Legenda Zhu San

Legenda Zhu San
082: Rencana Tsao Beng 2


__ADS_3

Sesuai dengan rencananya, Tsao Beng dan Qiao Bun berangkat ke selatan menuju Kota Shinzu, setelah pasukan yang akan ke Kota Baixan mulai bergerak.


Keduanya hanya berjalan kaki saat keluar dari gerbang kota Shangyu. Karena menaiki kuda, bagi keduanya sangatlah merepotkan.


Namun saat tiba di sebuah hutan kecil yang suasananya sepi, keduanya segera melesat ke udara setinggi dua ratus meter dari tanah, lalu melayang ke arah selatan.


Perjalanan ke kota Shinzu dengan berkuda, setidaknya membutuhkan waktu tiga hari untuk tiba di sana.


Namun dengan kemampuan melayang di udara yang keduanya miliki, mereka hanya butuh waktu sekitar delapan jam saja tanpa istirahat.


Tentu saja itu tidak mereka lakukan. Dengan tanpa berhenti melayang selama delapan jam, maka mereka akan kehabisan tenaga dalam saat tiba di kota Shinzu .


Itulah sebabnya Tsao Beng dan Qiao Bun memutuskan untuk berhenti di tepi sebuah hutan, saat melihat pohon yang besar dan rindang berada di sana.


Sudah enam jam lebih mereka berada di udara dan matahari pun telah berada di titik puncaknya.


“Bun … Sebaiknya kita santai saja ke sana, Nanti malam berulah kita bergerak, suasana malam lebih enak kalau untuk membunuh.”


Tsao Beng tertawa kecil seraya melangkah ke sisi lain dari batang pohon yang besar itu. Kini jarak keduanya terpaut dua meter lebih sedikit.


“Terserah Kau saja Beng … Aku mau memulihkan tenaga dalamku dulu.”


Qiao Bun yang selalu serius dalam segala situasi itu, segera mengeluarkan tiga buah pil ungu dari balik jubahnya, untuk Ia gunakan memulihkan tenaga dalamnya.


Pil Ungu adalah salah satu sumber daya yang terkenal di Kekaisaran Wei, harganya pun lumayan mahal.


Namun saat ini, Qiao Bun dan Tsao Beng memiliki dua puluh butir pil yang tersisa setelah mengambil beberapa buah untuk mereka serap khasiatnya.


Setidaknya akan butuh waktu tiga jam bagi keduanya untuk menyerap khasiat ketiga pil tersebut.


Setelah menelan sebuah pil, keduanya segera bermeditasi untuk menyerap khasiat pil tersebut.


Setelah tiga jam kemudian, keduanya pun selesai dengan meditasinya. Tubuh mereka kini kembali segar seiring dengan tenaga dalam yang telah pulih seratus persen.


“Setelah membunuh pemuda itu, apakah Kau akan tetap kembali dulu ke Kekaisaran Wei dan menemui Kakakmu?”


Tsao Beng bertanya kepada Qiao Bun yang semalam bercerita, jika Ia ingin kembali dulu ke Kekaisaran Wei.

__ADS_1


“Iya … Aku ingin meminta Yan Gege untuk mengajariku jurus Rahasia keluarga kami. Saat itu, Aku merasa tenaga dalamku belum cukup untuk mempelajarinya.”


Qiao Bun menjawab dengan semangat pertanyaan Tsao Beng. Ia Ingin menjadi lebih kuat lagi dengan mempelajari jurus rahasia yang dimiliki oleh keluarganya itu.


Tsao Beng hanya menghela nafas panjang, Ia pun sebenarnya ingin kembali dulu ke Kekaisaran Wei.


Selain sudah lama Ia tak mengunjungi gurunya itu, Ia juga ingin meminta kepada gurunya satu teknik Tapak Racun Api yang belum diajarkan oleh gurunya.


Namun Ia telah berjanji kepada Luo San untuk membantunya sampai mereka benar-benar berhasil menguasai kekaisaran Liu.


Seandainya saja Luo San tidak pernah menyelamatkan nyawa dulu, mungkin Ia tidak akan terbebani seperti saat ini.


Walau sebenarnya Ia bisa pergi sesuka hatinya, apalagi kini kekuatannya jauh di atas kekuatan Luo San. Namun hutang budinya di masa lalu, membuatnya tetap bertahan hingga saat ini.


Setelah hari menjadi sore, dan udara tidak lagi sepanas sebelumnya, mereka berdua segera kembali melesat ke udara dan melayang menuju ke Kota Shinzu.


***


Lima puluh ribu prajurit yang bergerak ke utara menuju kota Baixan, terlihat berhenti di tepi sebuah hutan, ketika matahari baru saja melewati titik puncaknya.


Zhu San yang saat ini sedang menyamar menjadi seorang prajurit, menoleh saat Ia dipanggil oleh komandannya.


“Mohon Izin untuk berjalan-jalan sebentar Komandan!”


Zhu San yang tak ingin identitasnya diketahui, segera memberi hormat dengan berlutut di hadapan komandannya itu.


“Baiklah jangan lama-lama! … Setengah Jam lagi kita akan berangkat.”


“Siap Ndan!”


Zhu San tersenyum geli melihat komandan itu tersenyum bangga saat dirinya berkata demikian.


Kesuksesan seorang komandan, diawali dengan kepatuhan dari anak buahnya. Itulah yang Zhu San pelajari dari Kitab Strategi Perang, Kitab yang telah dibacanya sejak Ia berusia dua belas tahun.


Zhu San lalu melangkah dengan agak santai, Ia tak ingin tujuannya gagal karena sikapnya yang terburu-buru. Ia pun berjalan menuju ke beberapa kereta besar dan mewah.


Zhu San mendekati Kereta yang terbesar yang Ia yakini sebagai kereta di mana Dewa tapak Api Luo San berada.

__ADS_1


Dan Ia tersenyum saat mendekati dua orang prajurit yang duduk di dekat pintu masuk kereta itu. Keduanya sedang bertugas untuk menjaga kereta itu.


“Kau mau apa? Tempat kesatuan prajurit panah tidak di sini bukan?”


Salah seorang prajurit menegur Zhu San. Ia pun tetap melangkah lalu menepuk bahu kedua orang prajurit itu, tanpa menjawab pertanyaan mereka.


Kedua prajurit itu, seketika mematung dan tidak bisa bersuara sama sekali. Karena Zhu San telah menotok mereka berdua.


Zhu San tersenyum setelah membuat kedua prajurit tersebut mematung dalam posisi siaga layaknya seorang prajurit penjaga.


Ia pun ikut berdiri di samping kedua prajurit itu untuk mendengarkan pembicaraan di dalam kereta. Namun karena suara bising, membuat Zhu San tidak bisa mendengarnya dengan jelas.


Lima menit kemudian terdengar suara memanggil dari dalam. Zhu San bergegas memasuki kereta tersebut, setelah Ia menjawab panggilan itu.


“Prajurit! Kau bereskan meja ini dan bawa keluar semuanya. Mana Temanmu yang satu lagi!?”


Qing Jun yang memberi perintah kepadanya dan sekaligus bertanya, membuat Zhu San sedikit kikuk.


“Teman hamba ada di luar Tuan, Sedang buang air kecil. Biar hamba bereskan dulu meja ini.”


Qing Jun sedikit mengerutkan dahinya saat mendengar suara Zhu San. Ia pun menatap prajurit di depannya itu dengan tajam.


Ia merasa pernah mendengar suara ini, namun Ia terlupa dimana tepatnya suara prajurit itu Ia dengar sebelumnya.


Namun Zhu San yang segera membereskan meja itu dengan cekatan, membuat Qing Jun segera mengabaikan kecurigaannya.


Zhu San keluar dan membawa beberapa peralatan makan. Hatinya menjadi was-was setelah menyadari Tsao Beng dan Qiao Bun tidak berada di dalam ruangan itu.


Firasat buruk menghampiri Zhu San sesaat setelah Ia kembali untuk mengambil peralatan makan yang tersisa.


Ia mendengar sesuatu yang membuat hatinya seketika menjadi khawatir.


“Tsao Beng dan Qiao Bun sedang menuju ke Kota Shinzu untuk mencariku?! Dan mereka telah berangkat sejak tadi pagi.”


Zhu San terdiam sejenak dan pikirannya pun kembali berkata saat Ia memutuskan sesuatu.


“Aku harus segera kembali ke kota Shinzu secepatnya, Ayah dan Ibu serta yang lainnya sedang dalam bahaya.”

__ADS_1


*****


__ADS_2