
Panglima Perang Kekaisaran Liu itu, berhasil merusak Alat Pendobrak Gerbang dengan membakarnya menggunakan Api yang berasal dari pedangnya yang membara setelah dialiri tenaga dalam.
Namun setelah berhasil membakar alat itu, Xie Han harus berjibaku dengan puluhan prajurit yang bergerak menyerangnya. Saat ini, hanya Ia sendiri yang berada di luar tembok pagar.
“Han Gege! … Bertahanlah! Aku Akan membantumu!” Liu Ling yang melihat itu, segera akan melesat membantu sang kekasih. Namun tangannya telah lebih dulu dicengkram oleh Sang Guru, Zheng An.
“Ling’er! biar guru yang membantunya, Kau harus tetap berada di atas tembok!” Tanpa menunggu jawaban Liu Ling, Zheng An segera melompat turun dari tembok setinggi delapan meter itu.
Ia segera menerjang puluhan prajurit yang sedang mengepung Xie Han, menunggu giliran untuk menyerang Panglima Perang itu. Kedatangan Zheng An, membantu situasi yang tengah dihadapi oleh Xie Han.
Akhirnya Zheng bisa mendekati Xie Han setelah membunuh puluhan prajurit Aliansi Aliran Hitam dengan pedangnya. Kini kedua orang itu, menjadi pusat serangan prajurit aliansi yang semakin banyak berdatangan ke arah mereka.
Di saat yang sama, hujan panah dari kedua belah pihak masih terus berlangsung, hanya saja sebagian anak panah dari pasukan kota Songdu, kini berubah arahnya.
Anak panah mereka sekarang menyerang ke arah bawah, dimana ribuan prajurit aliansi sedang bergerak mendekati tembok pagar kota, sambil membawa tangga panjang.
Lebih dari dua puluh tangga telah berdiri, satu persatu para prajurit yang membawa pedang, menaiki tangga tersebut, sebagian pun terjatuh akibat terkena panah dari pasukan kota Songdu.
Situasi semakin memburuk ketika, ketika hampir seratus tangga telah berdiri, ratusan orang berusaha naik ke atas benteng dengan memanjat tangga-tangga itu.
Pasukan pemanah dari pihak aliansi Aliran Hitam, semakin mendekat walau jumlah mereka telah berkurang dari separuhnya. Mereka pun mulai mengincar para prajurit pemanah yang berada di atas tembok pagar.
Raut wajah Xie Han memburuk setelah melihat situasi tersebut. Ia sendiri dan Sesepuh Zheng An masih terus berjibaku membunuh para prajurit yang mendekati mereka.
Dalam waktu sebentar saja, penumpukan mayat di depan pintu gerbang selatan Kota Songdu telah meninggi.
Xie Han telah kehilangan separuh tenaga dalamnya, membuat Ia kini mulai terdesak oleh prajurit lawan yang tak henti menyerangnya. Sedikit berbeda dengan Zheng An.
__ADS_1
Guru Liu Ling itu, semakin brutal menyerang prajurit yang tak gentar mendatanginya. Hal itu membuat tumpukan mayat di sekitarnya, jauh lebih tinggi dari yang ada di sekitar Xie Han.
Keduanya bisa menghela nafas sejenak ketika tiba-tiba sebuah pedang melesat membantai para prajurit yang mendekati mereka berdua.
Pedang itu seolah hidup, Ia membunuh para prajurit yang menggunakan zirah besi, dalam satu kali serangan tusukan. Hal itu membuat prajurit aliansi, menjadi ciut nyalinya.
Dalam sekejap lebih dari seratus orang telah tewas oleh pedang milik Zhu San yang terus melayang kesana kemari, mengincar prajurit yang kini mulai bergerak mundur dengan wajah takut seolah sedang melihat hantu.
Zhu San yang baru saja melemparkan Pedang Yang ke arah prajurit yang menyerang Zheng An dan Xie Han, melihat hal itu dari jauh dengan benak dipenuhi pertanyaan.
“Chi’er … Apakah Kau yakin bisa mengalahkan mereka berdua?” Tanya Zhu San kepada Bian Chi yang telah tiba sedari tadi.
Bian Chi mengejar Dua Jagal Iblis yang lari dari pertarungan dengannya, melesat ke arah Quan Yu yang terluka akibat terkena serangan Zhu San tadi.
“San Gege … Apa Kau lupa jika Aku pun sekuat dirimu? Lihat saja bagaimana Aku mengalahkan mereka berdua.” Jawab Bian Chi dengan penuh percaya diri.
Zhu San tersenyum mendengar hal itu. Ia pun memilih untuk menjadi penonton dan bersiap membantu jika nanti Bian Chi terdesak.
Pertarungan pun kembali terjadi antara Bian Chi dengan Dua Jagal Iblis dengan Zhu San sebagai penonton. Hal itu Zhu San lakukan karena Bian Chi Ingin menunjukan baktinya kepada Ayah dan Ibu mertuanya. Dengan membunuh kedua orang itu.
Di tempat lain, di udara sekitar dengan ketinggian dua puluh meter, terlihat Fu Kuan, Lin Kai dan Tan Kuan serta Yu Mei, bersiap kembali dengan jurus yang sama dengan kekuatan yang berbeda.
Keduanya masih melawan Lima Elang Setan yang masih bertahan walau mereka telah terluka dalam. Kelimanya segera bersiap dengan kekuatan penuh mereka.
Menyadari kelima lawannya mengerahkan seluruh energi yang mereka miliki, Fu Kuan dan yang lainnya, segera melakukan hal yang sama.
“Elang Setan Membakar Ilusi!”
“Murka Sepasang Pedang Perak!”
“Petir Bintang Merah Level 3!”
__ADS_1
“Elang Biru Mematuk-matuk Mangsa!”
Lin Kai berteriak diurutan terakhir, Ia belum selesai mengalirkan seluruh tenaga dalamnya. Hal itu Ia lakukan karena Ia tak ingin terluka lagi seperti sebelumnya.
Kini bayangan Elang Biru dari pedang Berat Lin Kai, telah memiliki besar yang sama dengan bayangan Elang Setan milik lawan yang berkobar oleh api itu.
Diiringi oleh teriakan keras dari kedua belah pihak, empat energi besar segera melesat untuk beradu kekuatan di udara.
Energi Elang Biru dari pedang Lin Kai, terlambat datang menghadang Elang Setan Api yang berkobar itu. Energi Elang Api itu, hancur oleh Energi Pedang Perak dan Petir Merah.
Sehingga Elang Biru milik Lin Kai, terus melesat menghantam Lima Elang Setan, yang sedang terpental akibat ledakan ketiga energi itu. Energi Elang Biru pun meledak bersama dengan meledaknya tubuh lima Elang Setan.
BLAM
ARRGGGHH!!!
BLARR
Dua Ledakan keras terdengar, disusul jerit kematian yang begitu keras mengisi udara. Bian Chi dan Dua Jagal Iblis yang sedang bertarung, menghentikan pertarungan mereka. Ketiganya dan Zhu San, tertegun melihat apa yang terjadi.
Terlihat oleh ketiganya, tubuh Lima Elang Setan hancur dengan kepala yang terpisah. Sementara Fu Kuan, Tan Kuan dan Yu Mei, terpental belasan meter dengan darah segar tersembur dari mulut mereka.
Wajah ketiganya terlihat pucat, sesaat setelah benturan energi itu. Namun senyum segera menghiasi bibir, ketika menyadari bahwa ke lima lawan mereka telah tewas.
Lin Kai memasang wajah bersalah kepada ketiga rekannya. Ia merasa terlambat melepaskan energi pedangnya, membuat ketiga orang itu terluka dalam.
Melihat ketiga orang itu hanya terluka terluka ringan, Bian Chi akhirnya memfokuskan diri pada pertarungannya dengan Dua Jagal Iblis, Gao Yu dan Feng Hu.
“Yu, jangan meremehkan kemampuan perempuan ini, Ia memiliki kekuatan yang besar seperti pemuda yang membunuh Guru kita tadi.”
Feng Hu mengingatkan Gao Yu dan memintanya untuk menyerang Bian Chi dengan kekuatan penuh mereka berdua.
__ADS_1
******